“Maaf Pak, permisi. Saya mau ke toilet,” kata Liana seraya berdiri. Gino terpaksa menjauhkan dirinya dari tubuh sang kekasih. Tanpa hambatan Liana pergi ke toilet. Dibasuhnya wajah kusutnya. Ditatapnya bayangan wajah miliknya di cermin. Berpikir akan pergi ke mana di sisa jam makan siang ini, menghindari Gino. Sudahlah, ambil dompet dulu! Serunya dalam hati. “Sudah segar, Sayang?” Liana berjengit mendengar suara Gino saat dirinya keluar dari toilet. Tetapi kemudian dipasangnya wajah datarnya, berakting seolah tidak terganggu dengan kehadiran laki-laki itu. Langkah Liana langsung dihentikan dengan pelukan atasannya tersebut. “Katakan, apa salah Abang sampai menghindar seperti ini,” Gino berkata, membujuk kekasihnya lagi. Liana tetap tidak mau menjawab. Dia malah sibuk be

