Pukul tujuh pagi. Limabelas menit sebelum gerbang sekolah ditutup. Seorang gadis berambut hitam yang selalu mengikat satu rambutnya tersebut berjalan riang kearah ruang kelasnya. Sesekali ia mengeluarkan ponselnya dan bercermin dilayar gelap ponsel yang memantulkan bayanganya samar.
"Pagi Rica.." mendengar namanya disapa membuat Rica membeku. Tidak bukan karena namanya disebut, akan tetapi nada suara yang amat sangat dikenalnya setahun belakangan ini yang membuatnya tegang.
"Iya Ko, pagi" Rica tersenyum kikuk, lantas memasukkan ponselnya kedalam saku almamater sekolah yang dikenakannya.
"Alamak cantik kali jodohku pagi ini, seperti biasa" pria itu tersenyum saat mengamati Rica, membuat Rica sangat ingin terjun bebas dari lantai dua sekolah yg dipijaki nya sekarang.
"Duluan yah ko, gue jam nya bu Susila soalnya, dah.." buru-buru Rica bergegas meninggalkan pria itu. Rasa jengkel dan tak nyaman selalu melingkupi atmosfer disekitar Rica jika berdekatan dengan pria itu.
Namanya Niko Marune, keturunan Batak dan merupakan teman seangkatan Rica. Tubuhnya tinggi dan berkulit hitam, selalu menggunakan kacamata minus dengan gagangnya berwarna kuning terang serta behel merah nyentrik bak rambut boyband asal korea selatan yang baru debut.
Setahun belakangan ini sudah Niko mengganggu Rica dengan puisi-puisi aneh yang sering dibacakannya dimana pun bertemu Rica.
Namun kali ini Niko gagal! Karena Rica sudah pergi terlebih dahulu tanpa sempat mendengar sepatah kata dari belasan bait puisi yang sudah ia buat.
"Alamak, cantik kali anak gadis orang itu.. Kapan aku bisa di kasih kesempatan buat pacaran sama dia"
***
"Kenapa muka lo?" Rica melihat sekilas kearah Chika yang tadi sempat menanyainya saat ia tiba.
"Ketemu malaikat maut" jawab Rica asal sembari mendudukan bokongnya dikursi samping Chika.
Fyi, Rica duduk dibarisan tengah nomor dua dari depan bersama Chika, sedangkan Elisa dan Rena duduk didepan mereka.
"Maksud lo Niko?"
"Menurut lo?"
"Iya dia" Chika nyengir asal kemudian kembali ke kegiatannya menatap layar ponsel.
Tiba-tiba Rena datang dari arah pintu kelas diikuti Elisa dibelakangnya. Elisa duduk dengan tenang sementara Rena membalikkan badannya kearah belakang menghadap Rica dan Chika.
"men temen, gue ada info tempat makan baru! Baru buka, masih fresh belum banyak yang jamah! Gue yakin ini cocok banget buat vlog lo, chik" Rena menyeru antusias kearah Rica dan Chika, sedangkan Elisa bersikap biasa saja karena sudah mendengar kabar tersebut dari Rena.
"Yaudah. Cuss langsung hari ini" Chika ikut-ikutan berbinar antusias kala mendengar berita tersebut dari Rena. Vlognya pasti akan kembali viral kali ini!
"Gimana yang lain?" Rena menatap Elisa dan Rica secara bergantian, tatapannya seolah menuntut 'cepet bilang setuju'
"Gue terserah" itu suara Elisa
"Gue ga bisa" dan itu suara laknat Rica.
"Ca!" kontan Chika dan Rena berteriak tak terima.
"Ga usah teriak!" sewot Rica.
"Lo harus ikut" kekeuh Chika geram.
"Gue ada urusan pulang ini. Gimana kalo besok?" Rica mencoba bernegosiasi pada teman-temannya tersebut.
Negosiasi berjalan cukup alot, namun seperti biasa negosiasi masih selalu dimenangkan oleh Rica.
Eitss, jangan mengira negosiasi ini dimenangkan Rica tanpa syarat. Syarat yang diajukan memang memiliki dua dampak positif dan negatif bak pelajaran Sejarah. Positifnya ia diperbolehkan pulang dan dampak negatifnya adalah dua hari berturut-turut terhitung besok, Rica harus membayar makanan dan minuman para gadis "unfaedah squad" ini.
***
"Assalamualaikum Mbak" Rica berhenti didepan meja resepsionis sebuah kantor. DN Company, begitulah nama yang tertera didepan kantor ini dan secarik kertas bertajuk kartu nama yang sedang ia pegang Sekarang.
"Iya dik, Waalaikumsallam. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ketemu sama Om- emm maksud saya Pak Dito Alif Nurakhman, Mbak. Ruangannya dimana yah?" Rica menatap resepsionis didepannya ini was-was, jangan sampai pertemuannya kali ini akan dikacaukan oleh perkataan-
"Adik sudah buat janji?"
Hoilaa! Kata laknat yg tak ingin Rica dengar tersebut keluar juga. Bahkan sebelum gadis itu selesai membatin.
"Saya kemarin udah buat janji kok. Nih buktinya saya di kasih kartu nama sama pak Dito, terus disuruh datang kesini buat ngomongin hal penting, Mbak"
"Oh oke, adik langsung saja naik ke lift lantai dua puluh satu, hanya ada dua ruangan disana. Salah satunya ruangan pak Dito. Kalau bingung tanya saja sekretaris nya, biasanya selalu standbye di depan ruangannya pak Dito kok"
Setelah mendengarkan penjelasan panjang dari Resepsionis dengan serius bak membaca soal hitungan Ekonomi, Rica pun mulai mempraktekkan teori dari sang resepsionis dengan cekatan.
Mulai dari memasuki lift sampai menunggu lift untuk mengantarnya kelantai dua puluh satu. Di hiraukannya tatapan penasaran dari para karyawan kantor perusahaan ini , yang ia mau hanyalah cepat untuk sampai keruangan Dito. Rica tau sekali arti tatapan kepo dari karyawan tersebut saat melihat dirinya yang berseragam SMA. Mereka pasti sedang mengumpulkan bahan gunjingan.
Sampai dilantai dua puluh satu. Suasana sepi dan hening sangat terasa saat Rica sampai. Hanya suara ketikan yang berasal dari keyboard komputer didepan meja sekretaris lah yang sangat kentara.
"Selamat siang Mbak" Rica menyapa seorang perempuan bertubuh proporsional dan berwajah cantik bak model tersebut yg diyakini Rica adalah sebagai sekretaris dari Dito.
Tak mungkin salah kan? Orang hanya ada mbak itu seorang kok. Sedangkan meja sekretaris lainnya sedang kosong.
"Iya kenapa dik? adik salah lantai?" tanya sekretaris Dito tersebut. Tak lupa tatapan menilai yang diarahkan kepada Rica yang membuat gadis itu mendengus sebal.
"Ga salah kok. Saya mau ketemu Pak Dito Alif Nurakhman Mbak. Ruangannya disini kan?"
"Ada kepentingan apa, dik? Pak Dito ada di ruangannya dan sedang sibuk didalam"
"Saya udah buat janji kok Mbak. Nih buktinya saya disuruh kesini buat ngomongin sesuatu" Rica menunjukkan kartu nama yang ia dapatkan dari Dito dengan amat percaya diri.
"Yaudah. Saya kasih tau du-"
"Ga perlu!" gerakan mengambil gagang telepon Sekretaris itu pun terhenti kala terdengar suara cempreng milik Rica yang memekakkan telinganya.
"Saya langsung masuk aja. Hehe"
"Tapi dik-" perkataan Sekretaris tersebut kembali terhenti saat melihat Rica yang sudah masuk kedalam ruangan yang di pintunya bertuliskan 'Direktur Utama' .
***
Braakk!
"Assalamualaikum!"
"Astagfirullah" Dito menjatuhkan pulpen yang sedang digunakannya saking terkejutnya pria itu mendengar lengkingan salam dan dobrakan pintu secara bersamaan dari arah pintu masuk ruangannya.
"Rica!" Dito menggeram tak suka dan menatap sang pelaku yang membuatnya terkejut tersebut dengan tajam. Sedangkan yang ditatap dengan tatapan mematikan tersebut hanya senyum tak jelas dan mulai berjalan mendekati Dito.
"Ini jam makan siang loh. Om gak makan?"
"Langsung kenyang pas liat kamu" jawab Dito asal dan kembali mengarahkan fokusnya pada tumpukan map diatas mejanya.
"Ahh so.. Sweet.. biasanya kalau orang pacaran kan bilang gitu kalo mau lama-lamaan sama pacarnya. Atau mau manis-manisan kan suka gitu"
Astagfirullah! Salah bicara lagi.
"Kamu ngomong apa sih? Ga jelas"
"Om pasti laper kan? Aku juga laper, ayo kita makan, Om. mau 'kan makan siang sama aku?" Rica menarik-narik lengan kemeja Dito dengan tak sabaran, membuat Dito hampir saja menjerit kesal saking risih nya.
"Saya ga Laper, Rica!" suara yg penuh peringatan dan sarat akan emosi tersebut tak juga membuat Rica berhenti melakukan aksinya.
"Temenin aku aja, Om Dito" nada suara Rica mulai terdengar seperti sebuah rengekan ditelinga Dito, yang membuat pria itu jadi teringat akan puteranya Leon. Biasanya Leon akan merengek seraya menarik-narik ujung kemejanya saat bocah kecil itu sedang meminta sesuatu padanya. Persis.
"Ga Rica, saya banyak kerjaan." ucap Dito tegas. Hal itu kontan saja membuat Rica semakin menekuk wajahnya kecewa. Namun gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya ini tak kehabisan akal. Enak saja, dia sudah jauh-jauh datang kekantor ini dan juga menolak ajakan para 'UnFaedah Squad' nya untuk mengajak Dito makan siang. Tapi tak dapat apa-apa, 'kan mubadzir.
"jadi om ga mau nemenin aku makan siang?" tanya Rica kemudian, setelah sempat hening beberap saat.
"Hmm" hanya gumaman singkat yg didapat Rica. Membuat gadis itu mulai berfikir ekstra, cara apa yg harus ia gunakan agar Dito mau makan siang bersama nya.
"Kalo om gamau.. Yaudah deh.. Aku bakal keliling kantor om, nangis sambil guling-guling dari lantai ruangan om sampai lobi depan. Terus bilang sama karyawan disini kalau Om Dito jahat ga mau-"
"Stop It Rica. Oke ayo kamu mau kemana?"
"Burger Cute di mall daerah Pondok Indah!"
***
Dito menatap geli pada burger berbentuk boneka beruang diatas piringnya tersebut. Tak ada menu lain. Semua menu berbentuk lucu yang menjadi andalan restoran burger ini. Sudah jelas terlihat dari nama restaurannya bukan?
"Kok ga dimakan om?" Rica menggigiti burgernya dengan semangat. Selain karena kemauannya telah terealisasi, ia memang sedang lapar sekarang.
"Saya ga mau makan boneka" jawab Dito datar.
"Om sayang sama bentuknya? Yaudah foto aja. Atau kita bisa kok kesini sering-sering, ajak Leon sekalian" Rica terkekeh pelan diakhir kalimatnya.
Dito hanya diam. Pria itu kembali menatap burger diatas piringnya tersebut. Oke bukan hal buruk Dito. Setidaknya ini hanya bentuknya saja yg mengerikan, tapi dalamnya tetap daging. Dito berargumen dengan dirinya sendiri.
"Enak 'kan?" Tanya Rica setelah gigitan pertama telah terselesaikan dan masuk ke perut pria itu.
"Lumayan" jawab Dito acuh.
"Aku mau kok sering-sering nemenin om kesini"
"Ga perlu!" sahut Dito cepat.
Hening sesaat. Jika biasanya Rica lah yang sering mendominasi pembicaraan diantara mereka, tetapi kali ini berbeda. Gadis itu hanya fokus pada burgernya dan lupa akan Dito sesaat.
"Jadi kamu jual kartu nama saya supaya bisa masuk?" Dito membuka pembicaraan. Entah kenapa suasana hening seperti ini membuat diri pria itu merasa asing. Padahal jika ditilik lebih jauh, kehidupan hening dan dingin sudah pria ini jalani selama hampir 27 tahun ia hidup.
"Hehe.. maaf ya om" Rica cengengesan diakhir kalimat nya. Gadis itu mengambil gelas jusnya dengan kedua ujung telapak tangannya yang tidak kotor karena mayones, kemudian meneguknya cepat.
"ahh.." Rica mendesah keras setelah menenggak setengah gelas jus jeruk pesananya tadi. Kemudian mengelap bibirnya dengan punggung tangan kanannya.
"Kamu tuh cewek Rica. Masa makan belepotan kayak anak kecil sih? Lebih mirip Leon aja" Dito memberikan sapu tangannya pada Rica. Pria itu hanya memberikan kepada Rica tanpa ada niat membantu membersihkan.
"kenapa?" tanya Rica bingung.
"Bersihin tangan kamu" jawab Dito datar.
"Bersihin..." rengek Rica manja seraya mengulurkan kedua tangannya yg kotor kepada Dito. Namun sedetik kemudian Rica kembali terdiam saat dirinya menerima tatapan tajam dari pria itu. perlahan ia menarik kedua tangannya dan membersihkannya sendiri.
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan