Aku benar-benar panik, bagaimana ini pasti aku dihukum.
Apa yang harus aku lakukan "Choki!" panggilku kepada Choki yang masih saja menyalin jawaban dari buku Keyla .
"Pinjam dong gue belum"
"Ntar lagi" jawab Choki
Aku harus menyalin jawaban PR itu sebelum guru kimia itu meminta kami untuk mengumpulkan tugas. Tapi sekarang , apa yang kulakukan aku hanya pasrah kalau meminta kepada Erlanda pasti tidak akan diberikannya, aku harus menyiapkan diri untuk dihukum hari ini.
Andai saja erlanda mau meminjamkan buku tugasnya, tapi aku tidak boleh berhenti berusaha aku kembali menghadap ke Erlanda dan memohon kepadanya untuk meminjamkan sekali saja tugas hari ini
"Er, gua pinjam ya sekali ini aja besok besok gue janji nggak minjam lagi, Please" aku memohon kepada erlanda semoga kali ini Erlanda benar-benar luluh dan bagaikan sebuah keajaiban Erlanda mengambil buku tugas yang ia simpan di lacinya lalu memberikannya kepadaku tanpa bersuara.
Aku begitu senang karena tindakan erlanda aku tersenyum
"Terima kasih Er" dengan cepat aku menyalinnya sebelum guru kimia itu memintanya.
**
"Baik, siapa yang tidak membuat PR tanya?" Bu Wati kepada seluruh siswa yang ada di kelas.
Untung saja aku telah menyelesaikan PR tepat waktu.
"Sekali lagi saya tanya Siapa yang tidak membuat PR?" tidak ada satupun dari siswa yang mengangkat tangannya yang menandakan bahwa tidak ada yang tidak mengerjakan PR.
"Baik akan saya uji setiap siswa, apakah mengerjakan PR nya sendiri atau menyalin punya temannya Keyla silakan maju ke depan" ucapan Bu Wati membuatku gugup bukan main, tapi syukurlah nama Keyla yang dipanggil bukan Namaku yang dipanggil untuk mengerjakan nomor 1.
Setelah itu barulah bu Watk memanggil nama-nama siswa yang akan mengerjakan soal nomor 2 dan 3 di depan.
Masih ada satu soal lagi yang belum dikerjakan semoga bukan aku yang dipanggil untuk mengerjakan soal yang terakhir.
"Tylisia"
Aku kira setelah aku selesai menyalin PR Erlanda ke buku Pr milikku, hal-hal yang buruk tidak akan terjadi tetapi memang guru killer tetaplah guru killer.
Sekarang aku sedang berdiri di depan mengerjakan soal yang dijadikan PR olehnya.
Tentu saja aku tidak bisa menjawabnya secara keseluruhan walaupun sudah kupelajari sebelumnya, aku memang cukup lemah di kimia maka tak heran, aku tidak bisa mengerjakannya sampai selesai. “Bagaimana kamu ini sudah katanya sudah membuat PR tetapi menyalin PR kamu di papan tulis saja tidak bisa!” ucapan ibu guru yang bernama Wati itu membuatku bergidik ngeri aku tak pernah menemukan guru killer seperti dia, mulai dari wajah, suara hingga tatapannya mampu membuat jantungku lari dari tempatnya.
Aku menyiapkan diriku dengan kemungkinan buruk selanjutnya, aku menarik nafas dalam dalam hingga terdengar suara bu Wati yang masuk ke indera pendengaranku.
“Kamu menyalin PR milik siapa?” tanya Bu Wati
Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada bu Wati .
Aku tidak ingin Erlanda terlibat ke dalam masalah ku padahal ia sudah baik hati meminjamkan aku PR miliknya.
“Cepat jawab!!” bentak Bu Wati
“Kalau kamu tidak mengaku menyalin PR milik siapa kamu yang akan saya hukum!!” tegas dan lantang dan tak terbantahkan membuatku hanya pasrah menerima hukuman yang diberikan selanjutnya.
Aku kira aku akan terbebas dari hukuman,ternyata jauh lebih parah bu Wati seperti memiliki indra Pasrah
Hanya itu yang kulakukan kini.
“Silakan kamu berdiri 1 kaki, selama proses pembelajaran silahkan!!”
aku terkejut mendengar hukuman dari bu Wati, masih ada zaman sekarang guru yang menghukum muridnya berdiri dengan satu kaki.
Terpaksa lagi dan lagi, Aku berjalan ke sudut kelas di mana Bu Wati menyuruhku untuk berdiri mengangkat satu kakiku selama proses pembelajaran.
Tylisia, kamu benar-benar sial hari ini!
Kita lihat apa yang akan terjadi kepada kakiku selama 1 jam berdiri, pasti rasanya sungguh luar biasa hingga membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.
Aku melihat kearah tempat dudukku disana ada Keyla, saat kami bertatapan aku pun tersenyum kepadanya , tentu saja Keyla sedang menatapku dengan tatapan khawatirnya, tapi aku usahakan untuk terlihat baik baik saja agar bisa sedikit menenangkannya.
Kemudian Aku beralih kepada Choki, nasib Choki lebih beruntung daripada diriku. Ia tak dihukum karena tak dipanggil ke depan.
Tak sengaja tatapan mataku beralih kepada Erlanda, yang ternyata sedang menatapku dengan cepat aku segera mengalihkan pandanganku dari Erlanda.
***
Akhirnya pelajaran kimia berakhir juga yang menandakan bahwa hukumanku berakhir. Kemudian sebelum Bu Wati keluar dari kelas ia memanggilku "Tylisia, sini!"
Aku langsung bergegas menuju meja Bu Wati "Jika saya lihat anda masih melakukan hal yang sama, lebih baik anda tidak usah masuk pada pelajaran saya" ancam Bu Wati tegas
"Baik Bu" hanya itu yang bisa aku ucapkan dari bibirku kemudian Bu Wati berjalan menuju pintu keluar.
Akhirnya aku bisa mengistirahatkan kakiku yang sudah mati rasa, ini lebih parah dari hanya berdiri di bus saat pergi dan pulang sekolah. Semua kakiku benar benar sedikit sulit digerakkan karena terlalu kelelahan.
"Haaa, nyamannya" ujarku saat bisa merasakan rasanya duduk di bangku setelah hampir 40 menit hanya berdiri.
"Tyl, are u okay?" tanya Keyla
"Gue sih okey, kaki gue nggak" candaku di sela sela rasa lelahku.
"Mau nitip sesuatu" tawar Keyla kepadaku, aku baru ingat uang gajiku yang kemarin belum diberikan oleh Bu Hana, mungkin saja Bu Hana lupa, jadi hari ini aku tak ada uang untuk jajan hanya tersisa untuk naik bus pulang.
"Nggak Key, masih kenyang" ujarku bohong padahal perutku sudah berdemo sejak tadi meminta makan, terkadang aku kasihan dengan perutku biasanya mereka tak pernah merasakan lapar tapi beberapa minggu ini mereka sering harus menahan rasa lapar.
"Kalau minum nggak?"
"Nggak, aku bawa minum" ujarku kemudian Keyla dan Choki pamit untuk ke kantin, kemudian aku mencari tempat minumku untuk mengurangi rasa haus yang menderaku sejak tadi. Tapi setelah aku berulang kali mencarinya di dalam tas, tak ku temukan botol minum itu. Kemana botol minumku, ku coba ingat lagi ternyata aku lupa membawanya, botol itu masih terletak di dekat dispenser.
Sungguh, sial nasibku hari ini.
Aku merogoh sakuku untuk melihat uangku yang tersisa, siapa tahu tadi pagi aku salah hitung dan masih ada sisa untuk membeli air mineral setidaknya.
Tapi ternyata tidak, aku bisa melihat uangku hanya tersisa 5000 saja. Aku kembali memasukkan uangku ke dalam saku lebih baik aku menahan rasa hausku sampai aku pulang.
Kemudian aku meletakkan kepalaku di atas meja, sebaiknya aku istirahat saja.
Ku dengar langkah kaki, mau tak mau aku menoleh ke sumber suara bukankah tadi kelas kosong tapi apa yang aku lihat Erlanda baru berjalan dari tempat duduknya menuju pintu keluar. Kuharap sejak tadi ia tak melihat gerak gerikku, ah tidak mungkin Erlanda tak akan pernah peduli kepadaku.
***
Aku terbangun dari tidurku, aku tak menyangka bisa tertidur di atas meja, kulihat para siswa sudah kembali ke kelas. Aku merenggangkan tubuhku.
"Udah bangun?" tanya Keyla.
Aku mengangguk kemudian aku heran dengan apa yang ada di atas mejaku. Sebotol air mineral dan sebungkus roti coklat, kenapa ada di mejaku siapa yang meletakkannya.
Aku bertanya kepada Keyla "Key, itu punya siapa?"
Keyla menggeleng "Gue lihat itu udah di atas meja lo sejak gue dan Choki masuk"
Lalu jika bukan Keyla dan Choki lalu siapa yang memberikan roti dan air ini. Apa jangan jangan Erlanda, tapi saat aku lihat Erlanda tidak ada di kelas berarti ia belum kembali dan bisa kupastikan itu bukan dia.
Tapi siapapun itu terimakasih, tanpa membuang wkatu aku segera membuka bungkus roti coklat itu dan melahapnya.
***
Aku melihat Erlanda kembali ke kelas, aku harus bertanya kepadanya walaupun aku tahu kemungkinannya hanya 0,0001%.
"Er" panggilku
Erlanda tampak acuh dan mengabaikanku, ia masih sibuk dengan kegiatannya.
"Makasih ya" ujarku tersenyum
Tampak perubahan dari raut wajah Erlanda, ia seperti tak mengerti maksud dari ucapanku.
"Apaan sih" ujarnya tapi aku tak bisa menyerah begitu saja aku yakin Erlanda yang membertikannya kepadaku, karena dari banyaknya kemungkinan hanya dia yang bisa aku curigai.
"Makasih untuk roti dan airnya" ujarku sekali lagi masih dengan senyuman yang menghias wajahku.
"Aneh lo, gue nggak ngasih apa apa ke lo" Erlanda terkesan menghindari tatapanku
"Jujur aja kali" aku tertawa melihat reaksi Erlanda "Yang tadi bukan salah kamu Er, jangan merasa bersalah gitu" sambungku
kemudian Erlanda menghentikan aktivitas yang ia lakukan lalu Erlanda benar benar menatap tepat di manik mataku "Tylisia, kalau mau ngelucu jangan disini, gue nggak ngerti maksud lo apaan" ujar Erlanda dingin, ucapannya seakan membuktikan bahwa bukan dirinya lah yang memberikan aku roti dan air itu.
Lalu kalau bukan Erlanda lantas siapa?
Tapi, kenapa aku yakin itu Erlanda. Andai saja aku tidak tertidur tadi pasti aku tahu siapa yang memberikan itu kepadaku, atau jangan jangan orang itu ingin meracuniku karena itulah ia memberikan roti dan air yang telah diisinya racun, ah tidak.
aku belum siap mati, sebelum bertemu mama dan papa.
Tuhan aku mohon jangan biarkan racun itu membunuhku, aku masih ingin menikah dengan Erlanda.
Aku berteriak takut apa yang ada di dalam otakku dan bayangan buruk itu menjadi kenyataan "AKHHHHH"
Teriakkan itu membuatku menjadi pusat perhatian seluruh siswa kelas.
"Tyl, lo kenapa?"
Aku yang sadar telah melakukan hal bodoh langsung memaki diriku sendiri, sial.
"Ada apa Tyl?" tanya Choki
"Tadi gue lihat tikus"
"AKHHHHHHH"
"AKHHHHHHH"
Teriak Choki dan Keyla bersamaan "DIMANAAAA?"
Suasana kelas menjadi heboh karena perkataanku yang sembarangan.Tapi nasi sudah menjadi bubur aku tak bisa menarik kembali perkataanku karena suasana sudah tidak terkendali lagi semuanya berteriak histeris takut akan keberadaan tikus yang hanya ilusi ku saja.
"NGGAK ADA TIKUS, GUE SALAH LIAT" Teriakku mencoba menenangkan situasi
"AKHHHHH" Tapi Choki malah semakin berteriak membuat suasana kembali heboh.
***