"Nana ... " panggil Rosana dengan wajah sendunya. Memanggil Nana dengan suara serak penuh emosi bercampur baur dalam benaknya. Ia rindu Nana, tetapi untuk berada di sampingnya terus pun, tidak mampu. Pikirnya, untuk biaya perawatan Nana pastinya tidak sedikit. "Nana maafkan Mama ... Nana sudah lebih baik ada di sini. Bu dokter ini, biar Mama tidak terlalu menyukainya, tapi ia sayang Nana. Dan Mama percaya, ia akan merawat Nana dengan baik." ungkapnya. Tangannya mengelus kepala Nana, yang masih di perban. "Kata bu dokter, Nana baru operasi, ya? Kamu sakit gak, Na?Mama mau Nana sembuh. Kepala Nana jadi kecil, bisa jalan, dan Mama ingin Nana bisa panggil Mama." ungkap Rosana. Desha memalingkan wajahnya, merasa tidak kuat menahan perasaan terenyuhnya. Air mata sudah mulai mengambang di p

