haruskah aku kembali?

761 Words
Dua minggu kemudian. Seekor kupu-kupu putih melayang pelan di udara, seolah mencari sesuatu. Sayapnya yang lembut bergetar sebelum akhirnya hinggap sebentar di pundak Sky. Ia menoleh perlahan, menatap makhluk kecil itu yang tampak tak biasa—diam, tenang, seolah membawa pesan. Entah kenapa, Sky merasa… itu nenek. Ia terdiam di bawah pohon tua di halaman rumah, tempat favorit Margaret duduk setiap sore. Rambutnya ditiup angin, matanya kosong menatap ke depan, namun pikirannya jauh tertinggal di dua minggu lalu—hari saat dunia yang dikenalnya hancur sepenuhnya. Margaret… telah tiada. Dan kini, Sky masih berkabung. Setiap sudut rumah terasa sunyi, setiap benda mengingatkannya pada neneknya. Tapi yang paling membekas… adalah surat peninggalan terakhir dari wanita itu. Surat yang mengubah seluruh dunianya. Dari surat itu, Sky baru tahu bahwa kecelakaan yang menewaskan ibu dan saudara kembarnya sudah terjadi sebulan sebelum neneknya meninggal. Mereka tidak pernah memberitahunya, mungkin untuk melindungi hati yang masih terlalu muda untuk hancur sekaligus. Yang lebih mengagetkan, Margaret juga menuliskan bahwa ayah Sky—anak kandungnya sendiri—masih hidup, namun tengah sakit dan sering berhalusinasi. Ia dirawat jauh dari kehidupan Sky, sosok yang bahkan belum pernah sekalipun muncul dalam hidupnya. Ayah yang katanya... membuangnya sejak bayi. Kini, Margaret memintanya untuk kembali ke keluarganya. Untuk merawat pria yang telah lama menghilang dari hidupnya. Sky menggenggam surat itu erat. Matanya berkaca-kaca. “Kenapa aku yang harus kembali?” pikirnya. “Dia bahkan tidak pernah mencariku. Mereka membuangku. Lalu kenapa aku harus merawatnya sekarang?” Apakah salah jika hatinya memberontak? Jika ia merasa kecewa? Jika ia belum siap memaafkan? Lamunan Sky buyar saat suara Tio memanggil dari belakang. “Tuan muda, sarapan sudah siap,” ucap pria setengah baya itu sambil sedikit membungkuk hormat. Sky menyeka air mata yang hampir jatuh, lalu menoleh. Ia menatap Tio—pengawal setianya, sosok yang sudah menemaninya sejak kecil dan setia menjaga nenek sampai akhir hayatnya. Tanpa berkata apa-apa, Sky hanya mengangguk pelan dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia duduk di meja makan, tempat yang kini terasa asing. Kursi di sebelahnya kosong—dulu tempat nenek duduk, selalu dengan senyum hangat dan teguran lembut setiap pagi. Sunyi. Terlalu sunyi. Sky mengambil sepotong roti panggang, menggigitnya perlahan. Tapi rasanya hambar, seolah hanya mengunyah bayangan. Pikirannya penuh, jiwanya kosong. Tio berdiri tak jauh, memperhatikan dengan hati-hati. “Tuan muda… masih memikirkan Nyonya?” tanyanya dengan suara pelan. Lalu, setelah ragu sejenak, ia menambahkan, “Lalu… soal tawaran itu—” Sky berhenti mengunyah. Ia menatap Tio dengan sorot mata tajam, dingin. Perlahan ia meletakkan rotinya kembali ke piring, berdiri tanpa berkata apa-apa, dan meninggalkan meja makan. Tio hanya bisa menunduk dalam diam. Sky berjalan cepat menuju kamarnya. Setelah pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya di baliknya. Nafasnya berat, matanya berkaca-kaca lagi. Ia muak. Ia lelah. Dan ia belum sanggup untuk menerima kenyataan. Belum sekarang. Sky menutup wajahnya dengan kedua tangan yang bersandar di lutut. Tubuhnya berguncang pelan, menahan isak tangis yang sedari tadi tak juga reda. Semua terasa menyesakkan—kepergian nenek, kenyataan pahit tentang keluarganya, dan surat warisan yang masih menggantung di pikirannya. Tiba-tiba—brak! Sebuah suara membuatnya terlonjak. Jantungnya berdetak cepat, refleks menoleh ke arah asal suara. Di sisi meja kecil di sudut kamar, sebuah benda tergeletak di lantai. Sky perlahan berdiri, melangkah hati-hati. Saat ia mendekat, matanya membulat. Sebuah album foto tua. Benda yang selama ini selalu tersimpan di rak atas lemari, jauh dari jangkauan. Kenapa bisa jatuh sendiri? pikirnya. Dengan ragu, ia membungkuk, mengambil album itu, lalu membukanya perlahan. Halaman pertama menampilkan foto lamanya bersama Margaret. Di sebelahnya, foto sang nenek saat masih muda, tersenyum di antara tumpukan buku dan roti buatan sendiri. Sky menahan napas. Tangannya gemetar saat membalik halaman demi halaman. Ada foto-foto kecil dirinya—tertidur di pangkuan nenek, belajar berjalan, tertawa dengan wajah belepotan adonan. Semua hanya bersama satu orang: Margaret. Tak ada satu pun gambar ayah, ibu, atau saudara kembar yang pernah diceritakan kepadanya. Tiba di halaman terakhir, selembar kertas kecil terselip. Tulisannya jelas… tulisan nenek. "Sky, jika kamu menemukan ini... berarti kamu telah cukup kuat untuk menghadapi kenyataan." Air mata Sky kembali mengalir. Ia menatap tulisan itu lama, seakan ingin berbicara langsung dengan Margaret. “Nenek… beneran ingin Sky kembali ke mereka?” bisiknya lirih. “Tapi Sky belum siap…” Ia menutup album itu perlahan, lalu memeluknya erat seakan mencoba mengisi kekosongan yang tak tergantikan. “…tapi Sky akan coba,” ucapnya, menatap ke langit-langit. “Tapi nenek harus janji... tenang di alam sana, ya.” Tak ada suara. Tak ada jawaban. Tapi angin yang masuk dari jendela seolah membelai pipinya lembut. Sky tahu… nenek mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD