Aku mengemas pakaian yang tersisa dari lemari pakaianku. Pakaian yang mampu melindungi tubuhku dari suhu panas dan dingin.
Tak kusangka aku harus pergi dari rumah ini dengan cara tragis seperti ini.
Dalam bayanganku dulu, aku pergi dari rumah ini pada saat aku sudah menikah menjadi istri orang tapi ternyata memang sebuah khayalan akan menjadi sakit jika itu menjadi sebuah pengkhianatan.
"Tyl" Shiden menatapku lembut ada sirat kesedihan dari matanya, inilah alasan yang menyebabkan diriku sangat membenci dirinya yang dalam keadaan seperti ini, mata itu mata yang penuh kejujuran, kejujuran dalam menunjukkan perasaan yang sedang hatinya rasakan perasaan mengasihani apa yang ia kasihani.
Mata Shiden tak pernah berbohong.
" Im okay" ujarku sembari tersenyum setelah berusaha untuk kembali menghapus air mataku yang mengalir sejak tadi.
"Kamu bisa tinggal sementara denganku Tyl"
Aku menggeleng lemah, tak mungkin tawaran Shiden adalah sesuatu yang tidak mungkin ku terima. Kenapa? Karena aku tidak mau terus menerus membuat Shiden sedih dan merasa terus kasihan kepadaku, aku tak mau itu terjadi.
Mulai dari sekarang aku harus mampu berpijak dan berdiri dengan kakiku sendiri tanpa bantuan orang lain, apalagi Shiden.
" Tyl, kamu mau tidur dimana?" tanya Shiden sekali lagi
" Masalah tidur itu aman Dhen, kamu nggak usah mikiran hal itu" ujarku terlihat tenang padahal hati dan pikiranku sedang bekerja keras memikirkan jawaban dari pertanyaan Shiden.
Malam ini aku tidur dimana?
" Tyl, ayolah untuk sementara waktu saja mama dan papaku tak keberatan" Shiden tak mau patah arang membujukku dengan segala bujuk rayuan yang ia punya.
" Shiden, aku nggak bisa sampai kapan aku bakalan ngerepotin kamu, aku bisa tinggal sementara di rumahmu lalu kapan aku berdiri dengan kakiku sendiri dan belajar menjalani kehidupan ini jika terus bergantung dengan kata sementara, kamu ingat Dhen masalahku bukan untuk semetara sebulan atau dua bulan ini untuk bertahun tahun Dhen" pertahananku runtuh kembali di depan Shiden.
Aku berulang kali tak ingin membuatnya bersedih karenaku tapi entah sudah berulang kali pula aku kembali remuk di depannya.
Satu hal yang bisa Shiden lakukan adalah kembali memelukku.
Menyalurkan kehangatan kembali untuk terakhir kalinya sebelum kepergianku dari rumah ini dan dari hadapannya, mungkin kali ini terakhir statusku menjadi temannya entah bagaimana nantinya mungkin aku tak pernah bisa melihat Shiden karena duniaku dan dunianya sudah berbeda.
***
" Non, itu orang rumah sakitnya udah datang " panggil ART ku saat aku sedang memasukkan baju baju mama yang mama butuhkan.
" Baik Mbak, tunggu sebentar " ujarku sambil menutup lemari mama sembari membawa tas mama keluar kamar. Sebelum keluar dari kamar mama aku sekali lagi memandangi kamar itu begitu banyak kenangan yang tertinggal di kamar ini, kebersamaan mama dan papa, tawa kecil ketika kami saling melempar candaan, pujian saat mama mencoba baju barunya. Sungguh kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja, tempat ini mungkin akan ku tinggalkan tapi izinkan aku untuk membawa kenangannya bersamaku kemanapun dan kapanpun.
***
" Mama " panggilku saat melihat mama duduk termenung di sebuah kursi, matanya terus memandang kebawah tak berani melihat siapapun, tak berani melihat ke depan, seperti orang yang sangat ketakutan, diam membisu.
Aku mengelus tangannya pelan mensejajarkan tinggi badan ku dengan posisi duduk mama
" Mama, ikut sama pegawai rumah sakit ya, biar kita bisa kembali bersama lagi " aku tersenyum menatap mama yang kembali melihatku dengan tatapan kosong, mata ku kembali berlinangan air mata.
Tak pernah kubayangkan akan berpisah dengan mama, bahkan dengan keadaan seperti ini.
" Mama " panggilku sekali lagi
Lalu mama akhirnya menatapku tapi tidak dengan tatapan kosong seperti tadi, manik matanya kembali terlihat hidup.
" Mama "ujarku sambil mengusap air mata.
" Tylisia " ujar mama sambil mengelus puncak kepalaku
Aku terkejut dengan tindakan yang dilakukan mama, mama mengingat diriku.
" Boleh mama peluk kamu? " tanya mama kepadaku yang belum selesai dari keterkejutanku sendiri
aku mengangguk dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
" Mama nggak perlu minta izin untuk meluk aku ma" ujarku langsung menghambur ke pelukan mama.
" Tyl, maafin mama. Mama nggak cukup kuat buat kamu, mama terlalu rapuh tanpa papa, harusnya mama bisa kuat demi kamu tapi ternyata mama gagal mama terjatuh sejatuh jatuhnya. Terkadang mama tak bisa mengenali kamu bahkan mama tak bisa mengenali diri mama sendiri. Maaf Tyl Maafin mama" mama terus memohon maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya, tapi menurutku itu bukan lah kesalahan mama, semua yang terjadi adalah kehendak tuhan, kehendak tuhan untuk menguji seberapa kuat aku dan keluargaku, aku yakin walaupun dengan cara seperti ini tuhan memberikan ujian tapi tetap saja tuhan menyayangi aku dan keluargaku.
" Hussh mama nggak boleh ngomong gitu, mama nggak salah apa apa, ini terjadi karena kehendak tuhan dan aku yakin mama dan aku bisa menghadapinya walaupun dengan cara yang berbeda, jika saat ini mama belum bisa menemaniku tapi aku yakin setelah mama mendapatkan pengobatan di sana kita aku dan mama bisa menghadapinya bersama sama. Cukup kali ini kita menguatkan dengan cara kita masing masing, aku sayang mama"
Kami pun berpelukan dengan diiringi isak tangis yang keluar dari bibir ku dan mama.
" Permisi "
Aku langsung melepaskan pelukan mama setelah mendengar suara dokter yang amat aku kenal, tiba tiba hatiku terasa sangat sakit mengingat aku akan berpisah dengan mama dalam waktu yang cukup lama hal yang tidak pernah aku alami sebelumnya, tapi aku kembali menguatkan diriku kembali tak ingin terlihat sedih dihadapan mama, aku harus kuat demi menguatkan mama. Aku menyanyangi mama maka dari itu aku harus bisa menguatkan mama bagaimanapun caranya.
" Iya dok, silahkan masuk " ujarku mempersilahkan dokter masuk
" Bagaimana Tylisia barang barang mama mu sudah disiapkan?"
" Sudah Dok, ini tinggal dibawa saja semua yang mama perlukan ada di dalam koper ini " aku menunjukkan koper yang cukup besar bewarna biru yang berisi semua keperluan dan perlengkapan yang mama butuhkan.
" Baik, mari antar ibunya ke mobil saya "
Aku segera membimbing mama menuju mobil hitam milik dokter pribadi kami
" Ayo ma, Mbak tolong koper mama ya"
" Baik Non "
" Duduk di depan saja ibunya Tyl" ujar Dokter sembari membukakan pintu mobil untuk mempermudahkan mama masuk
" Terimakasih Dok " ujarku dan mama bersamaan.
Aku membukakan pintu untuk mama, rasanya sungguh berat melepas mama pergi.
“ Mama duduk disini, ini tas mama” ujarku kepada mama yang terlihat sangat sedih.
Aku memeluk mama untuk terakhir kalinya sebelum berpisah dengan mama dalam jangka waktu yang cukup lama. Semoga nanti aku dan mama bisa bertemu lagi di waktu yang sudah di tentukan oleh tuhan. Waktu dimana kami bisa berkumpul lagi dan menciptakan kembali kenangan indah bersama.
Jika dilihat seperti ini mama terlihat normal, tapi ini hanya berlangsung beberapa saat. Menurut Dokter hal inilah yang bisa mempermarah keadaan jiwa mama, keadaan normal ini adalah bentuk pertahanan mama akan jiwanya yang terguncang.
“Dok, aku titip mama ya, jika ada apa apa tolong hubungi aku ya dok” pesan ku kepada dokter pribadi keluargaku yang nantinya tidak akan menjadi dokter pribadiku lagi, karena ketidakmampuan diriku untuk membayar biayanya lagi.
“Pasti Tyl, dokter akan menjaga mama kamu, kamu baik baik ya” dokter membalas dengan senyuman yang menenangkan yang cukup membuat perasaan Tylisia kembali tenang.
“ Dokter pergi dulu ya”
Kemudian pak dokter menstarter mobilnya dan melajukan mobilnya tak lupa ia membunyikan klaksonnya sebagai tanda izin untuk pergi.
Aku memandang mobil yang semakin menjauh terus aku lihat hingga mobil itu berbelok di pertigaan, mobil itu menghilang membawa mama bersamanya, meninggalkan seorang Tylisia seorang diri, dengan sejuta kesakitan yang mendera.
Tylisia, kamu harus kuat.
Kalimat itu menjadi kalimat yang terus aku bisikkan kepada jiwaku yang lemah ini, kuat adalah satu satunya pilihan yang bisa ku pilih untuk menghadapi segala cobaan ini.
Sekarang giliran waktuku yang harus pergi dari rumah ini, rumah dengan segala kenangan yang ternyata masih tersimpan di dalam setiap ingatan.
“ Kami tidak memiliki waktu banyak masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan” salah satu pihak penyegelan berbicara kepada ku.
Bahkan aku tak memiliki waktu banyak lagi di rumah ini, aku bagaikan di buru oleh waktu untuk segera mengangkat kaki dari rumah ini.
“ Baik Pak, kami sudah selesai membereskan barang barang kami” ujarku sambil melirik beberapa tas yang sudah berisi pakaian yang tersisa.
“ Apakah benar tidak ada barang milik negara yang kalian bawa” tanyanya lagi curiga.
“ Silahkan bapak periksa jika bapak tidak mempercayai saya, walaupun saya sekarang bukan lagi orang kaya tapi perkataan saya bisa bapak pegang “ ujarku setengah kesal, bagaimana bisa ia menanyakan hal it uterus menerus, apakah dia tidak mempercayaiku apakah orang miskin tidak bisa dipercayai?
Bapak itu pergi menjauh untuk memberi laporan kepada teman temannya.
“ Pasti melaporkan bahwa aku sudah siap angkat kaki dari rumah ini” bisikku dalam hati.
Aku memandang para pembantu dan sopir yang sedang berdiri di dekatku, aku lupa bahwa mereka pasti juga sedang kebingungan dalam sekejap pekerjaan mereka hilang, padahal mereka adalah tulang punggung keluarganya, pasti mereka sedang berfikir bagaimana mencari pekerjaan di saat saat seperti ini. Sungguh egois diriku, hanya memikirkan kesulitan diri sendiri.
“ Mbak Pak, maafkan Tylisia ya sudah membuat semuanya kehilangan pekerjaannya, Tylisia minta maaf atas nama mama dan papa.” Aku memandang mereka satu per satu, dari raut wajah mereka, seperti sedang terkejut melihat ku berkata demikian, seperti sesuatu yang tak pernah mereka duga akan keluar dari bibirku.
“ Non, bicara apa ?” ujar salah satu mbak yang sangat dekat denganku.
“ Ini semua bukan salah Non apalagi keluarga Non, ini semua sudah terjadi kita tidak bisa berbuat apa apa, toh non juga tidak mau hal ini terjada kepada kami. Non tidak usah memikirkan kami, kami bisa seperti ini berkat keluarga Non, jadi izinkan kami untuk membalas kebaikan tuan nyonya dan Non.”
Aku tak bisa menahan air mataku lagi, dalam keadaan seperti ini mereka masih memikirkan kebaikan mama dan papa, padahal mereka juga sedang kebingungan karena kejadian ini, tapi tetap saja mereka bisa berfikir positif tentang apa yang terjadi.
“ Saya yakin Non ,tuan tidak akan melakukan hal seperti ini, saya yakin tuan di jebak. Tuan orang baik Non, bahkan sangat Baik” ujar Pak Dedi yang kembali membuatku terperangah karena perkataannya, di keadaan seperti ini masih ada yang berpihak kepada papa, tak hanya aku yang tak percaya bahwa papa tidak melakukan semua ini tapi ada mereka para keluarga keduaku yang ternyata memang selalu ada untuk ku yang percaya akan kebenaran yang sebenarnya.
“ Terima kasih mbak pak, aku sangat berterima kasih atas semua yang kalian lakukan di saat seperti ini, terimakasih sudah mempercayai papa, terima kasih sekali lagi” ucapan terima kasih terus aku lontarkan kepada mereka, mereka yang selalu ada kapanpun dan dimanapun.
“ Non, sudah waktunya ayo kita berangkat nanti angkutannya udah nggak narik lagi” ujar Mbak Arni salah satu Asisten Rumah tanggaku yang paling lama bekerja dengan keluargaku.
“ Iya Mbak” ujarku kemudian aku segera mengambil tas yang berisi barang barangku, untuk beberapa hari ini aku memutuskan untuk tinggal di rumah mbak Arni, kebetulan di rumahnya hanya ada anaknya karena suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Saat aku siap untuk meninggalkan rumah ini, seseorag dihadapanku mampu menghentikan langkahku.
Shiden.
Aku seperti lupa dengan keberadaannya semenjak mengantar mama tadi.
Aku tersenyum kepadanya senyum manis seorang Tylisia, yang kata Shiden sangat ia benci karena terlalu manis.
Shiden memang ada ada saja.
Aku melangkah mendekat kepadanya sambil membawa tasku, perlahan ku dekati dirinya.
“ Shiden, aku pamit ya” ujarku tepat di hadapannya.
“ Tyl … “ ujarnya, aku seperti tahu apa yang akan dia katakan “Sssst” ujarku menghentikannya.
“ Shiden, aku sangat menghargai kepedulian kamu, tapi tidak mungkin rasanya aku harus tinggal di rumah kamu, aku harus bisa sendiri Den, aku tidak ingin terus bergantung dengan orang lain, izinkan aku untuk mandiri ya Den”
Shiden langsung memelukku erat, pelukan yang terasa seperti seorang sahabat yang tidak ingin sahabatnya pergi.
Aku menepuk punggungnya pelan “ Shiden jaga diri kamu ya, sekolah yang bener stop mainin anak orang” ujarku dalam pelukannya
Shiden lalu melepaskan pelukannya kemudian menatapku dalam.
“ Pletak “
“ AWWW “
Shiden tiba tiba menyentil dahiku, membuatku mengaduh kesakitan. Apa yang dilakukannya dalam keadaan emosional ini.
“ Shiden Ih “ ujarku kesal
“ Itu sebagai janji aku “ ujar Shiden tak ku mengerti
“ Janji ?”
“ Iya Janji aku ke kamu “
“ Kamu janji apa ke aku?”
“ Rahasia “
“ Rahasia?”
“ Shiden kasih tau ih “
Kemudian Shiden mendekatkan bibirnya ke telingaku dan membisikkan sebuah kalimat yang mampu membuatku tertegun.
Aku tak menyangka ia akan mengatakan kalimat itu sebagai janjinya kepadaku.
***