Tidak terasa kini usia kandungan Lyra sudah memasuki trimester akhir, itu artinya tinggal menanti hari sang buah hati akan lahir ke dunia.
Setelah mengetahui bahwa suaminya hanya menginginkan anaknya saja, lantas tidak membuatnya tinggal diam, ia lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya dan menceritakan semua keluh kesahnya. Orang tuanya tak terima anaknya dijadikan alat, segala cara sudah dilakukan kedua orang tuanya dari mulai berdiskusi antar keluarga hingga memberi peringatan keras, namun semuanya sia-sia.
Keluarga Rio sanggatlah kaya raya, jadi tidak mudah bagi Lyra dan keluarga melawannya. Satu-satunya jalan ialah melaporkan ke polisi tapi Lyra melarangnya karena ingin fokus dulu dengan kelahiran anaknya, ia takut terjadi sesuatu dengan kandungannya jika melawan keluarga Rio lagi.
Ketika memikirkan masalah yang semakin pelik, tiba-tiba calon anaknya menendang dan hal itu membuat Lyra langsung fokus kepada malaikat kecil yang saat ini berada di perutnya sembari mengajak berbicara dan mengusap perut buncitnya dengan penuh kasih sayang. "Anak mamah sayang, yang kuat ya di dalam sana, jangan rewel dan tetaplah sehat, percayalah mamah sangat menyayangimu dan mamah akan menjagamu dari mara bahaya, yuk sama-sama saling menguatkan, Nak.”
Lalu Sri masuk ke kamar Lyra dan melihat sedang berinteraksi dengan calon anaknya, pemandangan yang membuat hati sangat pilu. "Lyra," sapa Sri lembut lalu duduk di samping.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Lyra sambil menyeka air matanya.
"Sebentar lagi anakmu akan lahir, apakah kamu sudah siap jika sewaktu-waktu diambil suamimu?" tanya Sri dengan sedih.
"Aku tidak akan siap jika harus kehilangan anak ini karena hanya dia harta Lyra yang sangat berharga. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan mereka, aku yakin jika nanti kita pemenangnya," ucapnya sangat optimis.
"Keluarga suamimu sungguh sulit dikalahkan karena punya pengaruh besar, jadi janganlah gegabah," nasehat Sri membuat Lyra hanya mengangguk patuh karena tiba-tiba perutnya sakit sekali.
Lyra merintih kesakitan, tidak lama kemudian Sri melihat ada cairan bening yang mengalir di paha anaknya, sontak saja hal itu membuat histeris dan segera membawa anaknya ke rumah sakit. Untung segera mendapat pertolongan yang tepat, jika tidak maka nyawa janinnya akan terancam.
****
Di rumah sakit.
"Dok apakah anak saya bisa melahirkan sekarang?" tanya Sri panik.
"Bisa bahkan harus segera dilahirkan, kalau tidak nanti janinnya di dalam keracunan air ketuban yang sudah keruh, suaminya di mana? Soalnya ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani,"
"Suaminya sedang perjalanan dan jaraknya jauh sekali. Apakah bisa kalau diwakilkan sama ayahnya saja? Saya takut terjadi sesuatu dengan anak saya," pinta Sri berbohong. Sebenarnya ia tidak memberitahu Rio maupun keluarganya, tidak mau di situasi genting seperti ini yang dipikirkan mereka hanya mengambil anaknya saja.
"Baik kalau begitu, mari ikut saya," ucap dokter lalu Tono mengikuti ke ruang dokter dan menandatangani berkas.
Satu jam kemudian Lyra sudah melahirkan anak kembar yang sangat menggemaskan. Sebuah mukjizat baginya di beri anugerah dengan hadirnya kedua malaikat kecil. Kedua orang tua Lyra awalnya terkejut jika melahirkan anak kembar namun semua itu ter bayarkan dengan wajah sang cucu yang sangat menggemaskan. "Lyra, selamat ya kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, anak kamu kembar. Sungguh ini mukjizat dari Tuhan," ucap Sri terharu.
"Iya, Lyra juga kaget ketika diberitahu dokter jika anakku kembar, apa ini jawaban atas doaku?"
"Kok bisa?" tanya Sri bingung.
"Lyra gak mau berpisah dengan anak mereka, jadi ini jawaban Tuhan kalau Mas Rio mau mengambilnya setidaknya Lyra masih bisa mengurus yang satunya lagi," ucap Lyra berusaha tegar.
"Tapi tetap saja ibu tidak setuju jika mereka yang mengurus anakmu, kasih nafkah pun enggak. Eh enak saja asal mau ambil, pokoknya Ibu dan Bapak siap pasang badan," protes Sri tak terima.
"Bapak juga setuju dengan usul Ibumu," ucap Tono sambil mengepalkan tangan.
Tanpa sepengetahuan mereka semua, tiba-tiba Rio dan Katarina datang. Bukannya menyapa istri serta kedua mertuanya, Rio malah langsung tertuju pada anaknya yang sudah lahir. "Anakku," ucap Rio terharu dan menciumi kedua anaknya.
"Iya, cucuku kembar, terima kasih Lyra karena kamu memang pembawa hoki," ucap Katarina bahagia.
"Terima kasih sayang sudah melahirkan kedua malaikat kecil kita dengan selamat dan tanpa kurang satu apa pun," ucap Rio tulus justru membuat Lyra muak.
"Gak usah banyak drama! Katakan saja apa tujuanmu datang kemari dan siapa yang memberitahu? Pekik Lyra ketus.
"Kedatanganku ke sini pure melihat kedua malaikat kecilku, memang apa lagi?? Yang memberitahu kita adalah mata-mata sewaanku yang selama ini memantau kalian," jawab Rio dengan enteng.
"Gak perlu pakai mata-mata aku bisa merawatnya dengan baik," ucap Lyra terus ketus.
"Hanya untuk berjaga saja, setidaknya membuahkan hasil karena aku langsung tau jika hari ini kamu melahirkan bahkan malah mendapatkan dua keturunan sekaligus," ucap Rio senang sekali.
"Ingat! Sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkan anak ini, dia adalah anakku dan aku yang mengandungnya selama ini, di mana kamu beberapa bulan ini? Menafkahi pun tidak, jangan harap bisa mengambil mereka dengan mudah," ancam Lyra.
“Anak kamu ada dua, setidaknya berikan Rio satu karena dia juga ayahnya, berhak merawat anak ini, jangan egois," protes Katarina tidak terima.
"Apa? Egois? Di sini siapa yang egois? Aku hanya mempertahankan hak untuk merawat anak, yang egois justru kalian yang dengan teganya bersandiwara di belakangku supaya mendapatkan seorang anak, kenapa tidak kalian adopsi saja dari panti asuhan atau dari kerabat kalian, mengapa harus aku yang jadi korban, mengapa? Apa Mamah sudah tidak punya hati sehingga dengan teganya menerima usulan licik Cecillia, tidak ada yang namanya mantan anak, kalian harus tau itu!" gertak Lyra menatap Katarina tajam.
"Mamah tidak bilang menyetujui rencananya tetapi tidak bisa dipungkiri jika sangat ingin memiliki cucu karena Rio anak tunggal, mamah hanya ingin itu. Mamah juga awalnya kecewa ketika tau Cecillia di vonis tidak bisa memiliki anak tapi mau gimana lagi? Hidup harus terus berjalan ‘kan? Mamah tidak munafik jika sangat menginginkan sosok cucu, Mamah juga lambat laun akan semakin menua, siapa yang menghibur kalau bukan cucu?" ucap Katarina berusaha membela diri karena tidak terima dengan tuduhan menantunya.
"Nyatanya Mamah menyetujui untuk menjadikan aku sebagai rahim pengganti! Mamah sama Cecillia itu sama saja, pantas kalian ini cocok," sindir Lyra sangat penuh amarah.
"Lyra! Jaga ucapanmu," gertak Rio tidak terima istrinya mengatai orang tuanya seperti itu.
"Kenapa, gak terima?? Lebih gak terima aku, karena aku ini ibunya dan akulah yang susah payah mengandung mereka, jangan sampai aku melaporkan ini ke pihak kepolisian jika kalian tetap nekat membawa salah satu diantara mereka," gertak Lyra serius.
"Kenapa kamu menjadi mengancam? Kami ini juga keluarganya." Katarina tak terima.
"Keluarga? Mana ada keluarga yang membiarkan aku dijadikan alat!! Ingat, aku di sini korban jadi jangan memutar balik keadaan," Lyra berusaha mengingatkan dengan tegas.
"Cukup! Aku muak dengan semua perkataanmu, kami di sini datang baik-baik tetapi kenapa kamu memancing emosi kami, ha? Apa salah jika aku menginginkan salah satu diantara kedua anak kita? Setidaknya ini adil ‘kan? Kamu dapat dan aku juga, jadi apa yang dipermasalahkan? Biaya? Tenang saja aku tidak akan luput dari tanggung jawab, kalau perlu kita buat perjanjian hitam di atas putih disertai saksi dari pengacara, bagaimana?" usul Rio berusaha membujuk istrinya.
"Mau kamu panggil seratus pengacara tetap aku tidak akan setuju! Anak-anak tetap bersamaku bahkan selalu dalam pengawasanku. Tidak bisa kalian ingkar jika aku ini ibu kandungnya bahkan aku akan memberikan mereka ASI eksklusif, jadi jangan harap bisa memisahkan aku dengan mereka! Aku tidak main-main!” Lyra sudah sangat emosi karena suaminya sama sekali tidak mau merasa bersalah.
"Jangan egois. aku juga ingin merawat anak," pinta Rio terus membujuk.
"Pergi dari sini, kehadiran kalian tidak diharapkan!" Usir Lyra membuat Rio dan Katarina emosi.
Jika tidak mengingat situasinya berada di rumah sakit, Rio tidak akan mau mengalah. Ucapan Lyra semakin lama melawannya semakin membuat emosinya tersulut, akhir-akhir ini ia seperti tidak mengenal istrinya.
"Dengar apa yang diinginkan anakku? Pergi atau kami panggil security dan memblacklist kalian supaya tidak boleh masuk," ancam Tono tegas.
"Oke, kami akan pergi, tapi ingat satu hal, kami tidak akan tinggal diam," ancam Rio lalu mencium kedua anaknya dan pergi. “Aku tidak bisa berdiam saja, harus memikirkan cara supaya salah satu kalau bisa kedua anakku berada di dalam hak asuhku!”