Perjuangan Rica (2)

1713 Words
Sabtu pagi, adalah pagi terbaik untuk orang-orang melepas penat seusai bekerja. Memilih bergelung dengan selimut tebal adalah pilihan yang terbaik. Apalagi suasana hujan pagi seperti sekarang sangat membuat setiap orang yang ada di suasana ini tak mau beranjak dari kasurnya. Namun berbeda dengan Rica. Dengan masih mengenakan piyama tidurnya, pagi ini ia sudah berkutat didapur. Tak lupa ia mengirimkan s**u favorit Dito melalui go-send sebelum memulai kegiatan memasaknya. Sudah satu minggu ini ia tak pernah absen mengantar s**u untuk Dito. Bahkan ia sudah mempunyai go-send langganannya sendiri yang setia mengantar s**u untuk Dito setiap harinya. Bermodalkan tutorial dari YouTube, Rica nekad melakukan eksperimennya. Selama delapan belas tahun ia hidup, ini kali pertama ia memasak kue. Rica mencoba membuat cheese cake kesukaan Dito. Ya, list kedua dari daftar kesukaan Dito adalah cheese cake. Kata Abangnya Rio Pria itu juga addict dengan cheese cake. Entah mengapa bisa pria se-maskulin Dito bisa menyukai hal-hal manis semacam ini. Untuk ukuran pria dengan fisik dewasa seperti Dito, tak pernah terpikirkan oleh Rica jika selera pria itu dalam urusan makanan dan minuman hanya seperti ini. Biasanya, Steak dan kopi adalah makanan dan minuman yang biasanya dikonsumsi oleh para orang dewasa. "Uni.. Keju kita habis ya?" Rica berteriak memanggil Asisten Rumah Tangganya tersebut seraya masih membongkar isi kulkas, berusaha menemukan sepotong keju. "Habis Ca.. Mau Uni belikan apa kayak mana?" mendengar jawaban Uni, Rica lantas mengeluarkan kepalanya yang setengah masuk kedalam kulkas, lalu berdiri dan menutup kulkas malas. "Yaudah deh, Rica beli sendiri aja." "Go-Mart aja Ca.." "Lama, Ni. Gapapa deh Rica jalan aja ke minimarket depan. Tolong ambilin payung yah, Ni" Sementara Uni menyiapkan payung, Rica menaiki tangga menuju kamarnya hendak mengambil jaket dan uang. Bisa-bisanya niat mau bikin cheesecake tapi bahan utamanya tidak ada. "Kancing yang kuat Ca. nantik sakit, Uni pula repot" Uni berteriak menggunakan logat khas minang andalannya kepada Rica yang sudah menembus hujan didepan sana. Dan hanya dibalas acungan jempol saja oleh Rica. Sesampainya di minimarket, Rica buru-buru masuk dan mencari barang incarannya. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya dan menempelkannya ke pipi untuk menghasilkan rasa hangat. "Rica?" Rica refleks menoleh saat ada yang memanggil namanya. Mata gadis itu terbelalak saat melihat siapa yang menyapanya. Niko Marune? Kenapa bisa bertemu dekat tempat tinggalnya begini? Gawat! "Alamak, ketemu jodoh aku disini" "Hai, Ko. Hehe" Rica tertawa paksa menanggapi ucapan Niko. Gadis itu bingung mau menghindar kemana sekarang. Dibelakangnya ada Ibu-ibu yang juga sedang antri. Sedangkan didepannya Ada Niko yang juga sedang antri menunggu giliran membayar. "Beli apa kau, Ca?" "Beli ini doang kok." Rica mengangkat dua kotak keju kearah Niko. "Oh? Ini aja? Kau ambil lah yang lain, biar Abang Niko yang bayar" tawa sombong Niko terdengar menggelegar didalam minimarket ini. Membuat Rica sang lawan bicara mendadak malu dibuatnya. "Gak kok. Gue cuma perlu ini." "Selanjutnya.." Seruan kasir membuat Niko tersadar, dan buru-buru maju. "Eh, Ko, lo mau bayarin gue 'kan?" "Lah iya, sekalian aja" Jawab Niko dengan logat Medan andalannya. "Nih scan yang gue dulu aja, Mas" Setelah men-scan harga dari dua kotak keju tersebut, Rica buru-buru keluar antrian dan mengambil keju yang tadi ia beli. "Ini duitnya tolong bayarin ya, Ko. gue buru-buru soalnya. Dadah Niko~" Rica bergegas pergi setelah menyelipkan uang lima puluh ribu ketangan Niko. Ia buru-buru keluar untuk kembali kerumah. Ia sudah punya firasat tak enak jika Niko selesai lebih dulu membayar. Pria itu pasti akan mengikutinya sampai kerumah. Dan Rica sangat mewanti-wanti hal tersebut terjadi. Ia tak mau Niko mengetahui tentang dirinya jauh lebih banyak. *** "Lah kok keringetan Ca? Perasaan diluar hujan" kedatangan Rica disambut oleh Uni yang sedang mengepel lantai diruang tamu. "Dikejar orang gila, Ni" jawab Rica santai "Rica lewat ya, Ni" Rica berjalan kearah dapur dengan menjinjit ketika melewati lantai yang masih basah. Sudah kebiasaannya memang, jika orang lain sedang mengepel maka ia akan menunggunya sampai kering. Tapi untuk urusan yang sedikit mendesak ia rela jalan berjinjit lewat pinggir. Sesampainya di dapur, Rica segera melepas jaketnya dan menggulung rambutnya yang berantakan ulang. Berkeringat ditengah suhu dingin seperti ini benar-benar membuatnya menjadi gerah dua kali lipat dari pada suhu panas seperti biasanya. Gila! Niko benar-benar membuat moodnya untuk memasak jadi turun. Bisa-bisanya pria itu meruntuhkan suasana hati yang tadinya semangat untuk memulai kegiatan memasak. Hadir pria itu saja mampu membuat Rica bad mood. "Okedeh, let's try it!" Rica mulai berkutat dengan adonan cheese cake. Sesekali tangannya bergerak menghentikan video tutorial yang sedang ia tonton, kemudian langsung mempraktikkannya. Sekarang gadis itu tengah menuang adonan ke dalam loyang yang sudah ia beri alas dengan kertas roti. Dengan sangat hati-hati Rica menuangkan adonan tersebut kedalam loyang. Namun tetap saja ada yang tumpah. Dasar trouble maker begitu saja kerjanya. "Ada yang bisa Uni bantu ga, Ca?" Uni datang dari arah belakang Rica dan menawari bantuan. "Gausah Uni, bentar lagi juga selesai kok" Mendengarnya, Uni kembali masuk kekamarnya guna berisitirahat sejenak. Sebentar lagi ia akan membereskan sisa eksperimen Rica, ia tahu itu. "Oke Kukus selama 20-30 menit dengan api sedang.. Nice" Rica menutup panci kukusan yang didalamnya sudah ia masukan loyang berisi adonan cheese cake tadi. Selama menunggu, Rica membersihkan sisa eksperimennya ini secara mandiri. Ia tak mau merepotkan Uni walaupun wanita paruh baya tersebut adalah asisten rumah tangga mereka. "Kamu ngapain, Ca?" "Nunggu Cheese cake mateng, Ma" Rica mengalihkan fokusnya yang sedang mengelap meja sejenak kearah sumber suara. "Tumben banget pagi-pagi gini udah rusuh. Biasanya aja weekday gini masih leye-leye kamu dikasur" "Emang ga boleh apa anak gadisnya produktif di pagi weekday?" Laila hanya tertawa mendengar ucapan Rica. Ia sangat tau semua yang dilakukan oleh anak gadisnya ini untuk siapa. Namun Laila mencoba berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia lepaskan anaknya ini bersikap. "Uni mana, Ca?" tanya Laila sembari membuka tudung saji diatas meja makan. "Lagi dikamarnya, Ma. Istirahat mungkin" "Nii.. Ga mau sarapan bareng, Ni?" Suara Laila sedikit mengeras saat memanggil agar sampai ke telinga Uni. "Uni udah sarapan duluan Bu.. Uni tidur bentar ya Bu.." "Masih Pagi loh, Ni" Sahut Rica menimpali "Ngantuk banget Ca, cuaca dingin begini. Mending diangetin selimut" Rica tertawa keras mendengar celetukan Uni. "Ca.. Ca kok berasap pancinya?!" Laila berseru panik saat melihat asap yang mengebul dari panci yang Rica gunakan untuk mengukus cheese cake. Melihatnya, buru-buru Rica mematikan kompor dan membuka penutup panci. Uap panas seketika kembali mengebul dan memenuhi dapur. Lama ia terdiam di posisinya sekarang. Dengan masih menggenggam tutup panci yang tadi ia buka, Rica hanya menatap kosong kearah panci tersebut. Ia tak mampu untuk melangkah maju memastikan keadaan cheese cake nya didalam sana. "Ca, buruan lihat" Laila menyadarkan Rica dari ketertetegunannya. Perlahan i maju dan melongokkan kepalanya melihat nasib cheese cake buatannya. Rica syok. Cheese cake buatannya jadi mengerut, dan bentuknya sedikit retak setelah matang. Rasanya ingin menangis saat tahu hasilnya jadi begini. Cheese cake tersebut terlalu lama mengukus, hingga air yang ada didalam panci tersebut ikut mengering. itulah yang menyebabkan kepulan asap keluar sangat banyak dari panci tersebut. Namun meski begitu, Rica tetap mengikuti langkah-langkah sang chef yang ada di YouTube tersebut hingga akhir. Ia tetap mengolesi kue tersebut dengan buttercream dan menaburi atasnya dengan keju yang sudah ia parut. "Ma, ini masih layak dimakan ga ya?" Rica menatap Cheese cake tersebut dan wajah Laila secara bergantian. Ekspresi sedih nampak dengan sangat jelas di wajah lelah Rica. "Coba kamu potong satu perempat cheesecake nya, terus nanti kita cicip bareng-bareng. Kalau enak dan kayak makan, kamu pede aja" Secercah senyum langsung terulas diwajah Rica. Dengan cepat ia mengambil pisau kue dan memotong satu perempat kue tersebut. Nanti pinggiran yang sudah terpotong akan Rica tambal lagi saja menggunakan buttercream sisa tadi. *** Rica berdiri didepan pintu rumah Dito dengan wajah tersenyum senang. Ia menunggu si tuan rumah membukakan pintu untuknya. Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana bisa Rica mengetahui alamat rumah Dito bukan? Jawabannya adalah, Rica mengetahui rumah Dito dari anak pria itu sendiri. Anak pintar itu memberitahunya nomor rumah dan komplek tempat mereka tinggal. Tentu saja Leon hapal alamat rumah mereka. Karena sedari anak itu bisa bicara Dito selalu mengajarkan anaknya tersebut menghapal alamat rumahnya dan juga nama Ayahnya. Karena suatu saat jika sedang kena sial Leon diculik atau mungkin terpisah dengannya ditempat keramaian, anak itu bisa memberitahu orang disekitarnya kemana ia harus dikembalikan. "Kamu?!" "Selamat pagi menejelang siang, Om Dito" Rica melebarkan senyumnya ketika Dito membukakan pintu untuknya. "Boleh masuk?" "Ga boleh!" Dito menutup sebelah pintu ganda rumahnya dan hanya menyisakan sebelah daun pintu yang terbuka. "Aku bawa sesuatu ini. Kesukaan Om Dito. Hihi" Rica terkekeh geli diakhir kalimatnya. "Aku mau masuk, Om" Rica menerobos masuk kedalam rumah Dito melalui celah antara pintu dan badan besar pria itu. Tak ia hiraukan pandangan Dito yang melotot seolah akan membunuhnya. "Ini taruh dipiring yaa, Om" Dito hanya mengambil bingkisan yang Rica ulurkan. Tanpa ingin berdebat lebih lanjut, pria itu menurut saja apa yang gadis kecil itu perintahkan. "Kak Rica!" "Leon!" Rica dan Leon duduk bersama dengan akrab. Bercerita satu sama lain dan Rica pun ikut menonton film kartun action favorit anak itu. Tak berselang lama, Dito datang menghampiri mereka berdua. Pria itu membawa piring cheese cake dan juga dua buah garpu ditangannya. "Ini apa, Rica?" Dito kembali bertanya guna memastikan. "Cheese cake. Aku buat itu untuk, Om. Cobain deh, Om" "Kamu ngasih saya sampah?" Deg! Senyum yang tadi terulas diwajah Rica perlahan luntur. Dito tidak tahu saja perjuangannya pagi ini. Mulai dari menyiapkan bahan untuk membuat kue sampai dengan mengantarnya kerumah pria itu. Seburuk itu kah kue buatannya? Terlepas dari buruk atau tidaknya kue buatannya, ia hanya ingin diapresiasi. Setidaknya dengan kata 'Terima Kasih' saja itu sudah lebih dari cukup. "Nanti Rica bawain yang lebih bagus ya, Om. Itu dibuang aja kalau ga mau makannya. Tapi nanti tunggu Rica pulang kalau mau buang." Rica kembali mengulas paksa senyumnya yang sempat pudar karena ucapan Dito tadi. Buru-buru ia mencairkan suasana dengan kembali mengajak Leon bicara perihal kegiatan bocah itu disekolah selama sepekan kemarin. Rica paham jika penolakan-penolakan dan ucapan kurang berkenan akan ia terima saat sedang memperjuangkan hati seseorang yang tak ingin diperjuangkan. Itu sebabnya ia sudah menyiapkan mentalnya sedari awal. Tenang Rica. Ini baru permulaan. Nanti dipertengahan jalan kamu akan mendapatkan penolakan yang lebih kasar lagi daripada ini jika ia benar tak menginginkan. *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD