Lima

1948 Words
Ruangan Chankyung tampak lengang dan sepi, hanya ada Pria itu yang duduk sembari menghadap laptop, sibuk berkutat dengan beberapa laporan dan dokumen memusingkan. Tanpa diketuk, pintu terbuka lebar. Menampakan seorang Pria dengan kemeja biru laut juga jas hitam. Ia berjalan cepat ke arah Chankyung dan menatap Pria itu dengan kesal. "Apa yang kau lakukan? Ini kantor," ujar Chankyung yang tidak diindahkan Pria berkulit tan tersebut. Pria itu, atau kita bisa menyebutnya Jongsoo justru menghela napas kesal. Ia duduk di hadapan Chankyung dan menatap Pria itu dengan ekspresi sama. "Ya Park! Kau belum membaca email yang ku kirim kemarin ya?" Jongsoo berucap dengan nada kesal. Bagaimana tidak, file yang harusnya sudah sampai di tangannya tidak kunjung mendapat balasan dari Chankyung. Bahkan Jongsoo merasa jika pria itu tidak mendengarkan pertanyaan-nya kali ini. Pria dengan kemeja berwarna putih itu kini justru nyaman dengan posisinya, duduk bersandar di kursi kebanggan dengan pandangan lurus ke arah jendela besar yang menyajikan pemandangan gedung-gedung menjulang. Jongsoo mendengkus. Sejak datang ke kantor pagi tadi Chankyung jadi bersikap aneh, pria itu jadi lebih banyak diam, bahkan sewaktu meeting dengan investor ia terlihat lesu dan tidak bersemangat sama sekali. Chankyung terlihat lain dari biasanya. Dan itu mengusik Jongsoo untuk sekedar bertanya. Ia tahu telah terjadi sesuatu. "Ya, kau mendengarku tidak?" serunya lagi. Melihat Chankyung yang mendadak jadi pendiam membuat Jongsoo gemas sendiri.  Semenjak ditinggal Minjoo sikap Chankyung jadi berubah, ia menjadi sulit dimengerti dengan moodnya yang terkadang berubah-ubah. "Hng? Kenapa?" ingin rasanya Jongsoo memukul kepala sahabatnya itu kuat-kuat. Chankyung bertanya dengan nada tanpa dosa, ia bahkan berkedip sesekali dengan tampang bertanya. "Kau kenapa sih?" "Aku? Tak apa," si Pria Kim mencibir mendengar jawaban Chankyung, tidak apa, apanya. Batin Pria itu.  Ia lantas merebut berkas yang Chankyung pegang saat pria itu mulai berpura-pura kembali sibuk dengan setumpuk kertas di hadapannya. Berusaha menghindari pertanyaan Jongsoo. "Kembalikan Jong. Berkas itu harus selesai hari ini juga," katanya. "Kau takkan bisa menyelesaikan pekerjaan jika pikiranmu bercabang. Kau ini kenapa? Sejak kembali dari caffe sikapmu jadi aneh. Kau tidak makan atau melakukan hal aneh 'kan kemarin?" tanya-nya penuh selidik. Takut-takut jika Chankyung melakukan hal yang tidak-tidak. Chankyung mendengkus. Ia menghela napas kemudian mengusap wajahnya frustasi. Pria itu terlihat lelah entah untuk alasan apa. "Aku tidak tahu. Di caffe, aku bertemu dengannya," alis Jongsoo tertaut. Dengannya? Siapa? "Minjoo," lanjut Chankyung seolah tahu apa yang Jongsoo pikirkan. Mata Jongsoo membulat, ia menggebrak meja juga mencodongkan tubuh ke hadapan Chankyung. Ekspresi terkejut pria itu jelas tak bisa disembunyikan. "Apa katamu? Kau yakin itu dia? Kalian berpisah sudah cukup lama omong-omong. Kau yakin tak salah orang?" Chankyung mendorong kening Jongsoo, memerintah lewat matanya agar pria itu kembali duduk di tempat semula. Ia mengangguk. Masih teringat jelas wajah Minjoo, baik dulu maupun saat ini wajah gadis itu tak banyak berubah. "Meskipun sudah lima tahun, tapi aku tidak mungkin salah. Minjoo, dia tirak banyak berubah, ia masih sama seperti dulu. Ya, hanya bertambah cantik juga dewasa." ujar Chankyung dengan pandangan menerawang, mengingat moment pertemuannya dengan Minjoo belum lama ini. "Juga tak menyukaimu, benar?" celetuk Jongsoo dengan smirk pada wajah tampannya.  Chankyung melotot, ia menatap sang sahabat dengan tatapan sewot. Entah mendapat keberanian darimana sampai Jongsoo berani berkata seperti itu pada atasannya sendiri. Ya, meskipun ia menjadi sahabatnya juga. "Sudah lima tahun Bung. Mustahil Minjoo masih mencintaimu, mustahil juga ia tak punya pasangan saat ini. Apalagi dia cantik, mudah baginya untuk melupakanmu." ujar Jongsoo lagi.  Bukan bermaksud bagaimana, Jongsoo hanya mengatakan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Ia hanya berusaha realistis dengan keadaan yang ada juga kenangan masa lalu yang terjadi di antara mereka. Baru saja Jongsoo hendak melanjutkan omongannya, Chankyung lebih dulu menyela. Pria itu menatap Jongsoo dengan tatapan sebal. "Jika kau tak bisa membantu lebih baik kau keluar saja. Ucapan mu itu membuat ku kian pening," ujarnya sembari membuat gestur mengusir. Melambaikan tangannya ke arah luar. Jongsoo terkekeh kecil melihat ekspresi Chankyung yang terlihat amat pening. Pria itu memijit keningnya sendiri sembari memintanya untuk pergi dengan segera, padahal ia hanya mengatakan kemungkinannya saja. "Hei aku hanya berkata kemungkinan berdasarkan kenyataan juga perlakuanmu padanya dulu. Para wanita itu mempunyai kapasitas ingatan 123GB. Mereka mungkin bisa memaafkan, tapi sulit melupakan."  "Jika kau berbuat salah entah pada masa apa kau melakukannya mereka pasti akan mengingatnya. Bahkan secara detail," terang Jongsoo. Chankyung menghela napas lagi. Sungguh, kepalanya serasa hampir meledak memikirkan Minjoo juga pekerjaan yang menumpuk di depannya. "Lalu aku harus apa?" tanya Chankyung frustasi. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Menurutmu? Buktikan! Jangan hanya bicara tapi lakukan pergerakan. Bukan cuma melakukan apa yang dulu Minjoo lakukan. Selain mengejar kau juga harus bisa meyakinkan," Jongsoo berjuar serius. Pria itu menatap Chankyung lamat-lamat. "Kau terdengar seperti profesional. Padahal aku belum pernah mendengarmu berkencan," sahut Chankyung yang disambut decakan Jongsoo. Ia memutar bola matanya malas lalu bersedekap dadaa.  "Itu sih kau saja yang tidak up to date tentang Kim Jongsoo," katanya sembari sok membenarkan kerah leher yang sebenarnya rapi, ekspresinya mendadak berubah, berpura-pura sombong. Chankyung tekekeh melihat kelakuan sahabat karibnya itu,  ia lalu bangkit kemudian meraih mantel yang tersampir pada gantungan tidak jauh darinya dan memakainya. "Kau mau ke mana?" Jongsoo bertanya bingung. "Ke caffe Minjoo. Seperti katamu, aku harus mengejar dan meyakinkan. Berusaha keras untuk mendapatkan cinta ku kembali," sahut Chankyung percaya diri. Ia melangkah cepat ke arah pintu, tapi tepat sebelum Chankyung berhasil memutar knop pintu, Jongsoo lebih dulu menarik leher mantel pria itu. "Bukan sekarang juga bodoh! Selesaikan dulu pekerjaan mu. Email dariku juga berkas-berkas untuk meeting dengan para investor lebih berharga untuk saat ini. Kau bisa kembali mengejar cintamu nanti begitu selesai. Mengerti?" kata Jongsoo dengan nada gemas-gemas kesal. "Heis, kau itu ...." "Aku asisstenmu. Tapi aku juga yang ditunjuk Paman Park untuk mengawasi pekerjaanmu Park Chankyung," ujar Jongsoo telak. Chankyung mendengkus. Tekadang ia bisa sangat berterimakasih dengan adanya Jongsoo, tapi ia bisa jadi manusia paling menjengkelkan -menurut Chankyung. Seperti sekarang ini. "Tunggu apalagi? Kerjakan," titah Jongsoo dengan ekspresi mengejek. Puas karena berhasil membuat Chankyung jengkel karena ulahnya. "Ya!" teriak Chankyung keras. Keduanya terdiam beberapa saat sebelum kemudian tertawa bersama. Sementara di caffe, Minjoo tersenyum di balik counter minuman, ia sesekali menunduk saat pelanggan datang dan pergi. Cuaca hari ini lebih dingin dari kemarin tapi senyum cerah wanita itu sudah terpancar sejak pagi. "Noona," Jihoon menyerahkan sebucket bunga Gardenia putih padanya. Di sela bucket terdapat kartu ucapan yang terselip. "Gardenia melambangkan kemurnian, kecantikan juga cinta tulus yang takkan pernah padam. Ku rasa itu cocok untukmu." Minjoo terkekeh. Dengan gesit ia merogoh saku, meraih ponsel kemudian dengan lincah jemarinya menari pada layar sebelum menempelkan benda itu ke arah telinga. "Terima kasih untuk bunganya," ujar Minjoo pada orang di seberang telepon. "Eum. Kau suka? Ku pikir Gardenia cocok untukmu. Lagipula ia juga kuat untuk tumbuh di musim dingin." "Ya. Tapi aku lebih suka Promises. Tapi tak apa, aku tetap menyukainya selama itu hadiah darimu," Hunjae terkekeh di seberang sana. "Ya ya terserahmu saja. Ah! Kau ada acara sore nanti?" tanya Hunjae. "Wae?" "Tidak. Hanya ingin mengajakmu menonton. Ada film bagus," tanpa harus menunggu dua kali, dengan cepat Minjoo mengiyakan tawaran Hunjae. Ia tidak pernah bisa menolak ajakan pria itu. "Bagus. Akan ku jemput pukul tujuh. Sampai nanti."  Sambungan terputus. Minjoo berbalik dan terkejut begitu mendapati Chankyung berdiri tidak jauh darinya. Pria itu terdiam, mata bulatnya memperhatikan Minjoo dengan intens. Sebenarnya sudah sejak tadi Chankyung memperhatikan Minjoo. Bagaimana gadis itu mendekap erat bucket bunga dari Hunjae, juga senyumnya yang merekah lebar tatkala berbicara dengan pria itu meski hanya melalui udara. Baru saja Minjoo ingin beranjak, Chankyung lebih dulu menahannya. Pria itu berjalan mendekat hingga kini tepat di depannya. "Bisa kita bicara? Hanya sebentar," Chankyung berucap pelan. Minjoo masih diam Menimang jawaban apa yang harus ia katakan. Sampai kemudian. "Pergi saja Noona. Masalah takkan pernah selesai jika kau terus lari. Selesaikan semua dan kembalilah jadi Noona yang dulu," ujar Jihoon menginterupsi. "Tidak perlu memikirkan caffe. Aku akan menjaganya," lanjut Jihoon sembari tersenyum. Sikapnya jauh lebih bersahabat ketimbang kemarin. Ia jauh terlihat lebih baik saat tersenyum, ia bahkan tersenyum ke arah Chankyung. Ia tidak segalak kemarin, Minjoo membatin. Pada akhirnya Minjoo mengangguk. Sebenarnya ia agak ragu, tapi benar apa yang Jihoon katakan. Masalah takkan selesai jika ia terus lari. "Kita bicara di ruangan ku," ujar Minjoo kemudian menitipkan pekerjaannya pada Jihoon. Ia berjalan pelan ke arah ruangan miliknya yang ada di dekat meja counter diikuti Chankyung di belakangnya. Minjoo juga Chankyung sudah duduk nyaman di ruangan Minjoo. Omong-omong, Minjoo adalah pemilik caffe. Tapi ia juga bekerja sebagai pelayan guna membantu pekerjaan para karyawannya. Ia tidak ingin terlalu membebankan para karyawannya dengan semua pekerjaan caffe. "Jika kau ingin meminta maaf, aku sudah memaafkanmu. Lagipula ini bukan salahmu, aku saja yang terlalu naif juga bodoh waktu itu," buka Minjoo lebih dulu.  Ia berucap tegas. Masih mencoba mempertahankan tekadnya untuk membangun pembatas antara ia dan kehidupan cinta masa lalunya. Kali ini Minjoo mencoba berani, ia berusaha menatap mata Chankyung yang masih setia menatap lurus ke arahnya. "Terima kasih telah memaafkan ku. Dan ya, ini memang bukan salahmu atau mungkin juga bukan salah ku. Tak ada yang bersalah di sini. Sekarang aku paham, yang kau lakukan waktu itu adalah tulus, apa yang kau perjuangkan waktu dulu adalah perasaan yang harusnya tidak ku sia-siakan," ujar Chankyung, "Tak ada yang bersalah. Baik itu aku, kau ataupun perasaan itu. Hanya saja semua terjadi di saat yang kurang tepat. Jika saja," ucapan Chankyung menggantung. Minjoo yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan Pria itu segera berujar. "Berhenti membahas masa lalu. Itu semua sudah tidak ada artinya lagi buatku," potong Minjoo tegas. Chankyung tersenyum kecut mendengar ucapan Minjoo, ia sudah tahu jika ini akan terjadi. Ia sudah mencoba mempersiapkan hati sejak awal. Tapi entah kenapa saat kata itu benar-benar terlontar dari mulut Minjoo ia tetap merasakan nyeri. Chankyung mengangguk cepat, tersenyum tipis seolah tidak terjadi apapun. Menjadi pura-pura kuat meski sulit. "Terima kasih. Tapi apa boleh aku minta satu hal?" alis Minjoo mengkerut. Dilihat dari ekspresi wajahnya, ia mencoba menebak apa yang akan Chankyung katakan. "Bisakah kita menjadi teman?" Chankyung berujar mantab. Ia mengulurkan tangannya, menunggu Minjoo menjabat sebagai tanda setuju. Chankyung berpikir. Meski Minjoo belum mau memulai hubungan dengannya, mungkin ia mau untuk memperbaiki hubungan meski hanya berlabel sebagai teman. Ia hanya berharap jika hubungan keduanya bisa membaik. Iya, semoga. Minjoo menatap ragu uluran tangan Chankyung. Satu sisi ia senang bisa melihat senyuman pria itu lagi, namun di sisi lain hatinya meragu. Haruskah ia menyambut uluran tangan itu? Membuat mereka kembali terikat meski hanya berstatus teman. Minjoo sendiri tidak yakin jika hatinya siap dan kuat bertahan jika kembali memiliki hubungan pertemanan dengan Chankyung. Ia takut apa yang telah ia bangun dan pertahankan selama ini akan hancur. Pertahan yang ia bangun selama ini, berusaha membangun benteng setebal mungkin. Meminimalisir celah agar rasa itu tidak kembali hadir. Akankah tetap bertahan jika ia menyambut uluran tangan itu? Lama Minjoo berpikir hingga akhirnya ia menyambut uluran tangan Chankyung. Seiring tangan keduanya yang tertaut, Minjoo merapal harapan dalam hati. Ia berharap jika keputusannya untuk menerima Chanyeol sebagai seorang teman adalah benar. Berharap jika keputusannya saat ini adalah benar, ia hanya berharap jika apa yang ia lakukan akan berjalan baik untuk kedepannya. Dan semoga saja setelah hubungan keduanya membaik, mereka benar-benar bisa menjadi teman. Setidaknya itu yang Minjoo harapkan. Tapi bisakah harapannya jadi kenyataan? Chankyung sendiri tersenyum begitu Minjoo menjabat uluran tangannya, rencanannya untuk bisa kembali dekat dengan Minjoo berjalan baik. Rencananya untuk bisa berteman dengan wanita itu bisa berjalan sesuai dengan keinginannya, dan semoga saja ia bisa kembali bersama dengan Minjoo seperti apa yang ia harapkan. Ya, tidak ada salahnya berharap bukan. Siapapun bebas untuk berharap, selama tidak memaksakan kehendak untuk menjadi nyata, itu tidak masalah. . . . Noona : Kakak Perempuan (panggilan dari laki-laki yang lebih muda untuk wanita yg lebih tua) Wae : Kenapa (informal)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD