"Aaagggghhh...," terdengar suara teriakan yang cukup keras dan melengking memenuhi setiap sudut kamarku. Perlahan aku membuka mataku dan mendapatkan seseorang telah berdiri di hadapanku. Badannya tinggi dan tegap dengan kepala plontos khas tentara. Tidak, dia bukan Om Rifky atau pun Om Jajang, aku sangat mengenal mereka. Mereka tidak memiliki tubuh seperti itu, walau mungkin mereka pun akan dapat menerobos kamarku dengan cepat dan tangkas. "Mundur Ra!" perintah orang itu tanpa melihat. Ra... ternyata benar bahwa dia bukan Om Rifky ataupun Om Jajang, mereka tak akan berani memanggil namaku secara langsung. Hanya tiga orang yang akan memanggilku dengan sebutan itu, Ayah, Kak Arfan, dan tentu saja Kak Arfin. Aku sedikit melangkah mundur dan mendapi sesosok perempuan yang siap menghadangk

