"Peserta dakwah selanjutnya dan yang terakhir, Ari Muhammad Sufyan," panggil Mahmud, yang hari itu bertugas sebagai MC pada acara lomba dakwah santri.
Ari yang disebut namanya oleh Mahmud, segera naik ke atas mimbar. Nata beserta para pengajar lain yang menjadi juri, menatap ke arahnya untuk mulai menilai.
"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," ujar Ari.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang, serempak.
"Alhamdulillahi rabbil'aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu 'ala isyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa'alaa alihi washohbihii ajma'iin ammaba'adu. Hari ini, saya akan membawakan materi tentang syukur," Ari memulai.
Para tim penilai mulai menuliskan penilaian mereka pada kertas yang sudah tersedia.
"Syukur adalah suatu perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih dan menerima dengan sepenuh hati, akan anugerah atau nikmat yang allah berikan kepada kita. Kita tidak akan bisa menghitung atau mengira, tentang berapa banyak nikmat yang Allah berikan. Mulai dari nikmat kesehatan, nikmat iman, nikmat berfikir, dan berbagai nikmat lainnya yang tak bisa kita hitung satu persatu. Namun yang menjadi permasalahannya adalah, mengapa kita tidak bisa bersyukur akan semua nikmat yang Allah berikan, dan mengapa kita selalu berfikir bahwa nikmat itu harus berupa materil atau uang?"
Pertanyaan Ari membuat semua orang yang sedang menatap ke arahnya menjadi ikut berpikir.
"Pemikiran seperti ini sebenarnya sangatlah salah dan fatal, karena apabila kita berfikir seperti ini berarti kita termasuk orang yang kufur. Apabila kita tidak ingin kufur maka kita jangan pernah sekali-kali memandang ke atas, cobalah kita memandang ke bawah, karena dari situlah kita akan tersadar bahwa betapa beruntungnya kita jika dibandingkan dengan orang lain yang ada di bawah kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat tujuh, wa idz ta`adz-dzana rabbukum la`in syakartum la`aziidannakum wa la`ing kafartum inna 'adzaabii lasyadiid, yang artinya 'Dan apabila kamu bersyukur atas nikmat-Ku, maka aku akan menambah nikmat kepadamu, namun apabila kamu mengingkari nikmat-Ku, maka adzab-Ku sangat pedih."
Nata menuliskan penilaiannya dengan sangat teliti. Ia tak mau ada yang salah dalam penilaian-penilaian para peserta lomba hari itu.
"Dari ayat tersebut sudah dapat kita renungkan, bahwa bersyukur tentu jauh lebih baik daripada mengeluh. Maka dari itu, kita harus banyak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Apabila kita banyak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, niscaya Allah akan menambah nikmat kepada kita. Namun apabila sebaliknya kita mengingkari nikmat Allah, tidak mensyukuri nikmat Allah, maka Allah akan memberikan adzabnya kepada kita, dengan cara mencabut nikmat-nikmat yang telah Dia berikan. Sekian materi dakwah saya hari ini. mohon maaf apabila ada salah dan kekurangan. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Ari, dengan tenang.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh."
Semua peserta lomba sudah selesai bertanding. Para tim penilai menyerahkan hasil penilaian mereka pada Mahmud, untuk direkap ulang sebelum diadakan pengumuman pemenang.
"Baiklah Akh Mahmud, saya pulang dulu. Insya Allah besok kita akan sama-sama mengumumkan pemenang lomba dakwah hari ini," pamit Nata.
"Baik Akh Nata, saya akan merekap dulu semua penilaian ini," balas Mahmud.
"Kalau begitu, saya duluan Akh Mahmud. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah."
Nata pun berjalan keluar dari area Pesantren menuju mobilnya, setelah jam mengajarnya selesai hari itu. Ia segera melaju menuju rumah, agar bisa cepat sampai dengan aman.
Kedua mobil milik keluarga Brawijaya tiba bersamaan ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Bara dan Nata saling tersenyum saat bertemu usai bekerja seharian di kantor dan pesantren. Pak Saiful masuk lebih awal agar bisa segera makan malam dan beristirahat, sementara kedua pria itu duduk di bangku taman untuk melepas penat.
"Bagaimana keadaan di pesantren? Apakah sekarang kamu bahagia karena benar-benar bisa menjalankan apa yang Almarhum Abimu tinggalkan untukmu?" tanya Bara.
"Alhamdulillah Mas, semua hal yang ada di pesantren sangat lancar. Semuanya juga berkat saranmu dulu saat pertama kali kita bertemu. Seandainya aku dan Ummi tidak mengikuti saranmu, maka pesantren itu kini mungkin hanya tinggal nama sekaligus kenangan tentang Almarhum Abiku," jawab Nata.
Bara tahu kalau Nata selalu memiliki sifat rendah hati pada siapa saja, tapi ia tak pernah mengira kalau sifat itu akan selalu melekat dengan erat pada diri pria itu sampai sekarang.
"Semua karena Allah Dek, aku hanya perantara yang Allah kirim untuk menjembatani kemudahan dalam hidupmu dan Ummimu. Lagipula, kalian berdua sudah terlalu banyak bersabar dalam hidup ini. Bahkan kalian berdua pun tidak pernah keberatan atau marah ketika Kakek tidak menganggap kalian sebagai bagian dari keluarga ini," pandangan Bara menerawang, seakan tengah kembali mengingat masa lalu.
Nata menepuk pundak Bara dengan lembut.
"Mas, Allah sudah menetapkan jalan bagi setiap umatnya di dunia ini. Kita hanya perlu menjalani dan bersyukur. Mengeluh hanya akan membuat hidup semakin sulit. Tidak seharusnya seorang muslim atau muslimah mengeluh akan kehidupannya, karena jika dipikirkan lebih dalam maka seorang manusia tidak akan pernah sanggup menghitung kenikmatan yang telah dirasakannya selama ini. Kenikmatan di setiap langkah dan waktu yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan pernah sanggup dihitung oleh siapa pun Mas. Dengan banyaknya kenikmatan yang selama ini telah aku dan Ummiku rasakan, maka tentu tidaklah pantas jika aku masih saja mengeluh," jelas Nata.
Bara tersenyum.
"Apa kubilang..., kamu itu kalau bicara bawaannya bikin sejuk kaya air terjun. Padahal nyatanya saat ini aku gerah sekali dari tadi karena belum mandi," ujar Bara.
Nata pun ikut tersenyum mendengar apa yang Bara katakan tentangnya.
"Mas Bara ada-ada saja. Kalau begitu ayo pulang, nanti kita ke rumah utama setelah mandi dan shalat isya untuk makan malam di sana," ajak Nata.
"Ya, aku memang mau makan di rumah utama kok. Biarpun ada makanan di rumah kita sendiri, aku akan menolak untuk memakannya Dek," gurau Bara.
"Iya, iya Mas..., sadar diri aku kalau diriku ini nggak bisa masak," balas Nata.
Mereka berjalan menuju rumah mereka sendiri setelah berbincang beberapa saat. Dahlia pun mengurungkan diri untuk memanggil mereka untuk makan malam. Ia lebih memilih membiarkan Putra serta keponakannya untuk mandi dan shalat terlebih dulu seperti yang mereka inginkan. Akmal menatapnya saat ia kembali masuk ke rumah utama.
"Loh, mana Bara dan Nata? Sudah dipanggil?" tanya Akmal.
Dahlia tersenyum dari balik niqob-nya.
"Mereka berdua mau mandi dan shalat isya dulu Pak, setelah itu baru ke sini untuk makan malam," jawab Dahlia, pelan.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah, biarkan mereka mandi dan shalat dulu, jangan lupa berikan mereka vitamin agar tetap sehat selama bekerja," pinta Akmal.
"Baik Pak, Insya Allah saya tidak akan lupa memberikan vitamin untuk mereka berdua."
Akmal pun di bawa oleh Pak Saiful menuju ke kamarnya agar bisa beristirahat. Dahlia sendiri kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang hangat untuk Nata dan Bara di bantu oleh Bi Inah. Tak lama kemudian, Nata dan Bara pun benar-benar datang ke rumah utama. Dahlia menyambut mereka berdua setelah kedua pria itu mencium tangannya.
"Ayo segera makan malam, jangan terlambat makan nanti lambung kalian berdua sakit," perintah Dahlia, tak ingin dibantah.
"Kakek mana Mi?" tanya Nata.
"Kakek kalian ada di kamarnya. Beliau sudah makan malam tadi bersama Ummi, Nak Haura, Nak Vera, dan Bi Inah. Sekarang Kakek mungkin sedang beristirahat. Temui saja setelah kalian makan malam ya, biar Kakek tidak kesepian," jawab Dahlia sekaligus memberi saran.
"Baik Bi, kami pasti akan menemui Kakek setelah makan malam," janji Bara.
Vera keluar dari kamar bersama Haura. Haura sendiri berjalan di belakang Vera seakan terlihat ragu-ragu akan sesuatu. Dahlia menatap kedua wanita itu dengan teliti, bahkan sebelum mereka sampai di hadapannya.
"Nak Vera? Ada apa?" tanya Dahlia, dengan kepekaan yang hebat seperti biasanya.
Vera terlihat berusaha tersenyum dari balik niqob-nya, namun Haura tetap saja bersembunyi di balik punggung Vera dan tak mengatakan apapun.
"Anu Nyonya Lia, itu...," Vera sangat ragu-ragu.
"Katakan saja, ada apa?" Dahlia kini sangat ingin tahu.
Nata dan Bara menunda makan mereka dan mendengarkan tanpa menoleh ke arah Vera ataupun Haura.
"Bisakah Ukhti Haura tidak lagi belajar bersama Guru Privat yang tadi datang ke sini Nyonya?" tanya Vera, memberanikan diri.
Dahlia mengerenyitkan keningnya keheranan. Begitupula dengan Nata dan Bara yang masih mendengarkan sejak tadi.
"Memangnya kenapa Nak Vera? Bukankah belajar itu sangat bagus bagi Nak Haura yang akan mengikuti Ujian Paket?" Dahlia menginginkan penjelasan.
Vera pun memperlihatkan tangan kiri Haura yang memar-memar akibat dari pukulan pada Dahlia.
"Astaghfirullah hal 'adzhim!!! Kenapa tangan kamu Nak??? Kenapa bisa memar-memar begini???" tanya Dahlia, panik.
Bara dan Nata pun menoleh setelah mendengar suara Dahlia yang meninggi karena kaget akan sesuatu. Sosok Vera dan Haura terhalang oleh sosok Dahlia sehingga mereka tak menatap ke arah kedua wanita itu secara langsung.
"Itulah alasannya Nyonya Lia, mengapa saya meminta Nyonya memberhentikan Guru Privat yang tadi datang. Saya sudah curiga ketika dia bilang sebaiknya saya keluar dari kamar selama Ukhti Haura belajar, dan inilah yang terjadi ketika saya memeriksa kondisi Ukhti Haura," jelas Vera.
Dahlia meminta Haura menatapnya. Bara mendengarkan dengan seksama, Nata pun begitu.
"Bilang sayang..., bilang sama Ummi apa yang sebenarnya terjadi?" bujuk Dahlia, melembut.
Haura menangis pelan dari balik niqob-nya.
"Dia bilang aku terlalu bodoh Mi, dan dia bilang akan percuma kalau aku ikut Ujian Paket karena aku bahkan nggak bisa menerima pelajaran dengan cepat. Dia memukulku dengan penggaris miliknya jika aku tidak bisa menjawab soal yang dia berikan. Aku tidak mau bilang pada Ummi, tapi Ukhti Vera memaksaku untuk bilang," jelas Haura.
"Loh! Jangan disembunyikan! Nak Vera benar dengan memaksamu mengatakannya pada Ummi. Jangan terus berdiam diri Nak, jangan siksa lagi dirimu dengan kebungkamanmu itu. Jangan menyiksa batinmu sendiri sayang, jangan...," Dahlia memeluk Haura erat-erat sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
Bara menggeram.
"Kelewatan!"
"Ini nggak bisa dibiarkan Mas, besok aku sendiri yang akan segera memecat Guru Privat itu," ujar Nata yang tak kalah geramnya dari Bara.
"Pastikan dia juga akan dipecat dari lembaga yang menaunginya selama ini," tambah Bara.
"Ya, karena orang lain tak boleh menjadi korban seperti yang terjadi pada Ukhti Haura!" tegas Nata.
* * *
Besok Episode 17 ya. Jadwal double episode tanggal 19 Juli. Terima kasih telah membaca, jangan lupa tinggalkan komentar :)