13. Nona Anna?

2111 Words
*** Seorang pria tengah duduk dengan raut wajah serius menatap sejumlah berkas yang tertumpuk di atas meja kerjanya. Pria dengan manik hitam itu mengetukkan jarinya dengan perlahan di meja, matanya tak pernah lepas dari berkas yang baru saja ia terima barusan. Di depan pria itu terdapat seorang pria lagi yang memakai seragam formal dengan warna hitam, ia menunduk penuh hormat. “Apa datanya benar?” tanya Nathan dengan raut tak puas dengan apa yang ia baca. Pria itu menutup berkas yang ia baca dan menangkup dagunya jenuh. “Data yang kau berikan tentang seseorang bernama Calvin ini berbeda dengan orang yang kuharapkan. Bukan dia orangnya,” ucap Nathan tidak suka. Rasa penasaran terus saja mengusiknya sejak seorang pria yang ia temui di minimarket saat itu menyebut nama Anna. Nathan hanya ingin memastikan saja. Rasa penasarannya tidak akan hilang jika ia belum melihat bagaimana rupa dari Anna itu. Nathan menghembuskan napas kasar dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya. Pria itu memijat pangkal hidungnya sembari menutup kedua matanya. Melihat Nathan yang terlihat kecewa dengan data yang anak buah Zack berikan membuat pria itu menjadi sedikit bersalah. Dengan langkah lebarnya, ia berjalan mendekat menuju meja kerja pria itu dan mengambil kembali data seseorang bernama Calvin Gretchio Malveer yang ternyata bukan orang yang dicari oleh Nathan. Zack sedikit membungkuk dan berkata dengan tegas, “Maaf atas kesalahan yang terjadi, Tuan Muda. Biar saya yang akan mencari seluruh data seseorang bernama Calvin di kota ini. Anda tenanglah dan percayakan pada saya. Kali ini, tidak akan saya kecewakan. Permisi.” Nathan hanya membalas dengan anggukan untuk memberikan kesempatan sekali lagi untuk Zack mencari sosok Calvin yang sebenarnya. Zack melangkah tegap menuju luar ruang kerja Nathan. Saat Zack keluar dari ruang itu, pria itu berpapasan dengan Alysia yang terlihat sedang asyik bercengkrama dengan seorang bodyguard sepertinya. Tatapan Zack tetap datar akan tetapi tidak dengan rahangnya yang mengeras. Pria itu kembali memalingkan wajahnya dan berjalan cepat keluar rumah mewah itu. ‘Selesai dari tugasku ini, akan kuberi kau hukuman, Alysia.’ batin Zack penuh dengan kecemburuan dan juga kemarahan. Alysia yang tak sengaja melihat Zack berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar menjadi heran seketika. Kening gadis itu membentuk kerutan yang amat kentara hingga pria yang berada di depannya menjadi kebingungan. “Lalu, bagaimana langkah selanjutnya, Nona?” tanya bodyguard itu untuk mengalihkan perhatian Alysia. “Oh, itu um... kau tinggal berikan saja pada dosenku yang bernama Mr. Goung. Dia pria tua berkumis lebat dengan rambut yang sedikit memutih. Dan jangan lupa berikan alasan jika aku mengalami sakit demam sehingga tidak bisa memberi berkas yang ia mau secara langsung. Mengerti? Okay, bagus. Sekarang laksanakan tugasmu,” perintah Alysia namun matanya kadang kala melirik ke arah tempat terakhir Zack terlihat. Kemana pria itu? “Baik, Nona. Saya undur diri.” Alysia mengangguk mengiyakan. Saat sudah tidak ada lagi yang ia lakukan, Alysia berjalan menuju pintu keluar hanya sekedar untuk mengintip Zack. Apakah pria itu sudah pergi? Pergi sendiri atau dengan bodyguard lainnya? Entah kenapa sejak pria itu mengatakan dengan tegas bahwa ia adalah milik pria itu, membuat Alysia sedikit merasa asing dengan perasaan yang ia rasakan sekarang. “Apa mungkin aku juga...” Telinga Alysia memerah hingga merambat sampai ke pipinya. Gadis itu segera menutup sebagian wajahnya dan berlari menuju arah kamarnya. “Mana mungkin aku menyukai pria seperti Zack, dia tidak masuk kriteria pria idamanku. Dia datar, kaku, berucap dingin, tak ada romantis sama sekali, lalu dia sangat angkuh! Tidak mungkin aku menyukainya, huh!” cerocos Alysia membantah pemikirannya tadi. *** Nathan disibukkan dengan dirinya yang kini tengah memeriksa bahan presentasi untuk besok. Karena ia adalah pimpinan usaha, maka ia yang bertanggung jawab besar dalam kelancaran proyek besar yang tengah perusahaannya lakukan. Nathan bahkan tak segan memeriksa bahan presentasi itu sebanyak dua kali. Pria itu melirik ke arah arlojinya dan kembali sibuk menatap berkas di tangannya. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka. Nathan memang tak pergi ke kantor hari ini. Ia memilih untuk mengatur semuanya di rumah saja. lagi pula hari ini tidak ada pertemuan untuk kliennya. Dan ketika pintu terbuka tanpa izin darinya, Nathan mendongak dengan cepat. “Anya?” heran Nathan. Pria itu mengenyampingkan berkas yang ia periksa dan memusatkan semua perhatiannya pada Anya yang berjalan tegak ala model menuju ke arahnya. “Ada apa kau kemari? Jangan bilang jika kau ingin mengajakku pergi. Aku ingin memeriksa berkas ini, jadi maafkan aku tidak bisa menemanimu.” Anya mendengus saat Nathan yang menolak mentah-mentah kedatangannya. Padahal ia datang hanya ingin memberikan kabar gembira untuk dirinya dan juga Nathan. “Padahal aku kemari untuk memberikan kabar gembira padamu. CK! Tak ku sangka begini ternyata sambutanmu. Dasar tuan rumah yang kejam!” Anya yang sudah merasa suasana hatinya memburuk, segera berbalik untuk meninggalkan ruang kerja sahabatnya itu. “Benarkah? Apa itu?” Anya yang memegang gagang pintu mendelik pada Nathan saat kalimat menyebalkan itu keluar begitu saja. “Bukan urusanmu! Lagi pula kau bilang dirimu itu sangat sibuk, jadi lanjutkan saja tugasmu yang SEPENTING itu. Jangan pedulikan aku!” Terlihat jelas jika gadis itu sedang merajuk akan tingkah Nathan padanya. Nathan terdiam. Pria itu menghembuskan napas pelan yang tak disadari oleh Anya. Nathan memilih menyingkirkan berkas di tangannya dan bertopang dagu menatap Anya dengan penuh minat. “Kemarilah dan katakan apa kabar gembira itu,” ucap Nathan dengan tersenyum. Dan dengan senyuman itu, berhasil membuat Anya menjadi mendekat pada Nathan. Gadis itu berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Anya mendudukkan dirinya dengan keras di sofa itu. Anya menghembuskan napas kasar dan detik berikutnya ia tersenyum senang. Gadis itu duduk dengan tegap dan menghadap ke arah Nathan. “Aku mendapat kontrak fashion model di pertunjukkan show bergengsi Paris! Yeay! Senang rasanya impian yang selama ini aku inginkan tercapai. Dan kau tau? Aku mendapat kontrak selama satu bulan penuh!” ucap Anya begitu senang. Nathan tersenyum saat melihat wajah penuh binar kebahagiaan yang Anya tunjukkan. “Bagus, sekali. Kau begitu hebat, Anya. Sepertinya tak salah aku berteman denganmu. Dan kapan kau akan pergi ke Paris?” tanya Nathan dengan senyum yang sama lebar dengan Anya. “Besok!” Nathan terdiam. “Benarkah besok? Tapi, kenapa baru sekarang kau beritahu aku? Kalau begitu, biar besok aku yang antar ke bandara. Pukul berapa kau pergi?” Nathan sempat kesal, namun pria itu kembali tenang. “Benarkah? Tumben sekali kau mau mengantarku, tapi baiklah aku terima tawaran baikmu itu, sobat. Jadi, kau tinggal datang menjemputku pukul delapan pagi dan jangan sampai telat!” “Siap, laksanakan Nona.” Anya terkekeh dan disusul Nathan yang juga ikut terkekeh. Pria itu terlihat begitu cukup senang dengan kabar yang gadis itu beri. Tapi berbeda dengan Anya yang tiba-tiba memudarkan senyumnya. Anya menatap Nathan dengan tatapan dalam. Ada rasa senang namun diiringi rasa kecemasan. Cemas ketika ia akan meninggalkan Nathan. Ada rasa takut saat pemikiran jika Nathan akan bertemu dengan Anna tanpa sengaja. Buka tidak mungkin jika Nathan akan bertemu dengan Anna karena mereka berada di satu kota yang sama dan lokasi yang tak begitu jauh. Anya menatap Nathan dan pandangan mereka bertemu. Saat Nathan melihat Anya yang menatapnya dalam diam dengan segera ikut diam menatap gadis itu. Alis Nathan terangkat naik melihat raut sedih Anya. “Kenapa dengan wajahmu itu?” “Aku... aku hanya takut rindu padamu, Briel dan Aaron.” Anya mengerucutkan bibirnya, antara sedih dan senang. “Kemarilah, cantik.” Nathan membuka lebar tangannya untuk mengisyaratkan Anya agar segera datang dan memeluk dirinya. Anya berlari kecil dan memeluk tubuh Nathan dengan erat. Pria itu mengusap punggung Anya dengan penuh kasih sayang seperti halnya ia memeluk Alysia, adiknya. “Janji akan mengantarku?” ucap Anya. “Tentu saja, honey.” Pipi Anya merona samar saat melihat panggilan itu. ‘Ini yang membuatku tak bisa mencegah hatiku agar tak menyukaimu. Kau membuatku semakin terjatuh dalam pesonamu, Nath. Semoga ketika aku pergi dalam kurun waktu satu bulan itu, kau tida bertemu dengan Anna itu. Semoga Tuhan memihak padaku.’ batin Anya dengan mata tertutup dalam dekapan hangat Nathan. *** Anna sedang duduk di lantai beralaskan karpet merah lembut berbulu. Gadis itu sibuk mengemil sembari menonton berita menarik menurutnya. Saat tengah berada di topik utama berita, tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan menampakkan Calvin yang tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Pria itu bergegas melepas sepatunya dan berjalan cepat menuju Anna berada sekarang. “Anna!” pekik Calvin dengan senyum lebarnya. “Ada apa, Vin?” tanya Anna heran melihat Calvin yang tersenyum lepas. “Aku diterima!” Calvin memegang bahu Anna dan mengguncangnya heboh. “Diterima apa?” heran Anna yang kini merasa tubuhnya sedikit melemas karena guncangan pada bahunya. “Aku diterima bekerja di salah satu perusahan terbaik di kota bahkan di mata dunia! Anna, aku sangat senang sekali!” ucap Calvin dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Ben—” “Haha! Rasakan mereka para perusahaan kejam yang menolakku! Mereka akan menyesal karena telah menyia-nyiakan seorang Calvin,” ucap Calvin dengan sangat angkuh. Bahkan tak sampai di situ, Calvin bahkan sudah merencanakan pembalasan dendam jika ia sukses nanti. Sementara Anna yang mendengar penuturan Calvin yang begitu angkuh, memukul gemas kepala Calvin yang kini sedang tertawa jahat. “Kurang-kurangi ekspektasimu itu,” ucap Anna dengan begitu kejam bagi Calvin. “Terserah! Yang penting aku sangat senang sekali hari ini!” Karena terlalu bahagia, Calvin memeluk erat tubuh mungil Anna hingga Anna merasakan kesesakan luar biasa sebab pelukan itu. “Ca-Calvin, a-aku tak bisa bernapas!” Calvin sadar dan segera melepas pelukannya dan menatap Anna dengan cengiran lebarnya. “Bagaimana jika aku traktir kau hari ini? Hari masih sore dan sebentar lagi akan senja, sepertinya waktu yang pas untuk kita jalan-jalan menghabiskan waktu,” ajak Calvin yang bersemangat. “Benarkah? Baiklah, setuju! Ayo pergi sekarang juga!” Anna yang tadi menarik Calvin menjadi terhenti saat pria itu menarik tangannya untuk kembali ke tempat berdirinya semula. “Kau yakin ingin pergi keluar dengan pakaian seperti ini?” tanya Calvin ragu. Anna menatap pakaian yang gunakan dan dengan cepat tangannya sudah menepuk kepala mungilnya. Anna menggaruk pipinya. “Ehehe, aku lupa jika hanya menggunakan celana pendek dan baju pendek. Maafkan atas sikap pelupa ku ini. Kau tunggu, aku akan cepat berganti.” Anna berlari menuju kamarnya, namun sebelum pintu tertutup, kepala Anna sedikit mengintip. “Jangan pernah berpikir untuk membatalkan ini atau pergi sendiri! Awas kau!” ancam Anna sembari menunjuk kedua matanya dengan jari telunjuk dan tengah lalu beralih ke arah Calvin. Bukannya takut, Calvin malah tertawa melihat tingkah gadis itu. Setelah lima belas menit lamanya Anna berganti pakaian, gadis itu akhirnya keluar dari dalam kamarnya. Calvin yang jenuh mendengus kesal saat melihat penampilan Anna. Bagaimana tidak, gadis itu ternyata sedikit berias dan latut saja waktu yang diperlukan sekitar lima belas menit. Dasar perempuan! “Aku siap,” ucap Anna yang telah berdiri di hadapan Calvin. “Tidak jadi, aku malas.” Anna menganga dan dengan cepat menjambak kuat rambut Calvin. Anna tidak terima waktu yang sudah dijanjikan malah dibatalkan begitu saja. Gadis itu bahkan tak mendengarkan ringisan Calvin yang meminta ampun dan semakin brutal menjambak dan menggigit. Calvin merasakan sedikit nyeri pada kepala serta lututnya. “Stop, Anna! Iya, iya aku tarik kembali ucapanku itu. Lepaskan, Ann. Ayo kita berangkat,” bujuk Calvin yang menahan tangisan tersiksanya. Anna sedikit tenang dan merapikan tampilannya. Gadis itu menatap Calvin dengan penuh keangkuhan dan berjalan langsung menuju pintu apartemen mereka. “Cepat!” teriak Anna seolah ia menjadi tuan rumah di sini. “O-oke!” ‘Sepertinya dia dan aku itu berbeda sedikit. Aku waras dan dia sedikit waras.’ batin Calvin yang menatap takjub punggung Anna. *** “Apa sudah puas?” tanya Calvin. “Iya,” sahut Anna yang masih sibuk menjilati es krim cokelat kesukaannya. Gadis itu bahkan sudah menghabiskan es krim yang ketiga pada sore ini. “Mau langsung pulang?” tanya Calvin. “Nanti, tunggu senja sudah menghilang dari tempatnya maka kita baru boleh pulang.” Calvin dan Anna duduk di sebuah taman bunga cantik sembari menatap langit yang berwarna sedikit kuning bercampur orange. Tatapan dua orang itu saling menatap langit penuh rasa kagum. Rambut Anna tertiup angin hingga menyebabkan aura cantiknya bertebaran mengundang mata untuk menatap padanya. “Kenapa semua orang suka senja?” tanya Anna. Calvin menatap Anna dari samping dan kembali menatap langit yang perlahan menggelap. “Entahlah, mungkin karena dia indah.” “Percuma indah jika hanya sementara, kenapa tidak untuk setiap saat? Kenapa harus dipenghujung hari dan tidak untuk pembuka hari?” “Di pembuka hari itu namanya fajar. Saat matahari terbit dari timur di kala pagi hari, langit akan berwarna sedikit kuning dengan terpaan hangat matahari. Hal itu tak kalah indah dengan senja,” ucap Calvin. Dan senja pun berakhir. Calvin lebih dulu berdiri lalu tangannya terulur untuk membantu Anna bangun dari duduknya. “Yah, mau seindah apapun itu. Senja yang akan lebih banyak memikat perhatian manusia dan aku akui aku lebih suka senja daripada fajar hari.” Calvin mengangguk mendengar penuturan Anna dan menggenggam jemari kecil Anna. “Iya iya, kau selalu benar. Bagaimana jika kita pulang sekarang? Hari sudah semakin gelap,” ucap Calvin. Anna mengangguk dan akhirnya mereka pergi menuju apartemen. Tanpa diketahui baik Anna maupun Calvin, seseorang sedang mengintai mereka sejak tadi. Bahkan pria berjas hitam itu sempat terkejut dengan target yang sedang ia amati ternyata bersama seorang gadis. Gadis itu sangat familiar. Dan ketika seseorang terlintas dalam benaknya, mata pria itu terbuka lebar. “Nona Anna?” gumamnya sedikit ragu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD