Pesta Resepsi

1685 Words
"Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Hana Leora Handoko binti Rayan Handoko dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Raditya menjabat tangan Pak Rayan dan dengan suara lantang ia mengikrarkan janji suci pernikahan didepan para saksi. Wajahnya terlihat begitu tenang, tidak ada rasa gugup sedikitpun. Hati Clarissa mencelos, ia hanya bisa menghembuskan nafas pasrah ketika kata "Sah" menggema di ruang prosesi akad nikah. Sedikitpun tidak pernah terlintas dibenak Clarissa akan menikah diusia yang masih terbilang muda. Tanggung jawab atas Clarissa kini sepenuhnya bukan lagi pada Papanya, namun telah berpindah ke pundak Raditya, laki-laki yang telah resmi menjadi suami dan imam baginya. Dan disinilah Clarissa berdiri sekarang, di atas pelaminan yang begitu megah dan anggun seperti istana princess Disney, mendampingi seorang pangeran tampan yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian. Jangan tanya bagaimana perasaannya Clarissa sekarang, Senang? Bahagia? tentu saja jawabannya Tidak. Ia tidak menginginkan pernikahan ini terjadi diusianya yang bahkan baru menginjak usia 19 tahun, menikah dengan pria yang tidak dicintainya, terlebih lagi pria itu adalah rektor di kampus, guru besar yang sangat dihormati. Raditya Arkhan Ganendra. Jangan berpikir Raditya itu gendut dan kepala botak mengkilap, tidak, bukan seperti itu. Penampilan Raditya sungguh memesona dan teramat tampan bak dewa yunani, diusianya yang masih terbilang muda, 34 tahun, ia sudah mencapai kesuksesan. Dan fakta yang baru saja diketahui Clarissa, dia adalah salah satu pria yang paling digilai oleh para kaum hawa di kampus. Tapi tetap saja ketampanannya tidak membuat hati Clarissa bergetar, luluh apalagi sampai jatuh hati seperti wanita yang lain. Bukan kesempurnaan fisik yang dicari oleh Clarissa, bukan harta ataupun jabatan tinggi, bukan pula yang terbaik karena yang terbaik saja belum tentu bisa menggugah hati. Clarissa tidak butuh yang terbaik, tapi butuh seseorang yang mampu membuatnya menjadi jauh lebih baik. Membimbing dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Calrissa sendiri pun sungguh merasa heran, bagaimana bisa tiba-tiba saja Raditya datang ke rumah, bertemu dengan Papanya dan langsung melamar tanpa bertanya dulu. Dengan mudahnya Raditya mendapat restu dan meyakinkan Pak Rayan kalau dia mampu membahagiakan Clarissa yang notabenenya adalah anak perempuan satu-satunya dikeluarga Handoko. Mungkin sebagian orang akan mengira kalau Clarissa adalah wanita yang sangat beruntung bisa mendapat suami seperti Raditya dengan segala pesonanya, tapi bagi Clarissa, menjadi istri dari seorang Raditya tidaklah mudah, mengingat banyaknya wanita yang mengagumi laki-laki itu. Meski mereka tahu kalau laki-laki itu kini telah berstatus sebagai suaminya yang sah. Raditya Arkhan Ganendra, wajahnya tampan rupawan, postur tubuhnya tinggi gagah, rambut hitam, alis tebal dengan mata yang agak sedikit sipit dan jika dia tersenyum lesung pipinya langsung terlihat. Manis sekali. Dia nyaris sempurna dari segi fisik dan mampu membuat wanita manapun akan menoleh dua kali jika berpapasan dengan Raditya dan akan memandangnya tanpa berkedip. "Kenapa melamun?" Clarissa menoleh ke samping saat merasakan ada tangan yang menggenggam tangannya. Raditya tersenyum manis menatap Clarissa yang kini telah sah menjadi istrinya. Namun lain hal bagi Clarissa, senyum Raditya membuatnya merasa mual, rasanya ia ingin muntah jika melihat wajah menyebalkannya Raditya ketika dengan sengaja usil menggodanya. "Ishhh ngapain sih Bapak pegang-pegang saya!" ucap Clarissa ketus lalu menarik tangannya. Raditya mengerutkan dahinya mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya. "Memangnya kenapa? Kamu sudah resmi jadi istriku, pernikahan kita sah dimata agama dan negara. Masa cuma pegang tangan dikit aja gak boleh. Inget! dosa lho kalau nolak keinginan suami. Jangankan tangan, saya berhak semuanya atas diri kamu." ujar Raditya telak. Clarissa menghembuskan nafas pelan. "Saya tidak peduli!" sahutnya ketus. "Mau kemana?" Raditya menahan tangan Clarissa yang telah bersiap hendak pergi. "Kemana saja yang penting bisa menjaga jarak aman. Mual perut saya kalau deket-deket sama Bapak." ucap Clarissa. Dengan cepat Raditya menarik tangan Clarissa agar duduk kembali di sofa pelaminan. "Kok bisa mual? Kita bahkan belum melakukan ritual malam pertama loh." ujar Raditya sambil tersenyum, ia sengaja menggoda istrinya yang sangat jutek sejak pertemuan pertama mereka. Clarissa menatap horor pria yang duduk dihadapannya. Ya Tuhan... Apakah ini mimpi? kenapa rektorku ini begitu m***m sekali pikirannya, belum apa-apa sudah memikirkan malam pertama. Kalau ini mimpi, tolong bangunkan aku sekarang, aku tidak ingin menikah dengannya. Batin Clarrissa dalam hatinya. "Kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Raditya serius sambil menatap tepat ke manik mata Clarissa. "Pak Raditya sudah tahu pasti apa jawabannya, kenapa masih bertanya?" jawab Clarissa, masih dengan nada ketus. Raditya menghela nafas pelan lalu kembali tersenyum samar. "Tapi aku ingin mendengar jawabannya langsung dari bibirmu yang manis itu sayang." "TIDAK!" Clarissa menjawab dengan tegas. "Baiklah kalau begitu. Aku akan berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hati kamu dan membuat kamu mencintaiku. Hanya aku, tidak ada yang lain. Beri aku waktu untuk membuktikan semuanya." Raditya menyunggingkan sudut bibirnya dengan gaya yang membuat Clarissa gondok. "Saya berjanji akan membahagiakan kamu dan memastikan kamu tidak akan menyesali pernikahan ini. Pernikahan kita akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, jadi jangan pernah berpikir untuk minta cerai. Saya tidak akan pernah mengabulkan hal yang satu itu sampai kapanpun. PAHAM Mrs. Ganendra?" Tanpa sadar Clarissa menganggukan kepalanya. Ucapan Raditya barusan bagaikan sebuah perintah yang tidak boleh dilanggar. ----------------------------------- Clarissa mendesah lega saat acara resepsi berakhir, sejak tadi ia sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri acara yang membosankan itu. Badannya sudah sangat letih, berdiri seharian menyambut para tamu undangan yang begitu banyak dan sebagian besar adalah tamunya Raditya. Berbeda dengan kedua orangtuanya dan juga orangtua Raditya, mereka semua terlihat sangat bahagia, bahkan baru kali ini Clarissa melihat senyum Papanya yang begitu lepas tanpa beban. Beberapa dosen dan teman kampus pun datang ke acara resepsi, termasuk Karenina, sahabat dekatnya. Setelah ini Karen pasti akan menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Raditya karena yang Karen tahu, selama ini Clarissa tidak dekat dengan pria manapun. Dan tiba-tiba saja menyebar undangan pernikahan dengan Raditya. "Kamu hutang penjelasan padaku Mrs. Ganendra!" Clarissa masih ingat betul kalimat yang dilontarkan oleh Karen tadi setelah selesai prosesi ijab qabul. "Melamun lagi?" terdengar suara berat Raditya. Clarissa langsung menoleh, ia menatap Raditya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Saat ini mereka berdua sedang berada di kamar hotel tempat resepsi tadi. DEG. Clarissa sempat terpana, tiba-tiba saja jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat karna melihat Raditya yang begitu err... sexy. Ahh salah, tolong diralat. Dia sangat sexy dengan rambut basah yang berantakan, ia mengenakan kaos ketat yang mencetak jelas perut kotak-kotaknya. Ini kali pertama Clarissa berada satu kamar bersama seorang laki-laki. Oh... Tuhan jagalah kesehatan jantungku, aku tidak ingin mati muda karna serangan jantung mendadak sebelum menyentuh perutnya yang sexy itu. Tidak... Tidak... Buang pikiran itu jauh-jauh Clarissa, jangan sampai kamu jatuh terlalu cepat karena pesonanya. Sisi lain hatinya Clarissa mengingatkan. Tidak, tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi! Clarissa menggelengkan kepala berusaha menghilangkan bayangan Raditya dan perdebatan yang terjadi di dalam pikirannya. "Ekhem! Terpesona, eh?" Deheman Raditya membuat wajah Clarissa memanas, wajahnya bahkan sudah memerah karna malu tertangkap basah sedang mengagumi Raditya. "Tidak!" jawab Clarissa, ia berusaha menutupi rasa gugupnya. "Kalaupun 'iya' juga tidak apa-apa. Aku senang." sahut Raditya sambil mengerlingkan mata. "In your dream, Mr. Ganendra!" Clarissa mengelak lalu pergi ke kamar mandi, dari dalam kamar mandi ia bisa mendengar suara Raditya yang tertawa puas. Sial. Yaa Tuhan mampukah aku menahan diri dari godaan mahluk ciptaanmu yang tampan itu? batin Clarissa sambil menatap pantulan dirinya dicermin. 30 menit berlalu, Clarissa mengakhiri ritual mandinya. Tubuhnya sudah kembali segar setelah berendam air hangat. Dengan balutan handuk kimono, Clarissa mengintip dari balik pintu kamar mandi. Dalam hati, Clarissa berharap kalau Raditya sudah tertidur, agar ia bisa keluar dari kamar mandi dengan leluasa lalu mencari baju ganti. Di kamar mandi tidak ada baju ganti yang layak pakai, hanya ada baju tidur sexy yang bahkan tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya. Ckleekk. Clarissa membuka pintu pelan-pelan, hatinya mencelos kala matanya mendapati Raditya belum tidur dan malah terlihat asik membaca majalah sambil menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang. Clarissa merapatkan handuk dan berjalan keluar dengan ragu. Ia yakin sekali kalau saat ini Raditya sedang memperhatikan gerak geriknya yang sedang membuka lemari pakaian. "Cari apa?" Clarisa berjengit kaget karena tiba-tiba Raditya sudah berdiri dibelakang. Ia menelan ludah dengan susah payah ketika aroma parfum Raditya yang begitu memabukan tercium oleh indra penciumannya. Clarissa memegangi handuknya dengan erat, tidak ingin terjadi sesuatu yang diinginkan oleh Raditya. "Piyama. Di kamar mandi tidak ada pakaian yang layak pakai." jawab Clarissa berusaha bicara senormal mungkin agar tidak terlihat gugup. "Ini kamar pengantin sayang, kamu tidak membutuhkan piyama dimalam pertama kita." Raditya berbisik sambil merapatkan tubuhnya. Clarissa merinding. Sialan, umpatnya dalam hati. "Please, stay away from me!" Clarisa berbalik, ia mendorong pelan d**a bidang Raditya. "Tell me, why?" Raditya menaikan sebelah alisnya. "Saya tidak ingin ada kontak fisik diantara kita malam ini!" ujar Clarissa pelan. "Memangnya kenapa? Bukankah kita sudah menikah, sudah sah menjadi suami istri." Dengan sengaja Raditya semakin menghimpit Clarissa ke lemari. Menggoda istrinya akan menjadi hobi baru bagi Raditya. Clarissa kembali menelan ludah dengan susah payah. Rasa gugup dan takut berbaur jadi satu. Haruskah malam ini? Batinnya. "Saya belum siap melakukannya malam ini. Beri saya waktu, Pak." Clarissa menundukan kepalanya, tak berani menatap mata Raditya yang begitu jernih. "Tatap mataku Clarissa jika aku sedang berbicara!" Raditya meraih dagu Clarissa agar mendongak. Clarissa menjadi semakin gugup, jantungnya kembali berdetak dengan cepat. CUP. Clarissa merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya, ciuman pertamanya dengan Raditya. "Night kiss. Salah satu hal wajar yang sering dilakukan oleh pasangan suami istri sebelum tidur." ucap Raditya sambil mengusap sudut bibir Clarissa. Clarissa mematung. Raditya berjalan ke sudut ruangan, mengambil salah satu kemeja yang agak panjang dari dalam koper. "Pakai ini!" Raditya menyerahkan kemeja itu pada Clarissa. Mata Clarissa melirik Raditya, pria itu tersenyum penuh kelembutan. "Aku tidak akan memaksa kamu. Percayalah!" "Benarkah?" Clarissa sedikit merasa ragu, namun akhirnya tetap menerima kemeja itu. "Selama kamu belum bisa mencintai dan menerimaku sebagai suami kamu, aku tidak akan memaksa kamu. Itu janjiku." ujar Raditya, ia mengelus pipi Clarissa. Menghadapi Clarissa yang jutek memang harus dengan kelembutan agar wanita itu cepat luluh. "Sebaiknya kita tidur sekarang. Saya tahu kamu lelah, saya juga lelah. Kita bisa melakukannya nanti." Raditya mengedipkan sebelah matanya lalu pergi meninggalkan Clarissa yang diam mematung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD