Pelajaran hari ini telah usai, kini Grizella serta teman-temannya berada di depan sekolah. Menunggu jemputan masing-masing ataupun menunggu bus yang akan melewati sekolahnya.
"Lo di jemput?" tanya Abel kepada Grizella.
"Kayaknya gue naik bus deh," jawabnya.
Abel manggut-manggut.
"Mau gue anterin?" tawar Risha.
Grizella berpikir lalu menjawab.
"Nggak deh."
"Eh, itu jemputan aku, aku pulang terlebih dahulu, ya?" Shaga meminta izin kepada teman-temannya, ketiganya langsung melirik kearah salah satu mobil mewah yang berada tak jauh dari tempat mereka.
"Hati-hati ya, bye," ucap mereka bertiga barengan.
Shaga hanya tersenyum dan mengangguk, lantas laki-laki itu bergegas menuju jemputannya.
"Gue juga duluan, Abel ayo," mobil jemputan Risha dan juga Abel sudah terparkir di depan mereka, kini tinggal Grizella yang menunggu jemputannya.
"Kapan gue bisa di jemput sama ayah?" lirih gadis itu kala melihat teman-temannya yang selalu bercanda ria bersama orangtuanya.
Hanya Risha yang tau masalahnya, Abel dan Shaga memang baru kenal dengannya beberapa bulan yang lalu. Sedangkan Risha, gadis itu sudah berteman baik dengannya saat mereka memasuki SMP.
Risha yang mengerti dengan keadaan keluarga Grizella pun, menyuruh keluarganya memperlakukan Grizella seperti anak kandungnya sendiri. Keluarganya pun amat sangat menyayangi Grizella, kala ia bermain dirumah Risha, keluarga Risha selalu menyambutnya dengan hangat. Memang seperti ini yang ia inginkan, tapi dia menginginkan keluarganya yang memperlakukan nya dengan baik dan menyambutnya dengan hangat kala ia pulang sekolah, bukan malah sebaliknya.
Namun ia harus sadar dengan keinginannya yang berlebihan. Ini semua kesalahannya, ia harus menerimanya dengan lapang d**a.
Ia harus lebih bersabar.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bus datang. Grizella segera berlari dan masuk kedalam bus yang ternyata sudah tidak ada tempat kosong, semuanya penuh oleh penumpang, dengan terpaksa ia harus berdiri di tengah-tengah kursi yang berhadapan.
Hembusan nafas terdengar jelas dari salah satu penumpang, membuat sebagian penumpang melirik kearahnya termasuk Grizella.
"Duduk aja, gue yang berdiri," ucap salah satu laki-laki, laki-laki tersebut menggunakan seragam sekolah yang hampir sama dengan Grizella pakai. Namun, sebelumnya Grizella tak pernah melihat wajah laki-laki tersebut, apa mungkin ini yang dimaksud Abel? Murid baru itu?
Alis Grizella bertautan, ia paham maksud laki-laki itu, tapi untuk apa ia menyuruhnya duduk di tempatnya?
"Nggak usah, gue berdiri aja," Grizella menolaknya.
Laki-laki itu berdecak pelan, ia tak suka jika kebaikannya selalu di tolak oleh orang lain, padahal ia berniat membantunya.
"Udah duduk aja, gue tau kaki Lo pegel." Jujur saja, Grizella saat ini menahan rasa pegal di kakinya.
"Yaudah kalo Lo maksa," sebelum ia duduk ditempat yang sempat laki-laki itu duduki, bus berhenti mendadak yang berhasil membuat Grizella hampir tersungkur jika saja laki-laki yang menawarinya duduk tak mencengkram tangannya, mungkin saja saat ini ia sudah tertidur di lantai bus.
"Anjir sakit," ucap Grizella seraya mengelus pergelangan tangannya yang sempat di cengkram oleh laki-laki tak di kenal itu.
"Lo kalo mau bantuin yang ikhlas dong, liat nih tangan gue jadi merah kan," dibalik itu, laki-laki tadi tersenyum tipis melihat tanda merah melingkar dipergelangan tangan Grizella.
"Nggak usah duduk," Grizella menatap kembali laki-laki tak di kenal itu.
"Tadi Lo yang maksa sendiri buat gue duduk, kenapa tiba-tiba ngelarang gue buat duduk?" bingung Grizella, ia merasa bingung dengan sikap laki-laki ini, menurutnya sikapnya berubah-ubah seperti bunglon.
Tanpa menjawab laki-laki itu menunjukkan tempat duduknya dengan gerakan mata, Grizella yang paham pun melihat, sebelum akhirnya ia mendengus kesal. Dan kembali menatap laki-laki tak dikenal itu.
"Padahal kaki gue udah pegel banget," ucapnya ketika melihat tempat yang sempat ditawari oleh laki-laki tak dikenal itu sudah terisi oleh kakek-kakek yang entah darimana datangnya.
Senyuman tipis terbit dibibir laki-laki itu, "makanya gue bilang dari tadi, Lo sih ngeyel," ejek laki-laki itu membuat Grizella kesal.
Gadis itu melirik kearah sekitar, untung saja rumahnya sudah dekat jadi ia tak perlu lama-lama lagi berdiri dan membuat kakinya lemas.
Sampai akhirnya, bus berhenti di salah satu halte, membuat Grizella bergegas turun namun sebelum turun ia melirik sekilas kearah laki-laki tak di kenal itu.
"Huh, ngeselin," ketus Grizella ketika gadis itu turun dari busnya.
"Gue ngeselin?" tanya seseorang dari belakang, membuat Grizella sontak membalikkan tubuhnya dan berpas-passan dengan manik mata tajam yang tengah menatapnya.
"Lo? Lo ngapain ikut turun, hah? Ngikutin gue?" Ia terkejut kala laki-laki tak di kenal itu ikut turun dan malah mengikutinya.
"Idih, nggak ada kerjaan amat gue ngikutin Lo," laki-laki itu menghendikkan bahunya, lantas pergi meninggalkan Grizella yang terdiam.
Grizella semakin bingung, pasalnya arah jalan laki-laki tak di kenal itu menuju arah rumahnya, atau arah kompleknya.
Tak mau ambil pusing, gadis itu berjalan di belakang laki-laki tak di kenal itu, membuat sang empu sontak melirik kearahnya.
"Lo kalo yang ngikutin," ujar laki-laki itu, tanpa melihat kearah Grizella.
"Enak aja, rumah gue emang disini," balas Grizella sambil menunjukkan salah satu rumah yang bisa terbilang mewah. Laki-laki itu menghentikan langkahnya, dan menatap rumah yang ditunjuk oleh Grizella.
Ia manggut-manggut, sebelum menatap Grizella. "kita tetanggaan, gue disini," unjuk laki-laki itu, menunjuk rumah yang berada di depannya dan disamping rumah Grizella.
Kedua bola mata Grizella membulat sempurna, mulutnya sedikit menganga, perasaan baru kemarin rumah di sampingnya kosong tak terurus, tapi kenapa kini rumah tersebut sudah bersih dan rapih?
"Oh jadi Lo," ketus Grizella. Tanpa sepatah kata gadis itu bergegas masuk kerumahnya, meninggalkan laki-laki tak di kenal itu yang tengah tersenyum seraya menatapnya.
"Zella pulang," sapanya namun tak ada balasan dari dalam rumah, membuat lagi-lagi dan lagi ia menghela nafasnya.
Gadis itu berjalan menuju kamarnya yang letaknya berada di lantai 2. Namun, langkahnya terhenti kala mendapati ibunya yang tengah menonton tv di ruang keluarga. Ia pun bergegas menghampirinya.
"Bunda," panggil lirih gadis itu, namun wanita paruh baya yang kini masih menonton enggan meliriknya barang sedetikpun.
Ia berjongkok, menatap sang ibu dengan nanar. "maafin Zella."
Sang ibu masih bungkam.
"Zella tau, Zella salah. Kejadian dulu,,,"
Plak!
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tamparan keras mengenai pipinya. Rasanya perih dan panas, namun ia sudah tau siapa pelakunya. Ia menunduk, tak berani menatap ibunya yang kini tengah menatapnya dengan raut kebencian.
Air matanya lolos begitu saja, turun menuruni kedua pipinya yang terasa perih.