Leon membuka pintu kamar untuk Sang Oma. Sejurus kemudian Hellen Morine masuk begitupun dengannya, menuntun Sang Oma hingga Hellen Morine mendudukkan diri di atas ranjang tidurnya. Tak terpikirkan apa pun hingga omanya mulai berbicara.
"Tutup pintunya," perintah Hellen Morine seraya membenarkan kacamata.
Sejenak Leon terdiam lalu melangkah menutup pintu. Perlahan perasaan tak enak muncul begitu saja. Namun Leon tetap berusaha menepisnya. Ia pun berbalik kembali melangkah mendekati omanya. Seakan ia tau Hellen Morine akan membahas hal penting dan tak ingin ada satu pun orang tau.
"Apa benar berita itu?"
Seketika Leon tercekat. Tidak salah lagi. Omanya memastikan kabar yang tersebar di berita-berita gosip selebriti. Leon yang sempat berpikir Omanya tak mempermasalahkan lagi berita itu. Ternyata ia salah.
"Oma." Leon berlutut dihadapan Omanya kemudian. "Leon mengaku salah. Salahku yang terlalu mencintai Denisa dan seolah melupakan peringatan Oma. Selama ini, Leon berusaha untuk menjauhinya tapi, tetap saja tidak bisa." Akunya dengan sebenarnya. Sempat dengan sengaja tak menghubungi Denisa akan tetapi, Denisa selalu saja menghampiri dirinya di tempat kerja.
"Jadi, peringatan apa pun yang Oma berikan tak berarti lagi bagimu?" Terlihat dingin namun sebenarnya Hellen Morine bisa memahami bagaimana perasaan cucunya saat ini. Akan tetapi ia juga terlanjur kecewa.
"Bukan begitu, Oma." Leon menatap melas. "Leon tidak mungkin berani melawan Oma. Kalau bukan karena Oma, Leon tak mungkin bisa sampai seperti sekarang ini. Menjadi Ceo seperti yang orangtua Leon mau. Itu tidaklah mudah. Tapi... Leon tak memungkiri perasaanku sendiri." Lalu ia tertunduk.
Hellen Morine sebenarnya tak tega melihat cucunya sedih. Setelah kematian orangtua Leon, ia tak akan membiarkan siapa pun menggantikan Ayah Leon sebagai pemimpin Morine Corporation. Oleh karena itu, ia maju menduduki jabatan Ceo sampai Hellen memastikan Leon siap menggantikan dirinya sebagai penerusnya. Bukan Mario yang tak lain adalah anak hasil perselingkuhan Nesa Rayne bersama sopir pribadinya sendiri.
Kejadian itu masih terngiang jelas dalam memori Hellen Morine. Berawal saat Julian yang merupakan anak keduanya pergi mengemban tugas ke luar kota. Dengan teganya Nesa bermain api di belakangnya, bahkan mereka sengaja melakukan hubungan yang teramat memalukan itu di dalam mobil yang mana Hellen Morine tak sengaja memergokinya.
Tak tahan dengan kelakuan Nesa bahkan tak ada rasa malu ataupun bersalah. Nesa Rayne justru menyalahkan Julian yang kerap meninggalkan dirinya karena pekerjaan. Hingga membuat Julian jatuh sakit memikirkan kehamilan istrinya, hasil hubungan gelap bersama sopir pribadi yang juga sangat Julian percaya. Julian sempat memberi sejumlah uang agar Nesa menggugurkan kandungannya tetapi Nesa menolak keras. Namun pada akhirnya Julian memaafkan Nesa serta terpaksa menerima anak hasil hubungan gelap itu. Demi cintanya kepada Nesa yang begitu besar. Ia rela korbankan perasaannya hancur menerima kenyataan.
Hari demi hari kesehatan Julian semakin memburuk. Bahkan Nesa tak jera melakukan hubungan gelapnya kembali secara terselubung. Tanpa ada seorang pun yang tahu, meski selingkuhannya itu sudah di pecat dan di usir oleh Hellen Morine. Yang mana Nesa tak pernah lagi mendapat nafkah batin dari Julian. Hingga kematian suaminya, Nesa tak menampakan sedikit pun penyesalan. Kalau bukan wasiat dari Julian, pastilah Hellen Morine sudah menendang Nesa keluar dari rumahnya. Yang mana Julian memintanya untuk tetap membiarkan Nesa serta menerima anak yang akan dilahirkannya nanti, sebagai bagian dari keluarga Morine.
"Oma," panggil Leon untuk yang ke sekian kalinya.
Hingga mengembalikan imajinasi Hellen Morine untuk fokus kepada Leon. Ia menggeleng beberapa kali lalu mengembuskan nafasnya dalam. Kilasan masa lalu yang tak mungkin pernah ia lupakan.
"Oma tidak apa-apa, kan?" Leon tak menutupi rasa cemasnya. Bahkan kali ini rasa takut serta merta menghampirinya. Takut kehilangan orang yang Leon sayang setelah kedua orangtuanya. Leon menggeleng pelan menepis bayangan buruk yang tengah melintas di pikirannya.
"Apa kamu masih peduli dengan omamu ini? Setelah secara terang-terangan memamerkan wanita itu di depan publik. Seolah-olah wanita itu segalanya bagimu." Hellen takut apa yang di alami Julian di masalalu akan terjadi juga kepada Leon. Hanya karena cinta mati kepada wanita yang salah. Sama dengan bunuh diri, pikir Hellen.
Namun Leon terdiam memikirkan sesuatu. Kenapa omanya baru marah sekarang? Kenapa tak meluapkan ataupun menyalahkannya ketika ia baru datang? Malah Tantenya yang secara terang-terangan tersulut emosinya sendiri.
"Leon sangat menyayangi Oma. Tetapi Leon juga tak bisa membohongi diri sendiri."
"Itu artinya. Kamu lebih memilih artis itu dari pada Oma?"
Leon terdiam bingung harus bagaimana.
"Apa kamu lupa? Apa yang menyebabkan Om Julian terjatuh sakit hingga meninggal? Hanya karena cintanya yang berlebih kepada wanita. Yang tak lain Tantemu, Nesa yang tak tahu diri itu." Hellen seakan memberi peringatan keras. Emosinya berada di puncak ubun-ubun.
"Tapi Denisa tak seperti itu, Oma. Percayalah," ujar Leon terus meyakinkan.
Hellen Morine tersenyum masam tak percaya. "Oma tetap tak bisa menerimanya."
Pias Leon berubah. Hatinya sangat terluka. "Oma hanya belum bertemu dengan Denisa. Leon yakin jika sudah bertemu, Oma bisa menilai sendiri Denisa sangat baik. Tak seperti yang Oma pikirkan."
"Hanya belum kelihatan saja. Manis di awal dan pahit di akhir nyatanya banyak. Pengalaman Oma lebih banyak dari pada kamu. Pahit manis, getirnya kehidupan Oma sudah merasakan semua. Jangan sampai kamu mengalami hal yang sama," tutur Hellen sangat peduli kepada cucunya. Bukan Mario hasil hubungan gelap yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya.
"Leon akan buktikan jika Denisa tak seperti yang Oma pikirkan," sahut Leon tak ada habisnya membela Denisa. Memperjuangkan cinta yang menurutnya tak salah.
"Haruskah Oma mengorbankan perasaan lagi? Cukup melihat Julian merenggang nyawa sebab ulah istrinya sendiri. Cukup Oma kehilangan orangtuamu dalam kecelakaan yang mengenaskan itu, Leon." Terdengar pilu Hellen pun terduduk mengingat kedua anak kandungnya.
"Oma..." Langkah Leon terhenti bersamaan isyarat yang Hellen berikan.
Nampak jelas kepedihan yang tengah Hellen rasakan. Walaupun sekuat hati ia menyembunyikan selama ini. Namun kali ini. Di depan Leon. Ia sangat terlihat rapuh.
"Jika kamu tetap mempertahankan wanita itu. Silahkan. Tapi ... Oma akan membatasi segala fasilitas yang kamu miliki." Hellen tak punya cara lain. Dengan bertindak seperti itu menurutnya akan meminimalisir kemungkinan buruk yang sangat mungkin terjadi. Walaupun sebenarnya ia tak tega melakukan itu kepada Leon.
Leon terhenyak kaget mendengar keputusan itu. Membantah pun rasanya percuma saja. Hanya satu yang harus Leon lakukan. Membuktikan apa yang sudah ia katakan. Mematahkan apa yang omanya tuduh. Dimana Denisa disamakan dengan Tantenya, Nesa Rayne. Bahkan Leon masih penasaran kenapa omanya bersikap dingin lalu seketika berubah biasa saja dalam hitungan detik.
"Tapi, kenapa Oma seakan menyangkal cacian Tante Nesa kepada Leon?" tanyanya kemudian.
"Nesa dan Mario. Kamu tadi melihatnya, bukan?" tanya balik Hellen.
Leon mengangguk.
"Mereka akan sangat senang melihat penderitaanmu. Mereka senang jika hubunganku denganmu, bercerai berai. Yang sebenarnya mereka sangat membenci jika kamu bahagia," ungkap Hellen sebab ia tahu betul kelicikan mantunya. Terlebih Mario mendapatkan didikkan tak baik dari Nesa. Hellen yakin itu.
Seakan Nesa tak pernah puas dengan fasilitas serta jabatan yang Mario dapat. Masih saja memendam perasaan iri dengki dengan apa yang Leon miliki. Hellen bisa membaca sifat Nesa yang begitu serakah. Bahkan sampai saat ini Nesa tak segan membantah bahkan menentang keputusan yang Hellen buat.
Leon baru tersadar sebab apa yang membuat omanya menahan emosi. Leon baru paham meskipun kecewa, omanya tak ingin mempermalukannya di hadapan mereka. Leon menggeleng perlahan seakan tak percaya. Setega itukah mereka? Bahkan Leon menganggap Nesa seperti ibu kandungnya. Dan Leon pasti kakak kandungnya juga.
"Jangan mudah percaya dengan orang lain. Yang terlihat baik belum tentu baik. Yang tampak biasa belum tentu buruk. Bahkan orang terdekat dengan kita sekalipun, patutnya kita tetap waspada," ucap Hellen Morine menasehati. Sekesal apapun bentuknya tak jengah memberikan petuah.
Leon mengangguk paham. Namun dalam benaknya Mario tetaplah orang baik. Walau selalu terkesan dingin kepadanya nyatanya Mario selalu terlihat peduli. Walaupun Mario tempramen Leon tahu, kemarahan Mario pasti ada sebabnya.
"Maaf, Oma. Menurut Oma, bagaimana dengan Misshel? Apa dia berniat buruk kepada kita?"
Lipatan kulit sangat tampak di dahi Hellen Morine. "Apa maksutmu?"
"Denisa merupakan teman Misshel. Ya walaupun jarang bertemu, tetapi Misshel mengenalnya dengan baik." Leon tersenyum memberi alasan.
"Lalu?"
"Misshel sangat baik dengan kita. Dan Oma tau, kan? Misshel tak sembarang memilih teman. Setau Leon, Dia sangat jeli."
"Kamu bermaksut membandingkan kebaikan Misshel dengan wanita itu? Benar begitu?" tebaknya dengan memicingkan kedua netra ke arah Leon.
Leon langsung menggeleng. "Tidak. Bukan begitu, Oma. Kalau Oma masih meragukan Denisa, Oma bisa mengorek informasi kepada Misshel yang juga mengenalnya."
Hellen Morine mengedikkan bahunya. "Oma, tidak yakin."
Singkat padat dan jelas. Jawaban omanya sukses membuat Leon tercekat. Lalu ia menelan salivanya yang lekat. Walaupun pada dasarnya Leon paham. Sangat tidak mudah meyakinkan omanya. Sama persis apa yang Misshel pernah katakan dan mereka bahas.
Leon berusaha tenang dengan senyum mengembang. Ia yakin omanya akan mendatangi Misshel cepat atau lambat. Guna menggorek informasi tentang Denisa. Dimana Leon pun sangat yakin, jika Misshel akan membantu menyelesaikan kesulitannya.
Leon melihat jam tangan berwarna hitam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. "Sudah larut malam, Oma. Istirahatlah. Leon juga akan kembali ke kamar," lanjutnya.
Hellen Morine menghela nafas lalu mengangguk. Tanpa menjawab ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Sejurus kemudian Leon menarik selimut tebal untuk omanya. "Selamat malam, Oma."
"Selamat malam," jawab Hellen Morine sedetik kemudian memejamkan mata.
Leon pun mematikan lampu utama setelah memastikan omanya terlihat nyaman. Sejurus kemudian keluar kamar menutup pintu dengan perlahan.
Namun Hellen Morine membuka kedua netranya setelah pintu tertutup. Terlihat berkaca-kaca kedua netranya terasa seakan terbakar. Berusaha terlihat kuat tanpa meneteskan air mata di depan Leon. Hingga akhirnya air mata itu berderai tanpa jeda. Hingga ia tergugu dengan bibir yang bergetar. Hanya dengan cara itu, Hellen melampiaskan nestapa yang tengah menggerogoti batinnya. Dan Leon tak boleh tahu jika dirinya serapuh itu.
Saat itu juga. Masih di depan pintu kamar omanya Leon terhenti. Sekilas melihat Mario melintas lalu menuruni anak tangga. Saat itu juga ia mengingat pesan omanya 'patutnya tetap waspada'. Membuat asumsi yang tidak-tidak melintas tentang Mario.
Apakah kakak tadi menguping pembicaraanku dengan Oma? Benarkah orang terdekat menjadi tersangka utama yang harus di waspadai?
Leon masih terlihat memikirkan terkaannya sendiri. Mengembuskan nafas lalu melangkah menuju kamarnya. Dimana letak kamarnya tak jauh dari kamar omanya. Sejurus kemudian Leon melepas kancing kemejanya satu persatu masuk kedalam kamar mandi. Membiarkan air yang keluar dari shower menghujani tubuhnya.
Selanjutnya memilih kaos berwarna hitam dengan celana pendek ia memakainya, serta terlihat lebih santai sekaligus merasa nyaman. Dibanding pakaian formal yang wajib ia kenakan sehari-hari. Sejurus kemudian Leon menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tidurnya yang begitu empuk.
"Semoga, Oma nanti percaya dengan Misshel." Leon mendesah seakan pasrah. "Setidaknya emosi Oma sudah meredam. Dan tetap peduli bagaimana baiknya aku, untuk selalu waspada dengan siapa pun." Leon menatap ke langit-langit. Yang mana dinding plafon kamarnya berhiaskan lampu warna nan indah.
Ia pun mendudukkan diri lalu kemudian, meraih benda pipihnya diatas nakas yang ia matikan sejak tadi siang. Menyalakan kembali yang mana puluhan notifikasi panggilan tak terjawab, juga chat yang berjibun masuk. Belum lagi akun pribadi Leon yang lain. Notifikasi tiada henti membuatnya memilih mengheningkan nada dering.
"Sudah ku tebak. Pasti akan seperti ini," gumamnya lalu meletakkan kembali benda pipih itu ke atas nakas.
Rasanya lelah. Leon pun membaringkan tubuhnya kembali dengan posisi miring, memeluk guling. Netranya terasa berat. Ia pun perlahan terpejam larut dalam buaian mimpi. Tanpa sadar sekilas senyum manisnya terulas begitu saja.
Bersambung...