Reina mendengus dengan kehadiran gerombolan Resty yang sedari awal sudah membuatnya sebal. Selain Resty, kelima perempuan di hadapannya adalah jenis manusia yang tidak akan dia pilih untuk bergabung di timnya. Julid, berisik tapi kredit kerjanya pas-pasan. “Ayo Vian, ulang lagi,” kata Reina kembali memberi instruksi kepada staffnya itu untuk melanjutkan kegiatan mereka yang sedikit diganggu. “Kenapa bukan Larisa yang maju presentasi? Bukankah dia bintang tim kalian?” tanya Melani, mengintrupsi Vivian yang akan kembali berlatih. “Bukan urusan kalian,” desis Reina dengan ekspresi dingin. “Wow, kini kita tahu siapa yang mengajari Larisa arogan!” Adelia ikut-ikutan bicara. Seluruh tim yang ikut makan hanya memutar mata mereka malas. Reina melihat Liana yang gelisah bersama gerombolan itu.

