Dominiq: Tidak Selamanya Buruk "Nggak malu dilihatin banyak orang?" Bizar berbisik di telinga kanan gue. "Nggak." Gue semakin berjinjit, mengalungkan kedua tangan ke lehernya. "Nggak akan ngeluh kalau foto kita disebar sama akun gosip lagi?" Bizar kembali berbisik. Masih mengalungkan kedua tangan gue ke lehernya. Gue menarik kepala dari bahunya, menatap laki-laki berstatuskan duda yang telah resmi berpacaran sama gue hampir empat bulanan ini. "Lo keberatan Mas?" tanya gue, Bizar tampak berpikir. Gue tahu dia sedang meledek gue saat ini. Selama kita pacaran, gue sangat-sangat menjaga privasi kita. Bukan karena nggak mau apa lagi sampe malu pacaran sama duda. Bukan. Seriusan. Gue melakukan ini semua demi kita berdua, bagaimanapun dia punya nama keluarga besar dan anak yang harus di

