0.19

1500 Words
Satu setengah jam perjalanan telah kami lalui, aku dan rombongan memutuskan untuk berhenti di Rest Area untuk melepas penat dan lelah. Awalnya kami tidak ada niatan untuk berhenti di Rest Area tapi karena para manusia absurd yang ada di atas mobilku merengek ingin berhenti di Rest Area akhirnya mau tak mau kami menuruti permintaan mereka, untunglah Daffa mau mengikuti keinginan mereka berdua jika tidak maka habislah aku dan Shiden diamuk massa eh maksudku diamuk oleh mereka yang suaranya melebihi para massa yang sedang berdemo. “Kalian mau ngapain sih di Rest Area ?” tanya Shiden pada duo trio macan itu. “Makan bakso” kompak mereka berdua. Aku dan Shiden saling memandang mendengar jawaban mereka, memang benar ada yang salah di otak mereka. “Nanti di sekitar Villa pasti ada yang jualan bakso” bujuk Shiden kepada mereka agar mereka tak berhenti di Rest Area mengingat hari sudah terlalu sore, takutnya nanti kemalaman sampai puncak. “Kita laparnya sekarang” “Iya, kita sekarang ngidamnya bakso di Rest Area bukan yang di Villa, nggak tau juga nanti siapa tau juga pengen” Jawaban mereka berdua menambah bara bara api emosi semakin membara di hati Shiden, jika Wildan dan Sadham ini bukan temannya sudah ia mutilasi mulut mereka sejak tadi. “Pffft….” Aku hanya bisa menahan tertawa mendengar jawaban mereka dan wajah masam Shiden. “Tylisia, ketawa aja nggak usah ditahan nanti sembelit” celetuk Wildan dengan polosnya Membuat Shiden langsung menolehkan kepalanya 90 derajat kepadaku dan menatap ku garang seperti singa yang kelaparan. Aku langsung cepat-cepat mengatupkan mulutku rapat-rapat takut jika kalau Shiden memang berubah menjadi singa. “Den, itu 100 meter lagi Rest Area” Wildan mengingatkan Shiden “Iya tau, gue nggak buta” “Eh buset, pms lu” “Iya, santai aja woles kek hidup gue” kali ini Shadam yang bersuara. Kekesalan Shiden sudah mencapai ubun-ubunnya, bagaimana bisa ia dikatakan emosi karena sedang pms padahal gara-gara merekalah Shiden bisa semarah dan seketus itu ketika menjawab. Benar-benar harus banyak bersabar dan mengelus d**a. “Pelan-pelan Den” “Nanti kelewatan” Shiden bersiap berbelok ke kiri menuju Rest Area yang terletak di sebelah kiri. “ASTAGFIRULLAH” “ANAK EMAK GUE CUMAN SATU” “GILA LU” “ANJ….” “SHIDEN LU YANG BENER” “COPOT JANTUNG GUE” “GILA LU, LU KIRA LAGI NGEDRIVE” “GUE MASIH BELUM KAWIN MAK” Shiden tertawa puas setelah mengerjai duo gila itu, ia dengan sengaja memacu mobilnya kencang lalu berbelok kencang ke kiri sampai suara ban mobilnya berbunyi “Driitt” sehingga menghasilkan goncangan yang hebat yang dirasakan olehnya, aku, dan tak terkecuali para makhluk itu. Shiden tidak menyangka bahwa reaksi mereka bisa seheboh itu, jika tahu mereka akan seheboh itu Shiden seharusnya sudah dari tadi mengerjai mereka. Shiden memarkirkan mobilnya di tempat yang telah disediakan, saat berhenti ia menyempatkan diri untuk melirik ke arah kaca dashboard untuk melihat bagaimana keadaan teman-temannya itu. Dan tawa Shiden semakin menjadi melihat tampang kesal mereka yang tercetak jelas di wajah mereka. Melihat mereka ditertawakan oleh Shiden membuat mereka bertambah kesal “Gitu tu batu dikasih otak” “g****k” Pembicaraan mereka masih didengar oleh Shiden yang semakin tertawa keras “ HAHAHAHA “ *** “Lu berdua apaan?” tanya Reza kepada Wildan dan Shadam yang sejak tadi hanya diam dengan muka ditekuk kesal. “Bakso urat” jawab Wildan dan Shadam kompak “Mienya campur” “Pake tetelan” “ Satunya nggak pake daun bawang” “ Gue nggak pake bawang goreng” Reza kesal mendengar pesanan mereka berdua “Kalau gitu lu aja yang ngomong nanti” kesal Reza kepada keduanya, bagaimana bisa ia mengingat pesanan dari dua makhluk yang banyak maunya ini. “Lah lu nanya tadi” jawab Wildan yang masih dengan kekesalannya. Membuat aku dan yang lainnya tertawa “Permisi Mas Mbak, mau pesan apa” pelayan datang menghampiri meja kami. “2 Bakso, 3 Mie ayam” ucap Reza kepada si pelayan “Buruan pesan” suruh Reza kepada Wildan dan Shadam Wildan mengangguk “Kalau kami mie ayamnya dua ya mbak, jadi mie ayamnya 5” jawab Shadam santai tanpa memperhatikan ekspresi Reza yang sudah mencak mencak menahan emosinya. “Baik tunggu sebentar ya mas mbak” Pelayan itu berlalu dari meja kami untuk menyiapkan pesanan kami. Dan mulailah Reza mengeluarkan umpatannya “Shittt anj..” umpatnya tertahan “Katanya lu tadi berdua mesan bakso, lah kenapa jadi mie ayam b*****t” Reza masih mencoba mengeluarkan emosinya. Tapi jawaban mereka makin membuat Reza ingin menguliti mereka berdua “Yah namanya manusia seiring waktu bisa aja berubah ” “ANJ…” “Sabar Za, nggak usah diladenin nanti lu ikutan gila.” Daffa mengingatkan kepada Reza untuk tidak meladeni para duo alien itu. “Tu si Shiden yang gila” Wildan kembali bersuara “Lah kok gue” “Gue sama Shadam hampir mati muda gara-gara dia” Wildan dan Shadam berniat mengadu tentang kejadian yang hampir membuat jantung mereka berpindah tempat kepada Reza dan Daffa. Tapi respon yang mereka dapat benar-benar sangat sangat mengecewakan dan jauh dari ekspetasi mereka. “Alhamdulillah” “Syukur dah, kenapa nggak jadi mati aja sekalian” Shadam menunjuk mereka tak terima “Emang ya dasar para ahli neraka, mulutnya bau azab” Percakapan mereka terhenti karena pesanan mereka datang. “ Mie ayamnya 5, baksonya 2” “ Makasih mbak ” “Iya mas, silahkan dinikmati” Pelayan itu berlalu dari tempat mereka. “Dan ambilin cabenya dong” suruh Daffa kepada Wildan “Biasakan untuk mengucapkan kata tolong” “Eh iya, tolong cabenya Dan” Wildan mengambil cabe yang ada di dekatnya “Nih” dengan cepat Daffa mengambilnya “Biasakan untuk mengucapkan terimakasih” sindir Wildan sekali lagi kepada Daffa karena menurutnya Daffa lupa untuk berterima kasih atas bantuan yang ia berikan kepada Daffa. “Ribet banget sih lu, makasih ya sis” ujar Daffa kepada Wildan akhirnya. Akhirnya mereka makan dengan damai, sebenarnya hanya aku dan Sari yang makan dalam keadaan diam, para mansuia manusia ini tetap meributkan hal hal kecil yang seharusnya tak mereka ributkan. “Gue berasa lagi tamasya bareng anak TK dan kita orang tuanya” ucapan Sari membuatku tertawa dan membenarkan ucapannya. *** Setelah mengisi perut, kami semua memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan yang masih cukup jauh sekitar 2 jam lagi. Tapi kini suasana di dalam mobilku sudah tidak seheboh tadi malah sudah sangat tenang hanya suara musik dan kendaraan yang lain yang terdengar memenuhi mobil ini. Tak ada lagi keributan seperti sebelumnya. Sebab dua orang ini sudah tertidur pulas sejak tadi. "Gitu tuh, b dua habis makan langsung tepar" ujar Shiden memecah kesunyian. Aku menepuk pelan bahu Shiden agar dia menjaga ucapannya. "Itu temen kamu lo, kamu ini" Jika ada yang tidak tahu apa B dua yang dimaksud oleh Shiden, biar aku jelaskan B dua atau B2 adalah sebutan untuk hewan berkaki empat berhidung pesek yaitu babi. "Gila kurang ajar lu, ngatain gue babi" tiba tiba suara dari belakang mengejutkan kami, bukannya dua orang ini sedang tertidur pulas. Lalu dengan cepat aku melihat ke belakang dan aku kembali tercengang dengan apa yang aku lihat. Mereka berdua masih tertidur pulas, dengan posisi yang sama sejak terakhir aku melihat mereka. Jadi yang berbicara tadi siapa, jangan bilang mereka mengngigau. "Pas ngigau aja baru connect otak lu eh pas dah bangun konslet" ucap Shiden saat tau kedua temannya ternyata berbicara dalam keadaan tidur. *** "Aih cepetan dikit bisa nggak" "Gue udah nggak tahan nih" "Shiden buruan" Suasana kembali riuh, kali ini disebabkan karena keinginan Shadam untuk membuang hajat besar yang sudah tak tertahankan lagi. Setelah bangun dari tidurnya beberapa menit kemudian Shadam merasa perutnya sangat mulas, maka dari itu ia menyuruh Shiden untuk segera mencari kamar mandi, tentu saja Shiden kesulitan mencari kamar mandi karena keadaan mereka yang masih berada di jalan tol. "Bentar tahan dulu" panik Shiden sambil terus melajukan mobilnya kencang sambil melihat tanda rest area. "Ngucap bro" kali ini Wildan ikut mengingatkan "Anj,, lu kira gue lagi kerasukan ah" Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja beradu mulut membuat ku menggeleng gelengkan kepala. "Itu Rest area di depan" tunjuk ku setelah melihat tanda rest area. "Buruan Den" Shadam semakin tak sabar "Bentar bentar" Shiden akhirnya memarkirkan mobilnya sembarangan di Rest Area, untuk membiarkan Shadam turun lebih dulu agar bisa menyelasaikan urusannya dengan cepat tanpa keluar sedikitpun. "Gila mau keluar nih" Shadam berlari dengan cepat sambil memegangi bokongnya agar mencegah keluarnya sesuatu yang tak diinginkan melihat hal itu membuat kami yang menyaksikan kejadian lucu itu tertawa terbahak bahak. Benar benar lucu sekali Shadam dalam keadaan seperti itu. *Tok Tok* Seorang mengetuk pintu kacaku, aku bisa melihat jika Reza yang mengetuknya. Segera aku menurunkan kaca dan langsung diserbu dengan sebuah pertanyaan dari Reza "Kenapa tu anak, mencret? " "Biasa kebanyakan makan cabe cabean jadi gitu" ujar Wildan membuat kami kembali tertawa "Mampus Haha" giliran Reza yang mengatai Shadam karena ia masih kesal dengan kelakuan Shadam di tempat bakso tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD