Tiga

2043 Words
"Sepertinya .... aku merindukanmu." Kata itu terucap dari sela bibir Chankyung tanpa sadar. Seolah menggambarkan apa yang sesungguhnya ada dalam benaknya selama ini. Minjoo bergeming. Wanita dengan kemeja putih itu masih tak bereaksi. Ia hanya menatap sang lawan bicara tanpa ekspresi. "Kau tak merindukan ku?" tanya-nya lagi. Bodoh memang. Bagaimana bisa ia berharap Minjoo juga merindukannya setelah apa yang ia lakukan padanya dulu. Tapi meski begitu, di hati paling dalam ia masih saja berharap. Berharap setidaknya Minjoo akan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Tapi seperti yang sering terjadi. Harapan tidak selamanya jadi kenyataan. Nyatanya harapan kecil Chankyung tidak bisa terealisasi begitu si wanita lebih memilih untuk undur diri. Tanpa sepatah kata atau senyum ramah yang biasanya ia umbar setiap saat, wanita itu melangkah pergi. Menyisakan Chankyung seorang diri dengan gemuruh dalam hati. Ia jadi berpikir, apa dulu sesakit ini saat ia mengacuhkannya? Rasa kecewa, sedih juga malu berkumpul jadi satu. Chankyung jadi berpikir dua kali, bagaimana caranya dulu Minjoo tetap tersenyum cerah tiap ia mengabaikannya. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menemui Chankyung. Ia membawa satu nampan berisikan kue juga secangkir cokelat hangat. "Aku tidak memesannya," ujar Chankyung seadanya. Pelayan dengan seragam coklat tua itu tersenyum, tangannya masih aktif meletakan pesanan di atas meja. "Ini dari Minjoo Noona. Gratis," jawabnya ramah. Tepat saat pelayan ber-name tag Lee Jihoon akan kembali, Chankyung lebih dulu menahan lengan pemuda itu. "Kau kenal Minjoo?" anggukan kecil jadi jawaban. Jihoon lagi-lagi tersenyum.  Jihoon mengambil tempat di depan Chankyung. Pemuda imut itu menatap Chankyung lamat-lamat, membuat yang ditatap merasa tidak nyaman. "Minjoo Noona sudah seperti kakak kandung ku sendiri. Dia yang menyelamatkan ku dari kerasnya kehidupan jalanan, memberi tahu ku soal rasa kehangatan keluarga yang tidak pernah ku dapat sejak kecil," buka-nya. "Minjoo Noona jugalah satu-satunya orang yang sudi mempercayaiku disaat keluarga ku sendiri tak pernah memberikan itu," lanjut Jihoon dengan pandangan menerawang. Mengingat masa lalu juga pertemuan pertamanya dengan Minjoo. Saat itu Jihoon yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas terpaksa harus merasakan kerasnya hidup di jalanan. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya sejak dirinya berumur sepuluh tahun, lebih tepatnya semenjak kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai karena adanya pihak ke tiga di hubungan rumah tangga mereka. Hak asuh atas Jihoon jatuh pada sang Ibu. Ia mengikuti Ibunya untuk mengadu nasib di Ibu Kota, Seoul. Sebagai penjual makanan kecil. Hidup Jihoon sempat membaik saat usaha Ibunya mengalami peningkatan, tapi hal itu tidak berlangsung lama.  Setahun kemudian sang Ibu menjalin hubungan dengan seorang Pria yang jauh lebih muda. Dari awal Jihoon sendiri merasa ada yang salah dengan hubungan keduanya, ia merasa jika kekasih Ibunya itu hanya memanfaatkan Ibunya saja. Jihoon juga sempat mengatakan soal kecurigaanya itu kepada sang Ibu, tapi beliau tidak mempercayainya. Ia justru dimarahi habis-habisan dan mulai mendapat perlakuan kasar. Bukan hanya dari sang Ibu, ia mendapatkan hal tersebut dari Pria yang menjadi kekasih Ibunya juga. Hal itu terjadi selama hampir setahun, setiap kali Jihoon datang ke Sekolah ia selalu memiliki luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.  Dan saat Guru bertanya padanya soal itu, maka ia akan beralasan jika ia baru saja terjatuh dari tangga. Pernah sekali seorang guru datang ke rumah untuk menanyakan perihal luka-luka yang dialami Jihoon, sang Ibu menjelaskan dan beralasan jika Jihoon benar-benar terjatuh, wanita itu juga mengatakan jika sesekali Jihoon memang berkelahi dengan teman sebayanya. Sang Ibu akan bersikap lembut hanya saat ada orang lain di antara mereka, dan saat hanya ada mereka berdua wanita baya itu akan kembali menyiksanya seperti sebelumnya. Tidak tahan, Jihoon memutuskan kabur. Ia mencoba kembali pada sang Ayah yang ia tahu juga telah pindah ke Seoul dengan keluarga barunya. Keduanya sempat bertemu, Jihoon serasa memiliki harapan pada awalnya tapi hal itu tidak terjadi seperti apa yang ia harapkan. Sang Ayah tidak memperdulikannya, Pria berusia empat puluhan itu mengatakan jika ia sudah memiliki keluarga baru dan tidak ingin membuat keluarga barunya merasa kurang nyaman dengan kehadiran Jihoon nantinya. Sang Ayah hanya memberikan sejumlah uang kepada Jihoon dan menyuruhnya untuk kembali kepada sang Ibu. Kekecewaan Jihoon akan kedua orang tuanya membuatnya tidak ingin mempercayai siapapun. Di usianya yang menginjak enam belas tahun dirinya memutuskan untuk hidup di jalanan, bekerja apa saja demi menyambung hidup dan makan. Sampai suatu hari, saat ia tengah bekerja sebagai pengantar makanan pesan antar ia bertemu Minjoo yang kebetulan memesan di tempatnya bekerja. Wanita itu tersenyum ramah dan mengajak Jihoon mengobrol sesekali sampai keduanya menjadi teman. Jihoon menceritakan soal hidupnya pada Minjoo sampai kemudian ia menawarinya untuk tinggal bersamanya, sebagai teman, adik dan juga keluarga. Meski pada awalnya Jihoon ragu, tapi pada akhirnya ia setuju. Dan sejak saat itu ia mulai kembali menata hidupnya, mulai hidup dengan layak dan kembali bersekolah seperti sebelumnya. Jihoon sendiri sangat berterima kasih akan kedatangan Minjoo dalam hidupnya. Ia benar-benar merasa beruntung bisa mengenal Minjoo. Chankyung mendengarkan cerita Jihoon dengan tenang. Berusaha jadi pendengar yang baik. "Noona adalah orang baik, amat baik. Tapi aku heran, kenapa ada orang yang tidak tahu terima kasih atas kebaikannya. Melukai hatinya bahkan membuatnya menangisi orang bodoh itu," ucap Jihoon. Tatapannya berubah drastis. Ia menatap Chankyung dengan tatapan tajam, lain dengan beberapa saat lalu. Pria dengan rambut coklat gelap itu menatapnya sinis, seolah ada amarah yang memancar dari sinar mata Pria bermarga Lee itu. Chankyung tahu pria muda di hadapannya tengah menyidirnya. Ia juga mengakui kebodohan yang ia lakukan dulu. Tapi sekarang berbeda, semua sudah berbeda. "Jika aku jadi dia, aku pasti merasa malu. Aku takkan pernah sanggup untuk muncul di hadapan orang yang," ucapan Jihoon terpotong saat suara Minjoo terdengar nyaring. "LEE JIHOON!" teriakan keras terdengar. Minjoo melangkah terburu dari arah dapur menuju meja yang keduanya tempati. Wajahnya memerah, nafasnya terdengar memburu karena marah. Ia berdiri tepat di antara Jihoon juga Chankyung, wanita itu sempat melirik sejenak ke arah Jihoon sebelum berkata. "Jihoon-ah, masuklah ke dalam," ujarnya pelan namun dengan nada tegas. Jihoon tidak menyahut, namun tetap menurut dengan apa yang Minjoo katakan. Tanpa menatap Chankyung, Minjoo berbalik. Ia hendak melangkah pergi sebelum suara Chankyung menginterupsi. "Bisa kita bicara? Hanya sebentar." Meski pada awalnya Minjoo akan menolak, tapi pada akhirnya ia bersedia.  Keduanya duduk saling berhadapan, baik Chankyung maupun Minjoo hanya saling diam tanpa ada salah satu di antara mereka yang berniat membuka obrolan. Canggung. Kata yang tepat untuk medeskripsikan suasana antara Chankyung juga Minjoo. Chankyung sesekali kedapatan melirik ke arah Minjoo, ia mencuri-curi pandang ke arah wanita itu yang hanya diam dengan pandangan ke arah jendela besar. "Apa kabar?" buka Chankyung dengan  gugup. Pria itu bahkan tersenyum kaku, mencoba terlihat ramah meski malah terkesan aneh. "Seperti yang kau lihat," sahut Minjoo seadanya.  Jika ia diboleh jujur, duduk berdua bersama Chankyung seperti sekarang membuatnya merasa kurang nyaman. Bukan dalam hal negativ, hanya saja itu membuat kenangan masa lalu soal mereka  kembali terputar tanpa sengaja dalam benaknya. Mengingatkannya kembali pada luka lama yang berusaha ia kubur sebisanya. Hening kemudian. Keduanya sama-sama larut dengan pikiran mereka sendiri. "Maaf," ujar Chankyung pelan. Kepalanya tertunduk, ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan sembari mendongak, memberanikan diri menatap Minjoo yang juga tengah memperhatikannya. "Maaf atas semua sikapku dulu. Perbuatan ku juga kata-kata ku yang menyakitimu. Aku tahu apa yang dulu ku lakukan sudah sangat keterlaluan." "Tapi apa kau percaya jika saat ini aku mengatakan … aku mulai mencintaimu?" Perkataan Chankyung membuat Minjoo tertegun. Ia sempat terkejut pada mulanya, tapi ia bisa mengendalikan ekspresinya dengan cepat. Minjoo sendiri memilih bungkam, ia enggan menjawab pertanyaan Chankyung. Wanita itu hanya menatap ke sekitar, berusaha menghindari kontak mata dengan Chankyung yang masih menatapnya. "Entah sejak kapan. Tapi aku yakin dengan perasaanku, rasanya aneh saat kau tidak ada. Awalnya terasa lega tapi semakin lama seolah-olah kosong. Bagian dalam diriku terasa kosong setelah kau pergi," tutur Chankyung lagi.  Pria itu mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, dan ia memang benar-benar menyesal. "Mungkin kau takkan percaya. Setelah ujian berakhir aku mencarimu layaknya orang gila, aku merindukanmu sampai rasanya hampir mati. Aku sendiri tak tahu kenapa, aku." "Menurutmu itu cinta, atau hanya perasaan terbiasa?" potong Minjoo cepat. Chankyung mengernyit, ia menatap Minjoo yang kini menatapnya lekat dengan tatapan bertanya. "Kau merindukan ku, atau hatimu mulai terbiasa dengan kehadiran ku?" lanjut Minjoo dingin. Ia berusaha keras untuk bisa terlihat baik-baik saja meski sebenarnya apa yang ada dalam dirinya berkata lain. Ia tidak ingin jadi munafik dengan berkata bahwa ia telah melupakan Chankyung sepenuhnya. Ia juga tidak akan mengelak jika ternyata ia masih menyukai pria itu. Hanya saja rasa sakit hati, cinta juga kenangan pahit di masa lalu bercampur jadi satu. Hal itu membuat Minjoo bertekad untuk membuat pagar, berusaha membangun tembok tinggi untuk melindungi diri dari lara hati. "Terkadang, manusia salah mengartikan antara cinta juga terbiasa. Jangan sampai kau salah mengatasnamakan cinta untuk rasa terbiasa. Biarkan hatimu menemukan jawaban sesungguhnya baru kau bisa memutuskan," lanjut Minjoo. Chankyung terdiam. Ia sudah menduga Minjoo akan menolaknya, tapi ia tak boleh menyerah begitu saja. Ia harus berusaha sekeras Minjoo dulu, ia harus melakukan apa yang dulu wanita itu lakukan. "Aku yakin. Sampai saat ini perasaan itu masih ada, bahkan kian menguat tiap harinya. Entah itu perasaan bersalah, menyesal ataupun terbiasa. Tapi satu yang pasti, aku mencintaimu sejak kau memutuskan mundur dan pergi." "jadi, bisakah kita memulainya kembali?" Minjoo terkekeh sebagai respon, ia melipat tangannya di depan dadaa. Menatap Pria di hadapannya dengan serius. "Apa yang harus dimulai kembali? Hubungan di antara kita bukan sesuatu yang pernah dimulai atau bahkan pernah diakhiri. Jadi jangan pernah mengatakan untuk memulai kembali, karena tidak ada di antara kita yang pernah memulai sesuatu ataupun mengakhirnya," sahut Minjoo tegas. Chankyung lagi-lagi terdiam. Ia tidak tahu jika Minjoo akan berkata demikian, ia sudah banyak berubah. Wanita itu jauh lebih tegar daripada apa yang ia perkirakan, jauh lebih tegas daripada dulu yang selalu menerima tiap perlakuannya dengan senyuman. "Apa kau begitu membenci ku?"  pertanyaan bodoh, batin Chankyung. Sudah jelas jawabannya. Jika dilihat dari perlakuan juga apa yang ia lakukan dahulu tidak mungkin jika Minjoo tidak membencinya, lagipula hal itu sudah terlihat jelas dari sikapnya beberapa saat lalu yang seolah amat enggan untuk kembali berhubungan dengan segala sesuatu yang menyangkut soal dirinya. "Tidak." Jawaban tidak terduga Minjoo menarik perhatian Chankyung, ia menatap wanita itu dengan pandangan terkejut. Sedikit senyum tipis terurai dari bibirnya, mungkinkah ia masih memiliki harapan? Batinya. "Aku tidak suka membenci seseorang. Lagipula saat itu aku saja yang bodoh, aku terlalu bodoh untuk mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah menganggap ku ada. Dan itu sebenarnya memang hak mu untuk mencintai siapapun, dan tidak menyukai siapapun," "Tidak ada yang harus dibenci dari kasus ini. Karena mengakui atau tidak itu termasuk salah satu kenangan berharga dalam hidupku." Kalimat terakhir yang Minjoo katakan membuat Chankyung mengernyit. Berharga? Apa mungkin wanita ini menganggap kehadirannya sama berharganya seperti apa yang ia rasakan kini. "Setiap kehadiran seseorang dalam hidup ku maka mereka ku anggap istimewa, bukan karena apa tapi tiap-tiap dari mereka memiliki pelajaran yang bisa dipetik untuk diriku sendiri," pungkas Minjoo kemudian. Chankyung tersenyum kecut, ia sempat mengira jika dirinya memang seistimewa itu tapi ternyata ia tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. "Apa kau memaafkan ku?"  "Bahkan aku sudah melakukan hal itu sejak dulu." "Lalu, kenapa kau terlihat tidak senang dengan kehadiran ku?" Minjoo tersenyum kecil mendengar pertanyaan Chankyung, merasa lucu dengan Pertanyaan yang diajukan. "Memaafkan seseorang bukan berarti bisa melupakan apa yang pernah ia lakukan bukan? Aku memang sudah memaafkan mu, tapi aku belum bisa melupakan apa yang kau lakukan padaku saat itu," "Tiap kali mengingatnya membuatku kembali sadar. Aku dulu terlalu bodoh, bisa-bisanya mempertaruhkan segala hal untuk orang yang tidak menginginkan ku sama sekali. Bahkan dengan bodohnya aku tetap mencintainya meski tahu jika orang itu mencintai orang lain," ungkap Minjoo kemudian. Terlihat jelas raut sendu saat ia bercerita, ia jadi kembali teringat di mana cintanya yang bertepuk sebelah tangan dan dengan bodohnya ia justru masih mempertahankan perasaanya itu. "Soal Baekhee. Aku dan dia, kami tidak memiliki hubungan apapun," sahut Chankyung cepat. Ia tahu salah satu faktor yang mungkin saja membuat Minjoo menjauhinya dulu adalah soal rumor kedekatan dirinya dengan salah satu perempuan teman sekolahnya. Meski hal itu tidak benar adanya tapi entah kenapa Chankyung tidak berusaha mengelak atau mengatakan kebenaran yang ada. Ia membiarkan hal itu terus berkembang sampai Minjoo mendengar hal itu. Pada mulanya Chankyung mengira jika Minjoo akan mundur mengejarnya setelah mendengar rumor tersebut. Tapi ia salah. Pertemuan pertamanya setelah rumor terdengar membuat Chankyung menyadari satu hal, dan disaat itulah ia mulai menyesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD