0.35

1652 Words
Hari ini adalah hari kepindahan Mbak Arni dan Feni. Mereka akan meninggalkan kota yang sudah lama mereka tinggali untuk pindah ke kampung halamannya hal ini memang tidak pernah mereka rencanakan tapi karena kejadian yang menimpa keluargaku mereka harus memutuskan untuk pindah dari kota ini . "Mbak hati-hati ya, kalau sudah sampai kabari aku" pesanku kepada mbak Arni "Iya Non, Terima kasih sudah mau mempekerjakan Mbak selama bertahun-tahun mungkin jika tanpa keluarga non Mbak tidak akan bisa memiliki rumah di kampung" Ujar Mbak Arni berlinang air mata "Mbak jangan berkata seperti itu, itu semua berkat usaha dan kerja keras mbak sekarang. Mbak tinggal menikmati hasilnya" Kemudian aku beralih menghadap Feni "Fen jaga ibu ya" “Kamu juga jaga kesehatan rajin belajar ya, kalau libur kamu bisa datang ke sini kakak pasti akan merindukan Feni” sambungku kepada Feni. Aku kembali merasakan kehilangan, rasanya sedih sekali melepas orang-orang yang sudah dekat denganku meninggalkan aku sendirian menghadapi kerasnya kehidupan dulu mbak Arni selalu melayaniku melayani keluargaku dia selalu ada dalam suka maupun duka yang terjadi dalam keluargaku orang kepercayaan mamaku. Feni yang sudah aku anggap sebagai adikku sekarang akan pergi. Sedih rasanya tapi aku tidak ingin memperlihatkan kesedihanku. Aku ingin memperlihatkan ketegaranku, kekuatanku. Berulang kali kubisikkan bahwa aku bisa, aku tahu bahwa aku bisa, mandiri, dan kuat menghadapinya tanpa bantuan orang lain. Mengandalkan diri sendiri yang harus kuat berpijak kepada tanah menghadapi segala kenyataan berulang kali aku memantra kan kalimat-kalimat kuat. “Tylisia, Kamu harus kuat sebab tidak ada yang bisa diandalkan selain diri kamu kamu nggak boleh lemah” mantra itu bagaikan obat bagiku di saat perpisahan seperti ini aku melontarkan mantra-mantra itu tanpa henti. Feni kemudian memelukku “Kakak jaga kesehatan juga ya! Jaga diri di sini, terima kasih sudah menjadi kakak Feniselama ini, Kakak sudah Feni anggap sebagai kakak kandung Feni. Terima kasih untuk segalanya Kak, pemberian kakak dan mama kakak Semoga keluarga kakak cepat berkumpul kembali dan membuat kenangan-kenangan indah yang nanti akan terlukis di dalam hati” Perkataan Feni membuatku meneteskan air mata, aku tak menyangka dia telah menganggapku sebagai kakaknya. “Jangan pernah lupakan kakak ya kalau Feni ada apa-apa kakak selalu ada untuk Feni walaupun kakak tak bisa memberikan materi seperti sedia kala, tapi kakak akan tetap memberikan kasih sayang kepada Feni” “Kakak!!!” ujar Feni tak terima dengan ucapanku. Aku lalu memberikan pelukan hangat sebagai seorang kakak kepada Feni “Rajin belajar ya buat bangga orang tua” aku mengangkat jari kelingking ku membentuk sebuah untaian janji kepadanya. Feni langsung mengangkat jari kelingking miliknya mengaitkan jari kelingking miliknya “Janji Kak, janji!” “Feni sayang sama Kakak semoga Kakak menemukan kebahagiaan kakak” kemudian dia berbisik kepadaku sepertinya aku tahu kebagiaan apa yang ia maksud. Dia menjauhkan bibirnya dari telingaku setelah berbisik kepadaku. Dan benar saja ucapannya membuatku membelalakan mataku “Maksud kamu apa? Kebahagiaan?” Feni mengangguk kencang “iya kak aku tahu” Aku mencoba kembali bertanya kepadanya takut-takut aku yang salah mendengar/ Aku kembali bertanya kepadanya “memangnya apa kebahagiaan kakak?” “Kak erlanda, asyiknya!” jawab Feni tanpa beban Aku langsung mencubit pelan pipinya gemas “Kenapa kok bicaranya selalu erlanda, erlanda dan erlanda” Padahal aku tak tahu siapa dia aku belum pernah bertemu dengannya tapi gadis kecil ini selalu menjodohkanku dengan Erlanda mengatakan Erlanda adalah kebahagiaanku. “kamu ini masih saja menggoda Kak Tylisia, Padahal Sebentar lagi kita akan pergi” Mbak Arni tak terima bahwa diriku terus digoda oleh anaknya “eh Feni hahaha maaf ya bu tapi aku rasa memang kak Erlandalah kebahagiaan Kak Tylisia” “Dasar kamu ini kecil-kecil udah tahu kamu kali yang suka sama Erlanda” “Iya dong bu suka, kan kak Erlanda ganteng soalnya” Peni yang mendapat cubitan kecil di perutnya dari ibunya yang suka aneh dengan kelakuan anak perempuannya itu “Dasar!” kemudian sopir mobil pindahan Mbak Arni, memotong percakapan kami “ayo bu barangnya udah siap semua kita berangkat perjalanan kita jauh sudah siap semuanya kan ?” sekali lagi Sopir itu bertanya untuk memastikan “Oh sudah Pak sudah semuanya sudah kan Feni?” tanya Mbak Aniy memastikan “Sudah semuanya Bu” jawab Feni dengan percaya diri “yowes Mbak pamit dulu ya, Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi, baik-baik ya Maafkan Mbak yang tidak bisa menemani non menghadapi semua ini ini tapi mbak yakin non bisa jaga diri baik-baik” kemudian Mbak Arni memberikan pelukan perpisahan “Mbak hati-hati di jalan ya semoga Mbak mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih Baik Terima kasih sudah bersama aku dari kecil Mbak” ucapku tulus kepada Mbak Erni “Iya sama-sama neon, Maafkan Kalau Mbak ada pernah berbuat salah atau kesalahan yang tidak sengaja ataupun disengaja” “Ayo bu kita berangkat” Mbak Arni dan Peni menaiki mobil yang sudah mereka sewakan untuk membawa barang-barang mereka ke kampung halaman. Aku hanya bisa berdiri diam menatap kepergian mereka saat mereka sudah di dalam mobil mereka, Melambaikan tangannya kepada aku “Kak Feni pergi dulu ya, Dadah” lambaian tangan Mereka pun aku balas “iya hati-hati” terus kupandangi hingga mobil itu sampai di perempatan, kemudian menghilang kini hanya aku sendiri sekarang giliranku yang bersiap untuk mengangkat barang-barangku yang tak banyak ke toko kue milik Bu Hana. Aku bersiap-siap sebelum aku meninggalkan kontrakan ini aku membersihkannya terlebih dahulu tak enak rasanya meninggalkan kontrakan dalam keadaan yang kotor setelah itu aku mau memastikan bahwa pintunya benar-benar terkunci kata Mbak Arni kuncinya di titipkan sajaa di rumah sebelah nanti pemilik rumah akan datang ke sana ngambil kunci jadi aku berjalan ke sebelah untuk menitipkan kunci sesuai dengan pesan Mbak Arni, “Permisi” ucapku saat sampai di rumah tujuan tapi tak ada satupun yang keluar dari rumah “Permisi” Sekali lagi ku panggil barulah setelah itu aku melihat seorang ibu-ibu keluar dari rumah itu memakai pakaian khas ibu-ibu yaitu daster. “Iya ada apa yang Mbak? tanya ibu itu ramah “ini bu kunci kontrakan sebelah kata Bu Arni titip nya sama ibu” “Oh kamu yang satu rumah sama Bu Arni” “Iya Bu, ini kunci rumahny, Terima kasih Bu” ujarku “Iya sama-sama” balas ibu itu aku segera pamit undur diri lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju toko Bu Hana sepanjang perjalanan kulihat banyak anak-anak yang masih bermain. Sore ini tampak cerah tak seperti sore kemarin yang diwarnai Hujan kali ini matahari yang bersinar terang aku tersenyum mengingat masa kecil. Memang Jika waktu bisa diulang kembali aku ingin ke masa kecil yang dulu yang hanya tau bermain tanpa mengingat waktu Senang rasanya. Tapi, setelah dewasa bermain Terasa seperti kegiatan yang membuang-buang waktu masih ada hal yang berguna untuk dilakukan sekali lagi aku menghela nafas berjalan dan terus berjalan hingga menemukan toko Bu Hana Di Ujung Jalan tempat itu akan menjadi awal hidupku. Semoga Tuhan selalu melindungiku dan menjagaku aku masuk ke dalam toko kue setelah melihat bahwa Bu Hana ada di dalam . “Permisi Bu” ujarku “Eh Tyl kamu udah datang?” “Bu Arni udah berangkat?” Bu Hana memberondong ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran kemudian dia sadar bahwa ucapannya membuatku bingung harus menjawab yang mana aku yang menyadari raut mukanya langsung membalas ucapannya “Ya nggak apa-apa Bu, Bu Erni sudah berangkat tadi dengan pick up sewaan nya dan aku udah datang Bu, mau numpang tinggal aja” cicitku pelan karena aku masih merasa malu mengatakan bahwa aku menumpang disini. “Iya nggak apa apa , oh ya tadi ibu sedang bersih-bersih kamarnya.” “Ibu enggak usah biar aku aja yang bersihkan” “Nggak apa-apa biar ibu aja, kan kamu capek juga” Sesampainya di kamar yang akan aku tempati terletak Benar Bu Hana sedang bersihkan kamarnya, kamarnya jauh lebih baik diberi lampu dan diberi tirai pada jendela kecilnya menurutku cukup nyaman malah mungkin lebih nyaman dibanding harus tidur diluar. “Maaf ya bu merepotkan” ujarku tak enak “Kamu ini, Oh ya tadi erlanda memberikan surat ini kepada Ibu katanya ini syarat-syarat yang harus kamu lengkapi dan ini formulirnya kamu isi sekarang besok Erlanda yang mengantarkannya ke sekolah daripada kamu bolak-balik nanti ke sekolahnya” “Terima kasih ya, Bu Maaf merepotkan lagi” Bu Hana hanya tersenyum, senyuman tulus. Senyuman yang mengartikan bahwa dirinya sama sekali tak direpotkan. “Ya sudah Tyl, Ibu ke depan dulu ya takutnya ada pelanggan” pamit Bu Hana Meninggalkanku sendirian untuk merapikan barang-barang ku yang tak banyak malah bisa disebut sedikit hanya satu tas berisi baju-baju Tak Ada Yang Bisa kubawa selain ini dari rumahku yang lama semua sudah disita oleh bank aku meletakkan bajuku di lemari yang disediakan lemari kecil Mungkin tempat ini memang disediakan untuk beristirahat setelah merapikan barang-barang ku aku segera menyusul Bu Hana kedepan membantunya membereskan apa yang bisa dibersihkan. “Udah selesai beres-beresnya?” tanya Bu Hana “Sudah Bu, barangnya juga sedikit, disini Ada yang bisa dibantu Bu?” Tanyaku “Tidak ada belum ada sih lebih tepatnya” Ujar Bu Hana kepadaku “Biar aku saja yang berdiri di sini Bu, kalau ibu mau pulang silakan sepertinya Ibu sedikit lelah” “Ah tidak apa-apa Tyl, Ibu sudah biasa” “Ibu kan, sudah punya pegawai Bu biar aku saja aku kan pegawai ibu dapat terlihat jelas dari mata bu Hanna bahwa dirinya lelah dia butuh istirahat. “tidak apa-apa Tyl” kata ibu Hanna “Bu sudah Tugasku melayani pelanggan ibu sebagai atasan tugasnya hanya mengontrol saja tidak ikut turun langsung” “atasan apa?” canda Bu Hana tak mau dirinya disebut alasan “Oh ya Bu Setiap hasil penjualan ini jika Ibu tidak ada di toko?” “Uangnya bisa kamu pegang saja dulu tapi, jika kamu sempat boleh saja antar ke rumah ibu tapi biasanya erlanda datang kok nanti kasih saja ke erlanda. “Oh begitu, Bu baiklah” Akhirnya Bu Hanna sibuk dengan pekerjaan yang lain tak ingin pulang ke rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD