Prolog

1278 Words
Seorang gadis kecil, menangis tersedu-sedu di depan makam ibunya. Gadis itu, memeluk erat nisan yang bertuliskan nama ibunya dengan air mata yang berderai deras. "Ma, hiks–hiks–hiks, ayo bangun ma," sembari tersedu-sedu, gadis itu berbicara. Hingga tanpa ia sadari, seorang laki-laki mendekati nya dari belakang. "Susst, jangan menangis. Ayo kita pulang," Dengan suara lirih laki-laki itu mengajak gadis kecil di depannya pulang. "Papa, hiks–hiks–huaaa," bukannya berhenti menangis, tangisan gadis kecil itu malah semakin kencang. Laki-laki itu pun memeluk gadis kecil tersebut, dengan erat laki-laki itu memeluknya. gadis itu, menangis di pelukan laki-laki tersebut. Tes.. Tes.. Air mata terjatuh di rambut gadis kecil itu, rupanya laki-laki yang memeluknya itu. Merasakan kesedihan dan kehilangan yang sama seperti gadis kecil tersebut. "Hiks, alea hiks–hiks," rintih laki-laki itu pun terdengar, semua orang yang melihat betapa hancur kedua anak dan ayah itu pun merasa kasihan kepada mereka berdua. Namun meski begitu, mereka tidak berani mendekati mereka berdua, mereka semua ingin memberikan waktu berkabung untuk ayah dan anak tersebut. Selama satu jam, keduanya menangis dan meratapi kematian alea. "Ella, David. Ayo kita pulang, sebentar lagi seperti akan turun hujan," seorang kakek-kakek menghampiri mereka, David nama laki-laki tersebut. Ia bangun dari duduknya, dan menggendong Ella putri yang rupanya sudah terlelap. Ketika hendak melangkah kakinya pergi dari sana, ia berkata sambil menatap nisan istrinya. "Alea, aku dan Ella pulang dahulu ya, besok kami akan mengunjungi mu kembali. Aku mencintaimu alea," setelah itu David pun pergi dari arah sana, Anas kakek-kakek tadi. Menunjukkan wajah penuh dengan kesedihan saat menatap David dan juga cucunya. "Ayo masuk," Anas membukakan pintu mobil untuk David dan cucunya. David pun masuk ke dalam, mobil itu pun melaju meninggalkan pemakaman tersebut. Suasana di dalam sangat lah hening, mereka memilih untuk tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga suara kecil Ella, membuat Anas dan David mengalihkan pandangan mereka. "Mama, jangan pergi!"racau Ella, sepertinya gadis kecil itu tengah bermimpi. David menepuk-nepuk bahu Ella dengan pelan, gadis itu pun berhenti meracau. "Sudah, tidurlah lagi. Semuanya akan kembali baik-baik saja,"lirih David. Dia mencium kening anaknya, pemandangan menyedihkan itu dilihat oleh Anas. Laki-laki tua itu, hanya mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin melihat sisi rapuh anaknya, Anas menatap jendela ia perlahan-lahan ia larut dalam lamunan. Suasana kembali hening, hingga beberapa menit mobil itu memasuki perumahan elit di kawasan Jakarta Utara. Ckiit.. Mobil mereka berhenti di sebuah rumah mewah, sopir Anas keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk majikannya. Anas dan David yang sedang menggendong Ella pun keluar dari mobil. "Ayah, kenapa kau membawa kami ke sini?"tanya David dengan datar, Anas tersenyum lalu menjawab."Tinggallah disini untuk sementara waktu vid," mendengar jawaban Anas, David pun mengangguk dan masuk ke dalam rumah tersebut. "Hmm, anak itu."gumam Anas ketika melihat anaknya yang menyelonong pergi begitu saja. Saat ini, David menidurkan gadis kecilnya di kamar. Ia mengelus kepala Ella dengan lembut, tatapan sendu selalu melekat kepada David. Laki-laki itu masih tidak menyangka kejadian ini akan menimpa keluarga kecilnya. Flashback On David sedang duduk di meja makan, sambil menatap istrinya yang sedang menyiapkan makan siang untuk nya. Senyum indah alea selalu menghiasi wajah cantiknya itu, dan senyuman inilah yang membuat David selalu ingin menatap alea. Alea tersenyum kepada David, "Sayang, jangan melihat ku seperti itu," lalu merengek malu. David melihat rengekan manja istrinya itu pun menghampiri nya. David memeluk alea dari belakang, ciuman pun didaratkan di pipi alea. "Lepaskan, aku Ingin menyiapkan makan siang untuk putriku. Ini sudah siang, lebih baik kau menjemput putrimu saja sana. ingat jika kau telat semenit saja, dia akan sangat marah," alea terkekeh kecil ketika mengucapkan itu. Ia mengingatkan David akan kemarahan putri kecilnya itu, jika jemputan sekolahnya terlambat sedikit saja. "Kau, ini."David tersenyum sambil menoel hidung alea dengan manis. Pasangan suami-istri itu, terlihat sangatlah harmonis. Pernikahan yang sudah berjalan 12 tahun itu, jauh dalam bayang-bayang perceraian. Triing.. triing.. Suara ponsel di kantong David merusak suasana tersebut. David melihat nama yang tertera di ponselnya itu pun, memasang wajah sedikit gugup. Namun, ia buru-buru mengendalikan dirinya. Sedangkan alea tersenyum, sambil menatap David. "Siapa sayang? angkat saja," ucap alea, David pun tersenyum ia tak langsung mengangkat telfon nya. David mengambil jas kerjanya, lalu memberi kecupan di kening dan bibir alea. "Aku, menjemput Ella dulu sayang. Ini sudah siang, nanti dia marah lagi," David berpamitan kepada alea. Ia berjalan keluar dari rumahnya, "Nggak makan dulu?" tanya alea saat David sudah berada di ambang pintu, dan David pun membalas dengan gelengan kepala. David melajukan mobilnya menuju ke sekolahan Ella, sedangkan ia tak tahu senyuman cantik alea kini berubah menjadi senyuman dingin. Alea memperlihatkan wajah datar, dan masuk ke dalam rumahnya. Di dalam mobil, suara ponsel David terus berdering. David tidak menjawab telfon tersebut, ia mengabaikan nya. David terus melajukan mobilnya menuju sekolahan anaknya, saat sampai di sana. Ia melihat Putri kecilnya baru saja keluar dari kelasnya, "Hufft.. aman," David menghela nafas lega. Ketika mengetahui bahwa dirinya tidak terlambat semenit pun. David pun buru-buru membukakan pintu mobil untuk putrinya. "Selamat siang tuan putri," David memperlakukan Ella bak putri kerajaan. Senyum indah terbit di bibir mungil Ella, gadis kecil itu pun masuk ke dalam mobil. David menutup pintu mobil, dan masuk ke dalam mobilnya. "Oke, let's go," sorak Ella ketika David mulai melajukan mobilnya. David menoleh ke arah putrinya dan tersenyum. "Bagaimana hari ini sayang? adakah kejadian menarik," David bertanya kepada Ella dengan penuh perhatian, Ella pun hanya menggelengkan kepalanya. "Hmm, benarkah tidak ada kejadian menarik? emm lalu kau melakukan apa saja hari ini," tanya David lagi. "Tidak, ada yang menarik. Hanya belajar seperti biasa, lalu saat istirahat bermain bersama temanku. Hanya itu saja, " gadis kecil itu menceritakan kejadian hari ini kepada David. "Baiklah jika begitu, emm ah iya, apakah tidak ada pria yang mendekati mu hari ini," David menggoda putri kecilnya, dan semburat merah Ella tunjukkan. "Tunggu dulu, jangan bilang jika benar-benar ada pria kecil yang mencoba mendekatimu," melihat semburat merah di pipi Ella, sikap posesif David pun mulai keluar. "Ihh, papa. Rega bukan pria kecil," Ella menunjukkan ekspresi kesal kepada papanya. David mengangkat sebelah alisnya, "Rega, hmm dasar pria kecil menyebalkan,"gerutu David dalam hatinya. Ya, David mengenal Rega karena pria kecil itu adalah anak dari sahabat istrinya. "Ella, jangan dekat-dekat dengan pria. Kau harus tau, semua pria itu jahat. Jangan mendekati mereka, oke!" David memperingati anaknya agar tak terkena rayuan para pria manapun. Bukankah ini terlalu dini untuk David mengatakannya? namun David tidak peduli. Yang ia inginkan adalah, anaknya miliknya dan istrinya. "Berarti papa juga tidak boleh dekat-dekat dengan ku dong," dengan polosnya Ella mengatakan itu, sehingga David gelagapan. "Ah, bodoh!" batinnya lagi. David tak menjawab ucapan anaknya itu, ia pun terus melajukan mobilnya hingga sampai di rumah. Mobil yang dikendarai David pun telah sampai di rumah nya, ia membuka seat beat nya dan keluar mobilnya. Setelah keluar, David membuka pintu mobil Ella dan membuka seat beat Ella. "Ayo, keluar!" David tersenyum dan mengajak anaknya keluar mobil. Ella pun keluar dari mobil, ia berlari mendahului papanya. "Mama, Ella pulang!!" teriakkan mungil gadis kecil itu keluar, namun saat melihat di meja makan alea tak berada di sana. Ella pun mencari nya di lantai atas, dan hasilnya alea tetap tak ada di sana. Hingga ntah kenapa, Ella pun mencoba masuk ke dapur. Perlahan-lahan kaki mungil nya memasuki dapur, Ella menyipitkan matanya ketika melihat genangan merah di sana. Ella berjalan semakin maju, hingga "Aarggggghh, mama!" teriakkan ketakutan gadis itu terdengar. David yang berada di ambang pintu, pun langsung berlari ke dapur ketika mendengar teriakan putri nya. "ada apa Ella?" David sampai di dapur, karena terlalu mengkhawatirkan anaknya ia tak sadar dengan pemandangan di depannya. David terus bertanya kepada Ella, namun karena ketakutan Ella tak berani berbicara. Ia hanya menunjuk ke depan, David mengikuti arah telunjuk putrinya dan–
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD