Dahlia menunggu kedatangan Dokter Ema dengan begitu gelisah. Haura tengah beristirahat di dalam salah satu kamar, yang ada di rumah itu. Kondisi gadis itu sangat memprihatinkan, sehingga membuat Dahlia begitu gusar ketika melihat luka-luka di tubuhnya.
Nata terus mencoba untuk menenangkan Ibunya, namun sayangnya kali itu ia tak berhasil. Ia tahu betul kalau Ibunya tidak bisa menutup mata, apabila melihat seseorang yang menjadi korban kekerasan. Hidup Ibunya memang tak pernah bergelimang kemewahan, namun setidaknya, Almarhum Ayah Nata tidak pernah berlaku kasar pada Ibunya semasa hidup. Hal yang terjadi pada Haura tentu membuat Dahlia menjadi gusar. Berulang-ulang kali--sejak tadi--wanita itu terus beristighfar demi meredam amarahnya, akibat luka-luka yang ia lihat pada seluruh tubuh Haura.
Deru suara mobil yang memasuki halaman rumah Keluarga Brawijaya terdengar amat jelas. Dahlia pun bergegas bangkit dari sofa yang tengah didudukinya. Ia segera keluar untuk menyambut kedatangan Dokter Ema. Akmal menatap ke arah Nata.
"Ummimu benar-benar sangat gelisah, hari ini. Sementara Kakek hanya membisu dan tak bisa memberi jawaban apa-apa padanya, mengenai keadaan Haura," sesal Akmal.
Nata pun mengusap-usap bahu Akmal dengan lembut. Di wajahnya terukir sebuah senyuman yang begitu menenangkan, persis seperti senyuman milik Danu--Almarhum Ayah Nata.
"Sudah, Kek. Jangan terlalu banyak pikiran. Ummiku memang begitu, dia tidak akan tenang selama Ukhti Haura belum ditangani. Insya Allah, nanti setelah Dokter Ema selesai memeriksa Ukhti Haura, Ummiku pasti akan kembali tenang lagi seperti biasanya," ujar Nata, berusaha meyakinkan Akmal agar tidak stress dalam proses pengobatan yang tengah dijalani oleh pria paruh baya tersebut.
Dokter Ema turun dari mobilnya, ia segera mendekat ke arah Dahlia dan memeluknya dengan erat.
"Assalamu'alaikum sahabatku," sapanya, penuh rindu.
"Wa'alaikumsalam sahabatku. Maaf karena aku tiba-tiba memintamu datang secara mendadak seperti ini. Ada seseorang yang benar-benar membutuhkan diagnosa medis. Aku hanya terpikir untuk menghubungimu, ketika melihat kondisi di seluruh tubuhnya. Aku harap, kamu bersedia memeriksanya dan memberiku saran terbaik untuk penyembuhannya," jelas Dahlia, yang tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Dokter Ema sangat menyadari hal itu. Ia telah mengenal Dahlia sejak masih anak-anak, dan tentu ia tahu kalau saat itu Dahlia tengah mengalami kegelisahan yang disertai dengan rasa takut. Dokter Ema pun tersenyum, sambil mengusap kedua lengan Dahlia secara lembut.
"Ukhti Lia, coba tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan-lahan. Ulangi beberapa kali," pinta Dokter Ema.
Dahlia pun melakukan hal tersebut dengan patuh beberapa kali. Saat keadaannya mulai sedikit tenang, Dokter Ema pun kembali mengajaknya membicarakan mengenai Haura.
"Jadi saat ini, di mana gadis itu berada?" tanya Dokter Ema.
"Di dalam. Aku memintanya beristirahat sejak tadi," jawab Dahlia.
Dahlia pun mengantarkan Dokter Ema menuju ke kamar yang ditempati oleh Haura. Setelah Dokter Ema masuk, Nata segera mendekat pada Ibunya.
"Ummi, sekarang kita duduk dulu, ya. Kita sama-sama menunggu sampai Dokter Ema selesai memeriksa kondisi Ukhti Haura," bujuk Nata.
Dahlia kembali menangis, dan kali ini ia menatap putranya dengan penuh kesedihan.
"Seumur hidup, Ummi tidak pernah membayangkan akan melihat seseorang yang mengalami kekerasan sampai separah itu, Nak. Tubuh Ummi rasanya ikut merasakan bagaimana sakitnya yang Haura rasakan. Ummi benar-benar tak bisa membayangkan, bagaimana tersiksanya batin gadis itu," ungkap Dahlia, begitu pedih.
Nata pun membawa Ibunya ke dalam pelukan untuk membuatnya tenang.
"Nata mengerti apa yang Ummi rasakan. Sekarang, mari kita tunggu saja hasil pemeriksaannya. Insya Allah, kita akan mendapat jalan keluar yang baik untuk Ukhti Haura setelah dia diperiksa secara medis."
Setengah jam kemudian, Dokter Ema akhirnya selesai memeriksa kondisi Haura, dan memberinya obat yang tersedia di dalam tas miliknya. Dahlia menatapnya dengan kedua mata yang basah karena airmata. Nata tetap merangkul Ibunya agar lebih tenang.
"Keadaannya sangat mengkhawatirkan Ukhti Lia, sangat mengkhawatirkan. Dia kekurangan gizi, itulah penyebab tubuhnya sangat kurus. Memar di lehernya juga akan berakibat buruk jika terus dibiarkan. Kita harus merawatnya secara intensif," saran Dokter Ema.
"Apakah harus ke rumah sakit Ukhti Ema? Apakah dia tidak bisa dirawat di rumah saja agar saya bisa memantaunya?" tanya Dahlia.
"Bisa, hanya saja kamu harus menyiapkan perawat pribadi agar kebutuhan medisnya terpenuhi," jawab Dokter Ema.
Dahlia menatap ke arah Akmal, ia berharap mertuanya akan menyetujui saran itu.
"Panggilkan saja kalau memang dibutuhkan. Telepon Pranoto agar dia bisa mencarikan perawat yang bagus dan terpercaya," ujar Akmal.
"Baik Kek," Nata pun langsung menelepon Pranoto seperti yang Kakeknya sarankan.
Dokter Ema kembali menatap Dahlia.
"Saya akan ke sini terus untuk memantau kondisinya. Ini obat yang harus dia minum setelah makan, tiga kali sehari," Dokter Ema menyerahkan sebungkus obat untuk Haura pada Dahlia.
"Syukron Ukhti Ema, afwan karena saya tiba-tiba menelepon malam-malam seperti ini," ungkap Dahlia.
Dokter Ema tersenyum dari balik niqob-nya.
"Jangan pernah merasa sungkan Ukhti Lia. Kita ini teman seperjuangan sejak remaja, jadi kamu sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Kalau ada apa-apa, telepon saya segera, jangan ragu-ragu," balas Dokter Ema, tulus.
Dahlia pun memeluk sahabatnya dengan erat. Dokter Ema berusaha untuk menenangkannya, ia tahu kalau Dahlia sangat terguncang dengan kondisi gadis bernama Haura yang baru saja diperiksanya.
Ketika Dokter Ema pulang, Nata membawa Kakeknya ke kamar untuk beristirahat usai menelepon Pranoto. Dahlia meminta tolong pada Bi Inah untuk menggantikannya membersihkan meja makan dan piring-piring kotor karena ia harus menemani Haura agar tak sendirian di kamarnya.
Haura terbangun saat Dahlia baru saja selesai shalat Isya', Dahlia pun tersenyum ke arahnya sehingga Haura bisa melihat wajah Dahlia dengan jelas karena sedang tak memakai niqob.
"Kamu terbangun sayang? Mau shalat Isya'?" tanya Dahlia.
Haura menganggukan kepalanya.
"Sini Ummi bantu sayang, kita ke kamar mandi dulu untuk berwudhu ya."
Haura berjalan pelan dalam rengkuhan Dahlia yang lembut menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Dahlia terus membimbing gadis itu agar rasa takut yang terus menderanya menghilang perlahan-lahan dan berganti menjadi rasa percaya bahwa takkan ada lagi yang menyakitinya.
Usai Haura shalat, Dahlia kembali membaringkan gadis itu di tempat tidur. Ia menemaninya sambil membaca Al-Qur'an di sampingnya agar jiwa Haura merasa tenang dan nyaman. Haura terus memperhatikan wajah Dahlia yang cantik berseri. Wajah itu membuatnya merasa tenang.
Tok..., tok..., tok...!!!
Suara ketukan pintu menghentikan bacaan Al-Qur'an yang Dahlia lantunkan. Haura yang hampir tertidur pun kembali membuka matanya dengan sempurna.
"Tunggu sebentar, saya pakai niqob dulu," ujar Dahlia.
Suara ketukan itu pun berhenti, Dahlia beranjak dari sisi tempat tidur Haura menuju ke arah pintu. Ia tak membuka pintunya dengan lebar karena Nata lah yang berdiri di depan pintu itu.
"Mi, Kakek sudah tidur. Aku ke rumah sebelah untuk istirahat, ya. Kalau waktu subuh tiba aku akan ke sini lagi," ujar Nata.
Haura mendengar suaranya dengan jelas, hatinya tiba-tiba merasa sangat tersentuh hingga airmata menggenang di pelupuk matanya.
"Mengapa dia benar-benar mau bertukar posisi denganku? Dia bahkan tidak mengenalku, tapi bersedia mengalah untuk memberi kenyamanan padaku? Kenapa Ya Allah?" tanya Haura, dalam hati.
"Ya sudah, tapi apakah tidak apa-apa kamu tidur di rumah sebelah padahal Ummi belum membersihkan di sana?" tanya Dahlia.
Nata tersenyum.
"Tidak apa-apa Mi, nanti biar aku yang bereskan dan bersihkan semuanya. Ummi di sini saja jaga Kakek dan Haura," jawab Nata.
Dahlia tersenyum dari balik niqob-nya sambil mengusap kepala putranya dengan lembut.
"Sifat kamu itu sama persis dengan Almarhum Abimu. Ummi jadi rindu pada Abimu setiap kali melihatmu," ungkap Dahlia.
"Mi, Abi sangat mencintai Ummi, karena Ummi adalah istri satu-satunya yang paling Shalehah. Aku tahu Ummi rindu pada Abi, aku sangat berterima kasih atas kesabaran Ummi yang memutuskan untuk terus mencintai Abi sampai akhir hayat Ummi nanti. Insya Allah Ummi akan dipertemukan lagi bersama Abi di surga nanti oleh Allah," ujar Nata.
"Amiin yaa rabbal 'alamiin. Ummi juga sangat mencintaimu Nak, kamu adalah kenangan terbaik yang Abi tinggalkan untuk Ummi. Insya Allah, suatu hari nanti kamu akan mendapatkan pendamping terbaik yang Allah kirimkan ke dalam hidupmu."
Haura berbalik sehingga ia berbaring menatap ke arah dinding berwarna putih. Airmatanya luruh mendengar do'a yang begitu tulus dari Ibu kepada anaknya dan anak kepada Ibunya. Hatinya terasa sangat sakit dan perih jika teringat dengan hidupnya selama sepuluh tahun terakhir. Ia bahkan tak bisa melihat jasad Ibunya untuk yang terakhir kali kala Ibunya meninggal dunia.
"Ibu, Haura rindu sama Ibu. Apakah Ibu juga akan mendo'akan yang terbaik untuk Haura jika Ibu ada di sini?" bisiknya.
Dahlia menyentuh bahu Haura yang bergetar karena menangis.
"Tentu sayang, Almarhumah Ibumu akan mendo'akan yang terbaik untukmu jika beliau masih ada di dunia ini. Kamu jangan bersedih dan meratapi kepergiannya. Meratapi kepergian orang yang sudah meninggal hanya akan menambah beban baginya. Kamu hanya perlu mendo'akan Ibumu agar Allah menerima semua amal baiknya semasa hidup di dunia ini, dan juga agar Allah menghapus semua dosa-dosanya. Karena amal yang tidak akan terputus bagi orang yang sudah meninggal adalah do'a dari seorang anak yang shalehah," tutur Dahlia seraya tersenyum pada Haura.
Ia mendekat untuk mengecup kening gadis itu dengan hangat.
"Jangan bersedih lagi ya, sekarang kamu punya Ummi. Kalau kamu merasa tidak nyaman tinggal katakan, kalau kamu merasa ada yang tidak beres juga katakan. Jangan lagi memendam semuanya sendiri, kamu tidak sendirian sekarang."
"Terima kasih, Mi," ungkap Haura.
"Afwan sayang. Sekarang istirahat ya, Ummi mau periksa dulu semua pintu dan juga memeriksa kondisi Kakek."
Haura mengangguk patuh pada apa yang Dahlia pinta. Dahlia menyelimuti tubuh gadis itu dan membiarkannya istirahat agar bisa segera pulih dari keadaannya yang memperihatinkan. Sekali lagi, Dahlia mengecup kening gadis itu.
"Berdo'a sayang."
"Bismillahirrahmannirrahim, bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut," ucap Haura, lirih.
"Insya Allah kamu akan tidur nyenyak malam ini," batin Dahlia.
* * *
Bi Inah memperhatikan Dahlia yang baru saja keluar dari kamar yang kini di tempati oleh Haura. Ia sangat tak habis pikir mengapa Dahlia bisa menerima Haura begitu saja tanpa berpikir atau bertanya-tanya.
"Ya Allah, seandainya Nyonya Lia tahu kalau Haura itu adalah putri dari sahabatnya, apa yang akan terjadi pada Tuan Bagas?" batin Bi Inah.
* * *
Besok Episode 4 ya. Terima kasih :)