Bab 2. Dia Bangun

2067 Words
Menunggu adalah saat yang paling menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang menyukainya, begitu juga dengan Jemi. Dia paling tidak suka dengan yang namanya menunggu. Namun, Jemi harus melakukannya untuk laki-laki yang ditemukannya di pinggir jalan waktu itu. Laki-laki yang dibawanya pulang dalam keadaan kritis. Sudah setahun dan laki-laki itu belum juga sadar. Tubuhnya yang kurus sudah menghangat, tidak lagi dingin seperti saat ditemukannya setahun yang lalu. Hanya mata itu saja yang masih terpejam. "You are so handsome, but too bad you keep sleeping like Snow White. When will you wake up? Aren't you tired of lying down like this? (Kau sangat tampan, tapi sayang sekali kau terus tertidur seperti Putri Salju. Kapan kau akan bangun? Apakah kau tidak merasa terus berbaring seperti ini?)" Ini bukan pertama kalinya Jemi mengajak laki-laki ini bicara. Hampir setiap hari setelah pulang sekolah Jemi selalu melakukannya. Dia bercerita tentang sekolah dan kejadian apa saja yang terjadi, baik di sekitar ataupun yang menimpanya. Jemi juga bercerita tentang teman-temannya di sekolah. Pokoknya semua hal dari yang terkecil sampai yang terbesar. Kadang Jemi juga memberitahukan kejadian yang dilihatnya di televisi. Kadang juga dia tidak menceritakan apa-apa, hanya duduk diam memandangi wajah yang menurutnya seperti pangeran dalam negeri dongeng, atau membawa pekerjaan rumahnya dan mengerjakannya di kamar ini. Tidak ada yang berani melarang. Lagipula Jemi tidak melakukan sesuatu yang buruk, dia hanya mengajak bicara saja. "Wake up soon! So I can introduce you to my friends. We can also go for a walk, or you can help me with my homework (Cepatlah bangun agar aku bisa mengenalkanmu kepada teman-temanku. Kita juga bisa berjalan-jalan, atau kau bisa membantuku menyelesaikan pekerjaan rumahku)." Senyum manis Jemi mengembang sempurna. Tangannya menggenggam tangan besar laki-laki itu dan menyentuhkan ke pipinya. Hanya beberapa saat Jemi sudah melepaskannya, mengembalikan tangan itu ke posisi semula. "I'm sorry, I hope you are not bored because I always bother you. The trully I don't wanna do it, I just wanna talk to you, who knows you will open your eyes and wake up (Maaf, aku harap kau tidak bosan karena aku selalu mengganggumu. Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya. Aku hanya ingin mengajakmu bicara, siapa tahu kau akan membuka mata dan bangun)." Jemi berdiri, membungkuk dan mengecup pipi laki-laki itu. "Sampai ketemu besok," ucapnya. Mengusap pipi itu sebelum menjauh menuju pintu, ada sedikit air liurnya yang menempel. Jemi tidak tahu saja jari-jari tangan laki-laki itu bergerak sedetik, di detik berikutnya kembali diam seperti sebelumnya. Bahkan sampai tiga tahun berikutnya, tidak ada perubahan dari pria berkulit pucat itu. Felix sudah mengangkat tangan, ia menyerah dan menyerahkan semuanya ke tangan dokter Steven. "Papi payah!" komentar Jemi saat mereka berada di dalam kamar pria yang tidak juga sadarkan diri itu. "You shouldn't have given up, Papi! (Kau seharusnya tidak menyerah, Papi!)" Felix tidak menghiraukan, ia terus mengamati Steven yang memeriksa indra penglihatan pria itu. "Bagaimana?" tanya Felix setelah dokter Steven selesai memeriksa. "Is he going better? (Apakah dia membaik?)" Steven menggeleng. "Nothing change (Tidak ada perubahan)," sahutnya lelah. "Kita hanya bisa berharap pria ini mendapatkan sebuah keajaiban." Jemi mendengarkan pembicaraan itu baik-baik. Dia tidak ingin ketinggalan satu pun informasi tentang pria muda itu. "Jemi yakin dia pasti bangun!" seru Jemi. "Nggak mungkin selamanya kayak gini, 'kan?" tanyanya penuh harap. Jemi sangat ingin melihat pria ini membuka mata. Felix mengembuskan napas melalui mulut, menatap putri tunggalnya dan wajah pria yang masih saja terpejam bergantian, lalu berhenti di wajah putri tunggalnya. Felix mendekatinya, membingkai pipi yang cemberut. "Es ist vier jahre er und er ist immer noch bewusstlos. Was denkst du, sollten wir jetzt tun? Wieder warten? (Ini sudah empat tahun dan dia masih belum sadarkan diri. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Menunggu lagi?)" tanya Felix dalam bahasa Jerman. Saat bercakap-cakap bersama Jemi, Felix memang sering menggunakan bahasa negaranya. Meski tinggal di negara almarhumah istrinya, kewarganegaraan Felix sampai sekarang tidak berubah, ia masih berkewarganegaraan negara asalnya,begitu pun dengan Jemi. Berbicara pun demikian. Felix tidak hanya mengajarkan bahasa penduduk lokal kepada putrinya, tetapi juga bahasa internasional dan bahasa dari negaranya. Untuk bahasa penduduk lokal, Jemi lebih paham daripada dirinya yang masih belum terlalu fasih. Felix lebih sering menggunakan bahasa internasional karena pekerjaan yang memaksanya harus sering bepergian ke luar negeri. Jemi mengangguk yakin. "Nichts falsch, oder? Ich glaube, ich hätte nichts dagegen, noch ein bisschen zu warten (Tidak ada salahnya, bukan? Kurasa aku tidak keberatan untuk menunggu beberapa saat lagi)," sahut Jemi santai. Dagunya terangkat angkuh. Felix mengembuskan napas melalui mulut. Putrinya yang keras kepala, begitu persis dengannya dan sikap mendiang istrinya. Jennifer, Ibu Jemi, juga seperti ini. Sikap inilah yang membuatnya jatuh cinta pada Jennifer, dan memperjuangkan mati-matian untuk mendapatkan wanita itu. Jemi adalah perpaduan sempurna dari mereka berdua. "Bagaimana menurutmu, Steven?" Felix berbalik menatap dokter seusia dirinya itu. Selain dokter pribadi keluarga Aguri, Steven adalah sahabatnya sejak mereka masih berusia remaja. Dokter berambut pirang itu hanya mengangkat bahu. "Kalau Jemi ingin seperti itu, kurasa tidak salahnya kita menunggu beberapa saat lagi." Jemi tersenyum penuh kemenangan. Dia memang selalu mendapatkan apa yang diinginkan sejak kecil. Tidak apa-apa, 'kan? Toh, selama ini dia tidak pernah meminta yang aneh-aneh, seperti minta dibelikan pesawat misalnya. Jemi tidak seperti itu, dia tidak akan meminta sesuatu kecuali sesuatu itu berguna dan penting baginya. Pria yang masih tertidur itu juga penting baginya. Entah sejak kapan Jemi merasakan hal itu, tapi dia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu. Lagipula, kata menyerah tidak pernah ada dalam kamus keluarga Aguri. "Jemi percaya, dia pasti bangun." Jemi menghampiri ranjang pria itu. Menggenggam tangan yang terasa besar bila dibandingkan dengan tangannya sendiri. "Benar, 'kan? Kamu pasti bangun, 'kan? Ayo, buktikan sama Papi sama om Steven kalo kamu pasti bisa." Jemi membungkuk, berbisik sebelum mengecup pipinya. "Aku nggak mau kita pisah. Kalo kamu nggak bangun juga, mereka bakalan misahin kita." Jemi menegakkan punggung. Menatap wajah pucat itu beberapa detik, berniat melepaskan tangannya tapi urung saat merasakan tangan itu membalas genggamannya. Jemi memekik gembira. Pria ini merespons kata-katanya. "Tangannya bergerak!" pekik Jemi. "Papi, lihat! He grabbed my hand back! (Dia membalas genggaman tanganku!)" Felix mendekat, begitu juga dokter Steven. Kedua pria berusia empat puluh dua tahun itu berpandangan sekilas kemudian menatap ke arah tangan yang saling bertautan nyaris bersamaan. Jemi benar, pria itu juga menggenggam tangannya. Ini suatu keajaiban. Sepertinya Jemi dan pria itu terhubung. Bukan hanya Jemi yang terbiasa dengan kehadirannya, pria itu juga demikian. Steven segera memasang kembali stateskop yang menggantung di lehernya. Ia memeriksa kembali keadaan pria Jemi. *** Kejadian beberapa hari yang lalu adalah yang pertama. Setelahnya pria itu semakin sering memberikan respons, membuat Jemi yakin kalau sebentar lagi mata yang terpejam itu akan kembali terbuka secepatnya. Keyakinan yang menjadi kenyataan karena pemuda itu membuka mata saat Steven sedang memeriksa denyut jantungnya yang semakin normal. Gerakan matanya yang membuka membuat Steven terkejut. Namun, segera saja raut terkejut pria berkebangsaan Australia itu berubah menjadi ceria. Pasiennya sudah sadar. Steven segera memeriksa keadaannya. Semua organ dan bagian tubuh pria ini berfungsi dengan baik. Ia sudah sembuh dan dalam keadaan sehat. Sungguh suatu keajaiban. Steven tersenyum penuh kelegaan, Jemi pasti akan bahagia mendengar ini pulang sekolah nanti. Sengaja Steven tak memberitahukan sekarang, ia sudah hafal watak putri sahabatnya itu. Jemi sangat nekat, gadis itu pasti akan pulang sebelum jam sekolah berakhir mendengar pria-nya sudah bangun. "Halo, nama saya Steven Lee," sapa Steven ramah. Ia yakin pria muda ini adalah bangsa pribumi, dari bentuk wajahnya terlihat. Tidak ada campuran dari bangsa barat, jadi ia menyapanya dalam bahasa Indonesia. "Saya dokter yang merawat kamu." Sepasang alis hitam itu berkerut. "Dokter?" ulangnya dengan suara yang parau. "Apa saya sakit?" Steven tersenyum lebar mendengar suara itu. Khas suara pria dewasa. Ia memperkirakan usia pria ini berkisar dua puluh empat atau dua puluh lima tahun. Berwajah tampan seperti yang selalu dikatakan Jemi. Steven meringis mengingat gadis itu yang selalu saja dapat membedakan pria tampan sejak masih kecil, dan dia selalu benar. Berkulit putih cenderung pucat, pasti karena ia yang tidak terlalu kena sinar matahari dalam empat tahun terakhir ini. Tempat tidur pria ini memang di depan jendela yang selalu terdampak sinar matahari pagi, tapi tetap tidak bisa optimal. Selain itu juga karena ia yang tidak menggerakkan tubuhnya selama empat tahun ini. Satu lagi, pria ini sangat kurus, wajahnya tirus tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya. Tak adanya makanan yang masuk ke dalam tubuhnya selain infus tentu membuatnya seperti ini. Steven yakin pria ini pasti akan segera kembali seperti sediakala beberapa minggu lagi. Apalagi kalau Jemi turun tangan merawatnya. Steven mengangguk. "Iya," jawabnya tersenyum. "Kamu sedang sakit. Koma selama empat tahun, dan kamu baru sadar sekarang." Pria itu tampak terkejut, sepasang mata cokelat gelapnya mengerjap, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Sa-saya koma ... empat tahun?" tanya pria itu terbata. Steven tersenyum maklum. Setiap pasiennya yang baru sadar pasti bersikap seperti ini. Tidak percaya. Jangankan pria muda ini yang baru sadar setelah empat tahun, orang yang baru pingsan sehari semalam saj kadang juga tidak bisa mempercayai keadaanya. Steven mengangguk lagi. "Iya. Kamu ditemukan Jemi tak sadarkan diri empat tahun yang lalu. Jemi yang membawamu ke sini." Kerutan semakin tajam menghiasi dahi putih pria itu. Jemi. Sepertinya ia pernah mendengarnya, tapi entah di mana ia masih belum ingat. Mungkin kalau bertemu dengannya ia akan mengingatnya. "Di mana saya sekarang? Apa di rumah sakit?" Steven menggeleng menjawab pertanyaan itu. "Kamu di kediaman keluarga Aguri. Jemima Aguri yang membawamu ke sini." Pria itu mengangguk. Ia memahami perkataan pria berambut pirang yang mengaku dokternya ini. Keadaan kamar ini memang tidak sama sepeti di rumah sakit. Ia masih ingat bagaimana keadaan rumah sakit. Rasanya sangat tidak menyenangkan. Bau obat-obatan yang menyengat membuat kepalanya berdenyut nyeri. Namun, tidak di sini, ia tidak mencium aroma obat menyengat, hanya ada aroma terapi yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. "Siapa nama kamu?" Pertanyaan dari Steven membuat pria itu tersentak. Nama? Namanya? Iya, siapa namanya? Ia tadi juga ingin menanyakan hal itu pada dokter di depannya ini. "Nama saya?" ulang pria itu. Steven mengangguk. "Iya, nama kamu," jawabnya. "Saya perlu nama kamu agar bisa menghubungi keluarga kamu." "Keluarga?" ulang pria itu lagi. "Apa saya punya?" Melihat kebingungan di mata pasiennya, Steven sadar akan sesuatu. Mungkinkah pria ini mengalami amnesia? Saat pertama kali memeriksanya empat tahun yang lalu, ia memang menemukan suatu benturan di kepalanya. Namun, ia tidak menduga kalau benturan kecil itu bisa mengakibatkan amnesia. Sepertinya ada kejadian lain yang membuatnya trauma dan tak ingin mengingat. "Kamu lupa nama kamu?" tanya Steven hati-hati. Ia tidak boleh gegabah. Pasien bisa saja histeris atau bahkan mengamuk karena tidak bisa mengingat nama dan mengira tidak memiliki keluarga. Pria itu mengangguk ragu. "Nama saya ...." Steven mengangguk. Ia menunggu pria itu melanjutkan perkataannya. Namun, setelah lima menit berlalu pria itu tidak juga berkata, yang ada hanya dua bulir bening yang menuruni pipi tirusnya. Steven menghela napas panjang dan pelan, pasiennya memang mengalami amnesia. "Kamu benar-benar lupa?" tanya Steven lagi. Pria itu mengangguk lemah. "Apa itu artinya saya gila?" Ia balik bertanya. Steven menggeleng kali ini. Menarik selembar tisu yang selalu tersedia di nakas pria itu, memberikannya untuk mengusap air matanya. "Kamu hanya tidak mengingat, dan itu bukan berarti gila," jawab Steven. Pria itu mengembuskan napas lega. Ia tidak ingin menjadi gila. Tidak memiliki ingatan sama saja dengan tidak memiliki masa lalu dan keluarga, akan bertambah buruk kalau seandainya ia dinyatakan gila. "Kita harus memberi kamu nama biar saya mudah memanggil kamu. Tapi, saya tidak berani memberi kamu nama sekarang. Saya tidak mau Jemi marah dan menganggap saya lancang." Steven meringis. Meskipun sedikit sulit tapi ia akan tetap menunggu Jemi saja. Gadis keras kepala itu pasti makan mengamuk kalau didahului. Pria itu tidak menanggapi, hanya matanya saja yang menatap Steven penuh tanda tanya. Bukan soal Jemi karena rasanya ia sudah mengenal gadis itu. Malaikat berambut cokelat gelap yang hadir dalam mimpinya, atau koma seperti kata dokter Steven tadi. "Apa kamu merasakan sakit? Di bagian tertentu tubuh kamu, mungkin di kepala atau bagian lain?" Steven mencoba mengajaknya bicara setelah kebisuan melingkupi mereka selama beberapa menit. Pria itu menatap Steven lantas menggeleng karena memang ia tidak merasakan ada yang sakit. Semuanya terasa normal kecuali perasaannya yang hampa. Tidak ada yang diingatnya bahkan kejadian apa yang menimpa sebelum ia sadar dan terbangun di ruangan ini mengingat hatinya terasa kosong. "Kalau ada sesuatu yang kamu ingat, katakan saja," pinta Steven. "Tapi, jangan pernah memaksa. Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada kamu kalau melalukan itu." Pria itu tidak menjawab. Ia memalingkan muka, menatap lurus keluar jendela. Membiarkan semilir angin sore hari menerpa wajah pucatnya. Siapa aku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD