Bab 6. Rasa Tidak Sabar Cecillia Membuat Semuanya Hampir Terungkap

1189 Words
Tidak terasa semakin hari semakin bertambah usia kandungan Lyra, perut yang awalnya rata kini sudah membuncit dan mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak sehingga terlihat semakin menggemaskan dengan aura kehamilannya. Sejak awal menikah sampai hamil besar, semua keperluan rumah di handle sendiri meski mertua serta suaminya sudah berulang kali menyarankan memakai jasa pembantu rumah tangga saja karena tidak tega melihat Lyra kecapekan tetapi selalu ditolak dengan halus karena katanya supaya ada kegiatan di rumah. Usia kehamilan yang sudah memasuki trimester ketiga membuatnya sering bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil, sepertinya hari ini sudah hampir tujuh kali ke kamar mandi. Tidak bisa menahannya membuat Lyra berlari kecil ke kamar mandi sampai akhirnya jatuh terpeleset karena tidak hati-hati. Tiba-tiba ada dar*h yang mengalir di pahanya, hal itu membuat Lyra berteriak histeris tapi sayang sekali kondisi rumah yang sepi membuatnya tidak segera mendapatkan pertolongan. Tidak ada pilihan lain, dengan penuh perjuangan Lyra berusaha bangkit mengambil ponselnya di tengah rasa sakit luar biasa yang dirasakan. Ro beberapa kali dihubungi tetapi tidak kunjung dijawab karena sedang mengadakan meeting penting sehingga ponselnya di silent. Semakin merasakan sakit yang sangat hebat dan sudah tidak mampu menahan lebih lama lagi membuatnya memilih untuk segera menghubungi ambulance. "Ayo kita berjuang sama-sama calon anak mamah, pokoknya apa pun yang terjadi Mamah akan menyelamatkanmu karena kamu adalah penerus keluarga Suganda dan kehadiranmu sudah dinantikan oleh mereka.” Rio yang sudah selesai meeting segera memeriksa ponsel karena perasaannya tidak enak, kebetulan ada panggilan masuk ternyata dari rumah sakit, mengetahui istrinya sudah berada di sana dan kondisinya membahayakan apalagi untuk calon penerusnya membuatnya langsung menuju ke sana dan mengabarkan kejadian ini pada orang tuanya dan juga Cecilia. "Dok, bagaimana keadaan calon anak saya?" tanya Rio panik. "Kondisi janin sangat lemah jadi harus mendapatkan perawatan intens apalagi istri anda sempat mengeluarkan dar*h sehingga membuatnya kini kekurangan darah dan harus segera mendapatkan donor, jika tidak akan membahayakan istri dan janinnya," "Tolong, lakukan yang terbaik untuk mereka, saya gak mau terjadi sesuatu pada istri apalagi calon anak saya," pinta Rio memohon. "Kami akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasien, tolong segera cari donor darah karena di rumah sakit stoknya sedang kosong, istri anda golongan darahnya AB," ucap dokter lalu bergegas pergi ke UGD. Lalu Rio segera mendatangi PMI untuk mendapatkan darah supaya istrinya segera selamat, ia tidak mau terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Jika ibunya tidak baik-baik saja otomatis anaknya pun juga, maka dari itu ia harus menyelamatkan keduanya. Beruntung pihak PMI ada stok darah yang dibutuhkan, Rio merasa lega dan akhirnya bergegas ke rumah sakit. Ternyata di sana sudah ada Katarina dan Cecillia yang tidak sabar mendapatkan kabar kondisi janin Lyra. "Gimana keadaan cucuku?" tanya Katarina cemas. "Kondisi mereka kritis, ini Rio habis ke PMI karena Lyra kekurangan darah dan kebetulan stok di rumah sakit kosong," ucap Rio dengan wajah kelelahan. "Dasar istrimu itu gak becus jaga anak! Bisa-bisanya tergelincir di kamar mandi, kalau sampai keguguran gimana coba?" cibir Cecillia kesal. "Bisa gak kamu jangan berisik! Namanya musibah siapa yang tau," protes Rio kesal. Karena kesal Rio terus menerus membela istrinya, membuat Cecillia berusaha menyadarkan tujuan awal menikahi Lyra. "Kenapa sekarang kamu jadi memikirkan istrimu? Jangan bilang kamu sudah mulai ada rasa, ingat tujuanmu awal menikahinya itu untuk mendapatkan anak, kamu hanya butuh rahimnya untuk menggantikan posisiku yang gak bisa punya anak. Ingat itu, Mas!" "Kalau terjadi sesuatu pada Lyra otomatis bayi yang di kandungannya juga kemungkinan demikian, kamu mikir sampai sana gak? Jangan bisanya hanya menuduh saja, pusing aku," pekik Rio kesal. "Sudah, gak usah di gubris perkataannya, lebih baik kamu fokus dengan anak dan istrimu karena dia yang lebih berhak mendapatkan perhatianmu apalagi kondisinya kritis," ucap Katarina malas mendengar ocehan Cecillia yang selalu memperkeruh suasana. "Mah, kenapa sekarang malah membela Lyra? sebenarnya sayang gak sih sama aku?" tanya Cecillia kesal. "Saya menyayangi seseorang yang pasti dan dia adalah Lyra," jawab Katarina tegas sehingga membuat Cecillia semakin benci dengan istri dari kekasihnya itu. Tidak berselang lama, dokter keluar dari UGD dan mengatakan bahwa kondisi Lyra beserta bayinya sudah melewati masa kritis sehingga kini bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah melewati serangkaian perawatan, kini Lyra sudah mulai siuman dan orang pertama yang ada di depannya adalah suaminya. "Mas,” sapanya dengan lirih karena energinya belum sepenuhnya pulih. "Iya sayang?" jawab Rio lembut. "Maaf, aku lalai menjaga anak kita dan hampir saja membuatnya celaka," ucap Lyra penuh penyesalan. Lalu, tiba-tiba Cecillia masuk ke ruangan dan membuat suasana menjadi panas. "Dasar gak becus! disuruh jaga anak dalam kandungan gak bisa, kamu mikir gak kalau nanti keguguran gimana, ha?" "Jaga sikapmu!" pekik Rio penuh penekanan. "Aku sudah tidak bisa menahan semuanya lebih lama lagi karena kamu sudah melewati tujuan awalmu menikahinya, Mas! Kalian membuatku muak!” pekik Cecillia tidak bisa menahan emosinya. "Tujuan awal menikahiku? Apa maksud dari sepupumu itu, Mas? Bisakah kamu jelaskan?” tanya Lyra merasa sangat terkejut dan menatap suaminya penuh harap. “Katakan yang sejujurnya pada istrimu itu, aku capek harus sembunyi terus," ucap Cecillia tak sabar. Tidak hanya Rio saja yang dibuat kelimpungan dengan sikap Cecillia, Katarina juga bahkan kini takut kalau hari ini menjadi awal terbongkarnya semua rahasia yang sudah rapi mereka sembunyikan. Tatapan tajam ditunjukkan untuk Cecillia supaya berhenti berkata yang membuat semuanya kacau, tetapi semuanya sia-sia saja. Emosinya sudah tidak mampu untuk ditahan dan kini Lyra terus mendesak untuk meminta penjelasan. Rio juga Katarina terus diam saja semakin membuat Cecillia geram dan menantang kekasihnya itu, "Mas, jelasin dong kenapa lama amat sih, apa perlu aku yang mengatakannya?" "Di mana rasa belas kasihanmu? Lyra dan bayinya baru saja melewati masa kritis," Katarina berusaha memberitahu baik-baik. "Aku tidak peduli, sudah capek harus menjadi yang kedua," ucap Cecillia semakin membuat Lyra terkejut. "Mas, katakan apa maksud semua ini?" tanya Lyra penuh penekanan. "Maafkan aku," jawab Rio dengan menghela nafas panjang. "Maaf untuk apa? Dan siapa sebenarnya perempuan yang kamu perkenalkan sebagai sepupu?" tanya Lyra harus siap mendengar kemungkinan hal buruk. "Kamu kelamaan! Sejujurnya aku pacar sekaligus calon istri dari suamimu-Mas Rio," jawab Cecillia tanpa sungkan sama sekali yang membuat Rio serta Katarina saling tatap dengan raut wajah panik. Lyra yang mengetahui fakta baru saja diucapkan oleh Cecillia merasa sangat terkejut bahkan lidahnya kelu untuk mengeluarkan sepatah kata, semuanya tidak bisa diterimanya. Perempuan yang diperkenalkan sebagai sepupu ternyata menjalin kasih dengan suaminya di belakangnya bahkan kedua orang tua Rio juga mengetahuinya. Melihat istrinya terpukul dengan kebenaran yang baru didengarnya membuat Rio merasa sangat bersalah, "Maafkan aku, apa yang dikatakan oleh Cecillia itu benar, kami memang ada hubungan khusus dan itu terjadi jauh sebelum mengenalmu," "Apa-apaan ini! Kalian ada hubungan tetapi malah menikah denganku, yang benar saja!!" Pekik Lyra tak terima. "Mau tau apa alasan mas Rio menikahimu?" tanya Cecillia tersenyum licik. "Memangnya apa? Bisa tolong jelaskan sejujurnya?" pinta Lyra berlinang air mata. "Ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya!" tolak Rio panik. "Lagi-lagi kamu berkelit, ingat tujuan awal menikahinya!" protes Cecillia. "Aku mohon jangan memperkeruh suasana karena ini bukan saat yang tepat, aku gak mau terjadi sesuatu pada bayinya," pinta Rio penuh harap. "Mas!" pekik Cecillia emosi. “Aku ingin mendengarkan semuanya sekarang juga, Mas!” tantang Lyra sudah siap menerima risiko apa pun nantinya asal semua jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD