Bab 2 Zildan

1037 Words
Bab 2 Zildan INDONESIA Seorang pria maskulin turun dari pesawat, berpakaian serba hitam, hidung mancung, kulit putih dengan kacamata bertengger di hidung membawa aura dingin di sekitarnya. Zildan. Dia telah sampai di negara kelahiran mamanya, Indonesia. 'Indonesia, apa kabarmu?' batin Zildan Berjalan melalui jalan khusus, Zildan bebas dari paparazi yang selalu ingin informasi tentang dirinya sebagai pengusaha muda berbakat. Sampai tempat parkir Zildan telah di tunggu sahabatnya sejak kecil. "Lama tak jumpa, apa kabarmu kawan?" tanya Samuel sambil meraih koper Zildan dan di masukan ke bagasi mobil. Zildan melepas kacamata hitamnya, mata yang kebiruan tajam dengan bulu mata yang lebat menampah kadar ketampanannya. "Seperti inilah keadaanku, bagaimana, apakah sudah siap semua?" jawab Zildan. "Sudah, pergerakannya sangat lambat seperti siput. Baiknya segerakan saja sobat, tanganku sudah gatal akibat libur lama." Zildan hanya mengangguk mengerti akan situasi di Indonesia, tapi dia tidak boleh gegabah harus sabar dan teliti. "Jangan gegabah, yang kita hadapi ini kelas kakap, pesan kakek harus hati-hati." "Baiklah jika itu kehendak pimpinan pusat." Setelah semua masuk bagasi, mereka memasuki mobil dan perlahan mobil berjalan menuju arah pinggiran kota M. Perjalanan lumayan lancar memasuki kawasan hutan buatan yang terawat, semakin dekat, tampak sebuah rumah bergaya Eropa mewah dan elegan. "Bagaimana bisa secepat ini kamu bangun mansion?" tanya Zildan. "Sesuai instrukturmu, sobat. Apa ada yang kurang?" jawab Sam. Zildan memandang sekelilingnya, terukir senyum di bibirnya menandakan kepuasannya. "Aku ingin kau tambahkan danau buatan di sebelah barat dengan sedikit sentuhan taman bunga." Zildan menerangkan inginnya, karena dia berharap di sinilah kelak keluarga kecilnya tinggal. "Siap laksanakan, Dan. Oke, mari masuk, kamu pasti lelah." ajak Sam sambil menarik koper milik Zildan ke dalam rumah. "Mbok, sim-bok. Yuhu ..." teriak Sam sambil cengengesan melihat simbok keluar dengan mata melotot dan memukul ringan kepala Samuel. "Dasar anak kurang ajar, pergi tidak pamit pulang teriak!" ucap simbok kemudian pandangan matanya bersirobok dengan Zildan. "Eh, mas Zildan, ya?" imbuh simbok sedikit malu karena bersuara agak tinggi terhadap Samuel. "Iya, mbok. Ini Zildan," jawab Zildan sambil senyum simpul. Zildan segera melangkah menghampiri simbok memeluk penuh rindu, kamudian menuju kamar yang telah di sediakan Samuel, pintu terbuka dilihatnya seksama dekorasi kamar, 'hem, bagus sesuai inginku,' batin Zildan. Kamar yang bernuansa hitam putih dengan ornamen serba kayu cendana menghiasi kamar itu, begitu pintu terbuka tercium aroma cendana yang menyegarkan. Zildan sosok pria dewasa dengan paras yang rupawan, hidung mancung, rambut hitam dan rapi dengan kulit yang putih, memiliki mata kebiruan sedikit sipit dengan tatapan tajam, merupakan aset terindah yang dimiliki. Namun dia sama sekali belum tertarik akan wanita, baginya wanita bikin dia pusing. "Zildan, keluarlah!" teriak Samuel dangan mengetuk pintu kamar Zildan. Pintu kamar terbuka, Zildan berdiri di tengah pintu dengan posisi kedua tangan dalam saku celananya. "Mengapa kau berteriak depan kamarku? Apa yang kamu inginkan?" ucap Zildan. "Mari berkeliling kota agar kamu tau situasi sekarang bagaimana!" ajak Samuel santai. Zildan masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil dompet dan ponselnya, kemudian keluar kembali bersama Samuel. "Mbook, Simbook." Mendengar suara Samuel yang kencang, simbok keluar dari dapur dengan tergesa dan langsung memukul kepala Samuel dengan centong nasi terbuat dari kayu. "Dasar anak bandel, jangan teriak dalam rumah!" ucap simbok dengan nada kesal pada Samuel. Pandangannya tertuju pada Zildan, "mau ke mana aden, kok sudah rapi saja?" imbuhnya dengan suara halus, cepat sekali simbok berganti nada suaranya. "Simbok ya, sama Zildan berkata manis terus saat bersamaku main mukul pake centong. Aku ini cucu simbok, lho," kata Samuel manja. "Ini, Mbok. Mau keliling Jakarta, saya sudah lama tidak pulang jadi sudah lupa," jawab Zildan tanpa perdulikan Samuel. "Iya ya, di cuekin nih ceritanya saya. Maleslah enggak jadi ajak kamu keliling Jakarta, Zil." Simbok dan Zildan tertawa bersama melihat polah Samuel yang pura-pura cemberut, Zildan menimpuk Samuel dengan bantal kecil yang tersedia di sofa. "Wle ... tidak kena tidak kena," ucap Samuel sambil berlari memutari badan simbok. Mereka bertiga kembali tertawa bersama terlihat suasana hangat yang lama hilang dalam rumah itu. Simbok tiba-tiba diam termangu menghadapi situasi seperti itu, seakan majikannya dulu telah kembali. Samuel menyadari kediaman Simbok pun berkata, "kenapa mbok, kok terdiam?" "Sudah bercandanya, sana segera keluar nanti keburu malam. Hati-hati dalam berkendara lho Sam!" balas simbok. "Siap, nenekku tercinta," balas Samuel dengan posisi hormat seperti prajurit. Zildan melangkah menuju garasi mengambil kunci yang tergantung di tempat khusus kunci mobil. Samuel mengikuti dari belakang, saat Zildan berhenti di mobil tua dengan cat yang dibuat pudar, Samuel berkata, "waduh, jangan mobil itu Zil. Bensin lagi tipis itu!" "Aku pengen bawa mobil ini, Sam. Tampilannya keren. Kita beli bensinlah, kau ini," balas Zildan. Akhirnya Zildan mengendarai mobil tua itu ke jalanan ibukota, ketika melewati pom bensin mobil berbelok untuk isi bahan bakarnya. Setelahnya kembali ke jalanan. "Rame sekali kota Jakarta sekarang, beda saat kita masih kecil Sam." "Begitulah, perkembangannya sangat pesat," balas Samuel. Saat berbincang dalam mobil mulai seru tiba-tiba ada segerombolan preman menghadang mobil itu, kaca mobil depan di gedor oleh preman itu. Zildan keluar dari mobil, kedua tangannya masuk saku celana. Dia memandang preman itu satu per satu dengan tatapan tajam. "Apa mau kalian?" tanya Samuel. "Serahkan harta yang kalian punya saat ini, uang, handpone dan mobil ini!" jawab preman itu. "Wah, kok nyaman, tidak berkerja tapi langsung dapat duit, handpone bahkan mobil. Enak sekali hidup kalian," ucap Samuel. "Jangan banyak omong, cepat serahkan!" balas preman itu. Samuel hanya diam, Zildan masih dalam mode patung dangan tatapan tajam. Melihat calon korbannya diam bergeming, para preman tidak sabar lagi, akhirnya berteriak memberi kode pada kawan-kawannya. "Seraanng ...!" Zildan hanya memandang para preman yang merangsek meju ke depan, menyerangnya dengan membabi buta tanpa arah sasaran yang tepat. Samuel sendiri menghadapi tiga orang preman tanpa kesulitan, ketiga preman itu menerjang Samuel dengan sapuan kaki bersamaan. Bagi Samuel gerakan mereka sangat lambat dan mudah di bacanya, tidak butuh waktu lama mereka sudah terkapar penuh luka. "Huh, hanya segini kemampuan kalian, pulang minta restu bunda dulu jika inginkan harta!" ejek Samuel. "Siapa kalian, mengapa masih ada orang seperti kalian," ucap preman itu. Zildan hanya diam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya senyum tipis terukir di bibirnya, tidak ada keringat, baju lecek bahkan setetes darah. Penampilan Samuel dan Zildan masih sama seperti semula, rapi dan keren. Sedangkan lawannya, para preman itu sudah hancur, baju compang-camping, banyak luka bahkan ada yang patah tulang hingga berakhir kematian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD