Ada perasaan aneh yang menyusup di hati Caleb, walau dia berulang kali mengatakan dalam hatinya kalau ini bukan kencan, entah kenapa rasanya seperti kencan. Noella ternyata adalah wanita yang cantik, dia selalu tahu adiknya memang cantik, tapi kini dia benar-benar baru menyadarinya.
Wanita itu turun dari mobil dan menunggunya di depan mobil, hal yang tak pernah Aruna lakukan. Wanita itu selalu langsung berjalan menuju pintu masuk mall karena tak mau lama-lama berada di parkiran yang panas. Berbeda dengan Noella yang tersenyum menunggunya di depan mobil. Saat Caleb mendekatinya, wanita itu segera kembali merangkulnya dengan manja. Caleb membiarkannya saat menyebrang jalan, tapi segera melepaskan rangkulan wanita itu di tangannya saat mereka sudah masuk ke dalam mall. Noella cemberut dan mendengus kesal.
“Kak, aku lapar,” erangnya menatap Caleb dengan bola mata keemasannya yang besar. Caleb mendengus. “Tadi aku kan makan sedikit, karena menahan sakit,” ujar Noella memberi alasan.
“Kalau kakimu sakit, kenapa pakai hak tinggi?” tanya Caleb menunjuk sendal bertali Noella. Wanita itu terkikik. “Justru pakai hak begini malah jadi nyaman,” ujar Noella berbohong. Dia ingin tampil cantik di depan Caleb, walau menahan sakit dia akan tetap melakukannya.
“Mau makan apa?” tanya Caleb ketus sambil melihat jam. “Sudah lewat tengah hari, apakah Aruna sudah makan? Biasanya aku yang harus sibuk mencarikan wanita itu makanan,” pikir Caleb dalam hati. Dia memandang restoran mewah di hadapannya, wanita itu selalu mau makanan yang mewah. “Ah pasti pacarnya yang kemarin akan datang dan membawanya pergi untuk ke restoran mewah, sadarlah Caleb, kamu sudah dibuangnya,” erang Caleb dalam hati dengan penuh emosi.
Noella menyadari kalau Caleb melamun saat berjalan bersamanya. Walau tubuhnya ada di sampingnya tapi jelas pikiran pria itu tidak ada bersamanya. Pikiran pria itu bersama kekasihnya. Noella menatap Caleb dengan sedih, merasa percuma berdandan dengan secantik mungkin kalau pikiran pria yang dia puja tetap pada kekasihnya.
“Siapa bilang mudah untuk menjadi pelaor?” desis Noella dalam hatinya karena sebenarnya walau dia sudah berusaha sedemikian rupa, kalau prianya setia, maka pelakor itu tak akan ada kesempatan. “Kenapa dia harus menjadi pria yang setia,” erang Noella kesal. Pria itu mungkin terpaksa menemaninya ke mall ini.
Noella menyadari kalau usahanya menjadi pelakor gagal. Dia lalu segera masuk ke tempat makanan asal yang ada di samping mereka. Dia ingin menyelesaikan hari ini secepatnya. Karena berada dengan pria yang terpaksa bersamanya, sangat menyebalkan.
“Aku mau makan ini saja,” ucap Noella mengagetkan Caleb. Lamunannya menghilang dan pikirannya kembali ke tubuhnya. Dia menatap restoran nasi campur yang ada di mall itu. “Ini seperti makanan rumahan saja, kamu yakin tidak mau makan yang lain?” tanya Caleb bingung. Aruna tak akan mau makan nasi campur seperti di warung nasi seperti ini. Dia harus mencoba makanan yang terbaru dan high end. Tapi wanita yang bersamanya tak berkata apa-apa, dia hanya meninggalkan Caleb masuk dan mulai memilih menu.
“Aku mau nasinya setengah, terong, dan telur balado, sayurnya aku mau tumisan labu dan jamur. Tempe mendoannya satu ya,” ucap Noella dengan lancar.
“Minumnya mau apa Mbak?” tanya ibu pelayannya dengan ramah. “Es teh manis, Bu,” jawab Noella dan wanita tua di balik counter segera memberikan piring nasinya pada Noella. Wanita berambut panjang itu mengambilnya dan segera menuju meja yang di pojok restoran. Caleb terperangah wanita itu bahkan mengambil posisi duduk dimana dia tersembunyi dari semua orang.
Aruna tak pernah begitu, dia sangat tahu kalau dia adalah wanita yang cantik. Dia selalu mengambil posisi duduk yang strategis agar semua orang dapat mengagumi kecantikannya.
“Mas mau makan apa?” tanya ibu tua itu dengan ramah.
Caleb segera mendekati Noella dan duduk di hadapannya. Wanita itu mendesah pelan karena Caleb mengabaikan tepukan tangannya di kursi sebelahnya.
“Kenapa kamu belum mulai makan, katanya lapar?” tanya Caleb bingung. Noella mengerutkan keningnya. “Kenapa aku haus makan duluan, kalau kakak belum datang, nggak sopan tau,” jawab gadis itu sambil terkekeh. Lagi-lagi Caleb bingung. Aruna tak pernah menunggunya, dia hanya mengurus dirinya.
Noella kembali yakin kalau pria itu sedang memikirkan kekasihnya lagi. “Kalau takut kak Aruna tahu kita pergi berdua, telepon saja dia bilang kalau kakak harus temani aku, nanti aku yang bicara padanya juga,” ujar Noella lalu menyesap es teh manisnya.
“Oh nggak perlu. Dia sedang sibuk…jadi tidak usah diganggu.” Pria itu mengambil teh hangatnya dan juga menyesapnya.
Karena merasa percuma menganggap ini kencan, Noella tidak lagi bergaya sok anggun. Dia makan dengan nikmat dan segera menghabiskan makanannya dengan cepat. Bahkan lebih cepat dari Caleb. “Kak, aku tambah tempe mendoan ya,” ujarnya, lalu tanpa menunggu, wanita itu segera berdiri dan meminta tempe tambahannya itu.
“Kamu suka sekali tempe mendoan.” Caleb tersenyum melihat wanita di hadapannya makan dengan lahap.
“Aku anak kosan kak, tempe mendoan adalah makananku seharian,” ujar Noella menggigit tempe itu dengan mulut mungilnya. Caleb tanpa sengaja memperhatikan bagaimana bibir Noella mengunyah tempe yang berminyak itu. Pikirannya kembali melayang ke tumbukan bibir mereka…ciuman yang tak disengaja itu. “Apakah dia menganggapnya sebagai ciuman juga ya?” pikir Caleb sambil memandang Noella. Wanita itu dengan santai menghabiskan makanannya dengan cepat. Sepertinya dia memang sangat lapar. Caleb tertawa sehingga Noella menatapnya dengan segera.
“Kenapa? Ada sesuatu di wajahku ya?” tanya Noella sambil menyentuh wajahnya.
“Tidak, tidak ada apa-apa, hanya kamu makan lahap sekali.” Noella segera mengerutkan wajahnya. “Ish, aku lapar, kenapa aku makan harus pelan-pelan,” desishnya malu. “Kakak saja makannya lambat sekali, cowok itu makannya harus cepat, katanya orang dulu agar cari uangnya juga cepat, “ ujar Noella berfilsafat. Pria itu kembali tertawa. Dia dulu makannya cepat, hanya saja sejak bersama Aruna yang makannya sangat lamban, pria itu jadi ikut memperlambat cara makannya. Sepertinya hal itu menjadi kebiasaan.
“Oh jadi aku tak pandai cari uang dong?” tanya Caleb yang geli saat melihat perubahan di wajah Noella.
“Bukaaan, itu kan kata orang tua jaman dulu, mungkin sekarang cari uang nggak udah cepat-cepat, malah ada yang cuma santai-santai di rumah bisa banyak uang loh,” ucap Noella dengan cepat agar Caleb tidak marah. Pria itu kembali tertawa karena Noella yang sangat menggemaskan.
“Aku mau tuh, santai di rumah, lalu gaijan.” Noella mendesah sambil kembali menyesap es teh manisnya.
“Aku mau kerja kak, aku baru lulus, dan masih harus mencari kerja apa saja agar CV ku ada isinya,”
“Hmm, kantor kakak sedang membuka program intern, kalau kamu mau?” Caleb meletakkan sendoknya ketika dia sudah menyelesaikan makanannya. Dia hampir tersedak saat Noella menjerit sambil menepuk lengannya dengan keras.
“MAU! Aku mau kak, kapan…eh bagaimana caranya agar aku bisa bekerja di sana?” tanya Noella bersemangat. Di saat tadi dia berpikir akan sulit merebut Caleb dari Aruna, Caleb malah menawarkan kesempatan buat Noella untuk ada bersamanya sepanjang hari. “Sekantor dengan Kak Caleb bagaikan mimpi menjadi kenyataan,” pikir Noella dalam hati.
“Oke, nanti kakak kasih tahu tautannya ya, cukup isi secara online kok, tapi sebagai intern tidak apa-apa? Gajinya hanya setengah pegawai biasa loh walau tugasnya sama dengan pegawai yang lain?” tanya Caleb menatap bibir Noella yang mengkilap karena minyak gorengan. Ada remahan kecil tempe di wajahnya yang cantik. Wanita itu mengangguk dengan segera.
“Yakin, aku sangat yakin,” ujarnya sambil tersenyum lebar. Bekerja sekantor dengan Kak Caleb berarti bisa berangkat bersama, lalu bisa makan siang bersama, dan pulang bersama. “Ah aku tak sabar untuk selalu bersamanya,” ujar Noella yang kembali berniat mempertahankan gelrnya sebagai pelakor. Caleb tersenyum lalu memandang ke luar restoran hanya untuk memandang Aruna-nya sedang bergandengan tangan dengan pria yang sama dia lihat kemarin.
“Ah, seperti yang aku pikirkan, wanita itu memang sudah bersama pria itu. Menikmati suasana baru yang tak membosankan seperti kalau dia sedang bersamaku,” pikir Caleb dengan sedih. Noella bingung melihat perubahan emosi di wajah Caleb yang tadi tersenyum senang tiba-tiba merenggut sedih dan seperti marah. Dia segera menoleh untuk melihat ke arah Caleb melihat tadi, dan segera terkesiap.
Aruna, wanita menyebalkan itu sedang bersama pria lain, dan dia menempel dengan manja dengan memuakkan. “Apakah dia berselingkuh? Atau…malah mereka sudah putus?” tanya Noella dalam hati dengan penuh harapan.
“Kakak Aruna sama siapa itu Kak?” tanya Noella dengan wajah pura-pura lugu.