Seusai ditinggalkan oleh Agus dan Dita, Jimin duduk termenung memandang ke arah jalanan.
Kebetulan malam ini tidak terlalu ramai .
"Apa Agus sudah jadian sama Dita ya?" Gumamnya.
"Kok bisa cair secepat itu sih! Diakan manusia es batu. Mana mungkin dia akan dekat dengan wanita, kalau dia tidak mencintai nya. Akghhhhh…persetan dengan mereka, bukan urusan gue juga.?" Desisnya. Jimin kemudian beranjak masuk lagi kedalam, bersama dengan teman-teman nya yang lain.
Terlihat Namjoon sudah mabuk terlalu berat, Jimin pun menghampiri nya.
"Dasar si bangke kalau mabok tuh tau aturan dong" decaknya.
kemudian menggandeng Namjoon ke sofa yang sudah tersedia disana.
Keadaan Arul, jin dan yang lain masih dalam keadaan sadar.
"Ekhg..simanusia es kemana? Kok, gue kagak lihat tuh anak satu?" Tanya jin. Jin baru baru sadar kalau Agus tidak ada di tempat party mereka.
"Dia tuh udah punya pawang sendiri jin! Dia nganterin pawangnya pulang lah?" Sela Rio.
"Maksud loo?" Jin masih heran apa yang di katakan Rio terhadap Agus.
"Dia nganterin Dita jinn! Masa kagak ngerti sih Loe?" Jelas Rio.
"Sejak kapan tu anak jadi bucin gitu sihh?" Sela abhi.
"Sejak dia kenal sama Dita!" Teriak Rio.
"Sudah-sudah jangan bahas si tengil itu lagi, gue malas" bentak Jimin yang baru saja datang dari belakang.
"Kenapa sih Loe, benci banget sama tuh anak satu? Bukankah kalau di lihat-lihat Dita itu cantik juga. Postur tubuhnya yang woow, kulit putih yang mulus lagi tinggal poles dikit aja!" Seru Rio membayangkan Dita.
"Alah cantik dari mana syetan? Cantikan Laura kali" timpal Jimin.
Sebenarnya Jimin juga mengakui kalau Dita itu cantik, tapi Jimin gengsi saja malah menyebutkan Laura mantan kekasih Jimin yang masih mengajar-ngejar Jimin Sampai saat ini.
"Ekhhggg…ngomong-ngomong tentang Laura. Bagaimana kabar nya ya? Setelah dia putus sama Jimin hilang tanpa sebab lagi?" Tanya Abhi yang baru tersadar kalau Laura tidak muncul lagi setelah Jimin memutuskan hubungan dengan nya.
"Dia itu di ikut Papih nya ke LA, dan meneruskan sekolah disana. Gue enggak bisa kalau LDR kagak kuat" ucap Jimin menjelaskan.
"Si bangke kagak kuat kenapa g****k? " Tanya jin.
"Alahh kagak tahu si bangke saja kau jin? Mana mungkin dia jauh-jauh sama tuh apem satu?" Ejek Rio, Abhi hanya melongo saja mendengar pembahasan Mereka. Sebab diantara mereka hanya Abhi yang masih Llpolos.
"Kau sama syetan?" Desis Jimin.
"Sudah-sudah jangan bahas begituan lagi dong? Kagak kasihan kalian sama gue yang masih polos ini!" Seru Abhi yang berlalu pergi menuju tempat tidurnya.
Mereka ber 6 tertidur pulas setelah kelelahan dengan party tadi.
******
Setelah tadi mengantar Dita Agus tidak langsung pulang ke tempatnya, melainkan tidur di cafenya. Agus malas kalau diintegrasikan tentang hubungannya dengan Dita.
Waktu menunjukkan pukul tujuh siswa siswi harapan bangsa mulai memasuki kelas masing-masing.
Terlihat Jimin yang masih enggan masuk untuk belajar, rupanya Jimin akan bolos lagi kali.
"Kau mau kemana? Bukankah sekarang ujian akhir sekolah akan dimulai! Apa kau tidak ingin lulus apa?" Tanya Agus yang hendak masuk kelas nya.
"Alahh gue malas. Perkara gampang itu! Nanti juga bakalan lulus percaya deh sama gue!" Jelas Jimin dengan tenang.
Pihak sekolah tidak mungkin tidak mengluluskan Jimin, mereka takut pada papah Jimin yang memiliki sekolah tersebut.
Semua kelas mendadak hening tidak ada Suara gaduh, mereka mengikuti ujian dengan baik.
Terlihat Dita sudah menyelesaikan tugasnya dengan cepat.
"Dit Loe sudah selesai?" Tanya Reni yang melihat Dita menyerahkan tugasnya kedepan.
"Sudah. Loe belum ren?"
"Tinggal sedikit lagi? Ehkhh Loe mau temenin gue enggak nanti malam ?"
"Kemana?"
"Antar gue ke rumah papah nya Jimin,?" Jawab Reni.
"Tapi gue enggak mau ketemu sama tuh bocah Badung!" Timpal Dita.
,"Jimin itu tidak tinggal bersama papahnya dit?"
"Terus dia tinggal dimana, kalau bukan di rumah papah nya?"
"Dia tinggal di apartemennya sendiri?" Jelas Reni. Reni pun hanya menebak saja, sebetulnya dia juga tidak tahu kalau Jimin tinggal dimana.
"Ok deh gue mau, tapi habis gue kerja ya?" Ucap Dita keceplosan.
"Haaahhh…Loe kerja dimana?" Tanya Reni heran.
"Shiitt..pelankan suara Loe? Gue kerja di tempatnya ka Agus ren?" Jawab Dita menghempaskan nafasnya.
"Kok Loe enggak pernah cerita sama gue sih, kalau Loe kerja?"
"Gue terpaksa ren. Loe kan tahu gue enggak mau nyusahin paman dan bibi ren. Makanya gue cari kerja yang bisa sehabis sekolah, kebetulan saat gue Lewat depan cafe itu ada lowongan kerja. Gue juga enggak tahu kalau cafe itu milik ka Agus?" Jelas Dita. Sebenarnya Dita sudah berjanji pada Agus akan merahasiakan semuanya, tapi Dita sudah terlanjur cerita sama Reni.
"Ren tapi Loe harus janji jangan cerita sama-sama siapa-siapa ya?"
"Ok siap. Tenang saja dit gue juga tidak akan bawel kok!"
Mereka berdua akhirnya pulang setelah bel tanda pulang berbunyi.
Dita menyusuri jalanan dengan berjalan kaki tiba-tiba di kejutan dengan mobil yang melaju di hadapannya.
Byurr.. seragam sekolah Dita penuh dengan air kotor akibat mobil yang melewati nya.
"Heyy kau! Apa kau tidak melihat ada orang, kenapa kau berjalan begitu cepat. Kau liwat seragam ku jadi kotor" teriak Dita pada mobil tersebut.
Tiba-tiba mobil berhenti setelah mendengar teriakn Dita, dia keluar dan ternyata orang itu Jimin.
"Maaf gue enggak lihat ada orang tadi! Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Jimin.
Dita kenal Suara siapa itu, kemudian membalikan badannya.
"Kau! Kenapa kau selalu cari masalah dengan gue sihh" teriak jimin.
"Loe yang cari masalah dengan gue! Kenapa sih kalau ketemu sama Loe, gue sial Mulu!"
Jimin meninggal kan Dita dia tidak ingin berurusan lagi dengannya.
"Dasar orang aneh bukannya minta maaf, malah pergi seenaknya saja"
Ucap Dita yang kemudian meneruskan kembali perjalanan nya menuju cafe milik Agus, waktu menunjukkan pukul 1 siang.
Sebenarnya Jimin merasa bersalah, namun gengsi Jimin terlalu tinggi hingga dia enggan untuk meminta maaf kepada Dita.
Jimin pergi menuju apartemen nya, dia berniat akan beristirahat sejenak.
Dita telah sampai di cafe, dia menuju ruang toilet untuk mengganti pakaian nya.
Seseorang memanggilnya dan menyuruh nya mengantarkan makanan ke unit apartemen milik saudara Agus.
"Dit apa kamu sudah selesai" tanya seroang temannya.
"Sudah. Apa yang harus Dita bantu ka ana?" Jawab Dita pada ana. Ana dia adalah kasir di cafe milik Agus, ana sudah lama bekerja hingga Agus mempercayai nya menjadi kasir sekaligus meneger keuangan.
"Kamu antar makanan ini ke apartemen saudara Agus ya? Ini alamat nya!" Ana memberikan secarik kertas pada Dita. Dita pun bergegas pergi, tidak memakan waktu lama Dita Sampai di apartemen.
Dita menghampiri resepsionis dan bertanya.
"Maaf mbak saya mau tanya? Di lantai berapa unit apartemen 235?" Tanya Dita.
" Di lantai 10. Ada perlu apa kau? " Jawabnya sinis melihat Dita dengan pakaian pelayanan.
"Saya di suruh mengantarkan makanan ini"
"Sebentar saya telepon dulu yang punya?"
"Maaf tuan, apa anda memesan makanan?" Tanya resep pada sambungan telepon nya .
"Iya, memangnya dia sudah sampai?. Tolong kau suruh dia langsung saja ke atas?"
"Iya tuan"
"Kau di suruh Tuan langsung saja ke atas."
"Terimakasih mbak"
Dita bergegas pergi menuju lantai 10.
Kring ..
Kring….
Suara bel berbunyi Jimin langsung membukan pintunya.
"Kau.."
Next on..