0.31

1005 Words
Bunyi suara pintu terdengar dari arah kamar mandi Feni keluar dengan memakai handuk nya Feni tersenyum malu-malu ia bisa melihat wajah ibunya yang sedikit marah kepadanya karena sikapnya yang tiba-tiba ingin mandi di pagi hari padahal biasanya ia sangat susah disuruh mandi tapi saat diminta tolong dia cepat-cepat ingin mandi “Udah selesai mandinya Fen?” tanya ibunya kepada dirinya “Sudah Bu hehehe” jawab Feni Feni melangkah ke arah kamarnya untuk menghindari celotehan ibunya yang pasti sedang marah kepadanya. *** “Kak, Feni udah siap Ayo” Feni keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi “Cantik banget anaknya ibu mau kemana?” tanya Mbak Arni “Lah bukannya mau menemani Kak Tylisia ya Bu?” Tanya balik Feni kepada ibunya “Sambil menyelam minum air ya Fen” ibunya menyindir Feni sebenarnya Feni tahu maksud ibunya apa tapi ia pura-pura tidak tahu maksud ibunya “anak mana yang bisa mencuri hati anak ibu?” tanya Mbak Arni sekali lagi kepada anaknya. Feni merasa tak terima “Ibu tak ada siapapun yang bisa mencuri hatiku” “Feni Jangan berbohong kepada ibu, ibu tahu kalau kamu sedang jatuh cinta” Mbak Arni terus-terusan menggoda anaknya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. “Kalau jatuh cinta pun tak apa Fen Ibu juga seusia kamu juga pernah merasakan yang namanya jatuh cinta tapi ingat cari cowok yang bener Jangan hanya karena ketampanannya takutnya attitudenya nanti nggak ada sama dengan nol “ Nasehat Mbak Arni kepada anak semata wayangnya “Ibu, Feni tidak jatuh cinta ibu hanya saja sedikit suka hehehe” ujar Feni jujur kepada ibunya membuat aku dan Mbak Arni tertawa karena kepolosan gadis usia 15 tahun itu sebenarnya aku dan Feni hanya berjarak 2 tahun denganku tapi entah kenapa iya terasa lebih Mandiri daripada ku mungkin karena aku terlalu dimanja entahlah tapi sekarang aku yakin aku bisa mandiri. “Ya sudah ayo Fan Berangkat sudah jam berapa ini Ayo kita segera berangkat” ujarku kepada Feni “Iya Fen buruan nanti toko Bu Hana terlanjur ramai” ujar Mbak Arni kepada anaknya “Oh ya ya ini kue telur untuk mengganjal perut” sambung Mbak Arni dan memberikan kue itu kepada Feni “Terima kasih Bu” ujar Feni “Bu Feni pergi dulu ya pamit Feni kepada ibunya” “Mbak, Tylisia pergi dulu ya” sekarang giliranku yang berpamitan kepada mbak Arni “Iya hati-hati ya kalau jalan lihat-lihat nanti kesandung semoga nanti Non lancar kerjaannya, Mbak selalu doain non Mbak yakin non pasti bisa karena non hebat” semangat Mbak Arni kepadaku yang mau tak mau membuatku juga ikut bersemangat. “Makasih Mbak, makasih banyak udah nyebarin energy positifnya buat aku” Aku mengucapkan rasa terimakasih tulus kepada Arni *** Aku dan Feni jalan beriringan menuju toko Bu Hana "Emang biasanya rame gini ya Fen?" tanyaku kepada Feni "Iya kak, maklum lingkungan padat penduduk, penduduknya punya keahlian dalam memiliki banyak anak" ujar Feni membuatku tak bisa menahan tawa geli karena memikirkannya saja. "Lah kenapa tertawa kak? " tanya Feni heran "Nggak cuman lucu aja gitu, keahliannya masa punya banyak anak biasanya tu keahlian itu bisa nyanyi bisa masak kek kamu itu baru keahlian" jelasku panjang lebar "Yah menurut mereka itu keahlian kak, keahlian istimewa kata mereka" jelas Feni Kemudian mereka berbelok ke arah kanan "Sebenarnya jarak antara kontrakan dengan toko Bu Hana sangat dekat hanya berjarak beberapa meter Kakak tinggal lurus saja Lalu berbelok ke kanan dan di ujung jalan itu kakak bisa melihat toko kue" jelas Feni mencoba memberitahuku arah menuju toko Bu Hana aku mengangguk paham. "Oh iya sangat dekat ternyata besok kakak tidak akan tersesat lagi ke toko Bu Hana" ujarku kepada Feni "Toko ini sudah lama berdiri Kak kue yang dijual di sana sangat enak sapi harganya ekonomis tidak mahal" Feni menceritakan mengenai toko Bu Hana "Pantas saja tokonya selalu ramai" ujarku tak heran melihat Beberapa pelanggan keluar dari sana "Iya ya toko Bu Hana selalu ramai Kak dulu Bu Hana merintis toko itu bersama dengan suaminya tapi tiba-tiba suaminya meninggal Kak saat bu Hana sedang anak pertama mereka baru berusia lima tahun. Entah kenapa sebabnya Feni juga tidak tahu Kak hanya saja tak ada yang menceritakan bagaimana suami Ibu Hana meninggal katanya sih karena kecelakaan tapi ada yang mengatakan kalau suami bu Hana sakit tapi tidak tahu mana yang benar kak Feni ikutan bingung dengan apa yang yang terjadi" Ujar Feni panjang lebar "Udah Fen nggak usah dipikirin tugas kita hanya mendoakan. saja bagaimanapun suami ibu itu meninggal kita harus selalu mendoakan yang terbaik lalu sekarang ibu itu tinggal dengan anaknya?" Tanyaku kepada Feni "Iya Kak sepertinya anak Bu Hana itu seumuran dengan kakak" "Perempuan juga?" tanya ku penasaran. Jika anak Bu Hana perempuan aku yakin aku akan berteman baik dengan dirinya. semoga saja ia mau berteman denganku. *** "Enggak kak, laki-laki tunggu sebentar Feni ingat dulu ya namanya soalnya Lupa Kak anak ibu itu cukup pendiam malah terkesan dingin tapi dia mau kok nyapa orang yang lebih tua darinya anak ibu itu ganteng kak ganteng banget malah idola cewek-cewek Gang sini mungkin idola di sekolah kakak nanti bakalan suka deh sama dia" Ujar Feni Entah kenapa terasa dilebih lebih kan "Ah Feni kamu ini melebih-lebihkan saja" Ujar ku tak percaya "Ah Kakak ini, lihat saja nanti pasti Kakak akan terpesona, jika saja aku seumuran dengan anak bu Hana Feni pasti akan mendapatkannya" Ucapan Feni seorang yang berandai andai mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Aku tentu saja tertawa mendengar ucapan Feni, anak seumur Feni sudah berbicara hal seperti itu memang sesuatu yang luar biasa bahkan aku dulu seumur Feni tak sedikitpun terpikirkan hal seperti itu. "Ih Feni kamu masih kecil loh" ujarku memperingatinya. tapi jawabannya membuatku malah menganga tak percaya. "Yah maka dari itu kak, Feni tahu diri. Feni nggak mau suka sama Kakak ganteng karena Fini terlalu muda untuk kakak ganteng itu, andai saja ibu melahirkan Feni lebih cepat" "Lah gimana bisa Feni lahir lebih cepat, ibu kamu aja baru nikah setelah kakak lahir" ujarku sambil tertawa aku tak mengerti dengan jalan pikiran Feni. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD