Aku mendengar suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi. Langkah itu terdengar terburu-buru dan berhenti seketika, hingga aku pun bergegas untuk menghampiri dan membuka daun pintu. Terlihat wajah Mama mertua yang sangat tidak senang. Beliau langsung masuk tanpa bicara.
"Mama, kok mendadak kesininya? Kalau Mama nelpon Nisa, mungkin Nisa masak buat Mama." imbuhku. Dari raut wajah mama mertua aku yakin ada yang diadukan oleh suamiku itu.
"Gak perlu," jawab Beliau ketus.
"Ma, sebenarnya ada apa?" tanyaku melembutkan suara.
"Mama gak terima, ya. Kamu main hakimi anak Mama di tempat umum," cecarnya."Mama lebih tahu anak Mama. Jangan main nuduh sembarangan! Kamu itu malah buat masalah terus," sambung Beliau.
"Ma, Nisa...," ucapanku terhenti. Selalu saja seperti ini. Beliau tidak pernah mau mendengar alasan yang ku buat.
"Ingat Nisa! Kamu itu istrinya. Harusnya jadi istri, jaga nama baik suami!" tukasnya. Padahal aku belum juga selesai bicara tapi Mama malah menyela ucapanku.
"Iya, Ma."jawabku menundukan kepala.
"Kalau Mama dengar Kamu berulah lagi, Mama gak bakal maafin Kamu." ancamnya. Padahal aku berhak menegur suamiku itu. Anak mami pasti selalu ngadu ke mamanya tiap ada masalah dan semakin lama hal itu membuat aku semakin jengah.
"Baik, Ma," jawabku lirih. Aku mengiyakan agar urusannya tak panjang. Nanti ucapannya malah menyinggung kembali soal anak.
Mama mertua pamit dan pergi begitu saja. Entah apa yang diadukan oleh Mas Arman pada ibunya. Sebegitu salahkah aku? Aku yang tak mengerti dengan sikap Mas Arman, membuatku pusing sendiri.
-------
Malam yang dingin, berselimut cahaya rembulan. Mas Arman jarang sekali pulang. Bahkan untuk kebutuhan rumah yang kurang ia tak peduli, dengan terpaksa aku berhemat. Listrik dan yang lainnya, harus aku bayar sendiri.
Saat aku menuju jendela, terlihat secarik kertas terselip di sebuah tas yang tergantung di dekat lemari. Tas yang sudah lama tak dipakai olehnya.
Aku mencoba melihat kertas apa itu, jantungku berdebar cepat. Wajah ini tiba-tiba panas melihat isi dari kertas kecil itu. Bukti transfer enam bulan yang lalu dan orang yang ditransfer itu adalah Anita.
'Benar-benar tega Kamu, Mas. Aku yang menjadi istrimu saja harus berhemat dengan uang yang Kau beri, tapi wanita itu,' umpatku dalam hati.
Harusnya aku curiga tentang nafkah yang selalu tidak sesuai itu. Aku hanya menurut tanpa melawan, bahkan selalu mengalah. Ternyata, hal itulah yang membuat suamiku semakin berani menyakitiku.
------
Sebuah notifikasi masuk membuat aku tertegun saat membuka pesan.
[Hai, apa kabar? Kenapa jarang nongol di sosial media, sih?] Mala memberi pesan padaku. Ia adalah sahabatku sejak SMA dan kami pun pernah kuliah bersama.
[Mal, tumben,] balasku.
[Ya tumben lah, wong Aku jarang banget nge hubungi Kamu. Nisa, Kamu jarang buka si biru 'kan? Coba buka deh! Aku ngerasa ada yang janggal sama postingan si Anita. Aku 'kan pernah liat Kamu jalan sama cowo dan pernah nanya di pesan, Kamu jawab itu suami Kamu 'kan?] pesannya lagi.
[Lah, Emang ada apa sih?] tanyaku heran.
[Kamu tahu gak? Privasinya hanya dibagi ke teman, loh. Yang lain gak ngeh sama dia yang kayaknya nge unfriend Kamu.] celotehnya lagi.
[Masak sih?Aku lupa kata sandinya,] balasku yang memang lupa dengan akunku yang dulu.
[Bikin lagi pake akun yang palsu. Nanti, Kamu add dia,] sarannya.
[Thanks,Mal!] balasku lagi.
Mala benar, siapa tahu ada sesuatu yang bisa aku jadikan bukti agar tidak ada yang menyalahkanku lagi.
Selama beberapa bulan ini, sikap Mas Arman berubah drastis. Ternyata bukan karena kami belum punya keturunan saja, tapi karena wanita lain bernama Anita itu.
Sebegitu cepatkah dia berubah? Padahal dulu, ia berusaha mendapatkan hatiku. Sehingga aku bisa menerima hubungan kami. Namun, saat ini keadaan telah membuat semua berubah dengan mudahnya. Mungkinkah kebaikan yang ia berikan hanyalah topeng belaka?
Aku berusaha menata hati yang hancur. Aku hanya ingin kuat disaat luka itu tertoreh di hati. Aku hanya berharap dapat menghadapi semuanya.
Kesunyian malam meyempurnakan hatiku yang sunyi. Aku memiliki suami, tapi seakan tak memilikinya. Rasa ini pun seperti hilang seiringnya waktu. Terkadang aku menyesal karena pernah mencintai pria itu dan malah diabaikan saat aku berusaha untuk selalu mencintainya. Namun, untuk apa juga aku berjuang sendiri?
Aku masih menimang keputusan dan memikirkan cara yang baik untuk membuat Mas Arman benar-benar tidak mengelak hubungan mereka.
Aku pun masih belum mengambil keputusan mengenai ucapan Mala tempo hari, tapi mengingat bayangan saat pria itu begitu mesra pada Anita membuat aku harus memberanikan diri untuk melakukan apapun demi membuktikan bahwa ia benar-benar selingkuh. Soal uang yang katanya ia simpan untuk anak kami pun aku rasa itu hanya akal-akalannya saja.
Tiba-tiba aku merindukan ibuku dan adikku. Haruskah aku mengatakan pada ibuku tentang masalahku. Namun, aku tidak bisa membuat ia merasa bersalah padaku. Ya, pernikahan ini bukanlah yang aku inginkan. Butuh waktu bagiku untuk menerimanya demi orangtuaku. Namun, setelah aku menerima hubungan ini yang ada aku malah terluka teramat dalam.
Aku pun menelpon ibuku dengan ragu.
[Assalamu'alaikum, Nak!] terdengar suara Ibuku di sebrang sana.
"Wa'alaikum salam, Bu." Jawabku.
[Bagaimana kabarmu?] tanya Ibu.
"Alhamdulillah baik, Bu. Bagaimana dengan Ibu?" tanyaku lagi.
[Baik, Nak. Adik Kamu juga sehat.]
"Bu...,"
[Ada apa, Nak?] tanya Beliau.
Aku berpikir sejenak, tapi aku tak bisa jika harus mengatakan masalahku saat ini.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Semoga sebentar lagi Nisa bisa pulang ya! Ibu jaga kesehatan! Jangan lupa makan!" Aku mengurungkan niatku untuk mengatakannya pada Ibuku.
Dengan cepat aku memilih untuk berpamitan agar ibu tidak lagi bertanya apapun. Tak tega rasanya jika harus mengadu dan menjadi beban pikiran untuk ibuku. Mungkin aku akan mengatakannya saat kembali ke Desa.
Aku menghempas kasar tubuh ini ke atas ranjang. Mencoba untuk memejamkan mata yang terus terjaga akibat pikiranku ini. Meski aku selalu berharap ini hanyalah mimpi. Nyatanya saat aku terbangun, semua ini benar-benar terjadi.
Keesokan harinya. Mataku begitu berat untuk terbuka. Aku baru ingat kalau aku tidur pukul dua pagi. Terkadang aku berpikir untuk apa memikirkan orang yang sudah tidak peduli padaku, bahkan aku pun tidak lagi ada dalam pikirannya. Harusnya aku pun sadar dengan sikapnya dan tidak terus mengalah untuk kesalahan yang tidak ku perbuat. Hanya saja, aku tidak bisa juga menyakiti ayah Mas Arman. Beliau sangatlah baik padaku, tapi kenapa anaknya begitu menyebalkan dan perhitungan pada istrinya sendiri.
Secangkir teh tawar untuk saat ini. Aku meminta tolong lagi pada Mala disaat aku tidak lagi bisa membuka internet karena tidak diberi jatah untuk membeli kuota. Aku yang selalu menyisihkan uang belanja. Kali ini tidak bisa menyisihkannya karena pria itu tidak juga pulang. Nasib tergantung pada pemberian orang lain, padahal aku pun bisa bekerja. Itu semua karena Mas Arman tidak mengizinkanku keluar rumah kecuali untuk membeli kebutuhan rumah tangga.