"Dokter baik-baik aja?!" Perawat lelaki yang ikut masuk ke ambulans bersama Rian mengkhawatirkan mimik Rian. Dia pucat pasi dengan keringat menetes deras di sela pelipis. Rian sedang teringat saat ayahnya menghembuskan nafas terakhir dihadapannya. Ternyata, dia setrauma itu. Rian pun baru tau. Dia fikir, dirinya baik-baik saja saat ditinggalkan. Nyatanya tidak pernah ada yang cepat terbiasa dengan perpisahan. "Ah, gakpapa. Cepat kita tangani!" Mobil ambulans yang dilengkapi peralatan ruang ICU itu segera dijalankan. Beberapa kabel dipasang ke tubuh Winter dan disambungkan ke alat monitor. Detak jantungnya cukup bagus, tapi anak itu terlihat sangat lemah. "Huh!" Rian membuang nafas. Baru saja dadanya sedikit longgar, dia mendengar suara pistol dari luar diikuti jeritan dari mulut

