Arsila menggelengkan kepalanya. “Sudah aku katakan, aku tidak punya uang, Ma.”
“Kamu ini, wajar tidak kunjung hamil! Kamu pelit begini!” teriak Bu Mirna.
Arsila mematung, kata-kata ibu mertuanya ini sangat menyakitkan. Ia menghubungkan masalah kehamilan dengan pelit.
Padahal, bukan Arsila pelit tapi memang tidak lagi ada uangnya. Membayar tagihan yang bukan utangnya saja sudah membuat gaji Arsila habis. Ditambah lagi dengan tagihan lainnya yang tidak dibayarkan oleh Bayu.
Bahkan, Arsila merasa ia menjadi sapi perah saja.
Tiba-tiba sekarang sang mertua mengatakan kalau semua uang Bayu ia yang pegang? Fitnah macam apa itu?
Jika semua uang gaji Bayu ia yang pegang, ia tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Dan tentu saja ia akan memberikan kepada Bu Mirna kalau memang ada uangnya.
Hanya saja, selama menikah ia tidak pernah tahu berapa gaji Bayu. Yang ia tahu, hanya dua juta saja setiap bulan diberikan Bayu padanya. Dan itupun bulan ini akan dihentikan karena Bayu akan mencicil mobil baru.
“Ma, kalau ada uangnya aku akan berikan. Tapi, ini memang tidak ada. Mas Bayu, hanya memberikan aku uang dua juta setiap bulan, itu habis untuk biaya tagihan listrik, air, wifi dan sampah. Jadi, uang darimana lagi?”
Suara Arsila mulai meninggi, hal yang tidak pernah ia lakukan. Selama ini, bahkan naik tempo suaranya saja tidak pernah, tapi hari ini emosinya sudah terlalu penuh.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di wajah Arsila. Ibu mertuanya melayangkan tamparan keras kepada sang menantu hanya karena Arsila tidak bisa memberikannya uang sejumlah yang ia minta.
Padahal, selama ini Arsila tidak pernah menolak saat Bu Mirna memaksanya untuk membayar cicilan di aplikasi belanjanya. Tapi, ternyata semua itu tidak berarti. Kebaikan selama ini bukanlah apa-apa jika satu kali saja tidak bisa membantunya.
Arsila dianggap pelit, meskipun tiap bulan Bu Mirna menikmati uang hasil kerja keras Arsila.
“Kamu itu, sudah beruntung Bayu tidak menceraikanmu karena tidak kunjung hamil. Malah mau semena-mena! Hanya lima juta saja yang aku minta kamu tidak mau memberikannya!”
“Tapi, Ma—“
“Kamu tahu? Aku mengandung, membesarkan dan menyekolahkan Bayu hingga ia mendapatkan pekerjaan yang bagus dan gaji besar. Tapi, setelah dewasa malah kau yang menikmati uangnya. Selama ini aku tidak masalah, tapi kali ini kau benar-benar keterlaluan!” potong Bu Mirna dengan cepat.
Arsila bahkan sampai kehilangan kata-katanya.
Entahlah, ia pun tidak tahu apa memang Bu Mirna tidak tahu kalau Bayu tidak memberikan uangnya pada Arsila, atau imi hanyalah sebuah akting.
Arsila masih terbayang bagaimana Bu Mirna menyambut wanita lain yang dibawa pulang oleh Bayu. Kalau sudah ada yang lain yang disayang, kenapa masih mempertahankan Arsila. Apa memang Arsila hanya dimanfaatkan demi uang?
“Aku tidak punya uang lagi, Bu,” jawab Arsila lemah.
Bahkan suara Arsila hampir tidak terdengar saking lemahnya. Mulutnya terasa kelu, ia menatap Bayu mencoba mencari perlindungan atau setidaknya Bayu membelanya di depan ibunya.
Tapi, lelaki itu malah memalingkan wajahnya. Seolah ia tidak mau tahu apa yang Arsila alami.
“Mas, kenapa kamu diam saja. Jelaskan pada Mama,” ucap Arsila kepada bayu.
“Mau minta dijelaskan apa, hah? Kau mau meminta Bayu mengusirku?” tanya Bu Mirna.
“Mas, katakan pada Mama kalau kamu hanya memberikan aku uang dua juta setiap bulannya. Dan katakan padanya yang membayar semua paylaternya itu selama ini uangku, uang dari hasil kerjaku,” sambung Arsila memegang tangan Bayu.
Bu Mirna semakin emosi mendengarnya.
Alih-alih percaya apa yang Arsila katakan dan meminta penjelasan pada Bayu. Bu Mirna terus memojokkan Arsila, dan mengatakan kalau Arsila tidak bersyukur padahal sudah diberikan uang oleh Bayu setiap bulan.
“Kau mau memfitnah Bayu? Kau mau mengatakan kalau Bayu tidak mampu menafkahimu?!”
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Ma.”
“Astaga, wanita macam ini. Kau ini selain mandul, ternyata juga jahat.”
Bu Mirna menarik tangan Arsila agar menjauh dari Bayu, wanita paruh baya itu mendorong tubuh Arsila dengan kasar sehingga Arsila jatuh dan menghantam meja.
Melihat istrinya diperlakukan kasar oleh ibunya, Bayu tetap tidak bergeming. Ia hanya diam menatap Arsila dalam diam, seolah tidak terjadi apa-apa di depannya.
Arsila tidak lagi melihat cinta di mata Bayu, lelaki itu sudah benar-benar berubah.
“Arsila berikan ponselmu,” ujar Bayu setelah terdiam cukup lama.
Arsila mendongak, air matanya tidak jadi jatuh. “Untuk apa, Mas?”
“Aku akan memeriksa saldo di rekening kamu, awas saja kalau kau berbohong, semua uangmu akan aku ambil. Dan mulai bulan depan biarkan aku yang pegang mbanking dan ATM kamu.”
Arsila tersentak. Bukannya membela sang istri, sekarang Bayu malah ikut-ikutan untuk merampasnya. “Apa maksudmu, Mas.”
“Sepertinya karena kamu memegang uang sendiri, kamu menjadi semena-mena. Aku harus mengatur uang yang ada padamu agar tidak ada alasan kamu setiap bulannya kita kekurangan.”
“Kamu gila, Mas!” teriak Arsila.
Bayu menunduk, tangannya meraih ponsel di tangan Arsila dengan paksa. Sekalipun Arsila memberontak, Bayu tetap merebutnya.
“Buka!” ujar Bayu menarik tangan Arsila agar memberikan akses dengan sidik jari Arsila pada layar itu.
Arsila menggelengkan kepalanya, ia mengepalkan tangannya. Ia tidak mau memberikan akses itu kepada Bayu, karena selama ini ia memang menyisihkan sedikit uangnya untuk tabungan sebagai dana darurat. Kalau dirampas oleh Bayu, ia bahkan tidak tahu lagi harus kemana berlindung.
“Jangan melawan, Arsila!” teriak Bayu sambil menampar wajah Arsila dengan keras.
Tubuh Arsila lemas, ia seperti bukan berada di rumahnya sendiri. Ia dipaksa melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan, sekarang ia dipaksa memberikan uangnya pada mertua dengan kekerasan.
Bayu menarik tangan Arsila dan membuka aplikasi bank yang ada disana. Matanya menatap Arsila tajam saat melihat saldo yang tersisa disana. Saldo yang Arsila kumpulkan sedikit demi sedikit setiap bulan disisihkan dari gajinya.
“Kau punya uang tujuh juta? Kau bilang tidak ada uang?” tanya Bayu.
“Mas, jangan….”
“Ma, sudah aku transferkan tujuh juta ke rekening Mama,” ucap Bayu kepada ibunya setelah setelah menguras semua uang yang ada di tabungan Arsila.
Airmata Arsila jatuh deras, ia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Semuanya sudah diambil, entah bagaimana caranya ia kerja setelah ini. Sebab, uang untuk ongkos ojek pun sudah tidak ada lagi.