Bu Rahma memergokiku saat mengkonsumsi obat yang Dimas belikan untukku. Dengan terpaksa aku menceritakan bahwa aku mengalami darah rendah dan anemia. Perancang busana bosku itu memintaku untuk pulang cepat selama satu minggu kedepan. Aku menolak, aku baik-baik saja. Maksudku, aku pasti baik-baik saja jika tak terlalu sering berinteraksi dengan Dimas. “Kamu tahu, kan, Tih. Tugasmu banyak sekali untuk persiapan Jakarta Fashion Week Nanti. Jadi tolong, jaga kesehatanmu dan jangan forsir tenagamu di butik.” Ucapan Bu Rahma tegas dan terdengar tak terbantah. Aku tak berani mendebat wanita yang menolongku saat aku terpuruk. Dulu, setelah memergoki Dimas berciuman dengan rekan kerjanya, aku menangis pada bapak dan ibuku dan meminta pergi dari rumah itu. A

