Tidak Sengaja

1009 Words
Di salah satu ruangan. Tampak seorang pria. Tengah serius membaca beberapa dokumen yang tertumpuk rapi di atas meja kerjanya. Dengan menggegam sebuah pena. Matanya sibuk menelisik, bahkan sesekali ia terlihat mengangguk lalu kemudian membubuhkan tanda tangan di beberapa kertas yang ia baca. "Good morning, my Love!" Seorang wanita melenggang masuk kedalam ruangan. Berjalan mendekati Leon Abrizam Morine, lalu kemudian mendaratkan kecupan di pipi Leon. "Morning Denisa," ucap Leon menanggapi dengan wajah datar. "Apa aku menggangumu?" Denisa Tan bergelayut manja. Mendekap tubuh kekar Leon dari arah samping. Leon hanya tersenyum menanggapi kekasihnya. Tampaknya ia benar-benar di sibukkan oleh beberapa dokumen yang tertumpuk rapi di atas meja kerjanya. Wajah Denisa yang tadinya cerah ceria. Kini menjadi kesal, sebab Leon tengah asik dengan kertas yang dibacanya. Dibanding menyambut kehadirannya. "Sesibuk itu kamu, sampai-sampai tak sempat menoleh kearahku? Apa kehadiranku sangat mengganggu?" Perlahan Denisa merenggangkan rangkulannya sampai benar-benar terlepas. Menyadari sang kekasih melepas rangkulannya. Leon menatap Denisa lalu kemudian tersenyum. "Bukan begitu, dokumen ini harus selesai sebelum rapat jam 10 nanti. By the way, hari ini kamu nggak ada jadwal shooting? tumben pagi-pagi ke sini!." Denisa melangkah, lalu kemudian berhenti tepat di depan meja kerja Leon. Tanpa dipersilahkan. Ia langsung mendudukkan dirinya pada kursi yang letaknya tepat berada di hadapan Leon. "Jadwal pemotretanku masih nanti sore. Mr.CEO, temenin aku sarapan yuk! Please! Sebentar aja." Denisa memohon. Kali ini Leon mengulum senyum. Keraguan tampak pada wajah tampannya. Mengingat pekerjaannya yang belum selesai ia kerjakan. Namun ia juga tidak tega. Jika harus menolak permintaan Denisa kekasihnya. Leon melihat jam berwarna hitam yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya. Lalu kemudian menyetujui permintaan Denisa. "Okey, tapi kita sarapan di restoran samping kantor saja ya. 2 jam lagi aku ada rapat," ucap Leon. Denisa menggangguk tanda setuju. Wajahnya kembali ceria setelah Leon menuruti permintaannya. Tangan Denisa menggenggam tangan Leon, lalu kemudian dengan cepat menarik Leon keluar ruangan. Terlihat seorang wanita. Berjalan dengan tergesa-gesa dengan beberapa tumpukan dokumen yang dia bawa. Brukk! seketika berkas-berkas berisi dokumen penting berserakan di lantai. Wanita Cantik itu. Tak sengaja menabrak Leon dan Denisa yang tengah berjalan dari arah yang berlawanan. Wanita berparas cantik itu sontak kaget. Dengan segera ia mengumpulkan berkas-berkas dokumen yang berserakan di lantai. "Aduh! Maaf saya tidak sengaja. saya terburu," ucap Misshel. Ia terus sibuk memungut berkas-berkas yang berceceran. Tanpa menghiraukan siapa yang ia tabrak barusan. Suara Misshel dan berkas-berkas yang berceceran sontak menyita perhatian seluruh karyawan yang tengah bekerja di ruangan itu. "Eh, kamu punya mata nggak sih!" umpat Denisa kesal. "Kamu nggak apa-apa, Shel?" Leon memperhatikan Misshel sekretarisnya yang masih sibuk menata kembali tumpukan berkas-berkas yang selesai ia kumpulkan. Suara pria itu tidak asing di telinga Misshel. Ia mendongak, lalu kemudian segera berdiri dengan membawa tumpukan berkas dokumen yang selesai ia rapikan. "Mr. Leon! Maaf, saya tidak sengaja menabrak Mr. dan nona Denisa!" Misshel baru menyadari siapa yang bertabrakakan dengannya. "Kerja yang bener dong! Masih pagi udah buat masalah!" Denisa tampak begitu kesal. Misshel telah membuatnya bad mood. Misshel menunduk menyadari kesalahannya. "Maaf, nona Denis, saya benar-benar tidak sengaja." Misshel membela diri. Denisa membuang muka. Ia malas mendengar permintaan maaf Misshel. "Sudahlah lupakan saja, cepat kembali dan lanjutkan pekerjaanmu. Oh iya, aku akan keluar sebentar. Jika tuan Mario mencariku. Bilang kepadanya, bahwa aku akan segera kembali," ucap Leon kepada Misshel Candra sekertarisnya. "Baik, Mr! tapi dokumen ini, harus..." Belum selesai Misshel berbicara Leon memotong pembicaraannya. "Taruh saja di meja kerjaku. Aku akan segera kembali." Leon memperjelas. Misshel hanya mengangguk mengerti. Sejurus kemudian ia berjalan memasuki ruangan CEO dan meletakkan tumpukan dokumen yang ia bawa. Misshel menghela napas dalam. "Tau gini, aku nggak perlu repot-repot datang ke kantor pagi-pagi buta. Hanya buat selesaiin setumpuk dokumen ini. Buang-buang tenaga saja!" Misshel kesal. Usahanya datang lebih awal, cepat-cepat ia menyelesaikan pekerjaannya. Atas permintaan Leon, jam 08.30 pagi harus selesai dan siap di meja kerja CEO. Nyatanya atasannya kini tengah sibuk keluar dengan kekasihnya. Misshel melangkah keluar dari tempatnya berdiri menuju pintu. Terlihat seorang pria bertubuh besar tengah berdiri di depan pintu. Menatap Misshel yang baru keluar dari ruangan CEO dengan wajah datar. "Mr. Mario, selamat pagi," sapa Misshel tersenyum. Mario menggangguk. "Apa Leon ada didalam?" tanya Mario. Sejenak Misshel melihat kearah pintu CEO, lalu kemudian melihat kearah Mario kembali. "Mr. Leon masih keluar, beliau berpesan jika Mr. Mario sudah datang. Silahkan menunggu di ruangan CEO. Beliau akan segera kembali," jawab Misshel. "Apa Mario keluar bersama Denisa?" tanya Mario memastikan. Ia melihat mobil berwarna putih milik Denisa terparkir di depan kantor. Misshel tampak heran mendengar pertanyaan Mario. Bagaimana ia bisa tau kalau atasannya keluar bersama Denisa kekasihnya. " Benar Mr.!" Misshel membenarkan pertanyaan Mario. "Baiklah! Bawakan aku secangkir kopi panas dengan sedikit gula, aku akan menunggu di ruangan CEO." "Baik, Mr. Mario!" jawab Misshel. Kemudian Mario melenggang melangkah masuk kedalam ruangan CEO. Lalu kemudian ia mendudukkan diri di kursi. Sambil menunggu, ia mengambil sebuah dokumen yang tertumpuk rapi di meja kerja Leon lalu membacanya. Lima menit kemudian, Misshel membawa secangkir kopi panas. Sesuai pesanan Mario. Lalu kemudian meletakkan kopi itu dimeja tepat di depan Mario. "Ini kopinya Mr." Mario hanya menggangguk tanda mendengarkan Misshel. "Apa ada yang bisa saya bantu, lagi, Mr.? kalau tidak, saya akan kembali bekerja." Misshel masih berdiri di hadapan Mario. " Tidak, kembalilah bekerja," jawab Mario. "Baik" Misshel membalikkan badan, lalu kemudian melangkah keluar meninggalkan Mario yang tengah sibuk membaca dokumen. *** Denisa masih kesal mengingat kejadian tadi. Hingga ia tak begitu berselera lagi untuk sarapan. Makanan yang ia pesan masih utuh tertata rapi didalam piring. Terlihat beberapa kali ia menyesap teh hangat dari gelas. Leon duduk tepat berhadapan dengan Misshel. Ia tengah menikmati beberapa makanan yang ia pesan. Menyadari kekasihnya belum makan satu sendok makanan pun. Hanya minum teh hangat. Leon tampak heran. "Kok nggak dimakan, Kenapa? apa makanannya nggak enak atau pengen pesan menu yang lain?" "Udah nggak selera makan!" jawab Denisa ketus. Leon menghela nafas, tangannya meraih secangkir kopi hitam lalu kemudian menyesapnya. "Tadi ngajak sarapan, kok nggak di makan! Apa mau aku suapin? sini ak..." Leon membujuk Denisa agar mau makan. Refleks Denisa membuka mulutnya guna menerima suapan dari Leon kekasihnya. to be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD