Terkejut

1357 Words

        “Kamu habis menangis?”                Aku mengangkat satu alisku, lalu coba mengukir senyum. “Hanya kurang tidur, Mas. Kalau sedang ada pameran seperti Jakarta Fashion Week ini, Ratih memang bisa sampai begini,” dustaku seraya tetap mengukir senyum di depan kamera.                “Kerjamu sepertinya berat sekali, Dik, saya gak tega lihatnya.” Wajah Mas Seno tampak serius dan khawatir. Dalam hati aku tertawa geli. Calon suamiku ini tampak seperti ayah yang mengkhawatirkan putrinya atau guru yang tak ingin muridnya mendapatkan nilai buruk.                “Gak apa, Mas, ini sudah biasa. Sejak dulu, Ratih terbiasa kerja keras. Waktu masih jadi buruh konveksi, kadang malah tidak tidur seharian karena shift malam. Ini, sih, kecil.”                Kami melanjutkan obrolan tentang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD