Bab 4

1053 Words
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup jauh sampai juga di tempatku KKN. Aku segera melangkahkan kaki untuk turun mobil dan menuju ke kantor kepala desa. Ini ada sebuah acara perkenalan dengan para aparatur desa di sini. Perkenalan berlangsung hanya selama tiga puluh menit saja, dan selama itu kepalaku sering kali terantuk karena menahan kantuk yang sangat berat. Selama perjalanan aku sama sekali tak dapat memejamkan mata karena suara orang minta tolong yang selalu terdengar di telingaku. Selesai dari kantor kepala desa, kami mengambil barang untuk di bawa ke posko karena rumah yang akan kami tinggali tidak ada jalan mobil masuk. Aku baru saja akan mengambil barangku ketika Om Jajang dengan sigapnya mengambil barangku dari dalam mobil. "Biar aku saja, Om," kataku sambil berusaha mengambil tasku dari tangan Om Jajang. "Tidak Mbak, biar saya yang bawa. Sekalian saya memastikan di mana posko, Mbak," "Harus ya Om sampai di posko?" "Sudah perintah dari Bapak, Mbak harus sampai di posko dan melihat kondisi poskonya," Huft... aku menarik napas mendengar jawaban dari Om Jajang. Aku sangat tahu betul jika itu sudah perintah Ayah, maka tak akan dapat di ganggu gugat dan tak akan di bantah. Beberapa pasang mata warga sekitar memandangku dengan pandangan yang sangat sulit aku jelaskan. Aku tak perlu mencari tahu apa alasan mereka memandangku seperti itu, karena aku sudah sangat paham alasannya adalah TNI yang ada di sampingku. Aku melangkahkan kakiku dengan langkah yang gontai. Selain karena tubuh yang lelah karena kecapaian, aku juga merasa risih dengan pandangan dari teman-teman KKNku dan tentu saja dari warga juga, semua hanya karena Om Jajang yang memakai pakaian lorengnya. Setelah berjalan sekitar seratus meter, akhirnya kami sampai di sebuah rumah berlantai dua dengan cat putih yang masih bersih—sepertinya rumah ini di cat khusus karena kami akan menyewanya selama sebulan. Seorang pria setengah baya berdiri di teras rumah untuk menyambut kami. Dalam pikiranku dia adalah pengurus rumah ini, karena tak mungkin jika pemiliknya berpakaian sedikit lusuh seperti dia. "Selamat datang Nak, saya Parjo penjaga rumah ini," katanya memperkenalkan diri. Satu persatu dari kami memperkenalkan diri kepada Pak Parjo. Senyumnya merekah setiap kali kami menjabat tangan tua dan keriputnya. "Bapak ikut KKN juga?" tanya Pak Parjo sambil menatap Om Jajang dengan dahi mengkerut hingga membuat lipatan di dahinya bertambah. "Tidak Pak, saya hanya mengantar putri atasan saya," jawab Om Jajang. Pak Parjo menganggangguk tanda memahami apa yang dikatakan oleh Om Jajang dan mengetahui siapa putri atasan yang di maksud Om Jajang. "Di sini ada sepuluh kamar, tujuh lantai atas dan tiga di lantai bawah. Jadi setiap kamar dua orang," kata Pak Parjo. Kelompokku terdiri dari dua puluh orang mahasiswa, sepuluh pria dan sepuluh wanita hingga tak terlalu susah untuk mebagi kamar. Aku sekamar dengan Via, karena dari fakultas ekonomi perempuannya memang hanya aku dan dia saja. Kami mendapat kamar di bagian atas yang memiliki balkon menghadap taman belakang. Aku dan Via segera menaiki tangga yang akan membawa kami ke kamar kami. Sementara itu, semua barang kami di bawa oleh Om Jajang yang selalu setia berada di dekatku. "Saya permisi pulang dulu Mbak, kalau Mbak ada apa-apa, Mbak bisa hubungi KORAMIL atau KODIM, data Mbak sudah ada di sana. Itu pesan Bapak sebelum berangkat kemarin," kata Om Jajang berpamitan dan aku hanya dapat mengangguk. Aku tak pernah menyangka jika menjadi seorang petinggi TNI akan seperti ini. Selama ini aku hanya mengira bahwa jabatan Ayah hanya berlaku di pusat, tapi ternyata tidak seperti itu. Kubuka tasku dan mulai membereskan semua isi tas ke dalam lemari yang ada di dalam kamar. Aku tak melihat Via sedari memasuki kamar, mungkin dia sedang pergi ke kamar mandi. Kebiasaan dia yang tak pernah hilang sedari dulu ketika berada di tempat baru adalah mengecek kamar mandi. "Bagaimana Vi?" tanyaku saat melihat dia kembali. Tak ada jawaban dari Via, mungkin dia masih menikmati suasana di rumah ini—mencoba beradaptasi. Aku tinggalkan pakaianku yang belum seluruhnya masuk lemari. Aku berbalik dan berjalan ke arah Via. Wajah cantiknya terlihat pucat dan bibirnya gemetar. "Vi....Via...," kataku sambil menggoyangkan tubuhnya. Semenit dua menit aku menunggu respon dari Via, tapi dia tak meresponku sama sekali. "Via...," teriakku tepat di samping telinganya. "Eh...ada apa Ra," kata Via yang terlihat begitu kaget, dan terlihat seperti baru kembali dari suatu tempat yang sangat jauh. "Ada apa sih dari tadi aku panggil diam terus?" "Eh... hhhmmm... itu... anu...." "Itu anu apa Vi? Bicara yang bener dong!" "Itu... di kamar mandi ko aku lihat kaya bayangan gitu ya?" "Bayangan apaan?" "Bayangan cewe cantik," "Masa sih?" "Lihat saja." Aku penasaran apa yang sesungguhnya di lihat Via di kamar mandi hingga membuat dia begitu pucat dan bicara gugup. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Aku membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, kulangkahkan kakiku yang masih mengenakan flat shoes ke dalam kamar mandi. Ku edarkan pandanganku ke segala arah mencoba mencari apa yang di katakan oleh Via. Tapi aku tak menemukan apapun di dalam kamar mandi selain kamar mandi yang bersih sesuai dengan ekspektasi Via. "Vi... gak ada apa-apa lho," kataku dari dalam kamar mandi. Kudengar langkah kaki mendekati kamar mandi. Aku berpikir bahwa itu adalah Via yang akan melihat kondisi kamar mandi. "Vi, coba kamu lihat gak ada apa-apa di kamar mandi," kataku sambil membalikkan badanku mengjadap Via. Tapi ternyata di belakangku tak ada siapa-siapa. Aku hanya sendirian di dalam kamar mandi yang bersih dan sepi. "Lho, kayaknya tadi aku mendengar langkah kaki. Tapi kok gak ada siapa-siapa sih.” Setelah memastikan semua yang ada di dalam kamar mandi bersih dan beres, aku kembali ke dalam kamar. Aku mencoba mencari Via tapi ternyata dia tak ada di kamar. Huft... aku menarik napas dalam karena lagi-lagi Via menghilang tanpa bicara apa-apa padaku. Aku kembali memasukkan pakaianku ke dalam lemari. Aku mendengar seseorang membuka pintu dan dengan segera aku melihat ke arah pintu mencari tahu siapa yang masuk ke dalam kamar. Kulihat Via masuk ke dalam kamar dengan senyum mengembang dibibirnya. "Habis dari mana sih?" tanyaku. "Habis nganterin ajudanmu ke depan sekalian minta kontak dia." "Lho bukannya tadi kamu ke kamar mandi dan bilang lihat sesuatu?" "Ke kamar mandi? Kapan? Tadi aku kan gak masuk kamar karena ke kamar Windi, itu lho temen SMAku yang aku bilang tadi di jalan," "Kalau Via belum masuk kamar, lalu siapa yang tadi keluar dari kamar mandi?" tanyaku dalam hati sambil menatap kea rah Via dan Kamar Mandi silih berganti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD