Arka memijat pelipisnya pelan. Ia memandang wanita yang kini ada di hadapannya—Wanda—wanita itu sibuk menelepon banyak nomor. Rasanya Arka seperti tidak lagi memiliki kekuatan meskipun hanya sekadar membuka mulut. Sejak kemarin, ia tidak berhenti mencari Ava kemanapun itu, bahkan ia memeriksa di beberapa bandara yang kemungkinan Ava pergi dari sana. Bahkan ia meminta seluruh orang kepercayaannya untuk mencari Ava di berbagai daerah yang memungkinkan. Istrinya itu sulit dilacak. Ponselnya, semua media sosial, nomor, email, tidak ada yang bisa Arka gunakan untuk menemukan Ava. Ia putus asa … “Baik, kalau begitu saya tunggu kabarnya,” kata Wanda, lalu mematikan ponselnya. “Aku udah suruh orang kepercayaanku untuk cari Ava. Kamu tenang, ya. Ava pasti ketemu.” Pria itu menundukkan kepalanya.

