Part 4

1447 Words
Selamat membaca!!!!! _____________________________ Di sinilah aku berada di atas pelaminan dengan pernak pernik khas pengantin. Pelaminan yang di hiasi sederet bunga asli berwarna cerah serta kursi pelaminan yang berbentuk ala kerajaan. Aku berdiri di atas pelaminan menggunakan kebaya putih dengan sanggul kecil serta bunga mawar merah dan melati yang menghiasi rambut ku. Bibir ku terus berdecak kagum melihat acara resepsi pernikahan yang di hadiri sekitar 5000 undangan terdiri atas keluarga besar dan sahabat terdekat tuan Mahreza. Aku berdiri dengan gugup di samping pria gagah dengan balutan jas yang senada dengan warna kebaya yang ku kenakan. Ini adalah acara resepsi pernikahan setelah pagi tadi pukul 10 siang acara akad nikah yang di langsungkan di masjid dekat dengan hotel berjalan lancar tanpa hambatan. "Saudara Mahreza Putra Handoyo bin Bambang Handoyo, saya nikahkan dan saya kawinkan dengan saudari Raina Annisah binti (alm) Sutanto Mahmud dengan maskawin seperangkat alat sholat serta emas 20 karat di bayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Raina Annisah binti (alm) Sutanto Mahmud dengan maskawin tersebut di bayar tunai!" ucap nya dengan satu helahan nafas. Sah...sah Aku tersenyum getir mengingat akad nikah tadi pagi. Aku sama sekali tidak merasa senang. Justru yang ada hanya rasa takut, sakit hati dan gelisah. Aku takut jika aku harus menelan kepahitan rumah tangga ini. Aku sakit hati karena aku merasa harga diri ku di permainkan bahkan di injak-injak. Aku gelisah karena perasaan akan menjadi janda di usia muda akan segera terjadi entah itu waktunya kapan yang jelas bayangan menjadi janda sudah tergambar jelas. Bayangan menjadi janda seolah terus memenuhi seisi kepala ku. Aku tidak ingin pernikahan yang dulu aku impikan akan terjadi sekali seumur hidup harus berakhir dengan perpisahan, namun apa lah daya semua ini sudah di atur sedemikian rupa oleh keluarga besar Handoyo. Aku hanya boneka permainan mereka yang sengaja di mainkan untuk menutupi rasa malu keluarga ini. Ku salami setiap tamu undangan yang memberikan selamat pada ku dan Tuan Mahreza, meski hati ku saat ini terasa ngilu dan perih tapi aku tetap menampakan senyuman semanis mungkin. "Hay Za Akhir nya lo nikah juga. Gue kira lo bakal nunggu si Abel wanita yang di jodohin sama lo." Ucap seorang pria yang ku tebak dia adalah sahabat tuan Mahreza Di jodohkan? Aku mengernyit mendengar salah satu sahabat Eza yang mengatakan masalah perjodohan. Perjodohan antara Eza dan Abel, aku baru mengetahui mengenai ini karena Tante Lisa tidak pernah mengatakan mengenai perjodohan. Eza hanya mengulum senyum menanggapi ucapan sahabatnya "Terimakasih lo udah mau datang." Jawab nya santai. "Za istri lo cantik bahkan masih sangat muda." Ujar seorang pria yang aku tebak lagi pria ini juga sama temannya Eza. "Pokonya Za selamat menempuh hidup baru. Dan semangat buat malam ini jangan lupa minum obat kuat." Goda mereka seraya tertawa bersama-sama. Aku hanya merunduk, entah lah aku sama sekali tidak berani menatap mereka semua. Keberanian ku seakan tak ada untuk sekedar menatap pria di sebelah ku saja. Seluruh tamu undangan berbaris menyalami aku dan Eza, untuk memberikan selamat dan mengucapkan doa atas pernikahan kami berdua. Berulang kali aku memaksakan bibir ini untuk tersenyum karena melihat lirikan Tante Lisa yang memaksa ku agar tersenyum manis. Aku menuruti semua nya, senyum di atas pelaminan, berdiri hingga berjam-jam meski rada nya sangatlah menderita namun apa boleh buat ini harus ku lakukan. Tubuh ku sudah terasa ngilu, capek bahkan kaki ku terasa menjerit karena menahan sakit berjam- jam berdiri menyalami tamu undangan yang semakin banyak berdatangan. Ini sudah pukul sebelas malam dan tamu undangan berlangsung mulai sedikit. Aku bisa bernafas lega karena setelah tadi harus menahan semua nya kini aku sudah bisa bersikap biasa lagi, ada beberapa anggota keluarga inti saja yang belum pulang mereka semua masih saling mengobrol. Malam ini rencana nya aku dan Eza akan menginap di hotel namun semua itu di tentang oleh Eza. Eza tidak ingin menginap di hotel karena Eza lebih suka dan nyaman tidur di rumah sendiri. Aku juga ikut pulang bersama keluarga lain nya karena memang keluarga juga ada yang ikut pulang dan untuk keluarga jauh ada yang menginap di hotel. Sesampai nya di rumah aku langsung masuk kedalam kamar ku sendiri, merebahkan tubuhku di atas kasur agar tubuh lelah ku langsung beristirahat. Rasanya seluruh bagian tubuh ku terasa pegal-pegal, aku bergegas bangun kembali untuk mandi dan membersihkan make up yang masih penuh berada di wajah ku. Aku keluar dari kamar mandi menggunakan kimono dan handuk yang melilit rambut panjang ku. Rasanya seluruh tubuh ku terasa segar dan wangi, Tangan ku terulur membuka lemari coklat yang ada di kamar ini, lemari yang di sediakan rumah ini untuk menampung semua pakaian ku yang sudah di siapkan Tante Lisa. "Baju ku dimana?" Tanya ku pelan, aku mematung memandang lemari yang kosong tanpa terdapat satu pakaian pun. Aku masih ingat betul sebelum acara akad nikah lemari ini masih penuh terisi pakaian ku yang Tante Lisa berikan lantas sekarang pakaian itu semua nya hilang, hanya ada handuk satu yang masih tersisa. Aku benar-benar merasa bingung melihat ini semua. Tubuhku mondar-mandir tidak karuan, mengelilingi kamar ini seraya berfikir dimana semua pakaian ku, Aku benar-benar tidak tau semua pakaian ku ada dimana, aku ingin keluar tidak berani ingin bertanya di mana pakaian ku juga tidak berani. Aku tidak mungkin keluar dari dalam kamar dengan tubuh ku yang hanya berbalutkan kimono. Tok Tok Tubuh ku berhenti mondar-mandir tidak karuan mendengar ada suara ketukan pintu. Sedetik aku hanya diam mendengarkan ketukan itu namun dengan cepat ku buka pintu itu, di sana sudah ada Bu Darmi yang berdiri dengan senyuman nya. "Bu. Baju ku tidak ada? Kemana semua nya?" Tanya ku tidak sabaran. Bu Darmi nampak mengulum senyum mendengar pertanyaan ku yang mungkin bagi nya mengejutkan. Bu Dari mengulurkan tangan nya mengusap lembut lengan ku agar aku bisa sedikit tenang. "Non Ana. Kamar Non ada di ujung sana." Bu Darmi menunjukkan ku ke arah pintu coklat besar yang berada di ujung sana. "Iya Non itu kamar nya Den Eza dan semua pakaian Non sudah ada di sana." Jelas Bu Darmi yang membuat ku langsung diam dengan tatapan penuh rasa heran. "Tapi, Bu. Aku ngga bisa kesana." ucap ku gugup. lihat lah bagaimana aku bisa kesana hanya dengan menggunakan kimono dan lilitan handuk di kepala itu sangat memalukan. "Bu tolong Ana yah.. Tolong ambilkan baju di kamar tuan Mahreza" pinta ku memohon. Bu Darmi hanya tersenyum dan mengangguk iya. Sementara Aku kembali bersembunyi di dalam kamar, duduk di pinggir ranjang dengan kedua tangan saling bertautan satu sama lain. "Non ini baju nya." Ucap Bu Darmi dari balik pintu, aku langsung membuka pintu kamar. "Non ada pesan dari tuan Muda.Tuan Muda bilang Non Ana di suruh datang ke kamar nya sekarang." Jelas Bu Darmi. Mata ku sukses melotot mendengar ucapan Bu Darmi tadi. Aku mendesis pelan mendengar perkataan Bu Darmi barusan. Aku merasa ini mulai salah karena Tante Lisa hanya mengatakan bahwa aku akan bercerai bila Mba Abel kembali lantas mengapa ia meminta ku ke kamar nya bukan kah antara aku dan dia hanya sebatas pernikahan biasa dan akan bercerai bila calon yang diinginkan Eza kembali. Aku memilih untuk menemui Eza, menuruti keinginan nya yang meminta ku untuk masuk ke kamar nya. Aku tidak mengerti dengan semua ini namun sekali lagi aku harus mengangguk karena bagaimana pun mereka semua sudah membeli ku lewat kak Dinda. Aku menghela nafas gusar melihat ke arah pintu coklat kamar Eza setelah sebelum nya aku mengganti pakaian. Saat ini aku tengah berada tepat di depan pintu coklat kamar nya. Berulang kali aku menghela nafas mondar-mandir tak karuan antara masuk atau tidak. Tenang Raina kau harus tenang! Aku mengetuk pintu pelan dengan wajah menunduk. Bola mata ku menatap ke ujung kaki ku sendiri menolak untuk sekedar melihatnya. Cklek "Masuk!" Perintah suara berat itu seakan mampu membuat ku tersadar. Aku segera masuk ke dalam kamar, menatap sekeliling melihat kamar yang luar biasa besar dengan ranjang ukuran king size serta kamar yang berdominasi warna hitam dan silver tidak ada warna cerah di sini yang ada hanya warna gelap. "Tidak usah gugup aku tidak akan memakan mu." Katanya seraya kembali duduk di atas ranjang dengan sorot mata menatap kearah layar laptopnya. Aku masih diam membisu, bingung? Yah, jelas aku sangat bingung apa yang harus ku lakukan di ruangan ini sementara sang empunya kamar malah sibuk dengan laptopnya. "Tuan Apa aku boleh tidur di kamar ku saja?" pinta ku lembut dengan suara bergetar. Ia mendelikkan mata nya melirik ku sekilas "Untuk apa? Tidur lah di sini. Ini juga kamar mu tidur saja di ranjang ku. Dan satu lagi jagan panggil aku tuan" jawab nya datar. Aku mengangguk pasrah duduk di atas ranjang kemudian merebahkan tubuh ini dan mencoba memejamkan mata. Aku berharap malam ini tidak akan terjadi apa pun antara aku dengan dirinya setidak nya sampai Mba Abel datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD