Menjalani Pemeriksaan

2265 Words
“Tapi saya tidak bersalah, Pak,” sanggah Larisa. Dia bergantian menatap Reina, Arya dan Dewa. Wajah Dewa masih diliputi kemarahan, tidak sedikit pun membalas tatapan menghiba Larisa. Arya dan Reina menatapnya prihatin. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena Larisa adalah orang yang berada di lokasi Resty jatuh. Jadi wajar kalau tuduhan mengarah kepadanya. “Ikut petugas dulu, Sa. Kamu hanya akan dimintai keterangan saja kog,” kata Arya mencoba menenangkan. Memberi jaminan supaya pegawainya tersebut tidak menolak dibawa ke kantor polisi. Dia khawatir nanti ada insiden yang membuat geger kantor kalau pegawainya itu dipaksa ikut. “Pergi dulu, Sa. Nanti aku dan Alex akan menyusul,”timpal Reina. Ikut menenangkan staffnya itu. Memeluknya sebentar sampai gadis itu tenang dan menurut. Sambil menangis, Larisa pun mengikuti langkah petugas. Arya mengikutinya untuk memberi akses lift khusus direksi yang langsung menuju tempat parkir. Supaya kepergian mereka tidak menjadi kegaduhan di kantor, Big boss-nya PT Mega Star itu melakukannya untuk ketenangan suasana kerja. Selepas Larisa, Arya dan polisi tersebut keluar ruangan, Reina menoleh ke arah Dewa. “Bapak tidak sedang menuduh Larisa yang menyelakai Resty kan?” tanyanya memastikan. Selama ini dia tahu kalau kepala divisinya itu cukup obyektif dan profesional. Karenanya perempuan itu yakin kalau laki-laki di depannya tersebut tidak gegabah dalam bertindak. “Semua saksi melihat Larisa bertengkar dengan Resty di tangga darurat,” jawab Dewa dingin. Tidak sesuai dengan ekspektasi Reina, kali ini laki-laki itu tidak memakai nalarnya untuk bertindak. “Semua saksi atau hanya perkataan Liana?” sambar Reina pedas. Dewa memilih diam. Dia masih percaya dengan asumsinya dan perkataan Liana. “Kejadian yang sebenarnya tidak ada yang tahu, bahkan Liana sekalipun. Hanya Resty dan Larisa yang ada di tangga darurat ketika peristiwa itu berlangsung, belum ada bukti bahwa Larisa membuat kekasih Bapak itu jatuh,” Reina melanjutkan argumennya. “Biar polisi yang menyelidikinya,” jawab Dewa tegas. Yakin betul bahwa asumsi dan kesaksian Liana itu benar. Reina menghela nafasnya dalam. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh. Menahan kemarahannya saat melihat sikap ngotot Dewa. “Semoga Bapak bisa lebih rasional. Yang tahu kejadian sebenarnya hanya mereka berdua, bukan Liana,” ujar Reina sebelum keluar dari ruangan. Dewa duduk di kursinya kemudian menghela napas panjang. Kekalutannya akan keadaan Resty membuatnya tidak berpikir jernih. Dia yakin sekali Larisa lah yang mencelakakan kekasih hatinya itu, meski hanya bermodalkan cerita dari Liana. Sikap gadis itu yang selalu mengganggu hubungan mereka jelas memperkuat asumsinya. Tidak salah kan kalau apa yang dia pikirkan itu benar? Sedang Reina langsung mengirim pesan kepada Alex sambil berjalan menuju ke ruang kerjanya. Reina [Lex, Larisa dibawa ke kantor polisi. Nanti sepulang kerja kita ke sana ya?] Tak lama Alex menelponnya. Dari seberang sana, dia langsung bertanya, How come? Reina menghela napas. “Sepertinya Pak Dewa mendesak Pak Arya melaporkannya. Ya memang dia berhak sih,” jawabnya. Dipijitnya pelipisnya pelan, mengusir rasa pusing yang menderanya. Ya udah, nanti sepulang kerja kita ke kantor polisi, kata Alex kemudian. Sambungan telpon pun ditutup. Reina masuk ke ruangan timnya. Dia melihat staffnya sedang bergosip. Apalagi kalau tidak sedang membahas tentang Larisa? Topik yang sedang ramai selama beberapa hari ini. Reina menghela nafasnya, kemudian meneruskan langkahnya. “Ayo kerja,” tegur Reina. Orang-orang yang tadinya bergosip langsung bubar. Dia menghela napas sekali lagi karena kesal, kemudian sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali pandangannya tertuju ke arah meja gambar yang biasa digunakan oleh Larisa untuk bekerja. Rasanya sudah mulai terasa kehilangan sosok ceria itu. Sepanjang hari gadis berusia 28 tahun itu gelisah, tidak benar-benar fokus. Sepulang kerja Reina bergegas ke tempat parkir, menemui Alex yang sedang bicara dengan serius dengan Arya. “Mbak,” sapa Alex, begitu menyadari Reina berdiri di sisinya. “Orang tua Larisa sudah dihubungi?” tanya Reina, wajahnya tampak lelah. Alex menganggukkan kepalanya. “Tante Rika syok, jadi Om Heri sendiri ke kantor polisi,” beritahu Alex, kedua orang yang disebutkan adalah orang tua Larisa. Reina kemudian menatap Arya. “Larisa nggak ditahan kan Pak?” tanyanya cemas. “Tergantung kebutuhan penyidikan, Rein. Tetapi kantor tetap memberikan pendampingan hukum,” Arya memberi penjelasan. Perempuan itu merasa sedikit lega mendengarnya. “CCTV kantor gimana Pak?” tanya Alex. “Tadi polisi juga sudah menyerahkan surat permohonan untuk memeriksa TKP dan CCTV,” sahut Arya. Reina sedikit lega, setidaknya dari sana bisa membuktikan kalau Larisa tidak bersalah. “Ayo, Lex,” ajak Reina mengingatkan niat awal mereka. “Oh iya, ayo,” jawab Alex. “Kami nengok Larisa dulu, Pak,” pamit Alex, Arya menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian pergi menggunakan mobil Reina, Alex meninggalkan mobilnya di parkiran. Arya sendiri pergi setelahnya. Dia harus memastikan Larisa didampingi dengan baik oleh pengacara yang ditunjuk. “Lex, mampir ke minimarket dulu, beli minum dan camilan buat Larisa,” ujar Reina. Laki-laki itu tertawa mendengarnya. “Ini yang Kusuka dari perempuan, selalu ingat amunisi,” sahut Alex. Reina tertawa mendengarnya. “Takutnya dia belum makan atau nggak bisa makan, Lex,” Reina memberi alasan. Alex mengangguk mengerti, kemudian terus fokus ke jalan sambil mencari minimarket. “Cari cemilan saja, kan?” tanya Alex seraya membelokkan mobil ke sebuah mini market. “Iya, minimal buat ganjel perut dulu. Nanti kita bisa makan kalau sudah tahu kondisinya,” jawab Reina. Alex memarkirkan mobil di depan mini market, lalu keduanya turun. Hampir saja dia menggandeng tangan Reina yang bebas di sampingnya. Ya Tuhan, kami begitu dekat! serunya dalam hati. Di dalam, Alex yang membawa keranjang belanja, sedang Reina memilih-milih yang akan dibelinya. “Mbak Rein tampaknya tahu banget apa yang disuka Larisa,” komentar laki-laki yamg tampak seperti Sultan Arab itu. Reina tertawa. “Saya cuma ingat-ingat snack yang suka dibawanya di meja kerja,” jawabnya. Setelah keranjang terisi penuh, keduanya pergi ke kasir. “Biar kubayar,” kata Alex seraya mendahului bertransaksi di depan kasir. Reina pun tidak membantah, karena setahunya laki-laki tersebut dekat dengan staff juniornya itu. Setelah selesai, keduanya pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di kantor polisi, mereka bertemu dengan Heri, ayah Larisa, yang sedang duduk terpekur di sofa ruang tunggu. “Gimana Larisa, Om?” tanya Alex, setelah dia dan Reina menyalaminya. Keduanya duduk mengapit Heri. Reina segera menyodorkan minuman dan roti kepada laki-laki yang menuju setengah baya itu. Dia tahu, pasti ayah staffnya tersebut pasti kelelahan. Itu sebabnya, ditawarinya cemilan dan minuman. “Makan dulu, Om,” Reina menawari Heri. Heri menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia bisa makan, sementara putrinya sendiri belum jelas kondisinya? “Masih diperiksa,” jawab Heri kepada Alex singkat. Alex berdiri mendekati polisi yang berjaga, sedang Reina membujuk Heri untuk makan. “Maaf Pak, apa Larisa sudah bisa ditengok ya? Kasihan itu ayahnya ingin tahu kabarnya,” tanya Alex kepada polisi tersebut. “Belum bisa, Pak. Masih diperiksa di dalam. Tadi Nona Larisa didampingi pengacara,” beritahu polisi tersebut. Alex menghela napas. Dia lega, setidaknya Larisa tidak menghadapinya sendirian. Tampaknya Arya mengatakan yang sebenarnya, seperti yang dijanjikan saat bertanya tadi. Ketiganya duduk dengan hati was-was. Belum ada kabar dari ruang periksa. Menunggu adalah hal yang menyebalkan. “Om, makan dulu rotinya,” Reina masih gigih membujuk. Dan lagi-lagi Heri menolak. “Nanti saja, Mbak. Saya nunggu Larisa,” jawab Heri. Suaranya bergetar, menahan sedih. Reina menghela napasnya, memahami suasana hati ayah dari staffnya itu. Diusapnya pelan bahu laki-laki paruh baya tersebut, sedang Alex memeluk menguatkan. Cukup lama mereka menunggu. Sesekali Heri menerima telepon dari istrinya yang berkali-kali menanyakan keadaan Larisa. Alex melihat dengan miris. Melihat cara ayah Larisa itu bicara menenangkan istrinya, bisa dipastikan bagaimana besarnya kekhawatiran yang dirasakan si penelpon. “Belum ada kabar, Ma. Sabar ya. Doakan Larisa baik-baik saja,” bujuk Heri, mencoba menenangkan. Alex menghela nafas saat mendengarnya. Dia cukup mengenal keluarga Larisa. Gadis itu masih saudara jauhnya dari garis ibu, itu kenapa mereka dekat. Sekitar jam sembilan malam, Larisa keluar dari ruangan pemeriksaan bersama satu petugas dan Danu, pengacara yang ditunjuk Arya untuk mendampinginya. Reina segera berlari memeluk gadis cantik berambut keriting itu. “Kamu gimana? Udah makan?” tanyanya. Alex yang mendengar pertanyaan Reina hanya tersenyum simpul. Terasa besar sekali perhatian yang diberikan. “Aku laper, Bu Rein,” jawab Larisa lirih. Reina tertawa, membawa Larisa duduk dan menyerahkan roti dan minuman yang tadi dibawanya. “Makan, ajak Om Heri juga,” ujarnya. Larisa tersenyum, kemudian mengajak papanya makan roti pemberian Reina. “Gimana Pak Danu?” tanya Alex, setelah dilihatnya Larisa dan Heri duduk tenang sambil menikmati makanan dan minuman yang dibawakan oleh Reina tadi. “Larisa bisa pulang, pemeriksaannya dianggap cukup. Benar kan, Ndan?” Danu menatap petugas yang berdiri di sebelahnya. Alex melirik name tag-nya, Haris. “Iya, sementara cukup. Nona Larisa masih berstatus saksi, jadi bisa pulang,” Haris mengiyakan. Heri yang ikut mendengar pun tersenyum. Meski status anaknya belum jelas, setidaknya saat ini dia lega Larisa bisa pulang. Haris pamit setelah Danu menyelesaikan prosedur pemulangan Larisa. “Tadi saya sudah dihubungi Pak Arya. Larisa bisa cuti dulu sampai pemeriksaan di kepolisian selesai. Setelah ini polisi akan olah TKP dan memeriksa CCTV, mungkin sekitar satu Minggu,” beritahu Danu. “Larisa ikut?” tanya Reina untuk memastikan. “Mungkin saat olah TKP. Tetapi belum bisa dipastikan. Mereka akan memeriksa rekaman CCTV dahulu,” jawab Danu. “Baiklah, Senin kuurus cutimu, Sa,” kata Reina. Larisa mengangguk. “Sebaiknya kita pulang,” usul Alex. Semua mengiyakannya. Danu pamit, karena harus ke kantor dulu untuk lapor ke atasannya. “Tadi Om ke sini naik apa?” tanya Alex kepada Heri, ketika mereka berjalan ke tempat parkir. “Ojol. Om gugup tadi, takut bawa mobil,” jawab Heri panjang lebar. Alex menganggukkan kepalanya. “Nggak apa-apa kan kalau kita antar mereka dulu?” tanyanya kepada Reina. “Sure,” jawab Reina. “Kita nengok Kak Resty dulu, boleh nggak?” tanya Larisa tiba-tiba. “Nggak,” Alex, Reina dan Heri kompak menjawab. Larisa melongo melihat penolakan mereka. “Kenapa?” “Resty masih dalam pengawasan dokter, pasti nggak bisa ditengok,” jawab Alex. “Sudah malam, Nak. Kalau pun kamu datang, suasananya pasti tidak mendukung,” sambung Heri. Dalam hati kecilnya dia tidak mau putrinya dipermalukan di sana. Mengingat Larisa dituduh sebagai penjahat atas kejadian yang menimpa Resty. Reina memeluk bahu Larisa. “Sementara jangan ke sana dulu, nanti kubantu cari tahu kabar Resty ya.” Larisa mengangguk paham. Sekarang yang terpenting adalah masalah dengan kepolisian selesai terlebih dahulu. “Pulang yuk, Mama pasti nunggu,” ajak Heri. Ketiga orang yang lain mengangguk mengiyakan. Di sepanjang perjalanan, suasananya pun hening. Di kursi belakang, Larisa duduk nyaman dipelukan sang papa. Sedang Reina sudah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Eh, tunggu sebentar!” seru Larisa seraya menegakkan punggungnya dan mmencongkan badannya di sela kursi depan. “Kenapa, Sa?” tanya Alex dari kursi pengemudi. “Kak Alex sama Bu Reina jadian ya?” tanya gadis itu, menatap penuh selidik ke arah keduanya. Keduanya mendadak gugup mendengar pertanyaan gadis kriwil tersebut. Apalagi Alex memang curhat perkara Reina kepada sahabatnya itu. Ya, diam-diam Alex naksir Reina. Tetapi usianya yang lebih muda satu tahun dari kepala timnya Larisa tersebut membuatnya ragu untuk melangkah. “Ck ck ck, bisa-bisanya kamu bertanya begitu,” sergah Reina berusaha tenang. Matanya melirik ke arah Alex yang sama gugupnya dengan dirinya. “Emang kenapa, Bu?” tanya Larisa polos. “Ya kali, kamu lagi kesusahan lalu kita jadian,” elak Reina. Alex belum berkomentar apa pun. Larisa nyengir. “Nggak apa-apa sih, berita baik itu kalau bener jadian,” tukas Larisa seraya mencubit bahu Alex. Mencari atensi dari saudaranya tersebut. Alex memilih diam, sebenarnya dia penasaran dengan reaksi Reina. Reina mengetuk kening Larisa. “Kosentrasi dulu dengan keadaanmu dulu,” sergahnya. Larisa mengaduh seraya mengusap keningnya yang tadi disentil oleh Reina. “Kalau masalahku selesai, kalian jadian?” tanyanya usil. Tetapi cukup bisa membuat wajah atasannya itu memerah. Untungnya mobil dalam keadaan temaram, jadi tidak terlalu kelihatan. “Kog diam, Bu?” Larisa terus mengejar jawaban dari Reina. Diam-diam Alex tersenyum, dia pun berterima kasih dalam hatinya. “Ngomong apa sih, Sa,” Reina berusaha mengelak dari kejaran pertanyaan staffnya itu. “Saya bersedia loh, Mbak, menunggu sampai masalah Larisa selesai,” timpal Alex, malah semakin membuat wajah Reina panas. “Ber-se-dia ap-apa?” tanya Reina gugup begitu mendengar statement Alex. “Jadian sama Mbak Reina,” jawab Alex lugas. Wajah Reina bertambah panas. Dia bingung menanggapinya. “Ya udah, jadian aja sekarang!” seru Larisa gembira seraya bertepuk tangan. Sepertinya gadis itu senang bisa mengalihkan pikirannya dari kasus ini. “Sabar, aku pendekatan dulu ke Mbak Reina,” sergah Alex kalem. Reina semakin salah tingkah. “Duh, jadi laper lagi,” keluh Larisa. “Makan yuk, sekalian Kak Alex pendekatan,” usulnya mendadak. Heri tertawa kecil memperhatikan sikap anaknya yang bisa kembali ceria. Tiba-tiba telepon selularnya berbunyi. Heri melihat ID penelepon, ternyata dari mamanya Larisa. Heri menyodorkan benda komunikasi tersebut kepada putrinya. “Dari Mama, pasti ingin tahu kabarmu,” katanya. Larisa segera menerima panggilan tersebut. “Halo, Ma!” serunya riang. Sementara Alex melirik Reina yang tampaknya lega dengan panggilan telepon tersebut. Dia tersenyum kecil, merasa harus berterima kasih dengan Larisa yang membuka jalannya untuk mendekati gadis dewasa tersebut. “Kata Mama udah dimasakin. Jadi kita makan di rumah saja,” beritahu Larisa begitu selesai menerima telepon. “Nanti mampir dulu ke rumah ya, Alex dan Bu Reina,” Heri mengajak keduanya mampir. “Ish, jangan Pa. Mereka biar langsung pulang aja, biar bisa pendekatan awal,” sergah Larisa, yang membuat Alex dan Reina tambah gugup. Heri tertawa kecil dengan sikap konyol putrinya. “Sudah jangan usil. Sini peluk Papa,” kata Heri mengalihkan pembicaraan. Seketika suasana hening Begitu Larisa memeluk papanya. Di dalam hati keempatnya, mereka sama-sama berharap bahwa masalah ini segera berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD