Aku sudah berada di kamarku, memikirkan senyuman Devan tadi yang sangat mirip dengan senyuman seseorang yang namanya sudah tak ingin kusebut lagi.
Apa selama ini Devan selalu tersenyum seperti itu? Apa selama ini akunya yang nggak pernah tau? Apa mungkin karena aku terlalu dekat dengan Devan sehingga aku nggak pernah menyadari hal itu? Apa karena aku hanya memikirkan diriku sendiri hingga aku tak menyadari hal itu?
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
Hp yang terletak di sampingku bergetar.
From : Hanatituteto
Cie.. eank brue jland sma Devan niech..
Hiiy, jijik banget deh dengan pesan singkat Hana yang benar-benar 4L4y. aku segera membalas pesan singkat tersebut.
Send :
cmburu nih!
SWEAR! ak ga ad apa2 sm Devan.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
From : Hanatituteto
Gila! Aq ga cmbru, aq uda pnya gebetan bru kok. Lagipula Devan suka ama cewe’ lain.
Melihat pesan singkat dari Hana, aku tidak lagi membalasnya. Tiba-tiba perasaanku sedih seusai membaca pesan singkat dari Hana. Entah mengapa perasaan ku menjadi campur aduk nggak karuan seperti ini?
Aku masih tidak bisa tidur sampai sekarang, hingga terdengar suara petikan gitar yang sepertinya dari balkon rumah Devan.
Aku keluar menuju balkon rumahku, dan ternyata benar. Devan berada di kursi empuk memainkan gitarnya dengan lagu yang selalu sama.
Devan sepertinya mengetahui kedatanganku, ia menghentikan petikan gitarnya. Devan menatapku dengan tatapan kosong. Aku mendekati Devan dengan bersandar pada pagar balkonku.
“kenapa berhenti?”
Devan tak menjawab pertanyaan ku, ia masih saja menatapku.
“Devan? Devan?” kataku sambil melambai-lambaikan tanganku. Akhirnya Devan terbuyar dari lamunannya. “kamu nggak apa kan?”
“seharusnya aku yang nanya kayak gitu ke kamu” Devan yang juga berdiri dan bersandar pada balkon rumahnya. Aku menganggukan kepala sambil tersenyum paksa kepada Devan. “apa saat kamu tau Kak Bagas kayak gitu, kamu tetep menyukainya?” tanya Devan dengan mengerutkan keningnya.
Aku juga nggak tau, perasaanku kali ini tidak ku mengerti. Aku tidak menjawab pertanyaan dari Devan, aku hanya bisa menundukan kepala dan menahan air mata yang selalu saja ingin keluar dari mataku.
“jangan dipikirin pertanyaan nggak penting dariku, kamu duduk aja disitu” Devan menunjuk kursi balkon rumahku. “aku mau kamu dengerin aku main gitar” lanjut Devan.
Aku menuruti kata Devan dan segera duduk di kursi balkon rumahku, menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi kayu itu. Aku melihat Devan tersenyum kepadaku dengan senyuman itu, aku tidak ingin melihat senyum itu lagi.
Aku segera memejamkan mata, mendengarkan lantunan nada gitar yang di petik Devan. Dan, lagu itu yang dinyanyikan untukku. Mungkin Devan sudah terlalu suka pada cewek yang di sukainya.
Aku mendengar lagu That Should Be Me-nya Justin Bieber yang dinyanyikan Devan sampai habis. Suaranya yang bergetar seakan ikut menggetarkan hatiku. Aku tidak mengerti perasaan kelabu yang aku rasakan ini, andai ada seseorang yang memberitahu perasaan apa sesungguhnya ini. Aku tidak sedih karena Kak Bagas bertingkah kayak gitu, aku bahkan ingin memutuskannya besok di lapangan basket sekolah, temapat yang sama saat dia menyatakan cinta palsunya kepadaku.
“cepat kamu masuk, nanti kamu flu” kata Devan setelah selesai menyanyikan lagu itu. Aku membuka mataku, kemudian berdiri dan bersandar pada pagar balkon rumahku.
“makasih Devan” kataku sambil tersenyum kemudian membalikkan badan hendak masuk ke dalam kamarku.
“buat apa?” tanya Devan yang seketika menghentikan langkahku.
Aku menoleh, menatap Devan yang kelihatan bingung dengan kata-kata ku. “makasih buat semuanya, kamu udah mengajarkan pengalaman baru ke aku” aku menyunggingkan senyum termanisku kemudian menuju kamar. Sebelum aku menutup pintu balkonku, nampak Devan juga menyunggingkan senyum manisnya.
Aku masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dan melemparkan tubuhku di atas kasur empukku. Dan, zzzz… aku pun tenggelam ke alam mimpi.
**
Hari ini aku sudah menyiapkan mentalku untuk memutuskan Kak Bagas, cowok yang hanya main-main denganku. Namun meski sudah mantap, aku tetap merasa tegang. Rasa bersalah sedikit menderaku. Tapi, kenapa aku yang jadi merasa bersalah? Sudah selayaknya aku memutuskan seorang pacar yang masih main dengan cewek lain kalau sudah punya pacar.
Aku sampai di sekolah pagi-pagi sekali, menyapu lantai kelas hingga sudut tersempit sekalipun. Hingga satu-persatu siswa SMA Angkasa kelas sepuluh dua datang dan kaget melihat kelas bersih pagi ini. Kenapa? Ada yang membuatku resah pagi ini.
Hana yang masuk kelas pun nampak kaget dan bingung, siapakah murid rajin yang kurang kerjaan membersihkan kelas hingga mengkilat.
“kamu tau siapa yang bersihin kelas?” Hana benar benar penasaran.
“hahaha, kamu jangan bingung ya?” aku berbisik kepada Hana, ia hanya menganggukkan kepala dengan serius. “itu aku!” kata ku dengan suara lebih pelan.
“nggak percaya!” teriak Hana yang sontak membuat semua teman sekelas menoleh kearah kami.
“ssstt” kataku sambil membungkam mulut Hana. “kamu ini, aku pingin ini jadi rahasia kita berdua aja, biar semuanya pada bingung ada anak rajin yang bersihin kelas, jadi kayak pahlawan gitu..” aku benar-benar membanggakan diriku sendiri.
“kenapa sih kamu kok aneh banget hari ini?” Hana mengalihkan pembicaran, padahal aku masih ingin membanggakan diriku sendiri.
“aku mau mutusin Kak Bagas” aku berbisik tepat di telinga Hana.
Hana sepertinya benar-benar kaget dengan omonganku. “yang bener?” teriak Hana, yang sekali lagi membuat seisi kelas menoleh kearah kami. Untung saja guru jam pertama belum datang ke kelas.
Aku langsung mebungkam mulut Hana untuk kedua kalinya dalam pagi ini. “ya ampun Han.. kamu tuh jangan keras-keras ngomongnya” aku memukul-mukul pundak Hana sambil melirik suasana kelas yang sudah tenang lagi. Hana hanya tersenyum sambil memegangi mulutnya sendiri.
“benaran Tam?” Hana mebuka mulutnya lagi, kali ini dengan suara pelan.
Aku menatap mata Hana, lalu mengembuskan napas. “setelah aku tau Kak Bagas kayak gitu, aku langsung sadar. Meski aku masih suka sama dia, tapi mungkin nggak jodoh kali ya..” aku berkata jujur pada Hana.
“kapan mau mutusinnya?” Hana ternyata menanggapi omonganku dengan serius yang berlebihan.
“jam istirahat pertama, tepat di tempat dia nembak aku. Aku juga pingin ngajak kamu sama Devan. Jadi sama persis seperti kejadian yang dulu” aku mengatakan dengan tegas dan penuh wibawa.
Kami tidak lagi meneruskan perbincangan kami, karena pelajaran bahasa inggris telah di mulai.
Dan, aku harus duduk dengan kelompokku lagi. Ingatkah? Pak Paul pernah mengatakan kalau pelajarannya berlangsung, kami harus duduk di kelompok masing-masing. Dengan lemas ku langkahkan kaki ku pada meja deretan pojok belakang, sekarang telah berkumpul sebuah kelompok yang terdiri dari empat cowok dengan wajah yang tak meyakinkan. Sedangakn satu cewek dipekerjakan secara paksa, ditindas dan berbagai macam lainnya.
“cepet dong jalannya!” teriak Zaki kepadaku. Aku langsung berlari dan duduk di kursi kosong di samping Devan. Dengan sebal, aku menggebrak meja sehingga menimbulkan sedikit suara yang membuat sedikit ramai.
“Tami” Devan menyenggol-nyenggol tangan kananku. Aku menoleh kearah Devan masih dengan bibir manyun. “mana tugas bahasa inggris yang kita foto copy itu?” tanya Devan sambil menjulurkan tangannya.
Aku lupa! Astaga!! Aku segera mencari lembaran kertas di dalam tasku.
mengeluarkan setu buku mencari-cari di bagian dalamnya. Memasukkan lagi, mengeluarkan buku lain. Begitu seterusnya. Nmaun, tidak ada! Aku tidak membawa kertas foto copy itu.
“gimana nih Ris? Aku nggak bawa kertasnya?” kataku benar-benar bingung.
“nggak apa kan?” kata-kata Devan membuatku lega. “yang penting kamu bawa buku bahasa inggris” lanjut Devan sambil mengeluarkan buku bahasa inggrisnya juga. “kan tugasnya tercatat di buku kamu?” kata Devan kali ini membuat jantungku semakin bekerja keras.
Aku membuka tasku lagi, mencari buku bahasa inggrisku. Devan mulai curiga dengan gelagatku yang aneh.
“kamu nggak bawa buku bahasa inggris Ra?” Devan sepertinya juga ikut bingung, berbeda dengan teman satu kelompokku lainnya yang sedang asyik memainkan Hp di bawah meja.
“aku lagi nyari nih” aku benar-benar bingung, apa lagi aku lupa belum mengerjakan satu soal pun. “Nand nggak ada bukunya. Trus aku lupa belum ngerjain soalnya” aku masih menggeledah isi tasku.
“gimana nih Ris?” tanyaku dengan muka bingung yang mengahadap kearah Devan. Nampak kelompok lain sudah mengumpulkan selembar kertas diatas meja Pak Paul.
“nggak apa, kita kan bareng-bareng. Kamu jangan bingung. kita jujur aja sama Pak Paul” kata-kata Devan yang tegas memang selalu bisa menenangkan hatiku.
Dia sebagai ketua kelompok lima mengatakan dengan bijak kepada anak-anak kelompok lima yang lain.
Aku mengira semuanya akan menerima dengan lapang d**a, ternyata salah. Ketiga cowok itu menyalahkan aku. padahal ketiga cowok itu tidak bekerja sama sekali. Hanya aku yang bekerja paling banyak dan Devan sedikit membantuku.
Devan langsung maju ke depan kelas mempertanggung jawabkan kesalahanku. Aku tidak dapat mendengar pembicaraan Pak Paul dengan Devan karena bangku kami berada di pojok belakang.
Saat Devan telah menoleh kearah kelompok lima, ekspresi Pak Paul yang awalnya sumringah, langsung berubah menjadi beruang putih yang siap menerkam.
“kelompok lima!” teriak Pak Paul dengan wajah seram. “maju ke depan kelas!” lanjutnya yang masih menampakkan wajah menyeramkan itu.
Aku dan gerombolan cowok males maju ke depan kelas dengan wajah pasrah sambil menundukkan kepala. Kami berjejer rapi di depan kelas, di pandang aneh oleh murid lain yang duduk di meja kelompok masing-masing. Apalagi aku cewek sendirian berdiri di tengah cowok-cowok bandel..
“kalian ini!” Pak Paul terlihat sangat sebal dengan kelakuan kami. “kalian saya hukum membersihkan seluruh koridor dan kamar mandi sepulang sekolah!” bentak Pak Paul sambil membawa spidol hitam di tangan kanannya.
“maaf pak, seharusnya saya yang mendapatkan hukuman itu, karena saya sebagai ketua kelompok dan bertanggung jawab dengan kelompok saya” kata Devan dengan sikap bijaksananya yang jarang di perlihatkan.
Aku tidak bisa membiarkan hanya Devan yang terkena hukuman, padahal dia kan mempercayakan tugasnya kepadaku, dan aku tidak membawa tugas itu. “maaf juga pak, tapi saya yang dipercayakan oleh ketua kelompok untuk membawa tugas itu, tapi saya tidak membawanya, seharusnya saya yang mendapat hukum..”
“sudah sudah” belum selesai aku berbicara Pak Paul sudah menghentikan omonganku.
“kalian ini kan kerja tim, meskipun ada satu kesalahan yang di perbuat satu orang, yang menanggung tetap sama-sama. Yang namanya tim itu kayak gitu. Nanti sepulang sekolah kalian ke ruangan saya dulu, kemudian mengambil barang kebersihan di gudang belakang kemudian lakukan tugas dengan baik. Setelah selesai, kalian harus melapor dulu kepada Pak Tedjo. Setelah itu kalian baru boleh pulang” ucap Pak Paul panjang lebar.
Kami hanya mengangguk dan kembali ke bangku kelompok. Tiga cowok itu masih menyalahkan aku, untung saja Devan melerai mereka sehingga aku tidak mati kecapekan karena mendengar ocehan ketiga cowok bandel itu.
Pelajaran bahasa inggris hari ini sangat membosankan, hanya mencatat dan mencatat. Apalagi aku tidak membawa catatan bahasa inggris, harus menulis di buku lain dan menyalinnya di buku bahasa inggrisku yang tertinggal di rumah.
Mungkin hanya aku yang mencatat di dalam kelompokku, ke empat cowok itu asyik memainkan ponselnya di bawah meja. Hingga jam pelajaran Pak Paul habis, ke empat cowok itu masih asyik dengan ponselnya masing-masing.
Aku kembali menuju tempat dudukku bersama Hana yang sekarang telah memasukkan buku bahasa inggris dengan semangat ke dalam tas ungu nya.
Pelajaran kedua berlalu begitu saja dengan cepat, berganti dengan bunyi bel istirahat yang memekik telinga ku. Aku menyiapkan mentalku untuk memutuskan Kak Bagas karena tingkahnya yang nggak bisa di perhitungkan lagi.
“siap kamu Tam?” tanya Hana yang akan memberitahu Devan dengan keputusanku. Aku menoleh kearah Hana dengan penuh keyakinan. Hana pun menyunggingkan senyumnya, seakan ikut menyemangatiku.
Aku, Hana dan Devan menuju lapangan basket untuk menemui Kak Bagas. Sebelumnya aku sudah mengirim pesan singkat kepada Kak Bagas untuk menemuiku di lapangan basket saat istirahat jam pertama.
Saat kami sampai di lapangan basket, sudah nampak Kak Bagas berdiri teggak dengan menyilangkan tangannya di depan tubuhnya. Aku berjalan dengan tegak mendekati Kak Bagas dengan perlahan yang menatap mataku lurus. Mentalku yang telah aku bangun sejak tadi malam seakan runtuh begitu saja setelah melihat wajah Kak Bagas yang berbeda dengan yang ku temui di tempat aneh dulu..
Kak Bagas terus memperhatikan ku tanpa mengedipkan matanya.
“kak, maaf” aku mengambil tangan Kak Bagas dengan kepala tertunduk menahan rasa takut, bingung, kecewa dan sedih. Aku menatap mata Kak Bagas masih dengan memegang tangannya. “aku sayang kakak, tapi aku nggak bisa ngelanjutin hubungan ini, jadi aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini aja” suaraku bergetar, air mata telah membanjiri pipi ku.
Lapangan basket telah di pedati semua siswa yang ingin menyaksikan drama cinta realita yang berakhir dengan menyedihkan.
Kak Bagas menyunggingkan senyum tipis. “Apa nggak bisa diomongin lagi, Tam? Aku janji nggak bakal ngulangin kesalahan lagi. Plis kasih aku kesempatan, Tam.” Kak Bagas memohon sambil meremas tanganku.
Aku hanya bisa menundukkan kepala tak menjawab pertanyaan membingungkan dari Kak Bagas. “Kamu udah pengganti?” tiba-tiba satu pertanyaan muncul dari mulutnya.
“Apa dia?” Kak Bagas menunjuk tepat wajah Devan yang sedang berdiri di samping Hana. “Dia ingin merusak hubungan kita?” tanya Kak Bagas yang tiba-tiba mendekati Devan dan menariknya kedalam lapangan basket. “dasar cowok b******k!” Kak Bagas menonjok pipi kiri Devan yang sekarang telah mengucur darah segar.
Semua siswa yang berada di lapangan basket tidak melerai mereka, tapi malah menyemangati Kak Bagas untuk terus memukul Devan.
“Kak Bagas! Devan nggak ada hubungannya dengan masalah kita!” teriakku yang tak di hiraukan oleh Kak Bagas. Aku mendekati Kak Bagas dan menarik Kak Bagas agar menjauhi Devan. Aku menatap mata Kak Bagas dengan kesal. “Kak Bagas itu nggak ada hubungannya sama Devan! Jadi Kak Bagas jangan seenaknya sendiri!”
Plakk’.. aku menampar Kak Bagas dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Kak Bagas memegangi pipi kirinya yang merah bekas tamparan kuatku. “Kamu bilang nggak ada sangkut pautnya? Dia adek aku, Tam! Kami beda Ibu, makanya kita sama-sama nggak saling bahas itu ke kamu!” tiba-tiba Kak Bagas menyatakan sesuatu yang seolah menamparku.
Aku tidak lagi memperdulikan Kak Bagas yang sedang tertawa di sana. Aku menghampiri Devan yang berdiri di pojok lapangan sambil menundukkan kepala dan mengusap darah segar yang mengalir di pipinya.
“Apa bener Dev?” tanya ku pelan. Devan tidak menjawab pertanyaanku, ia masih saja menundukkan kepalanya. “apa bener Dev!” teriakku sambil mengangkat wajah Devan agar menatap mataku. “apa bener kamu adik kandung Kak Bagas? Apa bener kayak gitu? Jawab Dev! Jawab?” suaraku benar-benar bergetar, ingin sekali aku menampar pipi Devan yang penuh darah itu.
Devan langsung memelukku. Aku bisa mendengar debar jantungnya yang berdegub cepat, aku bisa mendengar suara pelan Devan yang mengatakan “YA”.
“Maaf” suara Devan seakan menyayat dagingku. Devan masih memelukku dengan debar jantung yang berdegub cepat. Aku melepaskan pelukan Devan dan berlari keluar dari lapangan basket.
Terdengar dari kejauhan Hana memanggilku. Aku tidak menghiraukan siapapun sekarang, aku hanya berlari menuju kamar mandi ruang pembinaan. Hanya kamar mandi ini yang paling dekat dengan lapangan basket.
Haruskah semua ini berakhir cukup sampai disini?