PERJANJIAN

1682 Words
Seluruh tubuh Nayra bergidik saat dia turun dari mobil. Nayra mengambil setiap langkah dengan hati-hati, takut dia akan tersandung di jalan. Pikirannya kacau. Dalam satu menit, Nayra berpikir segera menyetujui penawaran Solomon Salvador, tetapi di menit berikutnya, suara hatinya menyuruhnya untuk tidak menerima lamaran itu. Hingga kini langkahnya menapak pada lantai rumah sakit.   "Kamu dari tadi kemana saja? Kenapa lama sekali?”   Ibunya mendekatinya dan bertanya dengan suara rendah saat Nayra memasuki bangsal.   Nayra langsung mengangkat pandangannya menatap sang ibu. Lalu beralih ke Brian yang sedang tidur di ranjang rumah sakit. Dia terlihat sangat pucat dan lemah. Padahal anak laki-laki seusianya begitu lincah dan penuh semangat. Sayangnya, Brian berbeda dari mereka, ia tidak bisa menikmati hidupnya karena terhalang penyakitnya. Andai dia memiliki kesehatan yang baik, dia mungkin sudah mengencani seorang gadis cantik. Namun, dia berbaring di ranjang rumah sakit, tidak tahu apakah dia akan selamat atau tidak.   Hati Nayra perih ketika pikiran itu terlintas di benaknya. Beberapa tetes air mata lolos dari matanya. Segera diseka air matanya, dan bertanya, "Sudah berapa lama dia tertidur, Bu?"   Charlotte menghela napas dan menatap Brian, "Hampir satu jam." Dia kembali menoleh melihat Nayra dan bertanya, “Kamu sudah menemui dokter, kan. Dokter bilang apa?"   Nayra tidak segera menjawab. Matanya masih tertuju pada Brian. Perlahan dia mengalihkan pandangannya ke ibunya, "Aku perlu bicara dengan ibu."   "Oh … apa?"   "Tidak di sini."   Nayra berjalan keluar dari bangsal.   Charlotte merasa ada yang salah, dan entah kenapa jantungnya mulai berdebar. Charlotte mengikuti Nayra dengan tergesa-gesa.   Saat mereka keluar, Charlotte mulai bertanya, “Ada apa? Jangan membuat ibu ketakutan?” Charlotte memindai mata jernih Nayra dengan hati-hati, menggali sesuatu di sana.   Nayra duduk di kursi umum dan berkata, "Dokter bilang kalau Brian membutuhkan transplantasi jantung ..." Dia berhenti untuk menatap Charlotte, "dia harus segera mendapatkannya. Semakin cepat semakin baik."   Charlotte duduk di sebelahnya dan menatap Nayra dengan tatapan rumit, “Tapi … nomor antrian kita kan masih jauh. Bagaimana kita bisa mendapatkannya dengan segera?”   Nayra menundukkan kepalanya dan melihat tangannya di pangkuannya. "Ibu, waktu aku keluar dari ruangan dokter aku bertemu Tuan Besar Salvador dan memberikanku penawaran."   “Keluarga Salvador?” seru Charlotte, benar-benar bingung. “penawaran apa?”   Nayra mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan dari segala sisi lalu menjelaskan semuanya.   Mimik wajah Charlotte sontak bersinar setelah mendengarnya dan berkata dengan penuh semangat, “Bagus. Maksudku, penawaran itu. Tuan Besar Salvador adalah satu-satunya penyelamat kita kali ini, Nayra. Kamu harus menerima penawarannya.” Terlepas dari betapa bahagianya Charlotte. Nayra malah merasakan kepedihan di hatinya. Sepertinya ibunya hanya peduli pada Brian dan tidak memikirkan perasaan Nayra. Nayra tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Ibu ingin aku menerima tawarannya! Bu, dia memintaku untuk menikahi Derren Salvador—si penjahat wanita—siapa yang tahu berapa banyak wanita yang berhubungan dengannya? Aku tidak ingin menikah dengannya!” keluh Nayra menatap Charlotte dengan rasa sakit di matanya.   Senyum Charlotte langsung lenyap, terganti ekspresi muram. Dia melemparkan tatapan tidak senang pada Nayra dan dengan tegas berkata, “Jangan kamu lupakan bahwa adikmu saat ini sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Kita bahkan tidak dapat memprediksi kematian yang sewaktu-waktu menanti adikmu jika dia tidak mendapatkan transplantasi jantung. Apa kamu menginginkan itu? Kamu itu sudah mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkannya, tapi kamu malah ingin menolaknya. Ditambah lagi kamu akan menjadi menantu Salvador. Banyak wanita yang tak terhitung jumlahnya memimpikan hal itu, dan kesempatan emas itu malah kamu yang mendapatkannya. Harusnya kamu bersyukur mendapat keberuntungan itu? Lagi pula Tuan Muda Salvador melakukan ini karena dia masih bujangan. Begitu dia menikah, dia akan setia kepada istrinya, kan.”   Charlotte berhenti sejenak dan memperhatikan Nayra dengan baik sebelum melanjutkan ucapannya, “Kamu itu seorang wanita. Dan wanita diberi kelebihan dalam memenangkan hati lawan jenisnya? Terlepas dari betapa buruknya sikap Derren, kamu itu gadis baik dan bisa mengubah pria buruk itu menjadi lebih baik. Itu sebabnya kamu pantas bersanding bersamanya. Ibu harap kamu mengerti yang ibu ucapkan.”   Charlotte bangkit dari kursi dan berjalan ke bangsal setelah mengucapkan kata-kata itu.   Nayra tetap duduk mati rasa. Walau ia tidak menunjukkan emosi apa pun di wajahnya namun dalam dirinya seolah berlangsung pertempuran. Kata-kata ibunya bergema di telinganya berulang kali. Dilihat dari situasi keuangannya saat ini, menerima tawaran Solomon Salvador adalah yang terbaik untuknya. Dengan begini, dia bisa menyelamatkan Brian.   Tapi bagaimana dengan Derren Salvador?   Jantung Nayra berdebar lagi saat nama pria itu terlintas di benaknya.   Apa ucapan ibunya itu bisa dipercaya? Bahwa Derren akan berubah setelah menikah? Apa Nayra bisa memenangkan hatinya?   End of Flashback …   Nayra menghela napas dalam-dalam setelah memikirkannya. Ditatapnya cincin berlian merah muda bertengger indah di jari manisnya. Senyum mencela lalu terbit di wajah Nayra. Nayra akhirnya setuju melakukan pernikahan ini dengan tekad bahwa suatu hari dia bisa memenangkan hati Derren. Lagi pula Brian, adiknya akan segera dioperasi, dan Nayra akan menjadi menantu Salvador. Setidaknya itu cukup menenangkan, kan. Tapi semua harapannya hancur ketika Derren tiba-tiba memintanya untuk menandatangani kontrak selama 2 tahun.   Sekali lagi 2 tahun …   Nayra harus tinggal sembari menyandang istri sahnya selama 2 tahun, dan jika sudah berakhir, Derren akan memberinya 700 juta sebagai tunjangan. Selama itu pula, Nayra tidak bisa menuntut apa pun pada Derren, Nayra tidak diperbolehkan berkencan dengan siapa pun, Nayra tidak bisa keluar dari vila tanpa izin Derren dan begitu banyak aturan lain yang Nayra tidak ingat.   Padahal Nayra bisa saja menolak penawaran itu dan keluar dari kekangan aturan ini, tetapi memikirkan Brian, Nayra kembali melemah. Jika dipikir-pikir lagi, aturan itu tidak terlalu buruk. Nayra akan bebas setelah beberapa tahun. Dan terlebih lagi, Nayra akan mendapatkan uang 700 juta, yang terbilang begitu besar di kantong Nayra. Nayra bisa memulai hidupnya lagi, kan.   Tapi kenapa hatinya masih sakit?   Begitu menyakitkan sehingga Nayra merasa ruangan besar ini begitu pengap dan Nayra sulit bernapas. Derren yang kini menjadi suaminya akan tidur bersamanya di ranjang yang sama di malam pertama ini. Namun, Nayra tidak tahu suaminya itu di mana dan dengan siapa dia saat ini. Beberapa tetes air akhirnya lolos dari manik mata Nayra. Disapunya segera hidung dan air matanya.   Setelah menghapus riasan dan menanggalkan dress pengantin, Nayra butuh menyegarkan tubuhnya di kamar mandi. Kali ini, durasi mandi Nayra lebih lama dibanding biasanya. Nayra melangkah keluar dalam balutan handuk, berganti ke piyama merah muda, dan berbaring di tempat tidur. Nayra mencoba untuk tidur tetapi akhirnya menatap langit-langit dengan kosong. Entah berapa lama dia menatap hingga akhirnya jatuh tertidur. ****   Musik keras terdengar di stereo mobil. Seorang gadis cantik berambut pirang sedang mengayunkan tangannya mengikuti irama musik dan menyenandungkan lagu. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Ini baru seperempat malam, dan kesenangan mereka baru saja dimulai.   Pria yang mengemudikan mobil tak hentinya mengumbar senyum di wajahnya. Dia melirik gadis di samping sembari dia fokus menyetir. Gadis itu melingkarkan lengannya di leher pria dan mencium bibirnya yang sedikit merah. Diciumnya punggung sang wanita lalu mendorongnya menjauh, "Aku sedang menyetir, sayang ..."   Bang …   Setengah dari kata-katanya tertinggal di mulutnya ketika sebuah truk besar dari lawan arah menabrak mobil. Mobil yang ditumpangi sepasang kekasih itu melayang dan berguling di udara sebelum akhirnya jatuh dengan keras di tanah.   Buzz ... Buzz ... Buzz ...   Selain dengungan ini, sang pria tidak bisa mendengar apa pun. Kepalanya sakit. Dia setengah sadar dan tidak bisa mengerti apa yang baru saja terjadi. Ketika dia menoleh ke sisi kirinya, dia melihat gadis yang duduk di kursi penumpang terbaring tak sadarkan diri. Kaca depan mobil pecah, di mana dirinya saat ini berada menatap gadis itu berlumuran darah.   Darah … Darah … hanya darah yang menyelimuti mimpi buruknya.   “SASHA …”   Sebuah teriakan mengguncang ruangan yang sunyi. Derren tiba-tiba mendudukkan dirinya di tempat tidur. Wajahnya ditutupi dengan butiran keringat sementara napasnya tidak teratur. Rambutnya acak-acakan, dan beberapa helai menutupi dahinya. Punggungnya basah oleh keringat. Kengerian dan rasa sakit bercampur bagai palet warna dalam ekspresinya. Mimpi yang sama telah menghantuinya setiap malam selama setahun terakhir, tetapi intensitas rasa sakit dan ketakutan di hatinya masih segar seperti sebelumnya. Seperti, kejadian itu baru saja terjadi tadi malam, bukan setahun yang lalu.   Bip … Bip … Bip …   Bunyi alarm membuatnya tersadar dari lamunannya. Dia menggosok dahinya dan mengacak-acak rambutnya dengan jari. Mematikan alarm, dia mengambil ponsel di atas nakas dan mengaktifkannya. Tiba-tiba foto seorang gadis muda nan cantik muncul di layar. Tatapannya begitu lembut saat menatap foto itu. Derren membelai foto itu dan bergumam lembut, "Sasha."   Derren tidak tahu di mana gadis itu dan bagaimana keadaannya saat ini. Gadis itu menghilang begitu saja dari hidup Derren. Derren lupa sudah berapa kali dirinya menatap foto gadis itu sembari memanggil namanya. Rasa sakitnya ini malah terus bertambah hari demi hari, dan tidak berkurang.   Derren marah dan frustrasi pada saat yang sama karena tidak dapat menemukan gadisnya itu. Tapi Derren berharap suatu hari dia pasti akan menemukannya. Dengan pemikiran itu, Derren menendang selimut dan turun dari tempat tidur. Bergegas ke kamar kecil, membanting pintu di belakangnya.   ****   Mansion Keluarga Salvador …   Solomon Salvador sedang mendiskusikan surat wasiat dengan pengacaranya di ruang kerja. Di akhir diskusi, sang pengacara akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Apa kamu yakin akan keputusan yang kamu buat? Jika Tuan Muda tidak menyukai istrinya, tidak akan baik bagi mereka berdua untuk mempertahankan pernikahan ini tanpa adanya cinta. Mereka hanya akan menderita pada akhirnya.”   Ethan Smith menatap Solomon Salvador tidak percaya. Rambut abu-abu, juga kerutan di sudut matanya menunjukkan berapa lama dia menjadi pengacara dan berapa banyak pengalaman yang dia miliki.   Solomon duduk di kursinya, memegang tongkat berkepala singa. Setelah beberapa detik, dia akhirnya menjawab, “Kamu belum pernah bertemu gadis itu. Itu sebabnya kamu mengatakan ini. Dia adalah sosok pendamping sempurna untuk Derren. Aku amat sangat mengenal bocah itu. Derren memang tidak bisa menolak permintaanku, jadi dia terpaksa menyetujui pernikahan ini. Tapi, aku cukup yakin Derren berencana untuk menceraikannya. Derren tidak berhenti mencari gadis bernama Sasha itu. Aku tidak bisa duduk diam saja menikmati ketidakadilan terjadi pada cucu menantuku. Itu sebabnya aku memutuskan untuk memberinya setengah dari warisan jika bocah bernama Derren ini berpikir untuk bercerai darinya. Ini satu-satunya cara untuk menghentikannya.”   Cengkeramannya pada tongkat semakin mengencang sementara tatapannya menjadi lebih tajam.   "Tapi bagaimana jika gadis itu yang menginginkan perceraian?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD