Overtime

1769 Words
So if you're gonna hurt me. Why don't you hurt me a little bit more? Just dig a little deeper. Push a little harder than before. And I'm counting down the seconds that we have. I can see the end in sight, at last. So if you're gonna hurt me Why don't you hurt me a little bit more? Pattaya merutuki dirinya sendiri. Bagaimana tadi dia bisa mengatakan hal konyol itu di depan semua orang divisinya? Bagaimana dia bisa mengambil kasus besar tanpa pikir panjang? Dan yang terburuk adalah bagaimana bisa dia mengajak berkencan Jared? Pria yang harusnya dia bunuh? Pattaya membenamkan wajahnya di meja kerja. Sejak kejadian tadi pagi satu divisinya seakan memusuhinya. Mereka tidak segan segan menatapnya mencela. Entah apa yang akan terjadi bila Ms Kellyn tau apa yang telah dia lakukan. Tamat sudah riwayatku. "Pattaya." Pattaya mengangkat wajahnya dan melihat sekretaris Jared berada di sebelah sekat kubikel miliknya. "Ini titipan dari Mr J. Berkas kasus yang harus kamu pelajari." "Terimakasih Mr Ryan," Pattaya tersenyum dan mengambil berkas itu. Dia tertegun melihat logo di kop surat berkas itu. Logo yang sama dengan segel di berkas yang dia berikan pada Jared di penthousenya. Berkas yang kata Angel sangat penting. Jadi ini kasus yang harus dia menangkan? Kalau ini penting kenapa tidak pria itu saja yang menanganinya. "Aku tidak percaya kamu bisa sepercaya diri itu saat mengajukan dirimu tadi. Kamu bahkan menantang Mr J untuk berkencan denganmu. Entah karena kamu memang hebat, atau bodoh." Pattaya kesal. Kenapa dia selalu diremehkan? Ini bahkan belum sebulan dia bekerja di tempat ini tapi tidak sehari pun dia tidak menerima tatapan mencela ataupun meremehkan itu. "Aku akan memenangkannya." Ryan menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Sejenak Pattaya mengagumi sosok pria jangkung di depannya. Pria ini tampan dengan wajah dingin yang tidak ditutupi. Memang tidak setampan Jared hanya saja pria ini memiliki kharismanya tersendiri. "Buktikan saja. Buktikan kalau Mr J tidak salah telah menerimamu di divisi ini. Karena dari awal, akulah yang terus berkeras menolakmu di divisi elite seperti ini." Pattaya mengepalkan lengannya. Dia akan memenangkan kasus ini dan menutup mulut besar pria sok di depannya ini. Setelah Ryan pergi, Pattaya mulai membuka dokumen di hadapannya. Dia mulai membaca dengan serius dan otaknya mulai memikirkan segala kemungkinan. Dia mengernyit di banyak bagian yang menurutnya akan sulit. Tapi dia sudah bertekad. Dia akan memenangkan kasus ini. Lagipula, mungkin dengan dia berkencan dengan Jared, akan semakin memuluskan rencananya untuk membunuh pria itu. Kenali musuhmu lebih dekat dan dapatkan kepercayaannya. *** Jared menatap pemandangan jalanan Kota New York dari jendela besar di ruangannya. Ruangan tempat bekerja Jared adalah ruangan yang sangat besar menghabiskan hampir satu lantai dari keseluruhan bangunan. Terletak di paling atas dengan hampir seluruh dinding terbuat dari kaca bening yang telah didesain sedemikian rupa hingga tidak membuat panas maupun silau ke dalam ruangan meskipun harus berhadapan langsung dengan matahari. Kaca itu didesain satu sisi, hanya bisa melihat keluar tapi tidak bisa melihat ke dalam. Ruangan Jared didominasi warna putih dengan property hitam dan coklat kayu gelap. Dengan penataan barang yang baik hingga ruangan itu terlihat luas dan nyaman. Dilengkapi mini bar, kamar pribadi, dan televisi flat UHD yang tertata rapih di tempatnya masing-masing. Jared memasukkan lengannya ke dalam saku celananya. Wajanya tampak tenang sangat berbeda dengan matanya yang menyorot penuh amarah dan kegilaannya. Dia saat ini ingin sekali membunuh orang. Menikmati wangi anyir yang dia sukai, menatap laju darah merah pekat yang keluar dari luka sayatan yang dia ciptakan. Tapi, di atas semua itu, dia ingin melampiaskan kegilaan yang terus menggedor akal sehatnya. Dia ingin melampiaskan rasa frustasinya. Kemarin dia sudah bertekad akan menjaga jarak dengan Pattaya. Membuat Pattaya merasa kalah bahkan sebelum berperang. Membuat Pattaya menyerah dengan semua ambisinya. Hingga Pattaya keluar dari kehidupannya. Dia sudah memutuskan untuk melindungi Pattaya dari dirinya sendiri. Keinginan gilanya sangat sulit dia kendalikan semejak Pattaya masuk ke dalam hidupnya. Dia sangat ingin membunuh Pattaya. Sangat ingin hingga membuat kepalanya berdenyut nyeri dan badannya nyeri. Tapi, dia tidak bisa melakukannya. Pattaya adalah Ata. Perempuan kecil yang di mana Jared sangat berhutang budi padanya. Tapi apa yang Pattaya lakukan benar-benar membuatnya kaget. Dia sengaja tidak mengajak Pattaya berpartisipasi pada kasus kali ini karena dia mau membuat Pattaya tidak dianggap dan akhirnya keluar dari perusahaannya. Lagipula dia sangat tahu bagaimana pengetahuan Pattaya mengenai hukum. Tapi, Pattaya malah mengajukan dirinya di depan semua orang. Perempuan itu bahkan menantangnya. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa dia bisa bertahan untuk tidak menancapkan pisaunya pada Pattaya di saat dia harus melindungi wanita itu? Jared menghembuskan nafas berat. Dia benci kekalahan. Apalagi mengenai kasus yang perusahaannya pegang. Tapi, mungkin di kasus ini dia harus membuat Pattaya kalah. *** Pattaya baru pulang dari kantor saat jam menunjukkan pukul 11 malam. Dia memakai tasnya dan mulai berjalan menuju lift. Hanya dia satu-satunya karyawan yang masih belum pulang di divisinya. Entah di mana para OB dia tidak melihatnya. Keadaan yang sepi membuatnya mengambil langkah cepat. Lift terbuka, dan dia masuk ke dalam. Yang dia inginkan saat ini hanyal pulang ke rumah secepatnya. Saat lift tertutup, lift bukannya turun malah naik. Pattaya menelan salivanya. Hanya beberapa orang yang dia tahu berada di lantai atasnya. Hanya Ryan dan Mr Jared. Pattaya mencengkram tali tasnya. Dia berdoa semoga itu bukan Jared. Dia lebih berharap jika itu adalah salah satu OB atau Ryan. Siapapun asal jangan Jared. Dia belum siap bertemu Jared lagi, apalagi setelah hal memalukan yang telah dia lakukan tadi pagi. Ting … Pintu lift terbuka, dan dia bertatapan dengan iris biru pekat yang menatapnya tajam. Jared … Saat itu juga, dia merasakan jantungnya bagai jatuh ke perut. Wajahnya serasa panas. Dia otomatis menundukkan wajahnya. Sial! Pattaya refleks berjalan mundur sampai punggungnya menyentuh dinding lift yang menampilkan pemandangan malam Kota New York. Keringat dingin mulai menyentuh keningnya. Dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Dia sudah melatih dirinya agar tidak takut pada d******i mengerikan yang dimiliki Jared. Tapi, menyadari keadaannya sekarang, saat mungkin hanya dia sendiri dan iblis ini di kantor di jam yang sudah sangat larut dan di dalam lift, tiba-tiba rasa takut benar-benar mencekiknya. Suara ketukan lembut sepatu terdengar. Menandakan Jared telah memasuki lift. Pintu lift lalu ikut tertutup. Pattaya tetap menundukkan kepalanya. Dia melirik Jared yang memasukkan seperti sebuah kunci berwarna hitam ke dalam salah satu panel di dekat tombol lift dan lift berkedip sekali dan berhenti. CCTV dan lampu di pinggir-pinggir mati hanya sebuah lampu di atas kepala mereka yang masih menyala. Jantung Pattaya seakan berloncatan. Apa yang dilakukan pria ini? Jared berbalik. Dia terdiam sebentar dan menatap Pattaya. Pattaya tampak bergetar ketakutan, tidak sekalipun dia mengangkat wajahnya. Jared tersenyum miring. Dia berjalan hingga berhadapan dengan Pattaya dalam jarak yang sangat dekat. Ujung sepatu mereka bersentuhan. Jared mengangkat kedua lengannya mengurung Pattaya tepat di samping pipinya. Jared sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi mereka. Jared diam dia menghirup aroma vanila yang menguar dari rambut hitam Pattaya, dia lalu tersenyum tipis. "Tatap aku Pattaya" Pattaya meremas kepalannya, dengan ragu ragu dia mengangkat wajahnya dan matanya langsung bertemu dengan iris biru yang menatapnya dengan penuh emosi yang saling bertumbukan. Seketika, Patttaya seolah lupa di mana dia berada. Semua porosnya hanyalah iris biru muda yang menatapnya tajam dengan ambisi membunuh yang pekat. "Apa rencanamu?" Pattaya mengerjapkan matanya kembali ke realita. Merasakan nada menusuk yang tidak ditutupi itu. Dia menatap wajah Jared. Wajah sempurna itu kini kaku dan bersirat kejam. Sangat berbeda dengan raut wajah yang biasa dia tampilkan di depan public. Tidak ada raut lembut yang penuh dengan senyum. Ini wajah aslinya. "Jawab aku Pattaya." Pattaya tersentak dengan nada rendah tajam yang dilemparkan padanya. Pattaya kembali bergetar karena takut. "Ap.. Apa maksudmu?" Bibir itu tersenyum miring. Sangat tampan dan mempesona tapi menyeramkan dan mengancam di saat yang sama. Dia iblis berparas malaikat. "Kamu tentu tahu dengan jelas apa yang kumaksud. Aku tahu semua tentang dirimu Pattaya Clearesta Alexander. Aku tahu semua ijazah dan sertifikat milikmu itu palsu. Aku tahu kalau kamu.." Jared menatap keseluruhan diri Pattaya dengan senyum yang meremehkan. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Pattaya. "Sama sekali tidak berbakat di bidang hukum. Harusnya kamu menjual parasmu saja bukan otakmu." Jared kembali mengangkat wajahnya dan menatap ekspresi Pattaya lalu tersenyum kecil. Pattaya merasa matanya memanas. Seumur hidupnya dia tidak pernah direndahkan separah ini. Harga dirinya terusik. Rasa kesal, marah dan sakit hati bersatu membangkitkan keberanian Pattaya. Pattaya menatap Jared marah. "Aku akan memenangkan kasus ini dan menutup mulut besarmu itu. Aku akan menunjukkan padamu bukan parasku saja yang bisa kujual tapi otakku juga. Dan saat itu kamu akan terkejut Mr Calligan." Jared tersenyum puas. Matanya berkilat dengan ambisi gilanya. Dia senang melihat sosok Pattaya yang ini. Sosok pemberontak seperti kucing liar. Membuat dirinya tertantang ingin menjinakkannya. "Buktikan kata-katamu. Hanya bualan tidak akan membuatku percaya padamu Pattaya." Pattaya mengeraskan wajahnya. Ingin sekali dia menonjok wajah Jared yang sangat menyelepelekannya. "Saat aku menang nanti, Akan kubuat kamu menjilat ludahmu sendiri. Dan aku akan sangat menikmati waktuku saat kita berkencan." Jared seperti teringat sesuatu. Matanya menggelap dan wajahnya kaku. Kedua jemarinya terulur menangkup leher Pattaya. Kedua ibu jarinya menyatu pas di tengah leher Pattaya dan keempat jarinya yang lain memeluk leher jenjang itu. Pattaya tersentak dengan perbuatan Jared. Tapi, selain takut yang amat sangat, perbuatan itu membawa gelenyar aneh pada dirinya. "Apa maksudmu memberikanku tantangan itu Pattaya?" Ibu jari Jared bergerak ke kiri ke kanan. Pattaya menelan salivanya. d******i Jared semakin kental mengancam dan menakutkan. "Aku.. Aku tidak memiliki maksud…" Jared tersenyum culas. Ibu jarinya berhenti bergerak dan dia mengeratkan cekalan jemarinya membuat Pattaya terbelakak. "Jared." "Jangan berbohong padaku Pattaya." Pattaya menutup matanya merasakan paru-parunya kebas dan panas. "Jared." "Jawab aku." "Karena... Karena aku menyukaimu." Sial! Apa lagi ini?? Jared refleks melepaskan leher Pattaya. Pattaya langsung memegang lehernya dan terbatuk-batuk. Jared berbalik dan mencabut kunci dari panel angka dan lift kembali turun. Jared terdiam. Dia mengernyit mengingat penuturan Pattaya. Dia paham mungkin saja Pattaya tidak berpikir dulu saat dia menjawab tadi. Mungkin saja itu semua hanya untuk bisa lolos dari cengkraman Jared. Tapi Jared tidak bisa memungkiri sebuah letupan kecil yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dan dia menyukai sensasi itu. Jared mengepalkan lengannya. Dia mengeratkan gigi-giginya. Perempuan ini berbahaya. Dia harus segera pergi dari kehidupanku. Kalau tidak, aku tidak akan bisa melindunginya dari diriku sendiri. Tiba-tiba sebuah pemikiran merasuk ke dalam otaknya. Dia tersenyum miring. Ting … Pintu lift terbuka. Pattaya segera mengambil langkah keluar, saat dia melewati Jared, Jared menahan lengannya. Jared berjalan mendekat dan mengalungkan sebelah lengannya ke perut Pattaya. Mendekapnya erat. Sebelah lengannya lagi menyingkirkan rambut Pattaya yang menghalangi telinga kirinya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Pattaya dan bernafas di sana. Membuat bulu kuduk Pattaya meremang. "Kalau begitu menanglah maka aku juga akan menikmati waktu kita Pattaya."   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD