Bab 4. Gio anak siapa?

845 Words
Aluna menatap hampa langit-langit kamar, tanpa benar-benar melihat apa pun. Matanya terbuka, namun pikirannya tertinggal jauh—terseret kembali pada serpihan waktu yang menolak dilupakan. Kepalanya terasa berat, dadanya sesak, seolah udara di ruangan itu terlalu tipis untuk dihirup. Di luar kamar, bising terdengar samar. Suara langkah, gesekan, dan sesekali denting peralatan dapur. Lalu suara itu—suara yang begitu ia kenal, begitu akrab hingga menusuk ke relung hati. Suara Ibu dan Gio adiknya terdengar dari halaman belakang, memanggil seseorang, mungkin penjual sayur atau penjual makanan keliling. Gio suka jajan, walau tidak ada makanan yang bisa ditelannya karena Gio mengalami masalah pada sistem pencernaannya. Kehidupan berjalan seperti tak ada apa-apa. Seolah dunia tak menyadari bahwa di dalam kamar ini, seseorang sedang berjuang menahan runtuh. Aluna menelan ludah. Tenggorokannya perih. Ia ingin bangkit, tapi tubuhnya terasa asing, berat, dan sakit. Dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan entah dari mana, Aluna memutuskan pulang ke Bogor. Ia tak sanggup tinggal lebih lama. Setiap sudut, setiap aroma, setiap keheningan, justru memperjelas luka yang berusaha ia kubur. Sepanjang perjalanan, matanya menatap lurus ke depan. Namun ingatannya berkhianat. Potongan kilas kejadian semalam kembali menyerbu tanpa ampun. Tatapan Tian. “Sudah bangun? Ibu pikir belum.” Ibu muncul dari balik pintu, penampilannya sudah sangat rapi, begitu juga dengan Gio. Anak kecil dengan selang kecil di hidungnya ikut tersenyum menatap ke arah Aluna. “Hai..” Alina menyapa Gio lebih dulu, sebelum menjawab pertanyaan ibunya. “Sudah bangun dari tadi, Bu.” jawabnya yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. “Kalian mau kemana?” Tanya Aluna. “Hari ini jadwal Gio periksa, juga ganti selang.” “Ya ampun! Maaf akuketiduran, sampai lupa hari ini jadwal Gio check up.” Aluna bergegas keluar dari selimut yang masih membungkus sebagian tubuhnya. “Tunggu sebentar, ganti baju dulu.” Aluna tidak butuh mandi, apalagi berdandan rapi layaknya wanita seusianya. Ia benar-benar mengabaikan penampilan, ia lebih baik terlihat kusam dan dekil, kecuali saat jam kerja. Aluna seperti dua orang berbeda, dimana ia terlihat biasa saja saat di rumah dan akan terlihat sexy saat bekerja. Menggunakan taksi online, mereka bertiga langsung berangkat menuju rumah sakit. Rumah sakit umum di kota Bogor. Dokter Ilham namanya. Dokter yang memantau perkembangan Gio sejak beberapa tahun lalu. Gio lahir prematur, kondisi fisiknya tidak berkembang dengan baik bahkan Gio butuh selang khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhnya. Di usianya yang sudah menginjak empat tahun, Gio masih seperti bayi. Belum bisa berjalan juga bicara, anak itu masih seperti bayi. Dokter lelaki berparas tampan itu sudah mengenal Gio dengan baik, kedekatan yang terjalin cukup lama, membuat Aluna pun akrab. “Apa kabar Gio?” Ilham menyapa dengan senyumnya yang menawan. “Baik, Dok.” Ibu menjawab, mewakili Gio yang menatap entah kemana. “Anak baik, ayo kita periksa dulu. Semoga hasilnya semakin baik ya?” Gio diletak di atas tempat tidur, untuk melakukan pemeriksaan. Gio tidak lagi menangis histeris seperti beberapa waktu lalu, mungkin anak itu sudah dalam fase pasrah juga sudah terbiasa dibawa ke tempat itu setiap tiga minggu sekali. Pemeriksaan rutin, walaupun belum terlihat perubahan pada Gio. Tapi Aluna selalu ingin mengusahakan yang terbaik untuk adiknya itu. “Gio dan Ibu boleh tunggu di luar, Dokter mau bicara sama Kak Aluna dulu.” Ibu membawa Gio ke luar, meninggalkan Aluna dan Ilham, juga seorang perawat. “Bagaimana hasilnya, Dok?” Aluna sangat tidak sabar, hanya beberapa detik usai kepergian Gio, ia lantas menatap serius. “Hasilnya masih tetap sama, kondisinya sangat stabil untuk saat ini, walaupun tidak banyak perubahan pada fisiknya.” Ilham tersenyum, memberikan catatan yang sulit dimengerti. Tapi lelaki itu akan dengan telaten menjelaskan. “Tapi, aku tidak menjanjikan apapun. Gio memang spesial, fisiknya lemah juga beberapa organ tubuhnya tidak berkembang sempurna. Tapi untuk saat ini cukup stabil.” Aluna menghela, memang tidak ada yang bisa diharapkan dengan kondisi Gio seperti itu. Bahkan bisa bertahan sejauh ini pun, sudah lebih dari beruntung. “Saya tetap menyarankan terapi, setidaknya bisa membuat Gio lebih peka terhadap sesuatu.” Aluna hanya mengangguk samar, menayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan Gio. “Aku akan membantu, setidaknya aku bisa mengurangi beban yang kamu tanggung nantinya.” Aluna tersenyum samar, “Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, bantuan dokter sangat membantu Gio.” “Berdoalah, Semoga semuanya dipermudah.” “Iya.” Aluna pamit dari ruangan Ilham, ada beberapa obat yang harus dibeli. Ia segera menuju apotek, diikuti oleh seorang perawat. “Saya sempat berpikir Gio itu anak Mbak Luna. Wajahnya mirip banget, taunya Gio adik Mbak Luna.” Perawat itu tersenyum. “Banyak yang bilang gitu kok, mungkin karena saya masih punya adik kecil di usia Ibu yang udah nggak muda. Namanya juga kebobolan, kan? Nggak ada yang tau.” “Iya, Mbak.” Memang sedikit aneh saat mengetahui ibu masih memiliki anak di usianya yang tidak muda lagi. Akuna dan Kinanti dua bersaudara, bahkan Kinanti adiknya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Ini sudah terlalu tua untuk memiliki anak, tapi faktanya memang seperti itu atau mungkin saja Gio bukan anak ibu tapi anak seseorang yang sengaja dirahasiakan sampai hari ini. Anak Siapakah Gio?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD