Nata menggendong Kakeknya ke atas tempat tidur setelah mereka tiba di rumah keluarga besar Brawijaya yang selama ini tak pernah diinjaknya. Dahlia membongkar perlengkapan milik mertuanya dan mulai menyusun semua di atas nakas.
"Kalian istirahat saja dulu, biar nanti Bi Inah yang membereskan semua itu," ujar Akmal.
"Biar saya saja Pak, Bi Inah pasti sudah capek mengurus rumah seharian ini. Kasihan, jangan terlalu dipaksa bekerja," ujar Dahlia.
Bi Inah yang awalnya hendak masuk untuk membantu Nyonya Brawijaya yang baru pun mendadak menghentikan langkahnya. Ia mendengar dengan jelas apa yang Dahlia katakan ketika Akmal menyuruhnya istirahat, dan perasaan Bi Inah semakin iba pada istri dari Almarhum Danu yang begitu sederhana sejak dulu.
"Ya Allah, mengapa baru sekarang Engkau mengizinkannya untuk berada di sini? Kenapa harus banyak lika-liku dalam hidupnya selama ini?" gumam Bi Inah, dalam hati.
Di benaknya terbayang kembali kilasan waktu dua puluh lima tahun yang lalu saat Almarhum Danu meminta izin pada Akmal untuk menikah dengan Dahlia.
Flashback On
Danu menghadap pada Akmal sambil membawa Dahlia hari itu. Bagas dan Yoga beserta istri mereka masing-masing seakan menatap jijik ke arah wanita pilihan Danu yang akan dinikahinya.
"Mau jadi apa kamu jika menikahi dia??? Akan jadi apa masa depanmu jika pendampingmu saja sudah berasal dari kasta bawah yang tidak setara dengan keluarga kita???" Akmal murka.
"Saya mencintainya Pa, dan saya tidak peduli dengan asal-muasalnya. Saya mencintainya karena Allah. Saya akan menikahinya juga karena Allah," jawab Danu, tenang.
"Berhenti membawa-bawa nama Tuhan!!! Kakak-kakakmu tidak pernah membawa-bawa nama Tuhan, tapi mereka berhasil menikah dengan wanita yang pantas!!! Jangan membawa-bawa nama Tuhan atas tindakan bodohmu yang akan mencoreng nama baik Keluarga Brawijaya!!! Papa tidak akan merestui pernikahanmu jika kamu tetap bersikeras memilih dia!!!" teriak Akmal.
Danu pun menganggukkan kepalanya.
"Baik Pa. Saya akan tetap menikahinya meskipun Papa tidak merestui. Itu keputusan saya," ujar Danu.
"Kalau begitu keluar kamu dari rumah ini!!! Jangan pernah kembali lagi!!! Kamu bukanlah anak saya lagi jika kamu menikahi dia!!!"
Flashback Off
Nyatanya, Akmal telah salah menilai selama ini. Orang yang dianggapnya tidak pantas justru membuktikan padanya kalau dia lebih dari pantas untuk menjadi Nyonya Brawijaya yang sah ketimbang dua menantunya yang lain. Nia dan Niken hanya bisa berlagak dengan memerintah siapapun yang dianggapnya pembantu. Kesombongan mereka benar-benar lebih gila dari manusia manapun yang pernah Bi Inah hadapi.
Tok..., tok..., tok...!!!
Dahlia dan Nata menoleh ke arah pintu.
"Nyonya Dahlia dan Den Nata mau istirahat? Biar Bibi yang menjaga Tuan Besar," tawar Bi Inah.
"Tidak usah Bi Inah. Bibi saja yang beristirahat, Bibi pasti capek setelah seharian bekerja," ujar Nata.
"Ehm..., anu..., Nyonya Dahlia," Bi Inah terlihat ragu-ragu.
"Katakan saja Bi, Dahlia boleh mendengar apapun yang terjadi di dalam rumah ini sekarang. Dia satu-satunya yang harus Bibi kabari setiap saat. Bukan lagi Nia ataupun Niken," ujar Akmal, parau.
Dahlia mendekat pada Bi Inah seraya tersenyum dari balik niqob-nya.
"Katakan Bi, ada apa?" tanya Dahlia.
"Mengenai Non Haura yang dikurung oleh Nyonya Nia dan Nyonya Niken... ."
"Dikurung? Siapa yang dikurung Bi?" Dahlia kaget.
Ia berbalik pada Akmal yang kini menatapnya dari atas tempat tidur.
"Siapa itu Haura Pak? Kenapa dia dikurung oleh Mbak Nia dan Mbak Niken?" tanya Dahlia.
Akmal melambaikan tangannya pada Dahlia agar menantunya itu mendekat ke arahnya. Dahlia pun menurut dan duduk di kursi samping tempat tidur, Nata masih memijit kaki Akmal agar lebih rileks.
"Haura itu adalah anak gadis yang dikurung oleh Nia dan Niken. Dulu Ibunya adalah kekasih dari Bagas, tapi Haura bukan putrinya Bagas. Haura dikurung karena Nia ingin Bagas menjauhi Ibunya anak itu selama-lamanya, karena dia menganggap kalau Ibunya Haura adalah penghalang yang akan menghancurkan rumah tangganya dengan Bagas," jelas Akmal.
"Astaghfirullahal 'adzhim! Lalu sekarang Ibunya ada di mana Pak?" Dahlia begitu kaget mendengar penjelasan itu.
"Ibunya Haura sudah meninggal, hanya saja Nia merasa terlanjur mengurung gadis itu di sini dan dia tidak bisa melepasnya karena takut gadis itu melapor pada Polisi atas tindakan penyekapannya selama ini," jawab Akmal.
"Kalau begitu boleh saya keluarkan dia dari dalam tempatnya di kurung Pak? Kasihan kalau dia di kurung terus, dia juga manusia Pak," pinta Dahlia, lebih seperti memohon.
"Boleh saja, tapi dia kan wanita. Anakmu ini pria dan dia sangat tidak mau tinggal serumah dengan yang bukan, apa itu namanya?" Akmal bertanya pada Nata.
"Mahrom Kek," jawab Nata.
"Nah, itu. Dia tidak mau tinggal dengan orang yang bukan mahromnya. Apalagi gadis itu mungkin tidak tertutup seperti kamu," ujar Akmal.
"Anu Tuan, Non Haura berjilbab seperti Nyonya Dahlia, hanya saja wajahnya tidak tertutup rapat seperti yang Nyonya Dahlia lakukan," jelas Bi Inah.
Dahlia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dia dikurung di mana Bi?" tanya Dahlia.
"Di rumah sebelah Nyonya Dahlia," jawab Bi Inah.
"Bibi nggak usah panggil saya Nyonya. Bibi lebih tua dari saya, panggil saja saya Lia," pintanya sambil meraih niqob cadangan dari dalam tasnya.
Dahlia menatap ke arah Nata beberapa saat.
"Nak, jaga dulu Kakek ya. Ummi mau ke rumah sebelah dulu untuk melihat kondisi Haura," pesannya pada Nata.
"Iya Mi, aku akan ada di sini menemani Kakek."
"Ayo Bi, antar saya ke rumah sebelah."
Bi Inah pun segera menunjukkan jalan pada Dahlia menuju ke rumah sebelah tempat gadis bernama Haura yang selama ini di kurung oleh Nia dan Niken. Bi Inah membukakan kunci rumah itu dan mempersilahkan Dahlia untuk masuk.
"Non Haura? Non ada di mana?" panggil Bi I nah.
Haura pun keluar dari balik lemari tempatnya bersembunyi, ia menatap ke arah Dahlia dan berusaha mengenalinya.
"Non Haura, ini Nyonya Dahlia istri dari Almarhum Tuan Danu. Sekarang di rumah utama sudah tidak ada Nyonya Nia dan Nyonya Niken, Nyonya Dahlia yang tinggal di sini sekarang," jelas Bi Inah.
Dahlia meminta Bi Inah mundur dengan halus. Ia menatap ke arah Haura yang terlihat ketakutan, Dahlia pun tersenyum dari balik niqob-nya agar Haura tak lagi merasa takut.
"Sini sayang, sini mendekat sama Bibi Lia, Nak," bujuk Dahlia lembut.
Haura pun mendekat perlahan-lahan ke arah Dahlia yang sudah mengulurkan tangannya. Dahlia pun kini bisa melihat wajah Haura dengan sangat jelas. Senyum di wajahnya pun semakin mengembang saat melihat wajah cantik gadis itu.
"Masya Allah, cantiknya Akhwat kesayangan Allah ini," puji Dahlia sambil mengusap kedua pipi Haura dengan lembut, "pakai niqob ya sayang, agar kecantikanmu tetap terjaga dan agar hanya suamimu kelak yang akan melihat kecantikan ini," Dahlia memakaikan niqob itu di wajah Haura.
Haura pun tak menolak, Bi Inah terpana di tempatnya berdiri. Jika biasanya Haura akan ketakutan dan berteriak jika di dekati oleh seseorang, maka saat itu untuk pertama kalinya Bi Inah melihat Haura yang begitu tenang.
"Ibu...," gumam Haura.
Dahlia pun mengerti kalau Haura tentu merindukan Almarhumah Ibunya, ia segera memeluk gadis itu dengan erat.
"Jangan bersedih ya sayang, putriku. Insya Allah Almarhumah Ibumu bahagia di sisi Allah karena memiliki putri yang shalehah seperti dirimu. Mulai sekarang panggil saja Bibi dengan panggilan Ummi ya, biar Bibi menjadi pelipur lara atas rasa rindumu pada Almarhumah Ibumu," ujar Dahlia sambil mengusap punggung Haura dengan hangat.
Haura pun membalas pelukan Dahlia dan menangis pelan di sana.
"Ummi...," gumam Haura, dengan perasaan yang lega.
* * *