Episode 19 - Sisi Tersembunyi

1608 Words
Guru Privat yang akan mengajar Haura telah tiba. Vera mempersilahkannya untuk masuk, dan Dahlia mengajaknya berbicara selama beberapa saat. Vera segera beranjak menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Bi Inah datang ke ruang tamu untuk menyajikan minuman beserta cemilan untuk Guru Privat yang baru. "Wah, tidak usah repot-repot, Bu. Saya jadi tidak enak," ujar Ayu. "Tidak apa-apa, Bu Ayu. Mari, silahkan diminum dan dicicipi cemilannya," Dahlia mempersilahkan dengan sopan. Ayu pun segera meminum teh hangat yang ada di cangkir, lalu meletakkan cangkirnya kembali seperti semula. Dahlia pun menatap Ayu dan mencoba untuk menilai apakah dia benar-benar cocok untuk mengajar Haura. Dahlia masih agak takut mempercayai seseorang, setelah Rima ketahuan menyiksa Haura atas perintah dari Nia. Hal itu tentu membuat Dahlia menjadi semakin selektif untuk memilih Guru bagi Haura. "Jadi begini, Bu Ayu. Haura ini masih berada dalam masa pemulihan akibat trauma secara fisik maupun mental. Kemungkinan besar, putri saya ini agak lambat untuk menerima pelajaran karena telah sepuluh tahun hidup di bawah tekanan. Saya harap, Bu Ayu bisa memaklumi keadaannya dan lebih bersabar dalam mengajarinya," jelas Dahlia. Ayu tersenyum ke arah Dahlia. "Tentu saja, Bu Dahlia. Saya akan mencoba mengajari Haura dengan maksimal namun tanpa tekanan. Saya harap, dalam proses itu Bu Dahlia juga bisa turut andil, agar Haura merasa nyaman dan bisa menerima pelajaran dengan mudah," tanggap Ayu. "Oh, begitukah? Boleh jika saya atau perawatnya turut andil dan menemani Haura belajar? Apakah hal itu tidak akan mengganggu sama sekali, Bu Ayu?" tanya Dahlia. "Tentu saja tidak, Bu Dahlia. Karena Haura saat ini tengah berada dalam proses pemulihan akibat trauma, kehadiran Bu Dahlia atau siapapun yang membuatnya nyaman akan sangat membantu proses belajar itu sendiri. Dan menurut saya, hal itu justru wajib untuk dilakukan, karena Haura pasti akan memiliki energi yang jauh lebih positif bersama orang-orang yang ia kenal dengan baik," jawab Ayu, menurut sudut pandangnya. "Wah, kalau begitu saya atau perawatnya akan selalu mendampingi Haura disaat belajar. Siapa tahu, penilaian Bu Ayu memang benar dan Haura akan jadi lebih mudah mengerti dalam menerima pelajaran," tanggap Dahlia, positif. Dahlia pun segera mengantar Ayu menuju ke kamar Haura, agar gadis itu bisa segera belajar. Vera terlihat sudah siap untuk pergi. Dahlia menatap ke arahnya seraya tersenyum. "Kamu sudah mau pergi, Nak?" tanya Dahlia. "Iya, Nyonya Lia," jawab Vera. "Kalau begitu hati-hati di jalan, ya. Ingat pesan saya tadi, kalau ada apa-apa segeralah menelepon." "Baik, Nyonya Lia. Saya pergi dulu, Nyonya. Assalamu'alaikum," pamit Vera. "Wa'alaikumsalam warrahmatullah." Vera pun keluar dari rumah Keluarga Brawijaya setelah memastikan kalau Haura belajar di kamarnya dengan tenang, bersama Guru Privat yang baru. Ia berjalan kaki sampai ke gerbang depan rumah itu, lalu terus melangkah menuju gerbang kompleks perumahan. Sesampainya di jalan raya, ia segera menyetop angkutan umum. Angkutan umum tersebut tidak terlalu penuh sesak oleh penumpang, sehingga membuat Vera bisa duduk dengan nyaman di ujung bagian dalam. Dilihatnya waktu pada jam tangan yang melingkari lengan kirinya. Tak lama lagi waktu pulang sekolah aka segera tiba. Hal itu membuat Vera menjadi agak gelisah, karena takut terlambat menjemput seseorang yang pasti akan menunggu di depan gerbang sekolah, jika sampai ia terlambat datang. Dalam hati ia berharap, kalau angkutan umum yang tengah ia naiki tersebut akan berjalan lebih cepat dari biasanya. Vera turun dari angkutan umum itu saat akhirnya tiba di depan sebuah panti asuhan. Ia berjalan masuk, namun bukan menuju ke arah panti melainkan ke arah sebuah sekolah yang ada di samping panti tersebut. Di sana ia menunggu untuk menjemput seseorang, karena ternyata ia belum terlambat sama sekali. "Kak Vera!!!" panggil seorang remaja cantik berusia dua belas tahun dengan suara yang penuh semangat. Vera merentangkan kedua tangannya untuk menyambut remaja cantik yang sedang berlari ke arahnya. Mereka saling memeluk dengan erat penuh rasa rindu, karena telah lama tak bertemu sejak Vera bekerja di rumah Keluarga Brawijaya. "Masya Allah, Kakak kangen sekali sama kamu, Dek. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu," ungkap Vera dengan tulus. "Aku juga kangen sama Kak Vera. Kapan kita bisa tinggal sama-sama lagi, Kak? Aku takut tinggal di sini terus," tanya Vini. Vera mengusap kepala Vini yang terbalut hijab besar seperti yang dipakainya. Ia tersenyum dengan wajah yang penuh beban, namun untungnya Vini tak melihat beban itu secara langsung karena wajah Vera tertutupi oleh niqob. "Vini sabar ya, Insya Allah Kakak akan membayar lunas semua hutang-hutang yang Almarhum Bapak tinggalkan untuk kita, dan Insya Allah Kakak akan mengambil kembali rumah peninggalan Almarhumah Ibu yang digadaikan oleh Almarhum Bapak," janji Vera. Vini pun menganggukan kepalanya lalu kembali memeluk Kakaknya dengan erat. "Ayo, sekarang kita makan siang di luar, ya. Sekalian Kakak mau belikan kamu hijab yang baru," ajak Vera. "Belikan aku niqob juga..., aku mau juga pakai niqob seperti Kakak," rengek Vini. Vera pun terkekeh pelan. "Iya, iya, niqob juga," balas Vera, setuju. Mereka pun segera menyetop sebuah angkutan umum lalu menuju ke sebuah pusat perbelanjaan di tanah abang. Bara menyetir mobilnya saat keluar dari kantor pada jam makan siang. Ponselnya tetap aktif dengan mode loudspeaker selama Nata masih bertelepon dengannya. "Yakin? Di tanah abang banyak sajadah yang kualitasnya bagus?" tanya Bara, ragu-ragu. "Iya Mas, di sana banyak yg kualitasnya bagus-bagus. Mas mau sajadah apapun di sana ada. Sajadah khas Turki, sajadah khas India, sajadah khas Indonesia juga ada," jawab Nata. "Sajadah khas Indonesia yang biasa kamu pakai di rumah maksudnya?" "Iya, yang itu. Nah, Ummiku waktu itu belinya di tanah abang Mas dalam jumlah banyak, soalnya untuk para santri dan santriwati juga sekalian." "Kalau dalam jumlah banyak begitu harganya pasti lebih murah, kan?" "Sudah jelas. Pasar tanah abang kan memang pusatnya grosir terbesar di Indonesia, makanya harganya juga pasti jauh lebih murah daripada harga di pusat perbelanjaan lain." "Oke, aku parkir dulu, nanti ku telepon lagi kalau sudah ketemu sajadahnya. Biar kamu bisa bantu pilih," ujar Bara. "Baik Mas, aku tunggu teleponnya. Assalamu'alaikum," ujar Nata. "Wa'alaikumsalam." Bara pun memarkirkan mobilnya di pelataran parkir depan pasar tanah abang. Ia segera masuk ke dalam pasar modern itu dan mulai mencari toko yang menjual sajadah. "Kak Vera, yang itu...," rajuk Vini. "Iya, iya, yang itu. Sabar dulu ya, kan sedang diambilkan sama yang punya toko," ujar Vera. Bara yang sedang memegang sajadah pun menoleh ke arah belakangnya saat mendengar suara Vera. Ia mengerenyitkan keningnya selama beberapa saat. "Ukhti Vera?" tegur Bara. Vera pun berbalik sesaat lalu segera kembali mengalihkan pandangannya saat melihat sosok Bara. "Akh Bara?" Vera juga ikut menegur. "Sedang apa Ukhti di sini?" tanya Bara. "Saya sedang mencarikan hijab untuk Adik saya Akh. Tadi saya sudah pamit pada Nyonya Lia dan diizinkan," jawab Vera. Vini menatap ke arah Bara seakan sedang mengamati. Bara yang tahu kalau dirinya sedang diamati pun tersenyum ke arahnya. "Eh, jangan lihat-lihat wajah pria yang bukan mahram terlalu lama. Haram," Bara mengingatkan. Wajah Vini pun bersemu merah jambu setelah ditegur oleh Bara dan langsung bersembunyi di balik punggung Vera. Vera terkekeh pelan melihat kelakuan Adiknya yang salah tingkah. Bara pun ikut terkekeh melihatnya. "Ini Mbak, hijab yang satu set dengan niqob," ujar pemilik toko. "Oh iya Bu, berapa harganya?" tanya Vera. "Seratus lima puluh ribu Mbak," jawab pemilik toko. "Kamu mau yang warna apa?" tanya Vera pada Vini. "Warna hijau, pink, dan biru Kak," jawab Vini. Vera terkekeh. "Satu saja dulu Dek, uang Kakak tidak cukup," Vera mengakui itu dengan jujur. Ekspresi wajah Vini pun berubah sesaat, namun kembali ceria lagi dan memilih satu warna seperti yang Vera katakan. Vera pun menyerahkan uang sebesar seratus lima puluh ribu pada pemilik toko tersebut. "Kalau ambil tiga tidak kurang Bu?" tanya Bara. "Bisa Pak. Saya kasih empat ratus ribu kalau ambil tiga," jawab pemilik toko. "Kalau begitu bungkuskan tiga untuk Adik ini, nanti saya yang bayar kekurangannya," pinta Bara. Vera terkejut dan hampir saja menatap ke arah Bara. "Jangan Akh, saya tidak enak kalau begini," cegah Vera. "Tidak apa-apa Ukhti Vera, anggap saja saya memberikan hadiah pada Adik Ukhti karena dia mau belajar untuk memakai niqob seperti yang Ukhti lakukan. Bagaimana? Apakah alasannya bisa di terima?" bujuk Bara, agar Vera mau. Pemilik toko itu pun menyerahkan bungkusan kantong plastik pada Vini yang berisi tiga pasang hijab serta niqob. Vini pun mendekat pada Bara. "Syukron Kak Bara. Nanti kalau aku sudah bisa cari uang seperti Kak Vera, aku juga akan membelikan Kakak hadiah karena sudah menjadi orang yang baik," ujar Vini. Bara tersenyum mendengarnya. "Afwan. Tapi Kakak nggak mau hadiah. Boleh Kakak minta yang lain?" tanya Bara. Vini pun mengangguk dengan cepat seraya tersenyum penuh semangat. "Begini, pertama Kakak mau kamu pakai niqob seperti bagaimana Kakakmu memakainya. Kedua Kakak mau kamu tidak menatap pria yang bukan mahram seperti yang Kakakmu lakukan. Ketiga, Kakak mau kamu hafalkan Al-Qur'an sampai khatam. Kalau kita bertemu lagi nanti, Kakak ingin dengar kamu melafalkannya dengan baik. Bagaimana? Bisa?" pinta Bara. Vini menatap sejenak ke arah Vera lalu kembali menatap ke arah Bara. "Insya Allah Kak, aku akan melakukan ketiga hal itu," jawab Vini, yakin. "Alhamdulillah. Mulai sekarang Kakak akan menunggu waktu untuk bertemu dengan kamu lagi." Vera pun jadi serba salah ketika sadar bahwa Bara pasti punya kesibukan lain yang tertunda karena urusan dirinya dan Vini. Ia segera menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. "Syukron Akh Bara atas hadiahnya untuk Adik saya. Afwan karena saya mungkin mengganggu waktu Akh Bara tanpa sengaja," ungkap Vera. "Afwan Ukhti Vera, jangan terlalu dipikirkan," balas Bara. "Kak, ayo, nanti aku dimarahi oleh penjaga panti asuhan kalau terlambat pulang," ajak Vini. "Iya Vini, tunggu sebentar Dek," sahut Vera. Vera pun kembali menangkupkan tangannya di depan d**a. "Saya permisi dulu Akh Bara, Assalamu'alaikum," pamitnya. "Wa'alaikumsalam," balas Bara. Vera pun melangkah pergi bersama Vini. Bara masih menatap sosok mereka yang mulai menjauh. "Panti asuhan?" batinnya. * * * Besok Episode 20 ya. Jadwal double update tanggal 19 Juli. Terima kasih sudah membaca, dan jangan lupa tinggalkan komentar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD