Akmal menatap Yoga dengan keningnya yang mengerenyit penuh kejengkelan luar biasa. Yoga sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya dan menatap lantai rumah sakit, yang baru saja ia sadari kalau lantai tersebut terlihat cantik. "Kamu itu lahir dari batu atau bagaimana?" omel Akmal Yoga pun meringis mendengar omelan itu dari mulut Akmal. "Seenaknya saja mengkhitbah akhwat tapi tidak bilang-bilang dulu! Kamu pikir dengan kamu mengkhitbahnya semua bisa beres dalam sekejap, hah? Atau jangan-jangan kamu berniat kawin lari ya?" tanya Akmal, dengan segudang pemikiran terburuk yang ada di dalam kepalanya. "Pa, Papa dengar dulu penjelasanku. Keadaannya tadi membuatku tak punya pilihan selain mengkhitbahnya secara langsung. Aku sudah berniat mau memberitahu Papa setelah dia menerima khitbahku, hany

