Larisa sudah menduga jika ini tidak mudah. Mamanya pasti akan mengeluarkan alasan demi alasan untuk menolak keinginannya ini. Bukan hal yang mudah, tetapi bukan tidak mungkin untuk tidak diterima. Gadis mungil itu percaya akan pemikiran om tersebut. Bukankah mamanya itu menyarankan dirinya melanjutkan pendidikan ke luar negeri? Jadi hanya masalah bagaimana membuat mamanya menerimanya. “Ini kesempatan langka lho Ma, nggak datang setiap saat,” Larisa mengawali rayuannya kepada sang mama. “Akan ada tawaran serupa jika kamu sabar, nggak sampai terbang ke Korea,” jawab Rika, mematahkan argumen awal Larisa. “Belum tentu juga aku keterima, nggak ada salahnya dicoba dulu,” Larisa mencoba argumentasi lain. “Lalu kalau diterima gimana? Nggak mungkin kamu lepas kan?” Rika bertanya dengan nada s

