Dewa terdiam, memandang wajah Resty yang kini tampak sendu. “Maksudnya apa?” tanya Dewa dengan suara lirih. Kemudian dia pun teringat dengan sikap Liana yang menangis di taman rumah sakit. Apakah ini ada hubungannya? Dewa menggenggam jemari milik kekasihnya. Banyak kemungkinan yang dia pikirkan saat ini. “A-aku ma-u bi-kin La-Laris-sa ce-cela-ka,” terengah-engah Resty merangkai satu kalimat. Dewa pun tidak tega memaksanya bicara. Meskipun sesungguhnya dia sangat penasaran dengan apa yang ingin Resty sampaikan kepadanya. Tetapi laki-laki itu sadar untuk tidak boleh egois. “Nanti saja bicaranya, yang penting kamu sembuh dulu,” ucap Dewa lembut tapi tegas. Dia mengusap rambut Resty pelan. Resty menikmati usapan dari tangan kekasihnya itu. Dia kangen dengan kemesraan bersama Dewa. Jang

