Setelah Nara berhenti menangis dan terlihat lebih baik, Roni memberikan segelas air karena Roni tahu bahwa menangis itu sangat melelahkan. “Gimana? Udah mendingan?” Nara mengangguk pelan. “Banget.” “Sorry, kalau gue lancang, tapi sebenernya apa—” “Percuma. Kalau gue ceritain, pasti lo nggak akan percaya.” Nara seakan mengerti pikiran Roni, ia menjawab dengan datar, tanpa emosi. “Apa lo mimpiin Deeka?” tebak Roni hati-hati. “Nggak, itu bukan mimpi.” Pandangan Nara terlihat kosong. “Gue bener-bener ketemu Deeka, berkat kakek itu.” Roni mengusap tengkuknya, mulai bingung dengan jawaban Nara. “Kakek siapa, Ra?” “Kakek misterius, gue nggak tahu namanya.” Roni

