Ava mengusap wajahnya berkali-kali. Ia mendongakkan wajah, menatap ke arah langit yang kini mulai berubah jingga. Sudah berjam-jam ia duduk di sana—sebuah taman yang tak jauh dari kampus. ia menghela napas berat. “Udah belum, Va? gue bisa bisulan gara-gara duduk di sini nemenin lo,” keluh Bunga yang sudah duduk di sana menemani Ava. “Lo gak ada niatan galau sambil rebahan, Va?” Ava hanya menjawabnya dengan helaan napas yang membuat Bunga semakin frustrasi. “Gue udah males banget lihat lo gini terus. Lo kaya gini gak akan mengubah keadaan. Kalo emang Pak Arka masih cinta sama wanita itu, lo bisa alihkan dengan buat Pak Arka cinta sama lo.” “Tapi dia gak bisa cinta sama gue.” Bunga tertawa sumbang. “Mustahil. Pak Arka bisa aja cinta sama lo, Va. dia Cuma terjebak dengan perasaannya ke w

