Ava menaruh telur mata sapi yang hancur itu ke atas roti yang telah dipanggang. Matanya memandang putus asa. Bagaiamana ia bisa begitu payah padahal hanya telur mata sapi? Ia menghela napas berat. Sepertinya ia harus mengikuti les memasak. Jika begini, ia bisa mati kelaparan. Ia tidak mungkin juga meminta Arka terus yang memasak. “Ck, ya terus gimana?” kata Ava mengomel pada dirinya sendiri. “Besok Bi Rumi datang. Dia yang akan bantu soal pekerjaan rumah,” kata Arka yang baru saja turun dan berjalan menghampiri Ava. Pria itu sudah siap dengan kemeja putihnya serta dasi hitam dan celana hitam. Tampan memang, tapi Ava sama sekali tidak tertarik untuk memujinya. “Pak Arka mau ke mana?” Arka mengambil roti dengan telur mata sapi hancur itu lalu melahapnya. “Ketemu klien, habis itu ke kampus

